Bab 14

1562 Kata
“Haiii gais!”sapa Dios yang muncul dari balik pintu. Ia terlihat ceria dan menyunggingkan senyuman. Ia membawa tumpukan plastik yang kayaknya oleh-oleh dari kampung.  “Gue bawa oleh-oleh buat kalian. Udah gimana? Gue takut banget kafe ini tiba-tiba merugi.” “Tenang mas, Kak Shara benar-benar bisa mengambil alih.”balas Hendi tertawa sambil memberikan dua jempol. Shara menatap cowok itu. Walaupun dia kelihatan baik-baik saja, matanya gak bisa bohong. Pelanggan yang tiba-tiba datang mengalihkan perhatiannya. Ia langsung menyapa dan mengurus pesanan. Shara berusaha fokus sama kerjaannya.  Shara pengen nanya tentang kabar Mas Dios, terutama Mila yang susah banget balas pesan. Tapi pekerjaan hari ini banyak banget. Ternyata punya banyak pelanggan tak selamanya baik. Shara dan Hendi harus bekerja ekstra keras. Walaupun mereka dapat bonus yang lumayan banyak, tapi badannya gak bakal kuat menahan rasa lelah.  “Akhirnya selesai. Gue capek banget!”keluh Shara sambil duduk di kursi pinggir yang seharusnya buat pelanggan. Hari sudah semakin malam, wajar saja pelanggannya berkurang. “Lo baik-baik saja kan mas?”tanya Shara pada Dios yang duduk sambil terus mengarahkan pandangan ke ponselnya. Ia  terlihat sedang membalas pesan duka yang dikirim teman-temannya. “Sebenarnya nggak. Tapi gue bisa apa.”balasnya dengan wajah sendu. Kali ini, ada kejujuran di wajah itu. “Sebenarnya gue belum pernah kehilangan orang terdekat. I mean, meninggal dunia. Jadi gue gak tau gimana rasanya.”balas Shara. Keluarga besar Cuatro masih sangat jaya dalam umur yang panjang. Kakek dan neneknya masih hidup semua. Shara tidak pernah tahu gimana rasanya kehilangan orang terdekat. Ah, ia jadi rindu mamanya. “Rasanya sedih tapi kosong. Bersyukur aja, lo belum ngerasain kehilangan. Semua orang pasti ngerasainnya. Cuma beda waktu aja.” “Oh, rasanya kosong. Mungkin kosongnya beda ya. Gue selalu merasa kosong dengan hidup gue.”ucap Shara. Kok tiba-tiba dia curhat? Ah, sejak hidup sendiri, Shara terkadang merasa kosong. Walaupun ia dikelilingi sahabat dan teman tapi ada saat dimana kekosongan itu datang. Biasanya sih kalau sudah malam. Sebelum matanya terlelap, ada sesuatu yang tak beres dihatinya. Dios menyenggol badan Shara. “Lebay lo. Makanya jangan overthinking.”ledeknya sambil tertawa. Ia berjalan menuju tempat lain yang kelihatan berantakan. “Terus, Mila gimana mas?” “Dia udah ga apa-apa kok. Cuma kepikiran aja.” “Hmm, semoga dia gak sedih lagi.” Hendi izin pulang setelah semua tanggung jawabnya sudah selesai. Tinggallah Shara dan Dios disana. Gak tahu kenapa, Shara merasa lega karena Dios kembali. Pekerjaannya lebih ringan. Kemarin ia pulang lebih lama karena harus mengurus semuanya sendiri. “Makasih ya Sha.”seru Dios saat mereka duduk sambil menikmati secangkir kopi panas ditemani cemilan.  “Buat apa?” “Lo bisa menghandle tempat ini.” “Santai mas, karna gue orangnya pekerja keras jadi bisa.”ucap Shara dengan percaya diri. Kebiasaan kerja keras memang sudah dari dulu. Dalam artian bekerja keras untuk nilai yang bagus. Oleh karena itulah dia selalu masuk daftar orang pintar di sekolah. “Ah, gue harus balik. Udah jam segini.” Shara bergegas cepat. Ia perlu mengerjakan tugas yang dikumpulkan besok. Sebagai seorang deadliner, ia harus pintar jaga kondisi. Pernah kejadian dia sakit kepala saat ia gak sanggup ngerjain tugas. Dengan terpaksa, dia ngerjain tugasnya dalam keadaan sekarat. Dia gak mau hal itu terulang lagi. Bukan hanya fisik yang bermasalah tapi juga jiwa dan mental. “Gue anterin ya.” “Eh, gak usah mas.” “Ga apa-apa. Gue juga bete kalau langsung pulang.” Shara mengikut saja. Dios mengambil motornya yang terparkir. Shara langsung naik. Shara semakin yakin kalau Dios itu orang yang baik. Dia sampai rela nganterin Shara pulang. Padahal kosannya gak jauh-jauh amat.  “Makasih ya mas.” “Iya. Udah sana, masuk!” Shara mengangguk. Ia berjalan lambat dan sesekali menoleh. Tatapan matanya menyuruh Dios untuk segera pergi. Buat apa cowok itu nungguin Shara sampai masuk rumah?  Shara mendapat kejutan yang menyebalkan. Dibalik pintu gerbang ada ibu kos yang memperhatikannya. Wanita itu penuh selidik. Pasti dia tahu kalau Shara diantar seseorang. Seseorang bernama lelaki. “Eh Shara, baru pulang?” “Iya bu.” “Itu pacar kamu yang nganterin?” Anjir. Kepo maksimal. Penting banget Shara ngasih tahu. Ah, tapi Shara ingin membuat sebuah pengakuan. Kalau misalnya Shara ngaku-ngaku punya gebetan, mungkin ibu kosan gak sinisin dia lagi. Disinisin sama orang itu gak enak. Gak enak banget. “Teman doang kok bu.” “Teman apa teman?” “Gebetan lah. Biasa anak muda.” “Biasa anak muda”, kalimat sindiran dari Shara untuk dia. Shara mau ngasih tahu aja kalau dia itu sudah tidak muda. Tidak pantas mengincar seorang David. David gak mungkin juga jatuh hati hanya karena dikasih makan tiap hari. Hell no! “Ga apa-apa nak Shara. Selagi masih muda emang harus banyak pacar. Entar tinggal hom pim pa kalau mau merit.” “Hehe, iya bu.” “Ibu juga dulu gitu. Banyak gebetan dan cakep-cakep lagi.” Idih. Shara langsung merinding mendengarnya. Walaupun ngebet punya pacar, Shara juga tahu diri kali. Dia gak perlu jutaan cowok, cukup satu saja. Satu orang tapi mendebarkan hati lebih baik daripada seribu orang tapi membosankan. Setelah mendengar penuturan itu, Shara jadi yakin kalau wanita itu cewek genit di jamannya. Jaman batu mungkin. “Iya bu. Saya masuk dulu ya bu.” “Ah iya-iya.”ucapnya ramah. Keramahan itu bersumber dari fakta bahwa Shara punya gebetan. Setidaknya dia bisalah ngedapetin David. Tapi jangan harap, itu cuma halusinasi belaka.  Shara berjalan gontai. Gak tahu kenapa, hari ini lelah sekali. Ia takut kenapa-napa. Ia takut sakit. Seketika badan merinding. Dengan susah payah ia mengerjakan tugas yang bejibun itu. Selesai tapi diakhiri dengan penderitaan. Demam dengan badan panas dingin. Ia menelepon David hendak meminta tolong. Setidaknya David bisa mencarikannya obat. Ya, meskipun ini sudah malam. Ternyata tak ada jawaban. Mungkin David sedang tak dikosan. Ia memilih untuk menelepon Ririn.  “Astaga Sha, lo demam tinggi. Kita ke dokter aja ya?” Gak bisa! Shara gak bisa ke dokter. Nanti pasti ketahuan sama papanya. Data Shara akan membuat keberadaannya terkuak.  “Gak kak, aku minta belikan obat aja.” “Tapi Sha,,,,,” “Iya kak gak apa-apa, ini gue cuma butuh istirahat.” “Oke, sekarang lo tidur aja dulu. Sekalian gue beli obat.” Saat Ririn hendak pergi, David datang. “Lo ngapain?” “Lo yang ngapain?” “Lo kenapa Sha?”tanya David tidak peduli dengan ucapan Ririn. Dia nyelonong masuk kamar dan mengecek kondisi Shara.  “Dia sakit. Jangan diganggu. Kalau mau bantu beli obat sana. Biar gue yang masak air hangat. Lo punya motor kan?”tanya Ririn. “Beneran cuma butuh obat? Dia kelihatan sekarat gini.” “Dia gak mau ke dokter.” “Oh ya udah. Gue beli obat nya.”seru David tanpa protes. Rupanya dia cukup pengertian. Sebenarnya nggak pengertian juga, David hanya mengikuti keputusan Shara. Ia paham betul latar belakang cewek itu. Aneh sih, gak mungkin Sandiaga gak tahu Shara sekolah dimana. Kalau kosan sih mungkin saja. Untuk ngekos tidak perlu memberikan KTP sebagai jaminan. Bisa-bisa semua orang tahu asal usul Shara. Shara merasakan sakit yang luar biasa. Ia gak betah dan sampai menangis. Gak tahu kenapa, sakit tidak ditemani mamanya membuat sedih. Ternyata begini rasanya sakit di perantauan. Tak semua mudah seperti yang ia kira.  Ia beruntung karena punya banyak teman. Ririn dan David menemaninya bergantian sampai cewek itu terlelap dalam tidur. Mereka berusaha meredam kebencian satu sama lain. Keselamatan Shara lebih penting dari pada emosi itu. Emosi yang seharusnya diredam dan tak dibiarkan berkembang. Ada pandangan baru yang timbul. David melihat kalau Ririn tak seperti yang diceritakan orang-orang di kosan ini. Dia bukan cewek nakal yang hanya peduli pada diri sendiri. Begitu juga dengan Ririn. Ia kira David seperti orang lain. Orang yang tidak peduli, sok paling baik dan merasa diri paling suci. David malah membantu Ririn membereskan beberapa hal sebelum kembali ke kamar masing-masing. Malam itu terasa sangat asing. Ia tak sengaja mendengar Shara mengigau. Ia memanggil mamanya. Pasti ia pengen pulang. Entah apa yang sebenarnya terjadi. David hanya tahu kalau Shara kabur. Ia tidak tahu masalah apa yang sebenarnya terjadi di keluarga itu. Keluarga itu bergelimang harta tapi punya banyak masalah. David jadi sadar, kalau ia cukup beruntung. Ia punya orang tua yang baik. Entah sampai kapan David memperpanjang masa kuliahnya, orang tuanya tetap mengirimkan uang untuk biaya kuliah. David jadi merasa bersalah. Seharusnya ia sadar kalau mencari uang itu tak mudah.  Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk berubah. Tak boleh lagi bermain terlalu lama. Masa depannya bisa berakhir tragis kalau dibiarkan mengawang-awang. Ia harus punya target yang jelas untuk dicapai. Saat ia hendak tidur, dering telepon menghancurkan rencana itu. Telepon dari Josen. Ah, Josen dan David sempat tukeran nomor saat Josen jadi penumpang gelap di kamarnya. “Hallo..” “Hallo kak, ini Josen.” “Iya, gue tahu. Lo kenapa nelpon jam segini?” “Gue mau tanya kabar Shara.  Tumben banget dia gak jawab telpon gue.” “Oh itu,,,,” “Iya.” “Dia udah tidur. Lo telepon besok aja ya.” “Oke kak. By the way, makasih kak.” Telepon dimatikan. David melanjutkan rencana tidurnya. Ia jadi penasaran dengan masa lalu Shara. Kenapa dulu dia gak punya teman? Dia itu orang yang bisa mencairkan suasana. Lihat saja, baru beberapa bulan tinggal di Jakarta, ia sudah punya beberapa orang yang khawatir padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN