Sepanjang dosen ngajar, Mila ngomel mulu. Ia kesal karena Shara masuk kelas padahal dia lagi sakit. Gak usah ditanyain juga, semua orang tahu kalau Shara lagi sakit. Mukanya kayak orang sekarat.
Shara masuk kuliah cuma demi ngumpulin tugas. Ia tahu kalau tugas ini penting banget. Kalau dia sampai gak lulus, beasiswa yang diterima sampai sekarang bisa dicabut. Bahaya, bisa-bisa dia kudu balik ke malang. Big no, Shara gak mau.
“Habis kelas ini, lo harus pulang!”ucap Mila sambil mendengarkan penjelasan dosen.
“Iya.”
“Dan lo gak boleh kerja. Entar gue bilangin ke Mas Dios.”
“Eh, gue bisa kerja kok. Kan hari ini gue dapat jadwal sore.”
“Keras kepala banget sih. Pokoknya lo gak boleh kerja. Istirahat aja dulu.”
Shara hanya diam. Dia gak punya kekuatan untuk melawan cewek itu. Dan mungkin, saran Mila itu benar. Shara perlu mengistirahatkan tubuhnya dari segala aktivitas. Jangan sampai dia masuk rumah sakit. Itu lebih rumit daripada nyari kerja lagi. Kalaupun dipecat, dia masih bisa nyari kerja di tempat lain. Simple kan?
“Kok Igor duduk dibelakang?”tanya Shara heran. Aneh aja gitu, biasanya Igor langsung duduk disamping Mila. Entah apa yang terjadi diantara mereka.
“Hmm, gue juga gak tahu.”ucap Mila cuek. Fiks ada yang gak beres diantara mereka.
“Demikian untuk hari ini. Kalau ada pertanyaan bisa hubungi bapak. Terima kasih.”ucap dosen mengakhiri pembelajaran hari ini. Semua orang bergegas ke kantin. Habis ini ada kuliah lagi. Mereka harus memanfaatkan waktu buat makan dan minum.
“Gue pesen gojek ya buat lo pulang.”
“Gak usah Mil. Gue minta tolong Igor.”
“Tapi dia gak punya motor.”
“Tenang. Lo mending ke kantin sama yang lain.”ucap Shara sambil melirik ke arah geng cewek yang terlihat sedang menunggu Mila. Sebenarnya Shara gak mau menyusahkan Mila. Dan dia penasaran sama Igor. Kalau pulang bareng Igor, mungkin dia bisa nanya-nanya. Kesempatan dalam kesempitan. Sambil menyelam minum air.
“IGOR!!”teriak Shara keras. Teriakan itu membuat cowok-cowok di bangku belakang menoleh semua ke arah Shara. Shara sampai pangling. Ia sedikit tersipu. Suaranya yang lantang itu ternyata cukup bisa membuatnya jadi the center of attention. Mungkin terkesan negatif, tapi itu lebih baik daripada bertingkah biasa. Orang yang bertingkah biasa cenderung tak dianggap. Ia tak akan terkenang bahkan jika dunia kiamat. Itulah yang terjadi pada Shara selama ini. Bahkan saat ada reuni besar-besaran, tak akan ada yang mencarinya. Itu karena ia terlalu biasa untuk dianggap ada.
“Ehmm, maaf ya.”ucapnya kemudian. Ia berjalan ke arah Igor yang melihat dengan alis terangkat.
“Tolong anterin gue pulang dong. Gue lagi sakit.”
“Hah? Pake apa?”
“Pinjam motor mereka aja.”ucap Shara sambil menunjuk cowok-cowok di sebelah. Igor tampak agak keberatan karena ia lagi ngerjain tugas. Tapi dia tetap mengalah. Jelas sekali kalau Shara lagi sakit. Meskipun suaranya keras, wajahnya gak bisa menutupi kalau ia sedang sakit.
Mereka berjalan ke parkiran untuk mencari motor yang dipinjam sama Igor. Tadinya igor udah nyuruh Shara buat nunggu di depan aja. Kasihan juga cewek itu harus jalan ke parkiran disaat dia lagi sakit. Shara malah pengen ikut.
“Jadi, kenapa harus masuk kelas kalau sakit?”
“Gue mau ngumpulin tugas. Entar gue dapat D, abis itu beasiswa gue dicabut.”
“Hahaha.”
“Lo kenapa sama Mila?”
“Emang kenapa? Gak ada apa-apa.”
“Hmmm,,,,”
“Emang Mila bilang apa?”
“Gak ada. Gue cuma penasaran. Kalian kayak saling menghindar.”
Igor cuma diam. Shara jadi bingung sendiri. Gak ada yang mau cerita apa? Hmm, apa mungkin Mila udah ngomong kalau dia punya pacar? Ah, tapi seharusnya itu gak bikin canggung. Harusnya Igor jadi sadar diri. Ya, harusnya Igor cari incaran baru, kayak Shara misalnya. Tapi Igor dan Mila kayak terlibat masalah yang bikin mereka kayak gak saling kesal.
Tak ada jawaban dari Igor. Shara hanya bisa pasrah dengan rasa penasaran itu. Ia memilih menikmati dinginnya angin. Badan Igor yang tegap membuatnya damai di belakang sana. Andai ia bisa memeluk cowok itu. Hey, jangan harap. Kalau sampai Shara melakukan itu, mungkin Igor gak mau lagi temenan sama Shara. Shara akan disebut aneh sama cowok itu. Angin yang lumayan kencang itu, membuat kepala Shara makin sakit. Padahal tadi sudah sembuh, sekarang kambuh lagi. Harusnya dia memesan GrabCar atau GoCar. Bodohnya dia. Jangan sampai dia nyusahin David sama Ririn lagi. Dia banyak berhutang sama dua orang itu.
“Makasih ya Gor. Maaf ngerepotin lo.”
“Iya Sha, ga apa-apa. Lo cepat sembuh ya.”
Shara mengangguk.
“Ah, apa Mila ngasih tahu sesuatu sama lo?”
Shara berpikir keras. Pertanyaan ini jebakan. Jangan sampai Shara sampai ngasih tahu kalau Mila sebenarnya punya pacar. Dan Igor sudah tidak punya harapan. Mila sengaja nutupin itu dari Mas Dios. Kalau sampai Mas Dios tahu, maka Shara jadi orang pertama yang dicurigai.
“Ngak. Emang kalian kenapa sih?”
“Hmm, gak kok, ga apa-apa.”
“Ya udah kalau gak mau cerita. Tapi kalau mau cerita, gue siap ngedengerin.”ucap Shara sambil tersenyum manis. Igor tersenyum kecut. Ia pamit dan langsung pergi. Shara jadi penasaran. Andai dia sehat, dia bakal mencari tahu tentang semua itu. Sayangnya, badannya semakin rapuh. Dia gak boleh lemah dan nyusahin orang lagi.
Ia berjalan melewati kamar-kamar untuk sampai ke kamarnya. Siang hari memang sangat sepi di kosan itu. Semua orang punya aktivitas di luar. Shara jadi tahu kalau hidup mereka sangat bergantung pada pekerjaan. Begitukah orang dewasa menjalani hidup? Bagi Shara, itu kebanggaan sekaligus hal yang miris. Sama halnya dengan dia sendiri. Dia bekerja sampai badannya gak kuat. Dia harus sakit demi uang yang tak seberapa itu. Ia cukup beruntung karena punya orang tua yang kaya. Semisal Shara udah gak kuat hidup sebagai orang biasa, ia bisa kembali pulang. Tak mungkin orang tuanya menolak. Tak ada orang tua yang menolak anaknya kembali.
Dering telfon menghentikan langkahnya. Ia berhenti mencari kunci di antara tumpukan kertas di tasnya. Ada nama Josen disana. Oh, ternyata dia.
“Hallo…”
“Shara, lo dimana?”
“Di Kosan.”
“Lah, gak kuliah?”
“Udah. tadi gue ke kampus. Cuman lagi gak enak badan, jadinya pulang.”
“Lo sakit?”
“Gak sakit kok. Cuman butuh istrihat. Emang kenapa Jos?”
“Tadinya gue mau ketemu. Kebetulan gue lagi di kampus juga.”
“Lo ngapain di kampus gue?”
“Sebenarnya gue baru masuk kuliah.”
“Hah? Kok bisa?”
“Pokoknya gitu deh. Kalau gitu udah ya Sha. Lo cepat sembuh.”
“Oh, iya Jos. Makasih.”
Shara makin heran. Ah, tapi Josen itu anak orang kaya. Kalau dia mau masuk di pertengahan semester juga bisa. Tapi kan, kampus CI termasuk kampus swasta terbaik di Jakarta? Bagaimana bisa Josen masuk semudah itu? Aneh aja gitu. Sekaya apa dia sampai bisa menaklukkan kampus bergengsi ini?
Cewek itu langsung merebahkan diri di kasur. Sudah waktunya terlelap tidur. Ia gak mau memikirkan apapun. Ia harus sembuh biar bisa melakukan apa yang ia inginkan. Ada rasa kesal di dalam dirinya. Kenapa ia belum dapat pacar? Kenapa se-susah ini buat dapat pacar?
Banyak sekali cowok di sekelilingnya, tapi kenapa gak ada satupun yang mau jadi pacarnya? Apa emang dia gak cocok dijadiin pacar?
Seketika ada niat dihati Shara untuk menerapkan emansipasi wanita. Perempuan yang tadinya disuruh menunggu, bolehkah bergerak lebih dulu? Mungkin Shara bisa nembak Igor. Ah, Igor pasti akan menolak mentah-mentah. David? Oh tidak mungkin, David sudah ada yang punya. Kecuali jika David mau punya dua pacar sekaligus. Jadi yang kedua kayaknya gak buruk. Mas Dios? Big no, dia itu om-om playboy yang terlalu tua untuk Shara. Kandidat yang rasanya gak bisa digapai.
****
Bangun-bangun Shara kaget dengan ketukan pintu yang keras. Ia bangun dalam keadaan sehat walafiat. Kepalanya gak sakit lagi. Bagi Shara, tidur itu adalah obat terbaik. Ya, ditambah dengan makanan sehat dan teh manis panas. Itu sudah sangat sempurna untuk menyembuhkan segala penyakit. Kecuali sakit karena cinta. Ahay..
Ia membuka pintu dan mendapati bu kos berdiri dengan bungkusan di tangannya. Ia sesekali melirik ke dalam kamar. Ia pasti sedang meneliti isi kamar Shara. Kalau-kalau Shara menyelundupkan barang yang bisa ditagih. Barang yang mengandalkan aliran listrik dan dibebankan biaya.
“Ini ada kiriman dari gojek.”
“Hah? Siapa?”seru Shara kaget. Aneh aja gitu Shara ga pernah memesan apa-apa. Dia merinding sendiri. Ia takut itu kiriman Sandiaga. Atau mungkin ada orang jahat yang mengirimkannya barang terlarang.
“Mana saya tahu. Pokoknya ini buat kamu.”seru bu kos sambil ngasih bungkusan itu. Bu kosan sudah kembali cuek. Ia pasti tahu kalau David ngebantuin Shara kemarin. Kalau sudah terancam gitu, dia pasti jadi sinis lagi.
“Iya bu, makasih.”
“Kamu sakit?”
“Iya bu. Tapi sekarang udah sembuh kok.”
“Ah iya, kalau sakit jangan nyusahin orang. Langsung aja ke rumah sakit.”ucapnya sambil pergi meninggalkan Shara dengan wajah kesal. Rasanya Shara ingin menghancurkan sendi-sendi wanita itu. Ia ingin membuat wanita tua itu patah tulang dan harus berobat ke dokter. Dasar wanita kejam.
Dengan perasaan yang masih kesal, Shara memeriksa bungkusan itu. Ada makanan dan beberapa obat. Tak hanya itu, ada surat di dalamnya. Shara mengernyitkan dahi. Aneh aja gitu, zaman sudah secanggih ini masih ada yang ngirim surat. Ia membukanya perlahan.
“Untuk Shara,
Cepat sembuh biar kita ketemu di kampus. Gue butuh bantuan lo.
Dari teman baru lo di kampus CI”
Shara tersenyum kecil. Ia tahu ini dari siapa. Dasar, ternyata dia punya hati bak malaikat. Perhatiannya itu loh, bikin Shara sadar kalau banyak orang yang sayang sama dia. Mereka bukan keluarga, tapi perhatiannya lebih dari keluarga.