Bab 21

1674 Kata
Josen duduk dengan dua cup kopi di atas meja. Satu untuk dia dan satunya lagi buat Shara. Ia sengaja pesan dua. Cowok itu dengan polosnya traktir Shara segelas kopi.  “Lo tahu dari mana gue kerja disini?”tanya Shara sambil meneguk kopi dingin didepannya.  “Ah, gue cuma kebetulan lewat. Terus ngeliat lo dari jendela.” “Oh, gitu. Terus tadinya mau minta tolong apa?” “Hmm, sebenarnya gue butuh lo buat urusan pribadi.” Josen bercerita tentang mantan pacarnya yang lebih memilih uang ketimbang dirinya. Ia sengaja mengirimkan undangan pernikahan pada Josen. Cewek itu jahat banget. Josen yang dulunya cinta mati berubah jadi benci setengah mati. Sekarang dia malah nantangin karena menikah sama orang kaya raya. Meski gak sekaya Josen. “Tapi kalau gue datang bukannya nunjukin kalau lo kalah?” “Maksud lo?” “Lo pacaran sama orang biasa. Bukan keluarga konglomerat.” “Itu malah bikin gue menang Sha. Kalau lo ngenalin diri sebagai orang biasa, dia bakal sadar kalau sebenarnya ada orang yang lebih baik dari dia. Gak semua cewek itu matre.” “I got your point.” “Gimana? Gue mau minta bantuan orang lain juga gak bisa.” Dalam hati Shara pengen bantuin. Tapi ia juga sadar kalau ia harus nanya Beno dulu. Kalau sampai Beno tahu dia pura-pura jadi pacar Josen, pasti cowok itu marah.  “Gue pikirin dulu ya Jos. Nanti gue kabarin lagi.” “Iya.” “Ah, gue traktir lo Cheesecake ya. Ini buat balasan karena lo udah traktir gue kopi.” Josen yang tadinya mau nolak mengurungkan niatnya. Shara udah keburu pergi. Saat Shara sedang mempersiapkan cheesecake, Dios menarik tangannya keluar dari kafe. Shara yang kaget sekaligus kesal hanya bisa pasrah. “Apa lagi sih Mas Dios yang menyebalkan!” “Lo kenal cowok itu?” “Oh, Josen? Ah, sayangnya dia bukan pacar gue. Dia cuma temen gue!”ucap Shara dengan nada tinggi. Sudah dua kali Dios menarik tangannya hanya untuk nanya-nanya gak jelas.  “Kok lo bisa kenal dia?” “Ceritanya panjang mas. Intinya gue sekampus sama dia.” “Oh,,,,,,” “Kenapa emang?” “Ahhh ga apa-apa. Aneh aja, gue kira teman lo cuma Mila sama Igor.” “Gak jelas lo mas. Udah ah, gue pergi ya.” Tak ada respon dari Dios. Shara kembali mempersiapkan cheesecake yang mau dikasih ke Josen. Akhir-akhir ini harinya terasa lebih sulit. Pacar yang gak jelas alur pikirannya, Mila dan Igor yang gak mau baikan, Igor yang tahu kalau Shara suka sama dia, Josen yang minta tolong buat hal gak penting dan Dios yang kerjaannya nanya mulu. Sungguh menguras tenaga. Orang-orang disekelilingnya yang tadinya sumber kebahagiaan sekarang jadi sumber beban pikiran. Shara meletakkan cheesecake di depan Josen. Josen langsung melahapnya dengan bar-bar. Komentar pertama yang keluar dari mulutnya adalah enak. Shara bangga dong. Ia senyum-senyum sendiri. “Ngakunya orang kaya, masa makan cheesecake aja gitu.” “Sha, ini rasanya beda.”balas Josen sambil terus menikmatinya. Menu itu direkomendasikan Shara. Ia tertarik dengan perpaduan keju dan kopi. Cheese cake kali ini punya rasa yang beda. Aroma kopi dan keju menyatu dan rasanya juga gak kalah enak. Dengan harga yang murah, makanan itu bisa dinikmati semua lapisan masyarakat. “Itu menu gue yang bikin. Untungnya pemilik kafe ini setuju.”ucap Shara sambil mencari-cari Dios. Ternyata Dios gak ada disana. Cuma Mila yang sibuk mengerjakan tugas.  “Lain kali gue kenalin deh. Kayaknya dia lagi PMS.”ledek Shara dan itu bikin Josen ketawa. Di sudut dapur tempat bahan makanan, Dios berpikir dalam diam. Kok bisa Josen sama Shara saling kenal? Dios punya hubungan yang gak baik sama Josen. Josen mengenalnya karena Jeffrey. Trio menyebalkan itu pernah membuat masalah dengan Josen. Josen pasti masih benci sama Dios. Kisah masa remaja yang gak bisa lepas dari ingatan Dios.  “Hallo…”balas seseorang di seberang. Dios sengaja nelfon Jeffrey buat ngasih tahu kejadian hari ini. “Jef, kacau nih!” “Kenapa sih? Yang jelas dong bro!” “Sepupu lo datang ke kafe gue.” “Hah? Jangan bercanda lo! Kalau mau bangkrut gak gini juga ngepranknya.” “Siapa yang mau bangkrut anjir. Gue beneran Jef, dia kesini bukan mau ketemu gue, tapi ketemu sama Shara.” Fakta yang bikin Jeffrey gak bisa berkata-kata. Dunia yang katanya luas dan butuh waktu untuk dijelajahi ini bisa terasa sempit dengan terhubungnya beberapa orang tanpa rencana.  “Aduh kacau nih Jef, kalau sampai dia tahu gue yang punya kafe ini, dia bisa nyuruh kakek lo ngancurin usaha gue.” “Lebay lo!” “Terus gimana dong.” “Lo sembunyi dulu aja.” “Gimana caranya, kalau Shara tiba-tiba bilang?. Kayaknya Shara juga dekat banget sama dia.” “Hmm, kok bisa ya. Gue jadi penasaran, apa mungkin alasan dia kuliah gara-gara Shara?” “Dia kuliah di kampus CI?” “Iya. Gue baru tahu juga sih.” “Suspicious!” “Yap! Lo suruh si Shara jauh-jauh dari dia. Kalau mereka jatuh cinta, bisa-bisa Shara dipermalukan lagi sama kakek. Kakek udah berapa kali menjodohkan dia sama anak pengusaha tapi gak pernah jadi.” Fakta yang membuat Dios makin curiga. Diam-diam dia ngintip Shara sama Josen yang lagi asyik ngobrol. Dios jadi senang waktu tahu Shara punya pacar. Setidaknya Josen gak bisa dijadiin kandidat pacar. Lebih baik cewek itu pacaran dengan orang lain. Dios tahu banget fakta keluarga Paris yang penuh kontroversi.  Josen satu-satunya kandidat terbaik untuk penerus perusahaan. Selagi dia hidup, dia akan dikekang oleh Coldman Paris. Tak ada yang bisa dibantah dari orang tua itu. Pertemuan terakhir Dios dengan Coldman sangat memorable. Dios dan Midi yang waktu itu masih kecil-kecil cabe rawit bersama dengan Jeffrey melakukan perkelahian. Mereka bermasalah dengan geng orang pintar yang berpengaruh di kampus CI. Dengan wajah memar, mereka menemui Coldman di tempat kediamannya di daerah SCBD Jakarta Selatan. Coldman memberi wejangan yang sangat menohok. Ia bahkan menyuruh Midi dan Dios untuk jaga jarak dengan Jeffrey. Awalnya sih berhasil, tapi Jeffrey selalu nempel dengan dua orang itu. Mereka semakin dekat dan itu berlangsung sampai sekarang. Coldman lama-lama gak peduli, asalkan tiga orang itu tidak membuat masalah lagi.  Dios berjanji tidak akan mau ketemu Coldman lagi. Pria tua dengan sejuta kuasa dan uang. Tak ada yang bisa mengalahkannya. Apalagi orang seperti Dios yang hanya pemilik kafe kecil ini. Coldman bisa menghancurkannya kapan saja. Waktu acara Jeffrey menampilkan hasil fotografinya, Dios dan Midi sengaja menjauh dan menjaga sikap. Rasa enggan pada Coldman membuat mereka membatu dan gak bisa berkata-kata. Tak berapa lama, Josen izin pamit. Sumpah, aura Josen beda banget hari itu. Dan Dios bisa melihat itu dengan jelas. Kenapa mereka bisa sedekat itu?  “Shara,,” “Kenapa mas?” “Hmm, tadi lo sama teman lo ngomong apa aja?” “Ngomongin elu!” “Hah?” “Ya kali! Gak penting juga gue bilang sama lo mas.” Jawaban itu bikin Dios lega. Setidaknya Josen belum tahu kalau Kafe TG itu milik Dios. “Sha, mau temenin gue nyari buku gak?”ajak Mila. Jelas sekali kalau Mila udah gak punya teman buat nyari buku. Selama ini Igor yang nemenin dia nyari buku. Sekarang Igor sudah menghilang.  “Gue ikut dong!”seru Dios. “Tapi kafe nya?” “Tutup aja sekarang. Kita kan yang punya kafe. Gue juga butuh hiburan. Di sini mulu bikin mumet.” Setelah menutup kafe, mereka bertiga pergi ke toko buku pinggir jalan. Udah jadi kebiasaan Mila mencari buku di sana. Dios sama Shara cuma diam karena gak tertarik. Mereka berdua menunggu kala Mila mencari buku yang dia inginkan. “Tumben lo mau ikut?”tanya Shara pada Dios. Waktu itu Mila lagi ngobrol sama penjual buku itu. “Gue kasihan sama Mila.” “Udah ngomong sama igor?” “Belum. Dia gak pernah datang ke kafe. Gue juga jarang ketemu dia di luar.” Bisa jadi Igor menghindari Dios. Dia juga takut keceplosan dan mengungkapkan semua fakta. Shara apalagi. Shara jadi malu ketemu Igor. Walaupun Shara udah punya pacar, Igor pasti merasa gak enak setelah tahu Shara suka padanya. Ah, andai dunia gak serumit ini. Andaikan ada tombol otomatis yang bisa mengubah perasaan orang lain. Kenapa manusia selalu dihadapkan pada cinta bertepuk sebelah tangan? Seandainya manusia bisa mengontrol perasaan orang lain, maka tak perlu ada hati yang tersakiti. Tak perlu ada yang patah untuk sebuah rasa cinta. Tak perlu ada yang terluka hanya demi cinta semata. Bohong adalah akar dari semua permasalahan ini. Bohong membuat hidup yang tadinya rumit jadi semakin rumit. Iya sih, awalnya terlihat suatu penyelesaian masalah. Lama-lama masalah jadi semakin bercabang. Sama seperti Shara. Shara yang kabur demi dirinya sendiri. Ia berbohong pada orang-orang yang menganggapnya polos. Sungguh, ini adalah kejahatan. “Oh ya mas, gue mau nanya dong.” “Apa?” “Sebagai cowok yang udah punya segudang pacar, lo pantes ditanyain beginian.” “Heh, info dari mana itu. Gue punya pacar cuma satu. Kalau mantan baru segudang.” “Dari teman-teman lo. Ah, pokoknya gue mau nanya. Apa semua cowok emang gak suka lihat pacarnya dekat sama cowok lain?” “Kalau gue sih biasa aja. Tergantung kondisi.” “Kondisi yang lo maksud itu apa?” “Gimana ya jelasinnya.”balas Dios sambil berpikir keras. “Kondisi kayak cowok itu emang punya niat lain. Kalau misalnya lo ngakunya cuma teman, gue bakal santai. Itu namanya saling percaya.” Shara manggut-manggut sambil berpikir. Iya juga ya, hubungan yang berhasil itu dimulai dengan saling percaya. Kalau gak saling percaya, maka perkara akan selalu ada. Jangankan perkara yang besar, perkara yang kecil pun tak akan bisa diselesaikan. “Oh, gue paham mas.” “Hahaha, sok paham lu ya.” “Beneran paham kali!” Dios cuma senyum-senyum. Shara masih kepikiran sama Beno. Ah, andai David ada disini mungkin ia bisa minta pendapat. Saat ingat David, ia jadi cemas. Semoga saja cowok itu gak ngasih tahu keberadaan Shara pada siapapun. Semoga Sandiaga memberinya waktu bernafas dan menikmati hidupnya. Hidup yang cuma sekali ini gak baik disia-siakan. Bukan soal uang, ini semua tentang kebahagiaan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN