Shara Indriani, punya sejumlah target yang ia tulis di bukunya. Ia memastikan bahwa uang di kasir sesuai dengan yang ada di sistem. Ketelitian Shara menjadi nilai plus yang bisa membuatnya bertahan bekerja di kafe TG selama dua minggu ini. Dios cukup puas dengan cara kerjanya. Terlebih ia bisa menaklukkan hati pelanggan yang terkadang bimbang mau memilih menu yang mana.
“Udah kelar?”tanya Shara pada Mila yang duduk sambil berpikir keras untuk puisi yang berniat ia kirim ke situs lomba.
“Sha, otak gue buntu. Buat nentuin satu bait lagi susah amat. Kalau gue pakai kata yang ini, gue merasa gak puas.”keluhnya.
“Hmm, pakai kata itu aja. Ga apa-apa kalau gak puas, yang penting lo udah bikin yang terbaik.”hibur Shara. Mila tampak tidak peduli. Ia kembali mencoret kertas di atas mejanya. Ia mencoba mencari kata baru yang cocok untuk puisi itu.
Shara sibuk melakukan scrolling Tinder di ponselnya. Tinder adalah aplikasi untuk mencari pasangan. Ini kali pertama dia menggunakan aplikasi itu. Banyak cerita tentang pasangan yang berhasil lewat aplikasi itu. Shara jadi tertarik dan ingin mencoba.
“Ehmm!!”seru Dios dari belakangnya. Shara langsung menutup aplikasi itu. Ia sedikit was-was, apakah Dios melihat apa yang ia buka? Rasanya memalukan.
“Ah, apa ada pelanggan?”tanya Shara kikuk.
“Gak ada kok. Duduk aja.”seru Dios sambil duduk disamping Shara. Mila tetap berfokus pada kata-kata yang sedang ia rancang. Shara sedikit tidak nyaman dengan kehadiran cowok berkumis itu.
“Mil, gue ke dapur bentar ya.”seru Shara sambil bergegas. Mila hanya geleng-geleng tidak peduli.
Shara berjalan menuju dapur tempat stok bahan baku. Ternyata Dios mengikutinya. Shara kesal bercampur takut. “Kenapa sih mas?”tanya Shara.
“Lo ngapain buka Tinder?”
“Mau cari teman.”
“Teman atau pacar?”
“Kalau bisa dapat dua-duanya ya udah. Sambil menyelam minum air.”
“Gue punya pengalaman buruk dari aplikasi itu. Mending gak usah, lo baru juga kuliah udah mikir ke arah itu.”
Dios sama saja kayak David. Mereka sibuk mengurusi hidup orang lain. Sangat menyebalkan. Wajah kesal Shara begitu terlihat. “Gak semuanya buruk mas, lagian suka-suka gue dong mau ngapain.”
“Gue cuma ngingetin Sha. Entar lo terjebak fakboy gimana?”
“Itu yang gue mau.”
Jawaban yang diluar ekspektasi. “Hati-hati kemakan omongan.”
“Beneran mas. Gue emang mau nyari yang begitu. Buat pengalaman.”
Dios benar-benar gak nyangka. Cewek baru netas kayak Shara doyannya cowok gak bener. “Kalau lo mau yang kayak gitu gak usah jauh-jauh. Disini ada.”seru Dios.
“Siapa? Emang ada?”
“Ini, tepat di depan lo!”
Orang yang Dios maksud adalah dirinya sendiri. Shara melongo heran. Hanya cowok gila yang mengakui bahwa dirinya fakboy. Dios memang sudah gila. Buat apa dia menawarkan diri seperti barusan? Sangat tidak berkelas.
“Gak ada setan yang ngaku setan mas. Udah ah, gue mau ketemu Mila.”ucap Shara sambil berjalan meninggalkan Dios disana. Hal itu bikin Shara mumet. Ketahuan download Tinder saja sudah bikin malu, apalagi ia harus jujur sama Dios. Shara kembali duduk di kursi depan Mila. Mila masih saja berkutat dengan puisinya. Shara ogah buka ponselnya karena pasti Dios lagi merhatiin dari jauh.
Seseorang membuka pintu kafe. Dengan sigap Shara langsung ke kasir. Gadis cantik itu berambut panjang dengan pita melekat di sisi kiri rambutnya. Cewek itu tersenyum dan memeluk Dios. “Ah, lo duduk aja. Dia teman gue.”seru Dios melihat Shara kebingungan.
“Mil, cewek itu siapa?”tanya Shara setengah berbisik. Mila mengalihkan pandangan. Ia mendesah panjang. Terlihat jelas kekecewaan di wajahnya.
“Lagi-lagi ada yang baru. Mas Dios itu suka banget ganti pasangan.”seru Mila. Ternyata benar kalau Dios itu fakboy. “Minggu lalu dia bawa cewek juga, cantik banget malah. Eh sekarang malah sama yang lain. Gue kadang heran Sha.”
“Namanya hidup Mil. Biarin aja.”
“Iya sih, entar juga dia sadar sendiri.”
Kali ini pintu terbuka lagi. Igor datang dengan buku penuh di tangannya. Ia langsung mengarah pada tempat Shara dan Mila.
“Hai Sha, lo gak kerja?”tanya Igor. Rupanya ia memang berniat ketemuan sama Mila. Benar-benar tak ada kesempatan untuk Shara. Ia hanya seorang pekerja yang kebetulan bertemu Igor di kafe ini. Shara hanya senyum dan memutuskan untuk kembali ke kasir. Lebih baik ia menghabiskan waktu disana daripada harus menghalangi Igor ketemu Mila.
Shara jadi sadar kalau cari pacar itu ternyata susah. Bahkan ketika ia sudah menjadikan itu prioritas nomor satu. Kenapa orang-orang bisa dapat pacar disaat mereka sibuk dengan kuliah, sekolah atau apapun itu. Shara sedikit kecewa pada dirinya.
Masa sekolah yang berlalu gak bakal bisa bikin dia balik lagi. Dan dia juga gak mau balik ke masa penuh tekanan itu. Kini, ia punya hidup yang bebas. Ia bisa kemana-mana tanpa harus mengikuti instruksi dari Ketua 1 alias BOKAP.
“Kalau gini terus, kapan gue punya pacar?”batinnya sambil meletakkan wajahnya diatas meja. Kafe TG, tempat dia bekerja sekarang gak memunculkan banyak cowok cakep. Karena ternyata kafe itu seringan sepi. Lokasinya yang tidak strategis atau menunya yang kurang variatif.
Ia melirik ke arah Dios yang sedang memadu kasih dengan ceweknya. Dilihat dari wajah Dios, dia kelihatan tidak nyaman. Ia hanya senyum tanpa tulus. Ah, bodo amat dengan Dios. Bukan ranah Shara untuk ikut campur. Dia hanya miris pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia hanya melihat tanpa merasakan?
Cewek yang bersama Dios itu akhirnya pulang. Dios bernafas lega sambil menutup pintu kafe. Dia melihat ke arah Shara disaat Shara juga melihatnya. “Mas gak suka dia ya?”tanya Shara kepo.
“Diem-diem lo ngeliatin ya? Bukan gak suka tapi gak demen.”
“Sama aja.”
“Terus gimana?”tanya Dios sambil mendekat ke arah Shara. Saking dekatnya, Shara sampai gak bisa melihat apa-apa kecuali wajah Dios.
“Gimana apanya?”
“Gue beneran fakboy kan? Sama kayak yang lo cari. Lo gak mau sama gue?”ucapnya tanpa keraguan. Shara berpikir keras. Bukankah ini kesempatan bagus untuk mengubah status jomblonya? Ya, walaupun Dios bukan tipe cowok yang ia mau. Setidaknya ia punya pengalaman.
“MAS DIOS!!!!”teriak Mila dari tempat duduknya. Dios dan Shara memalingkan wajahnya ke arah Mila. Mila menatap Dios kesal. “Jangan coba-coba dekati Shara. Dasar cowok k*****t lo mas.”lanjutnya dengan nada yang masih sama. “Sha, dia itu cuma manis di mulut. Jangan percaya sama dia!”lanjutnya. Mila memperhatikan mereka dari tadi. Sejak cewek yang Dios temui pergi.
Dios berjalan ke arah Mila. “Mas nya sendiri dikatain playboy. Parah banget.”
“Awas aja kalau lo coba dekatina Shara.”
“Udah-udah. Gue sama Mas Dios mau billiar dulu ya. Jadi kan mas?”tanya Igor antusias.
“Oh jadi dong. Bosan juga disini cuma liatin Mila.”ledek Dios dengan ekspresi wajah dibuat-buat. “Oh ya Sha, entar kalau Hendi udah datang, lo pulang aja.”ucapnya pada Shara yang masih duduk di kursi kasir. Ia mengangguk.
Shara menghabiskan waktu dengan termenung di kursi kasir. Tak ada pelanggan hari ini. Sepi sekali rasanya. Untung saja Mila mau menemaninya sampai Hendi datang. Hendi itu siswa SMA yang rumahnya dekat banget sama Kafe TG. Kata Dios, dia benar-benar butuh uang dan anaknya rajin.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Shara bisa pulang. Ia berpisah dengan Mila yang masih saja sibuk dengan puisinya. Shara berniat untuk belanja ke mall. Walau sendiri, biarlah. Tidak ada yang salah dengan kesendirian. Kesepian itu hanya menghantam sesaat. Ia mencari kepingan uang di dompetnya. Ah, untung masih bisa digunakan untuk membeli kebutuhan dalam satu bulan ini. Tujuan utama Shara ke mall hanya mau belanja bulanan.
Sabun, shampoo, odol hingga cemilan yang enak untuk nonton Netflix di kosan. Ia kaget saat tangan besar menyentuh pundaknya. Dios tampak tersenyum.
“Bukannya mas lagi main billiard?”
“Udah kelar. Tadi gue gak sengaja liat lo waktu mau beli Durex.”
“Durex?”
“Lo gak tahu Durex itu apa?”seru Dios terkekeh.
Shara menggeleng. “Ya, sebaiknya lo emang gak tahu. Niat doang mau pacaran sama fakboy, Durex aja gak tahu.”
“Gue bisa googling.”seru Shara sambil mengambil ponselnya dari kantong. Dios sigap menghentikan niat cewek itu.
“Entar aja nyarinya kalau udah sampai kosan.”ucapnya lagi. Shara terpaksa mengikuti. Ia berjalan tanpa memperdulikan Dios. Dios terus mengikutinya bahkan saat ia melewati tempat yang sama berkali-kali.
“Lo niatnya mau kemana sih?”tanya Dios kesal. Sudah lima kali mereka melewati bagian yang sama.
“Mau nyari letak Durex.”
“Sialan. Udah berarti ya, ayo bayar aja.”ajak Dios kesal. Dia menuntun langkah Shara agar berhenti tepat di kasir. Shara membayar tanpa sadar kalau kasir adalah tempat Durex yang ia cari.
Setelah membayar, Dios malah mengajak Shara makan. Tempat makan kaki lima yang ada di sisi jalan mall itu memang ramai dengan para pembeli. Beragam menu makanan disajikan. Shara tentu senang karena punya teman makan. Sekali lagi, dia butuh pacar. Sebenarnya pacar kayak Dios juga tidak masalah.
“Jadi lo masuk jurusan Bahasa gara-gara apa?”tanya Dios sambil memasukkan nasi goreng dengan toping sosis ke mulutnya.
“Gak ada alasan mas. Gue cuma cari pelajaran termudah dari semua jurusan.”
“Apa lo kira Bahasa itu gampang?”
“Ya awalnya,sekarang gue nyesel. Ternyata susah juga.”
“Berarti lo coba-coba doang ya. Gak kayak Mila, dia tuh suka banget sama Sastra Indonesia. Bokapnya malah menyuruh dia masuk IT biar gampang dapat kerja. Eh, dianya gak mau.”
“Emang kalau kuliah demi uang doang ya? Kadang gue mikir kalau orangnya gak suka bisa bikin masalah di masa depan.”
“Begitulah Sha, orang tua gak bakal ngerti. Dan kadang omongan orang tua juga benar, kalau anaknya pengangguran di masa depan kasihan juga.”
Shara menghabiskan nasi gorengnya yang banyak itu. Porsi jumbo gak bikin dia menyerah. Makanan itu memang harus dihabiskan sebagai penghargaan untuk para petani.
Suasana malam di kota Jakarta cukup menarik hati. Dengan catatan ada orang yang bersama melewatinya. Kalau sendirian, rasanya tidak semenarik ini. Shara langsung pulang karena hari semakin malam. Ia ogah dianterin Dios. Padahal Dios sampai lima kali nawarin diri. Dios kan punya motor yang bisa dipakai kemana-mana. Shara cuma tidak mau menimbulkan gosip di kosan. Apalagi kalau David sampai tahu. Dia bisa menghujani Shara dengan sejuta pertanyaan.