Kosan dengan penghuni cowok dan cewek itu sangat menarik. Kalau minta tolong, banyak yang mau ngebantuin. Shara benar-benar terbantu oleh kebaikan hati David. David berperilaku bak kepala keluarga yang menganggap Shara itu anaknya. Shara semakin yakin bahwa David bukan pilihan hatinya. Dia memutuskan untuk tak berharap pada cowok itu. Mereka hanya terhubung oleh relasi Fatherzone. Rasanya memang mengenaskan, tapi tidak apalah. Shara masih punya Igor untuk dijadikan kandidat pacar.
Satu hal yang paling mengganggu Shara tinggal di tempat itu. Kamar mandi yang digunakan bersama. Ya, itu benar-benar mengganggunya beraktivitas. Ya memang, kamar mandi cewek dan cowok dipisah. Tapi tetap saja, rasanya butuh effort untuk sekedar pipis doang. Apalagi kalau ada yang sedang memadu kasih dengan pintu terbuka. Hmm, rasanya seperti tertusuk paku tepat di telapak kaki. Sakit cuy. Shara juga ingin menikmati masa bermesraan itu. Pertanyaannya satu, dengan siapa?
Ririn, cewek dewasa yang membuat Shara canggung melewati kamarnya. Ririn sering membawa pacarnya ke kamar kosan. Kata David, cewek itu paling dibenci oleh penghuni kosan lain. Selain tingkahnya yang m***m, ia juga sering nangis malam-malam. Itu sangat mengganggu penghuni lain. David selalu bilang agar Shara tidak dekat-dekat dengan cewek itu. Larangan itu membuat Shara semakin penasaran. Dia harus bisa mendekati Ririn.
Malam itu Shara sengaja duduk dibangku depan untuk mencari sinyal. Ia sesak di kamar terus. Ia juga harus mengerjakan beberapa tugas untuk besok. Tiba-tiba saja Ririn duduk di kursi depannya. Ia kaget dong. Ia menatap cewek itu dengan kebingungan.
“Ah, maaf ya.”ucapnya.
“Gak apa-apa kak. Lo habis dari mana?”tanya Shara kepo.
“Lo gak perlu tahu. Gue cuma menikmati hidup. Dan tentu saja, orang kayak lo gak suka cara gue menikmati hidup.”
“Siapa bilang? Gue suka.”
“Lo aja belum tahu udah suka-suka aja.”
“Makanya kasih tahu dong kak. Gue juga pengen hidup bebas.”curhat Shara dengan wajah lugunya. Ia hanya tidak sadar kalau wajahnya lugu. Bahkan saat lipstik merah darah dipoles di bibirnya, ia tetap saja kelihatan lugu.
“Gue abis dari club.”
“Gue mau ikut dong kak. Gue pengen ngerasain club itu gimana.”
“Emang lo punya duit? Beli alkohol itu mahal.”
“Punya gue kak. Dan lagi, gue mulai kerja sambilan minggu depan. Gue bisa bayar bahkan traktir kakak.”
“Ah terserah lah,,,,,”seru Ririn tak percaya. Ia melengos menuju kamarnya.
“Pokoknya lain kali ajak gue ya kak!!”teriak Shara tak tahu diri. Jika ia berhasil pergi ke club, ia akan dapat pelajaran berharga tentang nikmatnya hidup. Hidup yang menyenangkan dengan orang-orang baru. Tak ada yang salah dengan rasa penasarannya. Ia kembali menatap layar laptopnya. Masih ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab.
Sebuah motor butut terparkir. David datang dengan plastik berisi tempat makan. Makanan itu ia letakkan di meja. Shara menatapnya heran. “Ayo makan.”ajak David sambil membuka tempat makan itu.
“Makanan dari mana ini kak?”tanya Shara heran.
“Dari pacar.”
What the heck! David punya pacar?
“Lo punya pacar?”
“Gak usah gitu ya Sha. Emang kenapa kalau gue punya pacar? Gak usah syok gitulah.”jawab David cuek. Ia hanya geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan Shara. Shara bergosip dengan dirinya sendiri. Selama ini dia suka sama David yang sudah punya pacar? Ah, pantas saja tidak berhasil. Andaikan dia tahu, dia gak bakal berniat mendapatkan hati cowok itu. Kebodohan yang haqiqi.
“Udah makan aja, lo belum makan kan?”
Shara mengangguk. “Jadi, ini pacar lo yang masakin? Keren banget ya, gue aja gak bisa masak.”
“Lain kali gue minta dia buat ngajarin lo deh.”
“Ga usah kak, gue emang gak berniat buat tahu masak.”
“Oh ya udah. Terus gimana, jadi kerja sambilan?”
“Jadi kak, teman gue udah booking satu tempat.”
“Enak banget ya punya orang dalam.”
“Orang dalam apanya. Gue cuma bantu-bantu di kafe mas nya dia. Gajinya sih gak banyak, tapi bisalah traktir lo makan satu kali.”ledek Shara.
David terkekeh. David sedikit penasaran dengan cewek itu. Saat tiba di kota ini, ia hanya seorang diri tanpa diantar orang tua. Ia sering menanyakan Shara di grup angkatan SMA. Ternyata tak ada yang mengenal Shara Indriani. Ya, seperti pernyataan awal bahwa Shara tak cukup populer.
Shara akan bekerja di Kafe TG yang berlokasi dekat dengan kampus. Dengan restu Mila, Shara pergi dengan Igor ke tempat itu. Igor menceritakan banyak hal termasuk sejarah dibukanya kafe itu. Kafe TG terlihat sangat bagus. Penampilan luarnya bisa jadi ajang buat foto-foto. Sungguh sangat Instagramable.
“Mas Dios itu orangnya strict. Lo harus rajin biar gak dimarahin. Bisa aja lo dipecat after dua hari kerja.”seru Igor membuat takut. Pernyataan kayak gini kadang bikin menyerah sebelum berjuang. Oleh karena Shara gadis yang pemberani, ia harus berjuang dulu baru menyerah. Kalau sampai Mas Dios membuatnya tertekan batin, ia akan resign sebelum disuruh.
“Mas Di,,,”sapa Igor sambil mendekat ke cowok berkumis itu. Cowok dengan taburan rambut di wajahnya. Ah, dia benar-benar bukan tipe idaman Shara. Dia seperti om-om yang berumur ratusan tahun. Shara terlalu lebay untuk pernyataan ini.
“Hey, Igor.”
“Ini mas, teman yang gue ceritain.”
“Hallo mas, saya Shara.”
“Jadi Shara ini anak baru gitu jurusan Sastra Indonesia. Cuman gak sengaja ketemu di satu mata kuliah. Dia temannya Mila.”
“Temannya Mila”, suatu sebutan yang mungkin berguna kali ini. Entah kenapa semua orang mengenal Mila.
“Kamu terbiasa kerja gak? Sebelumnya pernah kerja di kafe?”tanya Mas Dios dengan suara beratnya. Satu-satunya yang patut dibanggakan adalah suaranya yang seksi. Mendengarnya saja bisa membuat hati Shara bergetar.
“Sebenarnya gue gak pernah kerja di cafe, tapi gue orangnya mau berusaha keras.”
“Oke, tidak ada masalah selagi kamu bisa melewati beberapa hari. Mulai besok kamu bisa kerja. Kamu dapatnya shift sore sampai malam. Tidak masalah kan?”
“Iya mas. Makasih banyak!”
Step by step, impian Shara akan terwujud. Ia tak ingin seperti Mila yang sibuk belajar. Ia ingin merasakan nikmatnya hidup tanpa fokus pada satu hal. Shara mendapat telepon dari Mila.
“Kenapa Mil?”
“Sha, lo jadi kerja? Gak usah napa.”
“Jadi dong. Gue udah ngomong sama pemilik kafe TG.”
“Terus diterima?”
“Iya, katanya mau lihat dulu beberapa hari ini.”
“Hati-hati aja sama dia. Dia orangnya kaku dan suka seenaknya.”
“Lo kenal Mas Dios?”
“Dia sepupu gue Sha. Dunia memang sempit, gue ketemu Igor baru kemarin. Ternyata Igor temannya Mas Dios.”
Sekarang semuanya tampak masuk akal. Orang-orang disini saling terhubung. Dan Shara terhubung dengan mereka karena Mila. Takdir baik atau buruk tinggal kita lihat di kemudian hari.
“Lo gak mau gabung? Gue sama yang lain lagi kerja kelompok bareng.”ajak Mila. Grup kelas memang ramai terus karena ada tugas yang harus dikumpulkan. Shara sudah menyelesaikannya sejak kemarin. Dia tidak suka menjadi deadliner. Itu sangat menguras tenaga, kejiwaan dan mental.
“Gak deh, gue kerjain sendiri aja.”tolak Shara.
Shara menutup telepon. Ia memutuskan untuk izin pulang karena Igor masih harus menghabiskan banyak waktu untuk mengobrol dengan Dios. Shara sedikit kecewa dengan Igor. Cowok itu tak tertarik padanya sedikitpun. Dia hanya peduli pada Mila. Rasanya menyebalkan. Shara ingin punya pacar. Ia ingin tahu bagaimana rasanya dicintai dan mencintai. Ia ingin merasakan nikmatnya jalan berdua di mall. Ah, walaupun tak sevulgar Ririn dan pacarnya, ia cuma ingin merasakan hal sesimpel mengubah status dari single jadi ‘berpacaran dengan’.
David dan Igor jadi membuatnya murung sedih. Sudah ada dua orang yang ditargetkan tapi keduanya sama-sama tak peduli. Inikah takdir orang biasa sepertinya? Jomblo selama 19 tahun membuatnya haus perhatian. Ia tak mau dianggap weird oleh orang-orang seumurannya. Ekspresi macam, “Hah, lo gak pernah pacaran?” atau “Lo gak punya mantan?”. Shara dengan sepenuh hati akan terus mencoba. Ia sedikit berharap pada Igor. Mila tidak suka padanya, bukankah itu berarti Shara punya kesempatan untuk mendapatkan cowok itu?