Bab 13

1309 Kata
Rumah elit di kawasan SCBD menjadi tempat tinggal pengusaha sukses, Coldman Paris. Hari ini adalah perayaan ulang tahunnya yang ke 70 tahun. Masa keemasan yang bakal dirayakan dengan penuh kenangan. Coldman sengaja membuat acara keluarga yang hanya dihadiri oleh anak dan cucunya. Coldman punya dua keturunan. Satu putri dan satu putra.  Josen menatap diri di cermin besar itu. Acara keluarga memang membosankan. Terlebih ia baru saja melanggar janji dengan kakeknya. Pertemuannya dengan Jenny pasti akan membuat kakeknya marah besar. “Jos, udah beres? Buru ya, sebelum kakek datang.”ucap Sindy, mamanya Josen. Josen punya kakak perempuan yang sudah menikah. Dia tinggal di luar negeri dan jarang pulang. “Ma, semuanya bakal datang?” “Engga, yang datang om, tante sama sepupumu doang.” Bokapnya Josen sudah lama meninggal dunia. Ia hanya punya mamanya. Sedang tantenya a.k.a saudaranya bokap, ikut datang dengan keluarga besarnya. Itulah yang bikin kakek pengen Josen cepat-cepat nikah. Ia gak mau kalau perusahaan jatuh ke keluarga putrinya itu.  Bagi Josen, perusahaan itu tidaklah penting. Dia benar-benar ogah kalau disuruh mengambil alih perusahaan. Andai ia bisa lahir kayak Shara, pasti benar-benar beruntung. Shara yang hidupnya biasa aja. Itu lebih baik daripada berlimpah harta tapi dikekang. Josen turun ke lantai 1. Ia melihat banyak sekali orang disana. Sindy menyapa tiap orang dengan hangat. Tak ada yang berubah meskipun Josen sudah lama tidak bertemu sepupunya itu. Ia hanya membenci satu orang diantara mereka. Jeffrey, cowok menyebalkan yang paling Josen benci.  Dunia persepupuan emang unik. Josen dan Jeffrey dulunya dekat banget. Bahkan mereka pernah kemana-mana selalu bersama. Bak saudara kandung. Josen menatap dengan cuek. Ada satu hal yang bikin mereka jadi saling benci sampai sekarang. Coldman datang dengan kewibawaannya. Joko sengaja mengantarnya sebelum benar-benar pergi dari ruangan itu. Makanan sudah tersaji dengan sempurna. Coldman selalu bikin suasana canggung. Cucu dan anaknya jelas tahu bagaimana menghadapi orang tua itu. “Sebelum kita makan, saya mau mengatakan beberapa hal.”ucapnya kemudian. Semuanya tampak hening. Gak ada yang berani ngasih interupsi. Biarlah panggung itu miliknya seorang.  Di sudut kiri, Josen deg-degan karena takut. Setelah perjodohan minggu lalu, kakeknya gak pernah ngajak dia ngobrol. Bahkan, dia gak dimaki-maki. Biasanya, Josen langsung di telepon dan dimarahi. Kali ini, gak ada yang terjadi. “Ini udah ulang tahun saya yang ke 70. Saya benar-benar senang bisa berkumpul bersama kalian. Saya harap kalian semua bisa bikin bangga saya. Perusahaan butuh kalian.  Jangan pernah berpikir untuk lari dari keluarga. Sampai kapanpun kalian tetap butuh keluarga.”ucapnya dengan suara khas yang berat. “Yaudah, sekarang kita makan.”lanjutnya. Josen benar-benar lega. Syukurlah namanya gak perlu dibahas di pertemuan keluarga itu. Entah apa yang sekarang kakek pikirkan. Apa mungkin dia sudah menyerah untuk mengatur perjodohan? Makan malam berlangsung lumayan lama. Para orang tua sibuk ngomongin bisnis. Anak muda langsung menjauh daripada terlibat dengan pembicaraan yang berat itu. Josen merasa seorang diri diantara sepupunya itu. Mereka emang gak terlalu dekat. Tantenya gak mau anak-anaknya dekat sama Josen. Entah, hubungan aneh itu sudah berlangsung lama. Itu sudah terjadi jauh sebelum bokapnya Josen meninggal dunia. Jeffrey tampak sibuk dengan kameranya. Dia juga gak peduli dengan suasana luar. Pertemuan keluarga memang tak begitu menarik baginya. Josen memutuskan untuk pergi ke balkon yang menunjukkan suasana Jakarta yang indah. Gedung-gedung tinggi dengan cahaya dari lampu jalan. Josen teringat sama Shara. Shara pasti suka kalau diajak ngeliat pemandangan dari situ.  “Ehmmm. Lo katanya mau nikah ya?”tanya Jeffrey menghentikan lamunannya. Josen mendesah kesal. Bisa-bisanya Jeffrey tahu kalau kakek sedang gencar menjodohkan dia dengan seseorang. “Lo aja duluan. Lo kan jauh lebih tua.” “Emangnya gue penerus perusahaan. Harusnya lo tahu diri. Udah dikasih perusahaan gede, buat nikah aja susah.” “Gak usah ngurusin hidup orang. Lo kira, lo udah hidup dengan baik? Modal kamera tapi gak ada karya.” “Dasar anak kecil. Gue cuma mau bilang, ditangan lo itu dipertaruhkan hidup banyak orang. Kalau emang gak mau, mending bilang sama kakek.” “Lo kira gue mau? Jangan sok bisa hidup dengan baik deh. Lo udah dewasa tapi kerjanya cari masalah.” “Bodo amat dah. Setidaknya gue udah bilang. Kalau gue gagal sama hobby gue ini, gue terpaksa kerja di perusahaan. Jadi lo siapin diri, sebagaimana gue juga nyiapin diri.”ucap Jeffrey sambil pergi dari sana dengan satu foto yang ia ambil.  Josen kesal sekaligus tersadarkan. Takdir yang buruk ini ujung-ujungnya pasti harus diterima. Ia bingung sendiri. Tapi tiba-tiba ia punya ide cemerlang. Ia harus berhasil bikin kakeknya luluh. Walaupun ia harus jadi penerus perusahaan, itu tidak jadi masalah. Hal terpenting adalah dia gak harus nikah dalam waktu dekat ini. Nikah itu gak mudah. Apalagi Josen pengen banget nikah karena cinta. Cinta bisa menata masa depan lebih baik.  Sebelum pukul 10, pesta itu berakhir. Pesta ulang tahun yang penuh dengan perdebatan. Om dan tantenya Josen sampai harus teriak-teriak karena gak setuju dengan ide kakeknya. Josen sih tidak peduli karena ia gak paham. “Kakek, aku mau ngomong.”ucap Josen saat Coldman hendak beranjak dari tempat duduknya. Semua orang sudah pulang kecuali Sindy, Josen dan tentu saja Coldman dan kaki tangannya, Pak Joko. Coldman kembali duduk mendengar permintaan itu. “Kakek tahu kan kalau perjodohan kemarin gagal?” “Iya.” “Tumben kakek gak ngamuk.” “Kamu mau kakek ngamuk?” “Engga sih. Tapi aku gak mau lagi dijodohin.” “Bukan kamu yang ngatur, tapi kakek.” “Aku gak mau dijodohin. Aku punya kriteria sendiri buat dijadiin calon istri.” “Terus kamu maunya gimana?” “Aku setuju jadi penerus perusahaan. Tapi aku mau kuliah dulu jurusan bisnis. Aku juga gak mau dijodohin.” “Hmm, baiklah. Tapi ingat janji kamu.” “Iya kek.” “Kamu mau kuliah dimana? Kakek bisa cari sekolah bisnis di luar negeri.” “Gak usah kek. Aku mau di Kampus CI aja. Jurusan bisnis di kampus itu juga bagus.” Coldman berpikir keras. Satu hal yang ia takutkan adalah orang-orang tahu kalau Josen itu cucunya. Bisa saja ia jadi kesulitan untuk berteman. Baru kali ini ia sekolah di tempat umum. Sedari kecil ia ikut private school. Jadi bisa dibayangkan kalau Josen akan kesulitan masuk sekolah umum.  “Gimana kek?” “Kamu gak masalah masuk kampus itu?” “Tenang kek. Aku berniat menjaga rahasia kalau aku cucu kakek. Asal kakek juga ngebantuin aku.” “Oke. Mulai sekarang kamu kuliah. Tapi ingat, setelah lulus kamu harus mengambil alih perusahaan.”ucap Coldman sambil bergegas pergi.  Josen merasakan sebuah keberhasilan. Walau pasti akan berat, tapi itu lebih baik daripada dijodohkan. Setidaknya ia bisa menikmati masa muda dengan kuliah dulu. Terlebih ia ingat Shara, sekarang mereka sudah satu kampus. Pasti menyenangkan sering bertemu dengannya. Shara itu cewek yang apa adanya. Dia gak jaim saat tahu Josen kaya. Banyak yang tertarik pada Josen saat tahu mobil yang dibawanya adalah mobil mewah. Mereka hanya terpaku pada harta orang lain. “Kamu ngomong apa sama kakek?”tanya Sindy yang menunggunya “Josen mau kuliah ma.” “Beneran? Ini bukan ngeprank kan?” “Engga ma. Josen emang lagi pengen aja berguna buat kakek sama mama.”ucap Josen serius. Ucapan Jeffrey tadi berhasil bikin dia kepikiran. Perusahaan sebesar Paris.Inc bakal tak berdaya kalau dipimpin oleh orang yang gak punya pengalaman dibidang bisnis. Josen gak mau mencoreng nama baik perusahaan turun temurun itu. Pasti memalukan kalau namanya jadi saksi kebangkrutan perusahaan. “Akhirnya, anak mama mulai dewasa.” Josen hanya tersenyum. “Kamu tahu, Jeffrey ikut lomba fotografi yang diadakan di luar negeri. Ternyata dia menang. Dia dapat banyak uang dari situ. Mama senang akhirnya dia nemuin hobby nya.” Seketika Josen menyesal. Apa yang tadi ia katakan pada Jeffrey pasti melukai hati cowok itu. Dengan mudah Josen bilang kalau Jeffrey terjebak hobby yang gak bakal bikin dia berhasil. Ternyata cowok itu jauh lebih berhasil dibandingkan Josen. Josen menyesali semua yang telah ia katakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN