Bab 12

1686 Kata
Malam minggu, malam minggu buat kita anak muda pakai minyak wangi nyong nyong. Lagu lawas yang benar-benar nyata. Shara benci dengan malam minggu. Kenapa toh Sha? Soalnya Shara jomblo. Jomblo kayak Shara bakal berdoa sama Tuhan biar hujan turun deras. Semoga para pasangan di luar sana basah kuyup. Shara terpaku pada foto di i********: yang tak ia follow. Ia hanya memantau. Foto di akun seseorang yang menampilkan foto abis reunian. Sungguh menyenangkan ya, mereka bisa reunian. Shara memang bukan orang yang tepat buat diajak. Sejak dulu Shara udah jaga jarak sama teman-teman sekelasnya. Dia kerap dianggap sombong. Tak ada yang mau mendekatinya. Kecuali satu orang. Ah, yang satu itu pun hanya fake people yang bikin Shara trauma. Itulah masa SMA yang bikin Shara pengen cepat-cepat lulus. Makanya dia bisa sampai di titik sekarang. Setelah lulus, ia malah lebih bahagia. Dering telepon menghentikan ingatannya tentang masa SMA. Dari Kak David. “Jomb, mau malam mingguan bareng gue gak?” “Ish, pergi aja lo sama pacar lo sana.” “Ngegas amat. Ayolah sama gue, pacar gue lagi diluar kota.” “Oh, jadi gitu. Ketika lo gak punya teman, baru lo temenin gue.” “Gak gitu Sha, ini gue lapar plus butuh bandrek juga.” “Yang penting ditraktir.” “Siap.” “Okey, gue ganti baju dulu.” Shara langsung bersiap. Kapan lagi malam mingguan sama cowok? Sebenarnya Shara masih kepikiran sama Mila dan Dios. Ini hari ketiga mereka di rumah kakeknya. Mereka benar-benar butuh waktu untuk menyelesaikan dukanya. Kehilangan itu tak mudah dilupakan. David membawa Shara ke tempat makan yang baru. Kali ini suasana nya asyik banget. Beberapa pengamen lewat dan menyanyikan lagu. Suaranya juga bagus-bagus. Shara sendiri gak tahu kalau ada tempat kayak gini di Jakarta. “Lain kali kenalin gue sama pacar lo dong kak.”seru Shara sambil mencicipi pisang bakar di piringnya. Sebenarnya, baru kali ini Shara makan pisang bakar. Dan ternyata enak banget.  “Entar ya, kalau dia ada waktu.” “Apa jangan-jangan lo cuma bohong?” “Lah, kenapa harus bohong?” “Siapa tahu lo malu menjomblo. Kata Kak Ririn, lo gak pernah bawa cewek ke kosan.” “Emangnya dia, dia sudah berkali-kali ngelanggar peraturan kosan. Gak punya etika. Makanya lo jadi ketularan juga sekarang.” Shara kesal banget. Entah kenapa, tiap dengar David ngomong bawaannya kesal. Dia mencoba untuk gak nanya apa-apa lagi. Mending fokus menghabiskan pisang bakar di mejanya.  Beberapa hari setelah kejadian mati lampu, Ririn nanya lagi kenapa posisi malam itu bisa terjadi. Posisi badan kayak berpelukan. Bahkan wajah Shara hampir kena ke mulut David. Kalau diingat lagi, wajah Shara pasti langsung merah merona. “Gue yakin, si David sengaja deketin lo.”ucap Ririn waktu itu. “Hati-hati aja, entar lo diapa-apain.”lanjutnya. Sama kayak David, Ririn malah nyuruh Shara buat hati-hati ke David. Mereka berdua punya pandangan yang sama untuk satu sama lain. Ririn benci David sebagaimana David benci Ririn.  “Gak gitu kak, Kak David udah punya pacar. Ya kali dia mikir yang aneh-aneh. Gue cuma adik kelasnya waktu SMA.” “Masa sih? Gue gak pernah lihat dia sama cewek.” “Pacarnya cowok kali.”ledek Shara sambil tertawa. Begitulah yang terjadi. Shara jadi ikutan penasaran, perihal siapa pacarnya David. David terlihat lagi makan pecel ayam dengan tambahan tahu, tempe, usus dan telur. Sungguh perpaduan yang mantap. Semua itu bakal jadi ampas besok pagi. “Beneran gak makan? Diet lu?”tanya David melihat Shara yang ogah makan malam. Shara mulai curiga dengan badannya sejak pakai dress kemarin. Waktu ia membantu Josen. Dress yang seharusnya longgar itu jadi sempit dan bikin sesak nafas. Shara jadi tahu kalau dia butuh olahraga besar-besaran. Paha bergelambir, lengan bergelambir jangan sampai mukanya ikut bergelambir. “Hmm, gak bisa dibilang diet. Gue cuma kepikiran sama badan gue yang makin lama makin bongsor.” “Ah, engga kok. Lo kurus gini. Malah kayaknya kurang gendut dikit.” “Cowok mana tahu pikiran cewek. Cewek itu punya segudang masalah, termasuk berat badan. Mau kakak bilang gue kurus juga gak bakal pengaruh. Apalagi baju gue terbatas banget. Kalau beli baju, gue bisa kehabisan uang.”seru Shara dengan garuk-garuk kepala. David seketika ingat kalau Shara itu anaknya Sandiaga Cuatro. Tapi ia akan selalu pura-pura sampai cewek itu ngaku. Dia juga tahu kalau Shara emang beneran kabur. Dia miskin juga beneran. Bokapnya aja gak tahu dia dimana. “Baju lo banyak Sha. Gak usah mendramatisir.” “Ia sih baju gue banyak. Tapi kalau berat gue nambah, itu baju udah gak berguna.” “Benar juga sih. Ok, lo diet aja. Tapi jangan sampai sakit.” “Oke kak, tapi minta dikit ya.”seru Shara sambil memotong bagian ayam yang ada di meja.  “Jangan. Gue pesan lagi aja. Lo diet nya mulai besok.”ucap David sambil tertawa. Shara menyetujui. Untuk mengumpulkan niat diet emang susah. Apalagi kalau diajak ke tempat makan. Duh, sudah tak bisa ditolak lagi. Sama kayak perilaku manusia yang dipengaruhi lingkungan. Begitu juga niat diet yang dipengaruhi oleh orang disekeliling kita. Suasana malam yang menenangkan seakan menyegarkan perasaan. Lampu jalanan memberi keindahan. Kota Jakarta memang seindah itu kalau malam hari. Segala kebisingan dan penat dibayar tuntas dengan sejuknya suasana malam. Shara sering rindu Malang. Kota dimana ia lahir. Meski disana hanya ada cerita sedih, tapi ia gak bakal bisa lupa. Ia rindu tapi memilih untuk tak berkunjung. Sungguh aneh memang. Shara bisa-bisanya rindu pada kesedihan itu. Kalau ia balik ke Malang, sudah pasti ia akan dicegat bokapnya sendiri. “Gak lama lagi kan libur semester. Lo gak pengen pulang?”tanya David sambil minum es jeruk yang ada di meja.  “Hmm, kayaknya nggak kak. Gue harus kerja juga.”balas Shara dengan suara sendu. Ia sedih karena harus terus berbohong. “Kirain, tadinya mau gue ajak bareng. Honestly, gue juga malas pulang. Kuliah gue gak beres-beres, sudah pasti gue jadi ajang pembicaraan di keluarga besar. Tapi sudah tiga tahun gue gak pulang.” “Serius? Kok bisa sih kak?” “Gue terlalu banyak ngabisin waktu buat main. Gue kira teman-teman bakal terus bareng sama gue. Ternyata asumsi gue salah. Mereka sudah lulus disaat gue masih harus terus berjuang. Dan inilah hasilnya.”ungkapnya sambil menatap jalanan kosong. Hidup kita memang ditentukan oleh kita sendiri. Jangan pernah berpikir kalau orang lain bakal rela nungguin. Mereka punya hidup sendiri. Tak ada yang harus disalahkan. Memang manusia bisa datang dan pergi sesuka hatinya. “Gue jadi gak menyesali masa lalu.”seru Shara. “Kenapa?” “Gue gak pernah punya teman baik. Gue beruntung dong, gue jadinya gak harus ngerasain apa yang kakak rasain. Kehilangan dan kesepian.” David tertawa. Tawanya itu benar-benar bikin candu. Khas dan cuma dia yang punya. Bayangin deh, gimana tuh. Cara mensyukuri hidup emang kayak gitu. Dengan melihat hidup orang lain yang lebih melarat. Pepatah bilang jangan selalu melihat ke atas tapi sesekali melihatlah ke bawah. Dua sisi itu bakal ngasih persepsi yang berbeda tentang hidup. Itulah yang David rasakan. Kenyataan memang gak bisa lepas dari manusia. Berat memang, tapi bukan berarti tidak bisa dilewati. Beberapa orang cuma gak sabar aja. Padahal mereka bisa.  “Gue mau ngajakin lo ke tempat lain. Yuk.”ajak David. “Kita gak langsung pulang?” “Jangan cupu dong. Ini baru jam segini, kita main dulu.” Setelah bayar makan, David membawa Shara ke tempat yang lebih indah lagi. Bangunan yang ditata seperti di luar negeri. Dan disana ada pengamen yang dikerumuni oleh orang-orang yang lewat. Suasana nya benar-benar adem dan bikin nyaman.  Tiba-tiba saja mereka kedatangan tamu tak diundang. Midi dan Jeffrey terlihat sedang menikmati potongan sosis di tangannya. Wajah mereka langsung berbinar saat melihat Shara. Shara seakan ingin kabur dari tempat itu. Tapi gak keburu. “Sha, lagi apa ?”tanya Midi. “Lagi nyangkul. Mainlah.” “Hahaha, ini kan cowok yang waktu di car free day?”seru Jeffrey asal tebak. David mengangguk. “Hai bro!” “Lo berdua pacaran?”tanya Midi. “Nggak!!”balas Shara dan David serempak. Enak aja, kesimpulan dari mana itu.  “Baguslah.”balas Midi dengan wajah tanpa ekspresi. Jawaban macam apa itu. Jangan-jangan Midi diam-diam suka pada Shara. Big no! Midi itu bukan tipe Shara banget. Ngebayangin pacaran sama Midi udah bikin Shara merinding disko. Bukannya izin pamit, Midi malah ngobrol panjang lebar sama David. Sekarang mereka berempat jalan bareng. Seakan mereka sekelompok sahabat karib. Shara terpaksa mengikuti saja dari belakang. Jeffrey sibuk mengambil gambar. Dia emang hobby fotografi. Begitulah yang Shara tahu karena Dios pernah cerita. “Kak Jef, udah pernah hubungi Mas Dios?”tanya Shara.  “Kemarin sih gue telfon dia. Kemungkinan dia balik besok.” “Oh gitu..” “Diem-diem lo khawatir ya?”ledek Jeffrey sambil tersenyum. Dasar cowok bangke, jadinya Shara salting kalau ditanya kayak gitu. “Apaan sih. Orang gue cuma nanya.” “Hahaha. Dios sih gak apa-apa. Tapi Mila yang merasa terpukul banget. Lo tahu kan kalau Mila dekat banget sama kakeknya. Hmm, dia pasti susah buat ngilangin rasa sedihnya.” Pantas aja, Mila gak pernah balas pesannya. Shara udah ngirim banyak banget pesan buat Mila. Sampai pesan yang gak penting. Dia belum balas sampai hari ini. Sudah hari ketiga sejak kepergian kakeknya.  Mereka jalan bersama cukup jauh. David sama Midi jadi kompak banget. Mereka bahkan tertawa kayak orang udah temenan lama. Emang sih, kalau udah nyambung bakal gampang jalin silaturahmi. Gak nyambung dikit, satu orang pasti bakal menjauh. Sedang yang satunya akan merasa di ghosting. Shara terus berjalan dalam kebimbangan. Ia teringat bokapnya yang sering sakit. Sandiaga pernah sakit dan beruntungnya bisa lepas dari maut itu. Dunia serasa kacau balau. Alasan Sandiaga menyuruh Shara cepat nikah adalah karena dia khawatir dengan dirinya sendiri. Shara itu anak satu-satunya. Perusahaan butuh penerus. Kalau Shara nikah, suaminya atau dia sendiri bisa diandalkan. Sayangnya Shara memilih untuk menikmati hidup. Ia sayang sama bokapnya. Ia juga gak mau kehilangan sosok ayah yang selama ini ada disisinya. Berita duka orang lain jadi proses cerminan diri sendiri. Saat orang terdekat kita masih hidup, jangan pernah menyia-nyiakannya. Hidup cuma satu kali, tak ada kesempatan kedua untuk hidup lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN