Dres panjang berwarna putih polkadot disatukan dengan sweater pink jadi perpaduan yang pas untuk outfit Shara hari ini. Ia mengikat rambutnya. Ia gak mau kejadian kemarin terjadi lagi. Caca pasti masih mengincarnya.
Honestly, Shara takut banget ke kampus. Ia pasti dibicarakan oleh banyak orang. Apalagi cowok-cowok yang jelas sekali melihat semua kejadian itu. Tapi kalau Shara gak pergi, Caca pasti senang. Otomatis dia merasa menang. Dan itu menyebalkan.
Shara berusaha keras untuk berani. Ia gak mau jadi pengecut selamanya. Jangan kabur, tapi hadapilah. Bukti kalau seseorang sudah dewasa adalah dimana dia tidak menghindari masalah.
Oke Shara, mari buktikan kedewasaan!!
Ia melangkah dan mengintip dari balik pintu depan. Ah, ternyata sudah ramai banget. Tumben udah pada datang. Shara langsung pindah ke pintu belakang. Lebih baik masuk kelas dari belakang. Ia gak akan terlihat jelas dan jadi pusat perhatian.
Itu malah menambah perhatian. Cowok-cowok dibelakang tepuk tangan sambil cekikikan. Ada Igor disana, tapi dia cuma diam. Dia gak ikutan, dia emang cowok baik. Geng Caca ngeliat kebelakang. Mereka langsung sinis seakan ngasih tahu kalau kini mereka berperang. Dasar cewek gila. Kayaknya mereka suka banget sama baku hantam.
Shara duduk agak jau h dari barisan depan. Bukan takut, dia cuma muak. Mending dia menjauh daripada mendekati macan berwujud manusia. Tiba-tiba, sosok yang gak diundang duduk disampingnya. Satu-satunya komentar Shara tentang cowok itu adalah dia mencurigakan. Suspicious! Dia bernama Beno, cowok pintar di angkatan ini. Kepintaran itu bikin Shara gak suka. Shara gak suka cowok pintar. Baginya, ketampanan adalah poin terpenting dari seorang lelaki.
“Boleh duduk disini?”
“Boleh.”
Dia langsung duduk. Shara menoleh ke belakang. Cowok-cowok itu tampak berbisik-bisik. Kecuali Igor. Ada rencana apa ini? Kok Shara jadi makin curiga.
“Kemarin gue lihat lo jambak-jambakan sama Caca.”
So what? Harus banget gitu diomongin? Shara mau melupakan kejadian memalukan itu. Apa mungkin cowok ini mau ikut-ikutan menghina Shara. Bisa saja dia orang suruhannya Caca.
“Oh iya, aneh ya gue? Sorry ya, kalau mengganggu.”
“Gak aneh kok. Lo keren. Keren banget malah. Marah lo itu masih dalam batas wajar.”
“Hehehe…”
“Gue boleh ngajak lo makan gak?”
What the hell? Ada bau-bau enak nih. Apa mungkin Beno tertarik sama dia? Ajakan itu terdengar layak untuk diterima.
“Boleh aja sih.”
“Okay, abis kelas ya?”
Shara mengangguk. Cowok itu kembali ke bangku belakang karena Mila datang. Ia yakin banget kalau Mila bakal duduk di samping Shara.
“Kenapa si Beno?”tanya Mila cuek.
“Gak ada, cuma nanya tugas doang.”
“Astaga, gue jadi lupa. Lo kemarin kenapa sama si Caca? Kok bisa sampai jambak-jambakan?”
“Semua orang sudah tahu ya? Dasar cowok-cowok. Mereka ternyata tukang gosip juga.”
“Gue tahu dari teman-temannya Caca. Mereka nyebarin informasi jelek tentang lo. Jelaslah gue gak percaya.”
Shara tersenyum. Begini toh rasanya punya teman berhati malaikat. Kalau punya teman yang benar-benar tulus, maka rasanya lebih indah dari apapun. Ternyata Mila gak kayak cewek polos yang mudah dihasut. Dia punya persepsi sendiri tentang orang lain. Mungkin saja, dia hanya diam waktu dengar fitnah itu. Tapi di dalam hatinya, dia bisa menimbang mana yang benar dan tidak. Rasanya Shara ingin memeluk cewek itu. Tapi gengsinya gede.
Kelas pertama selesai dengan baik. Shara merebahkan badannya di atas meja karena mumet. Capek banget mendengar penjelasan dosen. Rasanya mau tidur aja. Mila ngajak dia ke kantin tapi dia malas. Dia memutuskan untuk tidur karena waktu istirahat juga cuma tiga puluh menit.
Igor mengambil kursi dan menghadapkan kursi itu ke depan Shara. Shara bertanya-tanya sambil menatap cowok itu.
“Tadi si Beno ngomong apa?”
“Emang kenapa?”
“Jawab aja.”
“Dia ngajak gue makan bareng.”
“Jangan mau.”
Satu kata yang bikin Shara senang. Ia jadi berpikir kalau Igor juga suka padanya. Apa iya?
“Kenapa emang?”
“Dia kayaknya mau nembak lo.”
“Terus kenapa kalau dia nembak gue? Gue gak punya pacar, gak punya gebetan.”
“Tapi…..”
“Tapi apa?”
“Gak jadi.”
“Kok gitu sih.”
“Udah ah, gue ke kantin dulu.”
Shara cuma diam. Dia penasaran banget sama ucapan Igor. Kenapa Shara gak boleh dekat sama Beno. Beno kayaknya cowok yang baik.
“Eh Gor, udah baikan sama Mila?”
“Ga tahu.”balas Igor singkat. Kayaknya dia sama Mila memilih untuk mendiamkan masalah ini. Mereka bocah banget. Masa gitu aja mesti dipermasalahin. Ah, padahal Shara juga kayak gitu. Waktu tahu David punya pacar, dia malah kesal tanpa sebab. Rupanya ia juga sering bertingkah kekanak-kanakan.
Beno. Cowok yang bakal nembak dia nanti. Itupun kalau bener. Hahaha. Shara jadi tertawa tiba-tiba. Dia gak nyangka hari ini akan tiba. Dia bisa punya pacar. Walaupun Beno bukan tipe cowok idamannya, tapi dia senang aja gitu. Akhirnya bisa memenuhi wishlist di bukunya. Tak masalah, cinta bisa datang menyusul. Status lebih utama dari rasa cinta.
Kesempatan itu ternyata tertunda. Beno mengirimkannya pesan kalau dia ada urusan mendadak. Cowok itu harus pulang lebih awal. Dia janji bakal makan bareng di waktu yang berbeda. Sedih sih, tapi Shara mencoba untuk bertingkah biasa. Tak boleh terlihat kecewa.
Sejak Igor dan Mila terlibat sengketa, Shara jadi makin kesepian. Biasanya abis kuliah, mereka bertiga jalan bareng ke Kafe TG. Kini, Shara harus rela jalan sendiri. Ia berpikir keras gimana caranya mendamaikan dua orang itu. Seakan bertanggung jawab, Shara berpikir keras untuk itu.
“Lo kenapa? Lemes banget kayak kerupuk masuk angin.”ucap Dios sambil membereskan beberapa piring dari meja pelanggan.
“Iya mas, gue kemasukan angin yang banyak banget. Angin p****g beliung!”
“Mulai deh.”jawab Dios tertawa.
“Oh ya mas, gue mau nanya.”
“Apa?”
“Kalau teman lo berantem, apa yang lo lakuin biar mereka baikan?”
Dios berpikir sejenak. Pertanyaan sederhana itu bikin dia semakin yakin kalau Shara itu polos minta ampun. “Mungkin gue bakal nyuruh mereka ketemu.”
“Kalau mereka gak mau?”
“Lo jebak aja.”
“Jebak?”
“Iya. Lo tentuin jadwal buat mereka, tapi jangan kasih tahu kalau mereka bakal ketemu berdua.”
“Woah, idenya bagus juga.”balas Shara sambil mikir. This is exactly what I need.
“Emang siapa yang berantem?’
“Ada deh.”balas Shara sambil melipir ke arah dapur. Ia gak mau sampai keceplosan. Kalau sampai Dios tahu, ini bisa jadi masalah lagi.
Shara menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum pulang. Ia gampang lelah sejak sakit beberapa hari yang lalu. Ia takut aja, tiba-tiba pingsan di tengah jalan. Masih mending ada yang nolongin, kalau gak ada gimana.
“Sha, abis ini langsung pulang?”
Shara mengangguk. “Temenin gue makan dong. Gue belum makan dari pagi.”ajak Dios.
“Ish, emang mau makan apa?”
“Apa saja yang lo mau.”
“Beneran? Gue mau mie ayam.”
“Ya udah ayuk!”
Lagi-lagi Shara tergoda. Kenapa sih, Dios gampang banget menghasut Shara? Shara udah pernah berjanji pada diri sendiri kalau dia bakal menghindar dari Dios. Ia ingat pesan Mila yang bilang untuk tidak terhasut dengan cowok playboy itu. Ternyata Shara tergoda hanya dengan semangkuk mie ayam.
Mereka sampai di tempat mie ayam langganan Shara. Tempat makan Shara dan Igor dulu. Sekarang ia malah makan sama Dios disana.
“Sha, gak mau pindah kosan aja?”tanya Dios tiba-tiba.
“Lah, emang kenapa sama kosan gue?”
“Kosan lo sekarang kan campur cowok cewek. Kenapa gak nyari kosan yang khusus cewek aja? Biar lebih aman gitu.”
“Mas, gue itu udah gede. Dan menurut gue, kosan campur itu lebih aman. Kalau ada apa-apa tinggal minta tolong sama cowok-cowok disana.”
“Pasti cowok yang lo maksud itu yang kita ketemu di Car Free Day.”
“Iya. Kak David itu teman gue mas. Dia baiknya minta ampun deh.”
“Orang terlalu baik juga pantas dicurigai.”
Shara kesel banget. Dios kenapa sih harus menebar kebencian. Dia itu kayak ormas yang doyan meresahkan warga. “Jangan gitu ya, dia memang baik. Jeffrey sama Midi juga ketemu sama dia waktu lo gak disini.”
“Serius?”
“Iya. Kak David sama Midi itu udah kayak sohib.”
“Ih, gak percaya gue.”
“Terserah deh.”
“Kenapa lo manggil gue dengan embel-embel mas, sedangkan Jeffrey sama Midi engga?”tanya Dios gak terima. Awal panggilan itu berasal dari Dios. Dan entah kenapa, Shara gak berniat panggil Jeffrey dan Midi secara terhormat. Alasannya karena kesan pertama yang gak bagus. Midi dengan mata genitnya dan Jeffrey yang mengikuti arus. Jeffrey itu simple tapi dia bakal ikut-ikutan sama orang lain. Kalau Midi ngeledekin, Jeffrey pasti bakal ngikut.
“Hmm, mungkin karena lo tua.”
“Ayolah, gue seumuran sama mereka anjir.”
“Mukanya yang tua mas.”
“Sialan!”
Mie ayam itu emang gak ada tandingannya. Bak seorang divisi marketing, Shara membuat Dios pengen nyoba lagi. Kata Dios, mie ayam itu layak mendapat peringkat satu di perutnya. Entah sepik doang atau beneran.
Tiba-tiba saja Shara dapat pesan dari seseorang yang membuat pikirannya kemana-mana. Beno. Cowok itu mengajaknya makan bareng malam minggu besok. Seketika dia deg-degan. Baru kali ini ada cowok random yang ngajak dia meet up. Duh, rasanya bingung sendiri.
Shara
: Bisa Ben. Mau makan dimana?”
Beno
: Gue jemput lo besok gimana?
Shara
: Hmm, gak usah Ben. Gue datang sendiri aja. Lo kirim alamatnya ya.
Beno
: Okey kalau itu mau lo. #location
“Kenapa senyum-senyum?”tanya Dios penasaran.
“Mas, gue besok mau ngedate!”seru Shara tanpa filter. Dia mudah banget ngasih tau semuanya sama Dios. Toh Dios bukan cowok yang ia targetkan. Jadi tidak ada yang perlu dipikirkan.
“Sama siapa?”tanya Dios lagi. Wajah Dios menunjukkan kecurigaan. Jangankan sama Beno, sama David aja dia curiga.
“Teman sekelas.”
“Oh..”
“Kenapa cuma oh?”
“Gue kira sama siapa. Kalau sama teman sekelas harusnya gak masalah.” balasnya singkat. Jawaban yang bikin Shara bertanya-tanya.