Bab 20

1982 Kata
Today, Shara mau bikin Igor sama Mila baikan. Dia sengaja ngajak dua orang itu ketemu sebelum kuliah berlangsung. Shara gak tahu gimana caranya, ia cuma mau dua orang itu baikan. Just it! Igor udah nungguin di kantin kampus. Ia duduk sendirian saat Shara sampai. “Mau bilang apa Sha?” “Hmm, lo pesen makan dulu deh.”ucap Shara mengalihkan. Ia bingung juga mau jawab apa.  Mila terlihat berdiri di belakang Shara. Shara langsung sigap dan menyuruh cewek itu duduk. Mila mengikuti dengan wajah datar. Pandangan mereka berdua gak saling tertuju. Shara memutuskan untuk memulai semua yang sudah dirancang. “Gue mau kalian baikan.” “Emang kita berantem?”ucap Mila menghindar. Sedang Igor hanya diam membatu. “Walaupun gak berantem, kenapa lo berdua diam-diam? Kayak orang lain aja.” “Gue minta maaf Mil, kalau gue salah. Tapi gue gak bisa lagi temenan kayak dulu.”seru Igor tanpa basa-basi. Entah apa tujuannya.  “Maksud lo apa?”tanya Shara dengan nada tinggi. Kesal banget, dia mau mendamaikan mereka. Sekarang Igor malah mengumbar permusuhan itu dengan gamblang. “Maaf kalau gue gak bisa nerima lo. Gue juga punya orang lain yang ingin gue jaga.”ucap Mila dengan nada sedih. “Ya udah. Mulai sekarang kita jadi teman sekelas saja.”balas Igor dan langsung bergegas. Ia tak menoleh ke Shara sedikitpun. Shara jadi merasa tertekan. “Maafin gue Mil, gue kira kalian bakal baikan abis gue giniin.”ucap Shara dengan wajah sedih. Wajah Mila sedih banget. Ternyata dia gak mau hal ini terjadi. Shara jadi ikutan sedih. Ah, harusnya dia gak ikut campur urusan orang. Urusannya sendiri saja susah diselesaikan, ia malah cari masalah dengan hidup orang lain. “Ga apa-apa Sha. Gue gak tau harus gimana, kayaknya Igor gak bisa temenan sama gue karena dia masih suka sama gue.”ucap Mila menjelaskan. Hubungan antara pria dan wanita memang rumit. Terlebih jika semuanya itu diawali dengan persahabatan. Akan sulit bagi salah satu pihak untuk menerima semuanya. Kini mereka hanya jadi mantan teman. Ah, aneh banget gak sih. Istilah mantan teman itu ternyata beneran ada. “Lo gimana? Bukannya masih suka sama Igor?” “Hmm, sebenarnya gue udah punya pacar.” Mila mengernyitkan dahi syok. “Siapa?” Tiba-tiba Beno datang dengan badan tegapnya. Ia memandang Shara dengan tatapan penuh cinta. Mila satu-satunya yang gak paham dengan semua ini. “Ah iya Mil, gue sama Beno udah pacaran.”ucap Shara. “Hay Mil,,”seru Beno sambil merangkul tangan Shara. Gak tahu kenapa, Shara merasa ada yang aneh. Mila kelihatan gak senang dengan pengakuan itu. Tapi ia langsung mengubah ekspresinya.  “Hai Ben, ah, gue balik duluan ya.” “Eh, bareng aja.”balas Shara. “Jangan dong Sha, kita kan mau nyari cemilan dulu. Buat entar dimakan di kelas.”ajak Beno. Mila gak peduli. Ia terus berjalan meski Shara masih tetap memanggil. Shara jalan bareng sama Beno. Mereka hendak mencari tukang tahu isi yang biasa nangkring di depan gerbang depan kampus CI. Beno langsung memesan beberapa pieces. Shara menunggu sambil melakukan scrolling di ponselnya.  “Shara!!”sapa Josen yang tiba-tiba muncul. Ternyata ia baru sampai kampus. Shara menoleh dan tersenyum. “Jos, lo baru dateng?” “Iya nih. Akhirnya ketemu juga.” “Bagus banget style lo. You look so gorgeous!”seru Shara berkomentar. Ia tertarik sama penampilan Josen yang sederhana tapi dipadukan dengan warna yang sesuai. Pertemuan pertama Shara dengan Josen, Josen berpenampilan rapi dengan jas dan sepatu pantofel. Dan setelahnya pun demikian.  “Hahaha. By the way, gue butuh bantuan lo lagi kayaknya Sha.” “Ehmm,,,,”seru Beno tiba-tiba. Cowok itu langsung ikut nimbrung di antara mereka.  “Oh ya, ini Beno. Ben, ini Josen.”ucap Shara memperkenalkan mereka berdua. “Beno. Pacarnya Shara!” Sebuah pernyataan yang bikin mata Josen terbelalak. Ia melirik ke arah Shara untuk memastikan ucapan Beno. Ternyata benar, ada kesedihan yang langsung muncul di hati Josen.  “Udah yuk, kita balik.”ajak Beno. “Jos, gue duluan ya.”seru Shara gak enak. Josen mengangguk mengiyakan. Shara dan Beno berjalan menuju ke kelas untuk pagi ini. Shara masih ingin bicara sama Josen. Josen butuh bantuannya. Mungkin saja itu bisa membantunya menghasilkan uang. Gara-gara Beno, dia gak berani menanyakan hal itu lebih lanjut. “Dia siapa Sha?” “Ah, teman doang Ben.” “Jangan dekat-dekat sama dia. Nanti aku cemburu.” “Tapi kan, kita cuma teman.” “Tetap aja. Aku gak suka kalau kamu dekat-dekat sama cowok lain.” Shara jadi kepikiran. Apa semua cowok kayak gini? Apa semua cowok merasa terancam kalau pacarnya deket sama orang lain?  “Terus gimana, nanti habis kelas kamu tungguin aku ya. Aku kerja kelompok bentar.” “Tapi aku harus kerja sambilan.” “Kamu kerja sambilan? Dimana?” Pertanyaan itu bikin Shara takut. Takut kalau Beno ngelarang dia kerja. Jelas aja, ketemu sama Josen aja dilarang. Ah, tapi harusnya Beno gak sebegitunya. “Kerja di dekat sini sih. Aku kerjanya masih sorean. Emang kita mau kemana?” “Aku ada futsal entar. Kamu temenin bentar ya.” Shara mengangguk setuju. Ini tuh beneran kayak yang dia impikan. Nemenin pacar main futsal. Semoga saja ini menyenangkan seperti yang ia pikirkan selama ini. Walaupun telat merasakan cinta masa remaja, setidaknya ia masih merasakannya.  Sejak pacaran sama Beno, Mila duduk sendiri di tempat yang agak terpisah. Dia mengirim pesan sama Shara biar gak kepikiran. Cewek itu cuma gak mau ngeganggu mereka berdua. Shara sedih karena Mila dan Igor udah gak bisa kayak dulu. Mau sampai kapan mereka diem-dieman mulu?  Setelah kelas, Shara mengikuti Beno ke tempat futsal. Beno punya banyak teman disana. Ternyata dia juga punya komunitas diluar kampus. Definisi mahasiswa full aktivitas. Gak kayak mahasiswa jaman sekarang yang habis kuliah langsung pulang. Tidur, makan dan besoknya berangkat kuliah lagi. Kita menyebutnya mahasiswa kupu-kupu. Setelah menunggu 1 jam, Shara memutuskan untuk segera pergi. Ia gak boleh telat biar gajinya gak dipotong.  “Ben, aku balik duluan ya.” “Yah, kenapa?”tanya Beno dengan nafas terengah-engah.  “Aku kan harus kerja.” “Oh iya, aku lupa. Kamu gapapa balik sendiri? Aku pengen nganterin sih, tapi pertandingannya belum kelar.” “Ga apa-apa kok Ben. Aku bisa sendiri.” Shara langsung bergegas. Ia memesan transportasi online dengan tujuan ke kafe TG. Shara jadi sadar kalau pacaran itu butuh usaha ekstra. Ia harus bisa menyeimbangkan setiap hal. Jangan sampai ada yang dikorbankan. Ia sampai di Kafe TG yang ramai pengunjung. Dios memberikan tatapan heran. Tumben banget Shara datangnya lama. Biasanya Shara datang lebih cepat. Dengan sigap, Shara mengambil posisi. Sebenarnya sih capek dan pengen istirahat. Tapi ngeliat banyaknya pelanggan bikin dia mengurungkan niat.  “Tumben lama?” “Iya mas, gue ada urusan tadi.” “Mentang-mentang udah gak jomblo.” “Lah, Mas Dios tahu dari mana?” “Gue punya spy di mana-mana.” “Ah, pasti Igor yang ngasih tahu. Dasar tuh cowok.” Dios gak langsung menanggapi. Dia mengantarkan beberapa request pelanggan. Ia kembali dengan ekspresi datar. Kayaknya dia kecapean banget. Shara sigap ngambil air putih. Ia menyuruh Dios minum. Dios menerima saja. Kapan lagi disuapin minuman.  Tiba-tiba Mila datang dengan setumpuk kertas. Ia langsung duduk di kursi pojok. Kali ini Dios menemuinya. Shara masih harus mengerjakan beberapa hal. “Mana Igor?” “Gak tahu.” “Lo kenapa sih sama dia?” “Tanya sendiri sama dia.” “Dia juga bilang gitu sama gue. Terus gue harus nanya siapa?” “Udah ah. Gue mau ngerjain tugas! Sana pergi!” Dios terpaksa pergi. Ia bingung banget. Kenapa sih mereka harus berantem. Tadinya mereka dekat banget. Masa gara-gara hal gak penting pertemanan rusak? Dios melirik ke arah Shara. Harusnya Shara tahu apa yang terjadi. Ia menarik tangan Shara ke tempat lain yang sepi.  “Kenapa sih? “Jawab jujur, Mila sama Igor kenapa?” Shara bergidik ngeri. Dia harus jawab apa kalau udah gini? Salah ngomong bisa membuat masalah.  “Hmm, gak tahu mas.” “Jangan bohong, Sha. Gue tahu kalau lo bohong.” “Sebenarnya gue tahu kalau mereka berantem. Tapi gue sendiri bingung alasannya apa.” “Apa yang lo tahu?” “Hmm,,, gue tahu-nya Igor suka sama Mila.”ucap Shara terpaksa. Dia tidak tahu harus mencari alasan apa. Kalau bohong pasti ujung-ujungnya gak baik. Sama seperti kebohongannya pada David. Cukup sampai disitu saja dia berbohong.  “Hah? Serius?”tanya Dios syok. Shara mengangguk. “Hmm, kok bisa Igor suka sama Mila. Mila si judes itu?” “Jahat banget lo mas. Sepupu sendiri dikatain.” “Benar kan. Ah, gue kira apaan. Tapi masa gara-gara itu doang?” “Gak tau juga sih, tanya sendiri aja sama Mila.”balas Shara. Ia gak mau keceplosan bilang kalau Mila udah punya pacar. Mulutnya kadang gak bisa dikontrol dengan baik. “Ya udah ya. Gue mau balik kerja.” “Oh ya Sha, lain kali bawa pacar lo kesini ya. Gue mau lihat gimana orangnya.”ucap Dios dengan suara agak keras. Shara tidak membalas. Ia terus berjalan ke dalam. Entahlah. Ia kira kalau punya pacar ia bisa pamer. Nyatanya enggak. Ia malah enggan mengenalkan Beno ke Dios. Dia takut kalau Beno menyuruh dia ngejauhin Dios.  Setelah pelanggan sepi, Shara menemui Mila yang sibuk dengan kertas tugas. Cuma Mila yang sesibuk ini. Shara saja belajarnya kadang-kadang doang. Ya, dia memang pemalas.  “Lagi ngapain Mil?” “Eh, Sha, lagi nulis puisi.” “Oh,,,” “Sha, gue minta tolong dong. Ini bukunya Igor. Tolong lo kasih ke dia. Kayaknya dia butuh tapi gak mau minta sama gue.” Wajah memelas itu bikin Shara gak berani menolak. Kelihatan banget kalau Mila sedih. Dan Shara yakin kalau Igor lebih sedih lagi. Shara juga heran, kok bisa dia jadi intermediate antara dua orang itu. Lagi-lagi dia ikut campur masalah orang lain.  “Oke Mil, entar gue kasih ya.” “Thanks Sha, maaf ya, gara-gara kita lo jadi gak enakan gini.” “Gak kok. Gue cuma berharap lo bisa baikan sama dia.” “Sha, gue minta maaf sama lo.” “Kenapa jadi gue?” “Dia marah gak cuma gara-gara kebohongan gue itu. Dia juga marah karena gue ngejodohin lo sama dia.” Bagai berita buruk yang mematahkan hati, Shara gak tahu harus ngomong apa. Jelas-jelas dia pantas marah, tapi ia mengurungkan niat itu. Ia lebih kepikiran sama pandangan Igor terhadapnya. Aduh, mau ditaruh dimana muka Shara.  “Maaf ya Sha. Gue terpaksa jujur karena lo nanyain dia mulu.” “Kapan dia tahu?” “Sejak gue berantem sama dia. Jadi sudah dua mingguan.” Ucapan itu membuat Shara sadar kalau Igor sudah tahu perasaannya sejak Shara berantem sama Caca. Kalau diingat-ingat, Igor berekspresi seperti biasa. Kecuali waktu dia tahu Shara bakal ditembak sama Beno. Apa sebenarnya dia mau menghalangi proses pernyataan cinta itu? Tapi buat apa? “Maaf banget ya, gue tadinya mau diem aja. Apalagi waktu tau lo pacaran sama Beno.” “Okey, gue punya solusi buat masalah kalian.” “Hah?” “Lo duduk tenang. Gue tahu kok, lo merasa bersalah sama Igor.” “Bukan cuma sama Igor. Sama lo juga.” “Persetan sama perasaan gue. Gue udah punya pacar. Gue udah gak peduli sama Igor.” “Jadi beneran lo suka sama Beno? Gue kira itu cuma pelampiasan.” Apa yang Mila bilang benar. Tapi Shara lebih mementingkan masalah yang lebih krusial. Seperti yang sudah terjadi, Igor memang tak menyukainya. Itu sudah pasti. Dan untuk perasaan Shara, itu bukan masalah. Dengan hadirnya Beno, Shara berharap bisa lupa sama perasaan itu.  “Hmm, yang pasti itu bukan pelampiasan.” “Terus ide lo apa? Gue gak suka dijauhin sama Igor.” “Rahasia dong. Oh ya Mil, gue minta nyontek tugas besok.” “Iya boleh, tapi ada pelanggan tuh.” Shara langsung mengalihkan pandangan. Ternyata ada Josen disana. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN