Bab 19

1301 Kata
Moonbuck Coffee 31 tempat dua motor itu parkir. Disana ada Dios, Igor, Jeffrey sama Midi. Dios datang untuk memastikan keadaan Shara. Dia takut aja kalau cewek itu kenapa-napa. Jeffrey sama Midi ikut kemana Dios pergi. Igor satu-satunya sumber informasi kemana mereka harus pergi. Igor sendiri kaget, kenapa juga dia harus ikut. Terserah Shara mau ketemu siapa, ngedate sama siapa. “Jadi Beno itu orangnya gimana Gor?”tanya Dios sambil turun dari motornya.  “Gue gak tahu mas.” “Kok lo cuek banget sih. Apa jangan-jangan lo lagi berantem sama Shara?” “Nggak kok. Gue juga udah ngasih tahu kalau Beno berniat nembak Shara. Sharanya malah gak peduli. Menurut gue ya, dia emang beneran menerima kalau ditembak.” “Waduh, gimana kalau dia kenapa-napa.” “Apa sih mas? Lo suka sama Shara?” “Hahaha, gue cuma khawatir Gor.” Pernyataan yang gak ngasih jawaban. Mereka berhenti saat tahu ada Shara disana. Bahaya kalau cewek itu melihat mereka datang. Mereka udah kayak penguntit. Beno datang dengan tampilan yang luar biasa. Igor kaget lihat cowok itu. Dia tampak berbeda dibanding biasanya. “Kelihatan kok kalau dia serius. Apa yang mau dipermasalahkan.”komentar Jeffrey pada Dios yang masih tampak panik. “Tapi kan, bisa aja dia orang jahat.”balas Dios tak mau kalah. Mereka kembali memperhatikan dari jauh. Beberapa kali Shara tertawa. Entah karena rayuan gombal atau memang ada jokes receh disana. Keempat cowok itu hanya bisa menganga sambil menebak apa yang sedang mereka bicarakan.  Igor memikirkan banyak hal. Ia tak cukup mengenal Beno. Satu hal yang dia tahu, Beno adalah cowok yang berambisi terhadap apapun. Tak cuma mendapatkan nilai yang bagus, ia juga berambisi pada hal-hal kecil seperti pujian secara personal. Setelah makan malam itu, Shara pulang dianterin sama Beno. Tadinya Shara ogah banget mesti dianterin, tapi Beno maksa-maksa. Ya udah deh, Shara akhirnya setuju. Berdasarkan informasi yang didapat dari Google, Shara memutuskan untuk mengikuti ucapan Beno. Kata Google, tidak masalah kalau cewek dianterin cowok pada kencan pertama. Well, hari ini jadi hari pertama mereka jadian.  Shara menerima pernyataan yang udah ketebak itu. Ah, sebenarnya bukan tebakan. Igor udah ngasih tahu kalau Beno emang bakal nembak. Shara mewujudkan wishlistnya yang paling penting dibanding yang lain. Keinginan untuk dapat pacar secepatnya. As soon as possible. Dan sekarang, hal itu terwujud. Ia berjalan melewati gerbang kosan dengan suasana hati yang senang. Ia gak peduli pada apa yang terjadi selanjutnya. Setidaknya ia sudah melepas status jomblonya. Ia sudah punya jawaban kalau ada yang nanya siapa mantannya. “Siapa tuh?”tanya Ririn tiba-tiba. Kehadirannya seperti hantu yang muncul dari alam baka. Ternyata dia ada disana dari tadi. “Kak, ngagetin sih?” “Tumben banget lo dianterin cowok di malam minggu gini.” “Gue baru jadian sama dia.” “Tau gitu, lo ajak masuk dong.” “Ih, emang mau ngapain?” “Ajak kenalan sama gue lah. Pikiran kotor lo mohon dijauhkan.” Shara tertawa. Ia kira maksud Ririn itu ngajak masuk ke kamar. Otak m***m Shara mencuat karena ia tahu Ririn sering bawa cowok ke kamar. Sekarang pun ia masih sering berbuat yang aneh-aneh. Meski sudah ganti pacar, cewek itu tetap terjebak kebiasaan lamanya. Dengan langkah semangat Shara membuka pintu kamarnya. Seperti membuka lembaran baru, ia merasa bangga telah menjalin hubungan dengan Beno. Satu wishlist yang susah untuk diwujudkan. Akhirnya, ia punya kesempatan untuk pacaran.  Ia membuka Instagramnya yang sepi follower. Ia hanya punya 20 follower. Semuanya adalah teman-teman Shara di Jakarta. Ia sengaja mengunci akun itu agar tak terdeteksi oleh Sandiaga. @Shaaars Mari lihat, seindah apa hari ini.  Itulah caption yang ia pikirkan dengan sangat cepat. Ia bukan cewek yang sulit membuat caption. Mila contohnya. Cewek yang kalau mikirin caption IG bisa sampai berjam-jam. Tak hanya menyusahkan diri sendiri, ia bahkan meminta pendapat orang lain.  Tak butuh berapa lama, banyak notifikasi masuk. Aneh banget, biasanya Shara mau update apapun tak pernah mendapat komentar. Akun yang sepi kayak hutan belantara. @dioswiyoko : kok bisa indah? @midian33 : ada sesuatu nich, kasih tahu abang dong @jeffreyp94 : numpang promo kaka Shara langsung bete membaca komentar itu. Ia kira dari secret admirer, ternyata trio menyebalkan yang berkomentar. Ia gak mau balas. Tapi tumben banget mereka kayak gini. Entahlah, Shara mencoba untuk cuek. Ketukan pintu membuatnya kaget. Ia membuka pintu dan mendapati David disana. Ia menyunggingkan senyuman manis semanis gula jawa. Shara sampai gak sadar kalau dia sudah punya pacar. “Sha, gue besok mau pulang kampung. Gue mau ngasih lo ini.”ucapnya sambil memberikan sekantong beras dan cemilan. “Eh, lo pulang besok?”balas Shara sedikit kecewa. Dia gak nyangka secepat ini. “Iya. Pasti lo sedih ya?” “Enggak kok.”balas Shara dengan ekspresi sebaliknya. “Terus kenapa ngasih beginian segala? Emangnya lo mau pulang selamanya?” “Gue baliknya lama Sha. Maybe 3 bulan.” “Lama banget…” “Udah, jangan manyun gitu. Kalau ada apa-apa kan ada Ririn.”ucap David sambil meletakkan barang bawaannya di dalam kamar Shara. Shara masih gak terima dengan kepergian itu. David satu-satunya cowok yang bisa Shara andalkan. Eh, sekarang kan udah beda. Dia udah punya pacar. “Tumben lo bilang gitu.” “Bilang apa?” “Kak Ririn. Lo dulu nyuruh gue ngejauhin Kak Ririn.” “Hahah. Anggap aja itu penebusan dosa gue buat dia. Dia gak sejahat yang gue kira.” Shara tersenyum. Ada sedikit kebahagiaan di dalam hatinya. Seseorang bisa mengubah persepsinya terhadap orang lain. Perubahan menuju ke arah yang baik. Seketika Shara jadi khawatir. David mau balik ke Malang. Apa jadinya kalau David nyari tahu tentang Shara?  “Hmm, ngomong-ngomong, lo gak penasaran rumah gue yang di Malang?”tanya Shara dengan berani. Lebih baik kasih tahu sekarang kalau David penasaran. Dia gak mau kalau sampai cowok itu mengumbar keberadaannya. “Rumah lo? Buat apa?” “Oh, baguslah.” “Emang lo mau ngasih tahu? Atau mau nitip sesuatu ke orang tua lo?” “Engga kak. Gue cuma penasaran.” “Ya udah, kalau ada apa-apa kabari gue aja ya. Meski gue gak disini, gue punya teman yang bisa gue suruh.” “Iya kak. Gue juga bukan anak kecil lagi.” David tersenyum. Dia tahu kok kalau Shara khawatir tentang keberadaannya. David pengen banget nanya langsung, tapi ia urungkan. Ia takut cewek itu merasa tidak nyaman. Bisa saja dia kabur entah kemana. Atau paling parah, dia meminta bantuan pada pemilik kafe tempat ia bekerja. Itu akan sangat berbahaya. David gak mau itu terjadi. Shara menerima banyak banget perlakuan baik. Ia jadi ingat mamanya. Dibanding Sandiaga, mamanya memiliki hati yang baik. Arini Sri Puji, istri dari Sandiaga Cuatro, menerima takdir menikah dengan orang kaya. Ia berasal dari keluarga biasa. Itulah yang membuat Arini sadar betul bagaimana kerasnya hidup. Arini selalu memberikan bantuan baik secara materi maupun behaviour kepada orang-orang.  Terkadang Shara kepikiran, apa yang Arini buat itu berefek pada bisnis Sandiaga? Shara juga tahu betul kalau semua perlakuan baik yang ia terima hari ini adalah balasan atas kebaikan mamanya. Dan ia tahu kalau ia tak sebaik mamanya. Sebuah pesan dari Beno menghentikan imajinasi Shara. Cowok itu mengirimkan beberapa kata mutiara. Romantis sekali. Shara jadi tersenyum sendiri. Begini toh rasanya punya pacar? Shara semakin amaze dengan istilah punya pacar. Ia dikirimi banyak sekali pesan. Dan kalau gak dibalas, Beno pasti nanya alasannya. Notifikasi ponselnya ramai dengan pesan dari satu orang saja, Beno. Shara melirik ke arah bukunya yang penuh dengan daftar keinginan. Ternyata yang paling sulit sudah dipenuhi sudah terwujud. Ia sekarang mau fokus kerja dan memenuhi daftar keinginan yang lain. Moving forward! Hidup adalah peningkatan. Jangan pernah stuck di tempat yang sama. Kalau belum bisa berjalan lebih jauh, setidaknya tetaplah ditempat. Jangan sampai mundur ke belakang. Akan ada waktu yang tepat meski terkesan lambat. Bukan soal lambat atau cepat, ini semua soal cara manusia mendapat kebahagiaannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN