~Jika cinta dia, jujurlah padaku. Aku bisa pergi demi kamu~
Malam keakraban Jurusan Bahasa kampus CI tiba. Pagi itu, semua panitia mempersiapkan segalanya. Mereka akan menginap di villa yang berlokasi di puncak Bogor. Secara otomatis, Shara sama Beno nempel mulu. Kebiasaan Beno itu bikin Shara gak nyaman. Tapi ia gak berani bilang.
Sudah mau satu bulan dia sama Beno pacaran. Hal yang Shara takuti terjadi. Dia gak suka dikekang. Beno itu kayak bapaknya, suka ngekang dan ngurusin kehidupan Shara.
Mereka bahkan duduk bareng di bis. Semua juga udah paham kalau yang pacaran gak boleh diganggu. Shara mendapat panggilan telepon dari David. Tumben banget cowok itu nelpon sepagi ini. Beno melirik dari sampingnya.
“Hallo..”
“Kata Midi, lo punya pacar ya?”
“Iya. Jadi sekarang lo dekat sama si m***m?”
“Awas lo ya, gue bilangin Midi. Siapa tuh pacar lo? Jangan aneh-aneh loh.”
“Siapa juga yang aneh-aneh. Oh ya kak, kapan balik?”
“Minggu depan. Kangen ya?”
“Engga!”
“Gue kangen juga kok.”
What the hell! Bikin salting aja sih. Shara jadi senyum-senyum sendiri. Dia gak sadar kalau Beno ngeliatin dengan wajah tegasnya. Jelas banget kalau cowok itu penasaran.
“Ah, udah ya kak. Ini gue lagi berangkat makrab.”
“Iya Sha, hati-hati ya.”
Panggilan terputus. Shara deg-degan sambil melihat wajah Beno.
“Itu siapa?”
“Kak David, kakak kelas aku waktu sekolah. Dia cuma mau nanyain kabar.”
“Aku kan udah bilang, jangan dekat-dekat sama cowok lain. Aku juga punya perasaan Sha. Aku maunya hubungan kita baik-baik saja.”
Shara cuma bisa diam. Dia bahkan gak berani ngebantah. Aura Beno bikin dia ciut. Padahal sama yang lain, Shara bisa seenaknya. Status pacaran ini bikin Shara berubah banget.
“Ya udah ga apa-apa. Lain kali kamu jangan gitu lagi ya!”ucap Beno dengan nada suara yang merayu. Shara terpaksa tersenyum. Gini amat ya pacaran. Bukannya dapat kebahagiaan, Shara malah tertekan batin.
Tapi tetap aja, Beno itu pacar pertama Shara. Pengalaman pacaran ini sangat menarik. Sepanjang perjalanan, Shara dengerin lagu barengan sama Beno. Itu hanya bisa Shara lihat di drama korea. Sekarang dia ngerasain sendiri. Walaupun pendengaran jadi tidak stabil, tapi seru juga. Beno menjadikannya permaisuri. Apa saja yang Shara mau pasti dibeliin Beno. Shara gak perlu keluar mobil kalau mau beli air mineral atau snack. Beno siap sedia beliin buat dia.
Sore hari, semua orang disuruh melakukan beberapa kewajiban. Ada yang nyuci piring, mandi dan beresin beberapa hal untuk kegiatan hiburan. Shara nyuri-nyuri waktu buat ketemu Igor. Ia mau selesaikan masalahnya sama cowok itu. Ia sudah gak berharap kok. Dia harus move on. Igor gak mungkin suka sama dia.
Sampai tiba pertandingan sepak bola, Shara gak bisa ketemu Igor. Beno selalu ngikutin dia. Hingga akhirnya, beberapa orang disuruh bakar jagung. Malam ini akan dilakukan game truth or sing. Kasih tau kebenaran atau lo harus nyanyi.
Shara menemui Igor yang lagi sibuk membakar jagung. Igor diem aja. Aneh banget sih. Shara enggan mau ngajak ngobrol. Hingga akhirnya Igor mau pergi. Ia gak ngomong apa-apa sama Shara.
“Gor, gue mau ngomong!”ucap Shara memberanikan diri. Igor yang tadinya mau pergi akhirnya balik lagi.
“Maaf ya kalau gue malah bikin hancur hubungan lo sama Mila.”
“Bukan salah lo. Itu emang salah gue.”
“Gue juga mau klarifikasi. Ucapan Mila ke lo tentang gue.”
“Oh itu…..”
“Itu udah lama kok. Sekarang gue udah punya Beno. Jadi jangan gak enakan lagi sama gue. Dan jangan menghindar. Gue mau kita temenan kayak dulu.”
“Apa lo berpikir gue menghindar?”
“Iya.”
“Hmm, maafin deh kalau gitu. Tapi gue gak menghindar kok.”
“Iya ga apa-apa.”balas Shara sambil tersenyum manis. “Tentang Mila, lo beneran sebenci itu sama dia?”
“Nggak. Gue udah baikan sama dia.”
“Hah?”
“Kemarin Mas Dios nyuruh gue baikan sama Mila. Walau udah baikan, kayaknya susah buat berteman kayak dulu.”
Shara langsung mendekatkan badannya ke Igor. Igor kaget dong. “Ah, gue lega banget. Kalau kalian masih saling canggung, kan ada gue. Kenalin, gue matahari!”
“Apa maksudnya?”
“Gue matahari yang siap mencairkan es. Kalian berdua itu sudah kayak es. Dingin banget..”
Igor tertawa. Sikap Igor yang tadinya dingin berubah jadi hangat. Mungkin dia gak enak sama Shara. Sikap manusia itu mudah ditebak. Apalagi soal cinta bertepuk sebelah tangan. Terkadang keramahan itu berkurang hanya demi perasaan orang lain. Jangan sampai ada yang baper. Seharusnya, baper itu tanggung jawab diri sendiri. Sayangnya banyak yang menyalahkan orang lain atas bapernya sendiri.
“Bercanda mulu! Tuh, pacar lo datang.”
Muka Shara langsung bete saat Beno dateng. Igor bisa ngeliat itu dengan jelas. Dalam hatinya, ia bertanya-tanya, kok bisa Shara pacaran sama cowok itu. Ngelihat Shara yang terlihat tertekan, ia kayak cewek bucin yang mengikuti semua keinginan pacarnya.
“Sha, ayo duduk aja. Kamu ngapain ikut bakar jagung. Itu sudah tugas Igor.”
“Iya Sha, sana duduk aja.”balas Igor.
Shara mengikuti ucapan Beno. Tadinya ia pengen bakar jagung. Kayaknya menyenangkan. Apalagi bisa bercanda sama Igor. Udah lama dia gak sebebas itu bicara sama Igor.
****
Jeffrey mengenakan setelan jas untuk menghadiri pertemuan penting di gedung JH di daerah Kuningan. Pertemuan yang membuatnya sadar kalau lingkungan pertemanan itu benar-benar memuakkan. Ia terpaksa ikut hanya karena anjuran orang tuanya. Dan tentu saja atas suruhan baginda yang terhormat, Coldman Paris.
Ia tersenyum melihat Katrin yang berjalan ke arahnya. Cewek cantik, berkelas dan menarik. Semua orang terpesona dengan kecantikan itu. Jeffrey menatapnya dalam. Mereka saling menyapa dengan pelukan. Katrin, pacar Jeffrey yang merupakan putri ketiga dari keluarga Hartono, pemilik beberapa mall dan hotel di Jakarta.
“Demi kamu loh aku datang ke sini.”
“Makasih ya, ini semua cuma buat kakek.”balas Jeffrey sambil memeluk cewek itu erat-erat.
“Padahal kita mau makan malam berdua.”
“Ga apa-apa, nanti aku luangin waktu satu minggu buat kamu.”
“Jangan janji mulu.”
“Hahah. Kalau gak ada kerjaan.”
Katrin tertawa. Jeffrey melepaskan pelukan itu. Ia menggenggam tangan cewek itu dan mengajaknya masuk ke dalam. Disana ada acara khusus untuk anak-anak pengusaha kaya. Tak hanya itu, ada juga beberapa anak menteri. Jeffrey dan Katrin langsung mengambil posisi terbaik untuk duduk.
Beberapa orang menemui mereka. Coldman sengaja nyuruh Jeffrey karena Josen masih terlalu muda untuk acara itu. Jeffrey cuma bisa mengalah, meskipun dia seperti tumbal untuk pertemuan ini. Acara membosankan itu hanya bincang-bincang kecil dengan para penerus perusahaan besar orang tuanya.
Tatapan Jeffrey terfokus sama seseorang yang ia kenal. Ada Joko, kaki tangan kakeknya. Bukankah Jeffrey sudah cukup untuk mewakili acara ini? Jeffrey yang penasaran memutuskan untuk mengikuti Joko. Joko tersenyum menerima jabatan tangan dari seorang pria paruh baya.
Susah sekali mendengar percakapan mereka. Jeffrey gak dengar apapun sampai Joko berpisah dengan orang itu. Ia menelepon seseorang.
“Halo pak. Saya sudah ketemu. Iya, tidak masalah. Dia juga bilang terima kasih pak. Iya, namanya Shara. Baik pak!”
Satu nama yang bikin Jeffrey terbelalak. Kalau sampai Shara ikut terseret, cewek itu akan bernasib sial. Shara yang polos itu. Jeffrey gak bisa berpikir jernih. Dia benar-benar khawatir. Gak bisa dibiarkan. Kalau sampai kakeknya berbuat macam-macam sama Shara.
Ah, ini semua karena Josen. Harusnya dia tahu diri. Kalau dilarang, ya jangan dilanggar. Melanggar peraturan sama saja dengan cari masalah. Terlebih orang yang dia tantang punya kuasa dan uang yang berlimbah. Sistem pemerintahan saja bisa dibolak balik apalagi masalah sepele kayak gini. Jeffrey menekan kontak dengan nama Dios. Ia harus menyuruh cowok itu siaga. Apapun yang terjadi, Shara harus disembunyikan sebisa mungkin.
“Kenapa Jef?”
“Kacau Di. Kayaknya kakek gue tahu tentang Shara.”
“Aish, lo serius?”
“Iya. Shara lagi sama lo gak?”
“Enggak. Dia lagi makrab. Tenang aja, disana ada Igor sama Mila.”
“Terus gimana ya?”
“Mending lo suruh si Josen jauhin Shara. Mumpung kakek lo masih waras.”
“Iya sih.”
“Udah dulu ya, ini gue lagi ngedate.”
“Sa ae lo! Suruh Katrin nyariin cewek buat gue.”
“Enak aja. Gue gak mau lo pacaran sama temannya dia.”
“Pelit banget ellah.”
Jeffrey cuma tertawa. Dia kembali menemui Katrin yang menunggu dengan wajah bete. Cowok itu terlalu lama mengabaikannya. Jeffrey cuma minta maaf dan nyuruh cewek itu ngasih permintaan. Apapun permintaannya bakal dikabulkan sama Jeffrey. Mereka sudah pacaran 2 tahun. Hubungan itu tak ada pertentangan dari siapapun.
Dua keluarga dengan derajat yang sama tak mungkin dipaksa bubar. Sering kali Jeffrey merasa beruntung. Ia beruntung jatuh cinta pada orang yang bisa digapai. Ia kasihan sama Josen yang harus berjuang keras demi cewek yang dengan mudah mengkhianatinya.
Derajat keluarga yang berbeda sering jadi sumber pertikaian. Katanya sih toleransi itu penting. Tapi masih banyak yang ogah menerima orang lain kalau derajat keluarganya beda. Ironis dan miris. Saat kisah dimulai dengan saling cinta tapi berakhir karena latar belakang keluarga yang berbeda secara signifikan. Ini jadi bukti, kalau ternyata cinta tak sekuat itu untuk mengabaikan bagian hidup lain dari manusia.