Bab 6

1640 Kata
Pagi hari yang menyejukkan membuat Shara tenang. Ia langsung ke kamar mandi untuk menghilangkan bau alkohol di mulutnya. Ia jadi sadar kalau alkohol itu tak seenak yang ia pikirkan. Rasanya pahit dan bikin pusing. Untung hari ini tidak ada kuliah, ia hanya perlu ke kafe.  Pintu kamar nya diketuk oleh seseorang. Ia langsung membuka dan mendapati David disana.  Cowok itu gak pake baju bikin mata Shara salah fokus.  “Ini minum.”ucapnya sambil ngasih Shara secangkir minuman entah apa. “Apa ini? Racun?” “Enak aja, emang gue psikopat? Itu bisa ngilangin efek alkohol di mulut lo.”balas David sambil duduk tepat di pintu kamar Shara.  “Lah, Josen mana? Udah bangun?” “Boro-boro, dia sudah pergi. Ada yang jemput tadi pagi.” “Hah?” “Lo nemu dia dimana sih? Kayaknya dia anak orang kaya yang sengaja kabur dari keluarganya.” Ucapan David bikin kepala Shara pusing. Josen yang dikejar debt collector itu anak orang kaya? Kok bisa?  “Masa sih kak?” “Iya. Jadi tadi pagi  dia dijemput pakai mobil Lamborghini.” “Jangan-jangan itu debt collector yang ngejar dia.” “Kagak. Orang Josen nya udah bilang kalau itu suruhan kakeknya.” “Gak tahu ah kak. Gue bantuin dia juga karena dianya minta tolong.” “Pokoknya mulai sekarang jangan dekat-dekat sama Ririn. Awas aja kalau lo pergi ke klub lagi.” “Ini bukan salah Kak Ririn. Gue aja yang pengen ke klub.” “Tetap saja dia salah, ninggalin lo sendirian. Orang dewasa mana yang ninggalin anak kecil sendirian di klub?”seru David. Ucapan itu membuat Shara kesal. Jadi selama ini David menganggap Shara itu anak kecil. Hey, Shara udah mau 19 tahun. Dia bukan lagi anak kecil yang butuh dijaga. Menyebalkan. Padahal Shara pernah berharap David bisa jadi pacarnya. Benar saja, sudah tak ada peluang. Setelah adu cekcok dengan David, Shara bersiap pergi kerja. Ia berniat untuk membuat Kafe TG lebih dikenal. Mungkin dengan foto-foto bagus yang bisa diambil. Hari ini ia akan mengambil beberapa foto untuk diupload ke sosial media. Atasannya si Dios, gak bakal ngerti peran sosial media di zaman sekarang. Dia cuma fokus sama kualitas makanan. Padahal promosi itu penting banget. Shara mengecek keuangannya. Ia harus menahan diri untung menggunakan ojek online. Uangnya sudah habis beli alkohol kemarin. Ditambah lagi dia harus bayar ongkos pulang. Terpaksa ia jalan kaki untuk bisa sampai di Kafe TG. Seperti biasa, kafe itu sepi manusia. Hanya ada beberapa orang yang duduk dengan minuman di mejanya. Mereka juga cuma teman-temannya Dios.  “Selamat pagi Shara.”sapa Dios dengan penuh kelembutan. Sapaan itu seperti angin lalu. Shara hanya tersenyum biasa. Tak ada pipi merona kayak cewek-cewek yang biasa di deketin Dios. Dios juga heran, kok bisa Shara gak terpesona? “Balas dengan selamat pagi juga dong.”protes Dios. “Selamat pagi juga!”seru Shara tegas. Ia langsung membereskan beberapa hal seperti biasanya.                   Shara terlarut dalam pikirannya. Apa emang gak bakal ada yang mau pacaran dengannya? Sudah cukup lama ia menunggu. Ya, walaupun ia bisa sedekat itu sama cowok-cowok di sekitarnya, mereka cuma bisa jadi teman atau abang-abangan. Tak lebih dari itu. Hal yang paling Shara inginkan malah tak kesampaian. Harus kemana lagi ia cari pacar? Kalau ia buka Tinder, Dios bisa aja memantau dari jauh.  “Lo kenapa sih? Ngelamun aja.”komentar Dios sambil memperhatikan stok bahan baku di Ipadnya. Bukannya menjawab pertanyaan itu, ia malah teralihkan oleh yang lain. “Mas, kafe ini punya i********: gak?” “Engga.” “Sosial media yang lain?” “Hmm, engga ada juga.” “Pantesan. Mas, mau gue bantu gak biar kafe ini ramai?” “Emang bisa?” “Bisa. Tapi kalau beneran berhasil, mas harus kasih gue bonus.” “Oke, siapa takut.” Shara tersenyum. Ia harus berusaha biar bisa dapat uang yang banyak. Ia harus terus berusaha biar bisa lepas dari keluarganya. Bergantung pada orang tua itu gak enak. Sudah cukup masa SMA kelam yang bikin dia terkekang. Toh, kuliahnya sekarang juga dibiayai sama beasiswa. “Ehmm, abis kerja lo kemana Sha?”tanya Dios tiba-tiba. Pertanyaan macam apa itu? “Gak tahu mas. Paling langsung pulang.” “Gue ada dua tiket nonton. Tadinya mau ngajak cewek yang kemarin kesini, tapi dia keburu ada janji lain. Lo mau gak?” Shara berpikir sejenak. Tak ada salahnya mengambil kesempatan ini. Ia juga sudah lama gak nonton bioskop. Sejak dia harus berhemat dengan uangnya sendiri. “Gratis gak nih?” “Jelas dong. Filmnya Avenger End Game.” “Mau-mau.” “Oke ya.” Shara langsung sumringah. Senang aja gitu, nonton tapi gak harus ngeluarin duit. Hemat itu penting banget. Sekarang Shara mau fokus meningkatkan jumlah pengunjung di kafe ini. Emang gak mudah, tapi pasti bisa kalau dimulai dari sekarang. Cara nargetin calon customer itu dengan hal-hal diluar dugaan. Kalau soal rasa, kafe TG sudah setara chef profesional. Dan menunya juga cukup banyak. Gak kalah sama Starbucks. Bedanya cuma kurang famous aja.  Shara kepikiran untuk bikin menu gratisan untuk menarik hati customer. Ia juga merancang sosial media yang keren. Ia memastikan semuanya bakal berguna. Kalau sudah rampung, ia tinggal minta persetujuan Dios.  Saat Shara sibuk dan tenggelam dalam pemikirannya, Dios dan teman-temannya sibuk ngomongin dia. “Cantik juga pegawai baru lo.”tanya Midi.  “Tahu aja lo Mid. Gue boleh deketin gak Di?”tanya Jeffry lagi. “Gak boleh. Dia itu temannya Mila.” “Ah elah. Emang kenapa kalau temannya Mila? Tinggal sikat aja.” “Intinya dia baru di kota ini. Awas aja lo macem-macem.” “Iya, iya. Gue malah curiga, entar lo yang macem-macem sama dia.”ledek Midi sambil tertawa hebat. “Benar sih. Kayak si Jessica.”seru Jeffry sambil ikut tertawa. “Ngomongin Jessica mulu. Masih banyak yang lebih better daripada Jessica.”seru Dios. Jessica salah satu mantan pacar Dios. Mereka cuma pacaran satu bulan. Dios kira bakal gampang mutusin tuh cewek, ternyata nggak. Hidup Dios sampai terkekang cuma gara-gara cewek itu. Untungnya dia berhasil dapat cewek baru buat bikin Jessica sakit hati. Dan akhirnya Jessica nyerah.  Midi sama Jeffry pulang tepat sebelum Herdi datang. Midi sampai main mata dan itu bikin Shara merinding disko. Rasanya ingin ia tampar cowok itu. Tahu kan, cewek itu peka sama sesuatu yang menyimpang. Cewek juga bisa tahu mana sih cowok yang genitnya minta ampun. Midi adalah salah satu cowok tergenit yang pernah Shara temui. Dari matanya itu loh, sangat bisa terlihat. Dengan motor miliknya Dios, mereka sampai di mall tujuan. Shara sih seneng aja, gak cuma dapat gratisan nonton, dia juga bisa ke mall tanpa harus bayar ongkos.  “Mas, itu teman lo ajarin sopan santunlah. Genit banget.”ungkap Shara yang masih kesal. Mereka berjalan menuju lantai paling atas. “Maksud lo Midi?”tanya Dios terkekeh. “Oh namanya Midi? Genit banget pake main mata segala.” “Cuma bercanda dia itu. Gak usah ditanggapi.” Shara hanya geleng-geleng kepala. Benar sih istilah yang bilang kalau seseorang itu berteman dengan orang yang sama dengan dia. Ya, gak beda sama Dios. Teman-temannya juga tipe-tipe playboy kelas kakap. Sejenis lah sama dia. Sesampainya di XX1, Dios mencetak tiket onlinenya di mesin cetak. Tak perlu menunggu lama karena tak ada orang yang mengantri. Shara sibuk dengan ponselnya di kursi tunggu. Ia mendapat beberapa pesan. Pesan dari keluarga ia acuhkan. Ah, Mila mengirimnya draft tugas untuk minggu depan. Beruntungnya Shara punya teman seperti Mila. Terakhir dari Igor. Beberapa foto bunga. Dan diakhiri dengan kekecewaan. “Sha, bunga yang cocok buat Mila mana ya?” Bibir yang tadinya menyungging ke atas ditekuk. Igor masih saja berharap pada Mila. Padahal Mila udah rela banget kalau Shara jadian sama Igor. Sayangnya Igor nya gak mau. Shara langsung memilih random. Dia bukan ahli perbungaan. Kenapa juga Igor nanyain dia? Tega benar. “Ayo Sha.”ajak Dios dengan tiket di tangannya. Mereka sampai di tempat duduk sesuai tiket. Kebanyakan yang datang adalah pasangan kekasih. Iri dengki di hati Shara menyeruak. Buat apa datang sama cowok tapi cowok itu bukan pacarnya?  Gak tahu kenapa, bioskop di Jakarta dingin banget. Seketika badan Shara merinding. Dia emang gak kuat sama dingin. Kalau cuma beberapa menit sih kuat aja. Tapi ia gak kepikiran merasakan dinginnya AC sampai dua jaman ke depan. Ia mengusap tangan nya agar panas. Tetap saja, tak ada yang bisa mengalahkan dinginnya AC di tempat itu. Tiba-tiba ia dapat jackpot. Badannya dibalut dengan jaket miliknya Dios. Bahkan Dios ngebantuin Shara pakai jaket itu. Setelah terpasang sempurna, Dios kembali menatap layar. “Lo gak kedinginan?”bisik Shara tepat ditelinga Dios. Dios benar-benar kaget. Masalahnya, wajah Shara tuh dekat banget. Kan Dios jadi salah fokus. Apalagi bibir mungil Shara benar-benar dekat dengan bibirnya saat ia menoleh. Dios langsung mendorong badan Shara. “Kenapa sih mas?” “Lo nge ganggu gue nonton. Fokus!”protes Dios sambil mengalihkan pandangan ke depan. pandangan nya saja, pikirannya tidak.  Dengan kekesalan, Shara kembali menatap layar. Ia juga takut diomelin sama penonton yang lain. Apalagi film ini benar-benar lagi hits. Bahkan beberapa orang mau nonton sampai berkali-kali. Ya, mereka yang maniak sama film emang gitu. Rada-rada gak normal. Shara sih ogah nonton berkali-kali. Kecuali dikasih gratis. Ah, lagi-lagi masalah uang. Shara mendongakkan wajahnya ke atas. Pegal juga lama-lama. Ia menunggu Dios di kursi tunggu. Dios harus ke toilet sedang Shara engga. Aneh ya, biasanya cewek yang doyan ke toilet. Shara emang paling malas kalau harus nunggu kecuali emang udah kebelet banget. Ia lebih memilih sampai rumah baru pipis.  Dios kembali beberapa saat kemudian. Dios emang kelihatan strong dan jantan. Nyatanya dia lagi nyari tempat hangat buat memulihkan badannya yang hampir beku. Ya, dia memang lemah. Tapi setidaknya dia gentleman. Shara sih gak sadar kalau cowok itu sampai hipotermia parah. Ia nyaman dengan jaket di badannya. Bahkan ia lupa mengembalikannya. Ia sadar ketika hendak tidur di kosan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN