Bab 7

1552 Kata
Kampus CI terkenal dengan mahasiswa kaya raya. Tidak heran banyak banget yang bawa mobil mewah kalau ke kampus. Tapi tenang aja, ada kok mahasiswa biasa-biasa. Mereka adalah para pemegang status beasiswa. Dan beberapa orang juga rela membayar mahal karena kampus itu punya reputasi yang bagus.  Mila geleng-geleng kepala melihat Shara sibuk nyontek tugas. Kerjaan anak itu cuma di kafe kecil milik Dios. Masa dia ga punya waktu buat ngerjain tugas? “Lo kenapa sih? Entar lulusnya bisa telat, Sha.” “Ga bakal. Gini-gini intelijen question gue tinggi. Gak belajar juga bisa lulus. Ya meski nilainya gak bagus-bagus amat.” “Emang lo gak ada waktu buat ngerjain tugas segampang ini?” “Mila, kemarin gue nonton sampai malam.” “Lo punya gebetan?” “Bukan gebetan. Gue nonton sama Mas Dios.” “Shara??” “Kenapa sih?” “Gue udah pernah bilang, jangan dekat-dekat sama Mas Dios. Dia itu playboy Sha. Gue gak mau lo di sakiti.” “Idih, siapa juga yang mau sama cowok berkumis itu. Gue cuma dikasih tiket gratis. Gue mau dong Mil, kan sayang tiketnya.” Shara tetap menulis jawaban di lembar HVS. Ia tidak peduli dengan tanggapan Mila. Toh, dia gak pernah berniat buat dapetin hati Dios. Dia tuh cuma fokus sama Igor. Dan orang yang dipikirkan itu malah datang. Duduk disamping Mila dengan senyuman termanisnya. Cowok manis emang gak ada lawan. Igor itu orang timur campur batak. Selain manis dia juga macho banget.  Saat mata Shara memperhatikan Mila dan Igor yang lagi ngobrol panjang lebar, sebuah telepon menghentikan lamunannya. David. Shara mendesah panjang. “Hallo..” “Sha, dimana? Gue lagi di kantin kampus.” “Emang mau apa Kak? Gue juga di kantin.” “Ah, gue lihat lo.” Telepon dimatikan. Shara mencari-cari sosok David. Cowok itu berjalan dari jauh. Ia tampak buru-buru. Ia menarik tangan Shara. Mila sama Igor sampai kaget. Buku sama tasnya Shara malah ditinggalin. Shara mengikuti langkah kaki David. Mereka sampai di tempat sepi belakang gedung. “Kenapa sih kak?” “Ada yang nyari lo. Gue rasa mafia.” “Hah?” “Tadi gue liat beberapa orang di pos satpam. Mereka sebut nama lo. Lo ada masalah apa sih?” Shara berpikir. Pasti itu suruhan bokapnya. Apa gara-gara Shara gak pernah balas pesan dan telepon dari dia? Kenapa juga harus mengirim orang ke kampus. Menyebalkan. Jangan sampai dia disuruh balik. Shara tidak akan mau ninggalin Jakarta dan kembali ke rumah itu. Masalahnya dia harus kasih alasan logis sama David. David itu orangnya curigaan. Ia gak bakal percaya kalau Shara ngasih alasan yang gak masuk akal. Semacam, Shara bakal dimutilasi atau dia dikejar mafia karena si mafia suka sama dia. Idih, halu banget. Dan Shara gak kepikiran buat ngasih tahu kalau dia memang kabur dari rumah. Bisa dibayangkan ekspresi David gimana. Dia bisa nyerahin Shara ke orang itu dengan cuma-cuma. “Sebenarnya, mereka……..” “Apa? Siapa mereka?” Gak ada ide sama sekali. Shara harus bilang apa? Tiba-tiba mata Shara bertemu dengan mata cowok yang sedang berjalan sendirian ditengah keheningan. Dia adalah Josen, cowok yang bilang kalau dia dikejar debt collector. Ide Shara akhirnya muncul. “Dia, gara-gara dia.”seru Shara menunjuk Josen. Josen malah tersenyum karena ketemu sama Shara.  “Stop!”seru David kesal. “Hah?” “Kak, dia gak salah apa-apa. Mereka memang sengaja nyari gue karena tau gue bareng Josen malam itu.” Josen mengernyitkan dahi nya. Ia kebingungan. David menarik badan Josen untuk bersembunyi di balik gedung besar itu. Tempat sepi itu tak akan berhasil ditemui mafia yang mencari Shara. Mereka gak bakal kepikiran buat nyari di belakang gedung. “Oke, kalian berdua stay disini. Gue bakal lihat situasi bentar.”seru David. Ia berjalan ke depan gedung yang ramai manusia. Ini adalah kesempatan Shara untuk mengajak Josen kerja sama.  “Ada apa sih?”tanya Josen linglung. “Jos, please banget. Lo ikutin skenario gue.” “Skenario apa?” “Lo anggap ini balasan karena gue udah nolongin lo.” “Oke. Tapi ada syaratnya.” “Apa?” “Lo makan malam bareng gue.” Seketika pipi Shara merona. Diajak dinner bareng cowok setampan Josen emang bikin melting. For your information, Josen itu cakep dan tipe metrosexual. Dia baru kepikiran wishlist. Ya, dia bisa mewujudkan itu dengan pacaran sama Josen. Ah, tapi kayaknya gak semudah itu. Ini tuh cuma makan malam biasa. “Ya udah. Gue mau aja.” “Oke. Gue setuju.” David datang dengan wajah lega. Rupanya orang-orang itu sudah pergi. Mereka mikirnya Shara emang gak ada. David menatap Shara sama Josen bergantian.  “Kasih tahu gue, mereka itu siapa?”tanya David. Pertanyaan itu mengarah sama Josen. Jantung Shara deg-degan parah. Sial, gimana kalau Josen gak bisa jawab. Kalau sampai rencana bohong ini gagal, sudahlah David bakal marah-marah. Bisa aja dia nyerahin Shara ke orang tuanya. David kan punya akses ke orang-orang yang tinggal di sekitaran rumah Shara. David punya banyak teman disana. Tak seperti Shara. “Ehm, jadi mereka itu suruhan mantan pacar gue. Gue dulu punya pacar yang hobby nya ngintilin orang. Gue sih awalnya gak masalah. Ternyata abis putus dia jadi hiperaktif.”ucap Josen berdusta. David hanya diam. Shara sendiri deg-degan mendengar respon David atas jawabannya Josen.  “Kalau gitu, lo gak usah dekat-dekat sama Shara. Lo bakal bikin dia dalam bahaya.” “Apa sih kak, emangnya gue anak bayi? Gue sama Josen kebetulan ada urusan. Gue pergi dulu ya.”seru Shara buru-buru. David hanya diam seraya memandang kedua orang itu hilang dari pandangan mata. Dengan wajah bingung, Josen mengikuti langkah Shara. Shara membawanya ke perpustakaan. Bahkan Josen gak berani melepas genggaman tangan Shara. Selain itu, ia juga tampak awas pada orang-orang yang mungkin mencarinya. Ya, suruhan bokapnya itu. Mereka sampai di perpustakaan yang ber kubikel. Gedung lantai 3 perpustakaan. “Duduk deh.”seru Shara dengan wajah penuh ketegasan. Ada sifat mengayomi disitu. Ia menatap Josen sangat dalam. Sampai-sampai cowok itu salting. Ia menghindari tatapan mata.  “Mulai sekarang, lo harus jaga rahasia gue. Terutama sama Kak David. Ngerti?”seru Shara dengan tatapan yang melekat kuat.  Josen mengangguk polos. “Tapi orang itu siapa? Kenapa lo dicariin?”tanya Josen. Shara menatap Josen lagi. “Lo sendiri, kenapa kemarin bohong sama gue? Jelas-jelas lo anak orang kaya.” “Lo udah tahu?” “Kak David yang ngasih tahu. Buat apa lo pura-pura di kejar debt collector?” “Sebenarnya…………”jawab Josen. Suara terhenti karena ragu. Apa yang hendak ia bilang bisa jadi racun yang menghancurkannya nanti.  “Tenang aja. Lo udah megang kartu As gue. Gue gak bakal ngumbar-ngumbar kok.” “Hmm, yang kemarin nyariin gue itu suruhannya kakek. Kakek gue emang nyebelin. Gue masih semuda ini malah mau dijodohin.”seru Josen kesal. Shara tertawa mendengar penjelasan itu. Jaman sudah era 4.0 tapi masih ada istilah perjodohan. Sungguh sangat kuno.  “Lo ngetawain gue?”tanya Josen kesal. Cowok berambut ikal itu mengatup bibirnya kesal. “Engga. Jangan marah dong. Gue cuma lucu sama kakek lo.” “Pokoknya gitu deh. Terus orang yang nyariin lo tadi siapa?” “Suruhan bokap gue.”jawab Shara kalem. “Sebenarnya gue kabur dari rumah.”ungkapnya. Ia merasa kalau Josen itu bisa jaga rahasia. Dan dia bukan orang yang bakal bikin masalah di hidupnya Shara. Apalagi dengan kebohongan tadi, sebaiknya Josen tahu semuanya. Biar entar gampang mengelabui David. Shara menceritakan apa yang terjadi padanya. Dia yang kabur karena merasa dikekang oleh orang tuanya. Shara yang rela menghabiskan waktu cuma buat belajar. Bahkan dia gak punya teman dekat waktu SMA. Ia benci papanya. Laki paruh baya itu bikin dia kayak anggota kemiliteran. Akhirnya Shara kabur ke Jakarta dan kuliah di Kampus CI. Lumayan banget dia bisa dapat beasiswa dan dikasih uang saku.  “Terus lo ngapain disini? Kuliah juga?”tanya Shara sambil ngemil Choki-choki yang disimpan di dalam tasnya.  “Apa gue kuliah aja ya?” “Kok nanya balik sih.” “Hahaa, gue cuma ada urusan bentar. Jadilah kita ketemu. Tapi gue gak nyesel karena bisa ketemu lo lagi.” Shara kesemsem sendiri. Digodain sama Josen tuh beda banget sama digodain Midi. Midi mukanya terlalu m***m untuk bikin cewek melting.  Shara mendapat pesan dari Mila. Mila pasti khawatir karena Shara tiba-tiba kabur dibawa David. Terlebih Shara melewatkan mata kuliah siang ini. Ia malah berduaan sama Josen di perpustakaan. Mila nyuruh Shara buat ngerjain tugas baru yang dikasih dosen. Ah, dosen jaman sekarang kerjaannya ngasih tugas melulu. Bikin kepala pusing. “Jos, gue balik ya. Habis ini mau kerja kelompok.”seru Shara sambil menenteng tasnya yang sedari tadi diletakkan diatas meja. “Boleh minta nomor lo gak? Gue butuh kalau gue kesini lagi.” “Boleh dong, sini hp lo.”balas Shara sambil tersenyum. Ia menyimpan kontak atas nama Shara. “Udah ya Jos, gue harus pergi sekarang.”lanjut Shara sambil melambaikan tangannya. Ia bergegas ke lantai 1 dan segera ke gedung tempat kuliah siang ini. Entah apa yang sudah ia lakukan hari ini. Kebohongan kecil bisa saja menimbulkan kebohongan lain. Setidaknya gak bakal ada yang tahu kalau Shara memang kabur dari rumah. Ia menyusuri trotoar dan berjalan beberapa meter untuk sampai ke tempat tujuan. Hari ini bakal sibuk banget. Tugas-tugas menggunung dengan deadline yang saling kejar-kejaran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN