Jakarta itu kota yang kalau malam asik banget dikunjungi. Gedung-gedungnya jadi cakep banget berhiaskan lampu malam. Kebiasaan Shara sebagai mahasiswa kupu-kupu adalah tiduran di kamar. Kerja sampai malam dan setelahnya langsung ngorok.
Saat Shara hendak mau tidur, terdengar suara tangis dari kamar sebelah. Kamar Ririn yang tak terlalu jauh dari kamarnya. Karena tak bisa tidur, Shara berkunjung ke kamar itu. Ia melihat Ririn berurai air mata. Sebenarnya Shara tak tahu bagaimana rasanya cekcok dengan pacar. Wong pacaran aja ia tidak pernah.
“Kak, kenapa?”tanya Shara dengan wajah iba. Ririn terus menangis. Tak ada yang peduli pada Ririn kecuali Shara. Semua orang di kosan cenderung membenci cewek itu karena sering berbuat m***m dan berwajah sinis. Mereka hanya tidak sadar kalau Tuhan sengaja memberi wajah sinis pada orang tertentu untuk memberi warna di dunia ini. Coba bayangin kalau semua wajah sama, bosan banget kan ya.
“Ada apa sih kak? Kalau ada masalah sebaiknya diceritakan. Siapa tahu orang lain bisa ngasih solusi.”ucap Shara setelah tangis itu mulai mereda.
“Maaf ya Sha, gue jadi ganggu jam tidur lo.”balas Ririn sesegukan.
“Gak apa-apa kak. Gue mah jadi anak malam juga bisa.”
“Sebenarnya gue baru putus. Gue gak paham kenapa tiba-tiba diputusin. Gue gak tahu salah apa. Tadinya semua baik-baik saja Sha.”ucapnya sedih. Rupanya pacaran bisa bikin air mata. Mau tidak mau, Shara mencoba untuk mengerti akan perasaan Ririn. Sebenarnya sih pura-pura mengerti.
Shara jadi pendengar yang baik. Segala keluh kesah Ririn ia tampung. Walau sebenarnya ia gak bakal bisa ngasih solusi. Dan ceritanya belum berakhir, padahal waktu sudah hampir pukul 12 malam.
“Lo mau nemenin gue gak?”tanya Ririn dengan wajah yang masih berduka.
“Kemana?”
“Lo bilang pengen ke club kan?”
Ide bagus. Ini adalah hal yang ia inginkan. Pergi ke club dengan baju terseksi yang ia punya. Ia akan mendapat cowok tampan disana. Wajah Shara berbinar. Ia mengangguk setuju.
“Oke, lo ganti baju dulu. Kalau lo gak punya baju…”
“Gue punya kok kak. Kakak tunggu disini ya.”ucap Shara dan bergegas ke kamarnya. Ia membuka lemarinya dan mengambil dress berwarna merah menyala itu. Mini dress yang bakal bikin lekuk tubuhnya tercetak sempurna. Shara memegang perutnya yang sedikit buncit. Ah, dia perlu diet. Sudah beberapa hari ini ia makan sembarangan. Semuanya ia makan karena ajakan Dios.
“Matching kan kak?”tanya Shara sambil memperlihatkan penampilan barunya.
“Well, setidaknya gak kampungan. Ternyata selera lo bagus juga. Let’s go. Gue udah pesen taksi.”ajak Ririn sigap.
Taksi melaju lambat di tengah kemacetan. Walau sudah malam, ada saja jalanan yang masih macet. Namanya juga Jakarta. Klub malam di Jakarta sengaja digabung dengan gedung-gedung kantoran. Ya, jika dilihat dari luar maka tidak ada yang aneh. Tapi di dalamnya ada saja tempat maksiat untuk anak hits Jakarta.
Mereka sampai di lantai 22. Suara musik yang kencang membuat telinga Shara sedikit terganggu. Ia menikmati alunan lagu seperti di tivi-tivi. Sejauh ini, Shara terkesima. Ririn langsung duduk sambil menikmati alkohol. Ia ingin menikmati masa galaunya dengan minuman itu. Diam-diam Shara memesan alkohol juga. Ia meneguknya dan ternyata rasanya gak enak. Ia kira akan suka dengan minuman langka itu. Ia harus menghabiskan banyak uang untuk itu. Rasanya rugi cuy.
“Haii,,,,”sapa cowok tampan mendekat ke arah Shara. Shara tersenyum manis.
“Haiii…”
“Lo sendirian?”
“Engga, itu bareng teman. Lo sendiri?”
“Sendirian nih. Gue butuh teman.”
“Oke, mari berteman.”ucap Shara sambil memberikan jabatan tangannya. Rupanya cowok itu tak berniat membalas jabatan tangan. Ia memeluk Shara dan itu membuat Shara terganggu. Shara jadi tahu kalau diginiin tuh ternyata gak enak.
“Lo mau sama gue gak sih?”tanyanya dengan nada yang berubah.
“Gue gak mau. Oke, lo bisa pergi.”seru Shara tegas. Ia melihat cowok itu pergi dan mulai mencari gadis lain yang bisa ia peluk-peluk. Shara sangat terintimidasi dengan keadaan disana. Ia jadi tahu kalau klub itu tak semenyangkan yang ia pikir. Ia melihat orang pelukan, ciuman bahkan having s*x. Bukan hal baru bagi Shara, ia sering lihat di drama korea.
Shara mengalihkan pandangan ke tempat Ririn duduk tadi. Tak ada Ririn disana. “Maaf, teman gue yang tadi disini kemana?”tanya Shara pada bartender.
“Tadi sudah pergi sama cowok.”
Shara kesal sendiri. Ia mencari toilet untuk menelepon cewek itu. Rupanya toilet di tempat itu sangat jauh dari kata layak. Mengenaskan.
“Kak Ririn, lo dimana?”
“Sha, pulang sendiri aja ya. Gue ketemu cowok baru dan kayaknya mau ngabisin waktu sampai pagi.”
“Tapi kak,,,,,”
Telepon dimatikan.
Shara mendesah kesal. Ia malah ditinggal. Ia memutuskan untuk segera pulang sebelum makin malam. Ia langsung naik lift untuk turun ke lantai 1. Tanpa sengaja, ia bertabrakan dengan cowok yang dikejar seseorang. Cowok itu berhasil masuk lift dan ia meneliti semua orang yang ada disana. Ia melirik ke arah Shara yang ditangannya ada jaket warna pink.
“Boleh pinjam gak?”tanyanya tanpa basa-basi.
“Gak boleh. Lo siapa anjir!”seru Shara tegas.
“Please, gue mohon.”
“Kasih tahu alasannya?”
“Gue dikejar.”
“Dikejar siapa?”
“Debt collector.”
“Oke pakai aja nih.”balas Shara sigap. Shara cuma mau jawaban logis. Dan ia rasa, dikejar debt collector itu jawaban yang sangat wajar. Saat mereka tiba di lantai 1, cowok itu menghindar ke arah kiri. Shara langsung merangkul tangannya saat ia melihat ada beberapa orang berlari menuju lift itu. Setidaknya akting sebagai pasangan bisa membuat debt collector teralihkan.
Cowok itu duduk di sisi gedung yang sepi. Ia istirahat dengan nafas tersengal. Sedang Shara menunggu cowok itu memberinya jaket.
“Utang lo berapa emang?”tanya Shara.
“Hah? Oh, gue lupa saking banyaknya.”balas cowok itu.
“Ya udah, sini jaket gue. Gue gak bisa pulang tanpa itu.”
“Hmm, tapi gimana gue harus balas jasa lo.”
“Gak usah balas jasa. Emangnya gue agen jasa?”
Cowok itu memberikan jaket pink milik Shara. Shara langsung mengambilnya dan bergegas meninggalkan cowok itu. Transportasi online yang ia pesan sudah tiba dari tadi. Hanya demi cowok yang dikejar-kejar debt collector, Shara sampai harus menunggu lama.
“Tunggu, gue boleh nebeng gak?”tanya cowok itu.
“Lo gak bermodal banget. Lo kira gue nebeng boy? Udah ah, jangan ganggu gue. Mood gue lagi jelek.”
“Please, setidaknya gue keluar dari tempat ini.”ucapnya memohon. Oleh karena belas kasihan, Shara akhirnya mengiyakan. Mereka naik kendaraan yang sama untuk keluar dari tempat maksiat itu.
“Makasih ya, hmm, nama lo siapa?”
“Shara.”
“Gue Josen.”
“Lo mau turun dimana?”
“Sebenarnya gue gak tahu..”
“Lo gak punya rumah?”tanya Shara kaget. Kalau dilihat dari wajah sih, Josen bukan orang yang gak punya rumah. Walaupun dia dikejar debt collector tapi dia cukup glowing untuk disebut melarat.
“Untuk saat ini gue gak punya tempat tinggal. Tapi bukan berarti gue….”
“Gila ya, lo mau morotin gue. Gue juga miskin woy. Lo mending turun aja, terserah mau dimana.”
Josen seketika murung. Sedih karena tidak tahu harus kemana. Shara memperhatikan ekspresi memprihatinkan itu. Sungguh membuatnya jadi merasa bersalah. Padahal dia juga bukan siapa-siapa.
Shara mengambil ponselnya dan mencari nama David disana. Semoga saja cowok itu belum tidur. Ia menunggu beberapa saat dan ya, ada suara di seberang sana.
“Kak David, boleh minta tolong?”
“Minta tolong?”
“Pokoknya lo jangan tidur ya kak, gue butuh bantuan lo. Ini gue mau nyampe kosan.”
“Lo habis dari mana?”
“Entar gue ceritain. Bye!”
Shara langsung menutup telepon itu. Kalau ia harus menjawab pertanyaan David, ia hanya akan mendapat omelan. Hari-harinya gak lepas dari omelan orang. Semua orang sama saja.
“Gue bakal minta tolong sama teman kosan gue. Tapi buat satu hari aja ya. Kalau ditolak, lo siap-siap pergi.”ucap Shara tegas. Josen mengangguk setuju. Ia langsung sumringah mendapat tempat untuk menginap malam ini.
Mobil yang mereka tumpangi akhirnya tiba di kosan besar itu. Aura membahayakan terasa. David menunggu di depan pintu gerbang dengan tangan dilipat di d**a. Ia bagaikan bapak kosan yang memergoki penghuni kosannya berbuat yang engga-engga.
“Apa yang lo lakuin malam-malam gini?”tanya David tegas. Shara yang awalnya suka sama cowok itu seketika kesal. Ya, sejak David ketahuan punya pacar, Shara jadi membencinya. Shara minta tolong hanya karena terpaksa.
“Dia pacar baru lo?”tanyanya lagi.
“Bukan. Dia orang random yang ngikutin gue. Ah, bukan ngikutin. Intinya gue kasihan sama dia. Bantu dia nginap satu malam di kamar kakak.”seru Shara minta tolong.
“Gila, gue gak mau.”
“Tapi kak, kasihan. Dia dikejar-kejar sama debt collector.”
David meneliti penampilan Josen dari atas sampai bawah. Pakaian mahal, sepatu bermerk sampai tas yang bagus. Sedikit banyak David tahu tentang fashion mahal yang dijual di Indonesia. Awalnya dia ingin menghujat tapi ia urungkan karena wajah polos anak itu. Ia terlihat sedih dan sepertinya memang butuh bantuan. Walau tak ada satu katapun terucap, tapi wajahnya menggambarkan segalanya.
“Oke, dia bisa nginep.”seru David.
“Beneran?”tanya Shara antusias. “Tapi lo jelasin ke gue, kenapa lo pulang jam segini?” jawab David.
Dengan berat hati Shara menjelaskan detailnya. Shara menceritakan semuanya, termasuk tentang Ririn yang menghilang entah kemana.