Sampai nyaris tengah malam baru kami berdua mendengar suara yang Mrs. Hamish maksud. Aku tertidur dengan kepala bersandar di punggung sofa dan hampir jatuh ke samping. Suara yang pertama terdengar seperti suara orang-orang berbincang. Bahasa mereka samar. Kemudian suara itu berganti menjadi suara tanah yang di cangkul. Levine rupanya tidak tidur. Dia masih berada di posisi yang sama sebelum aku jatuh terlelap dan masih merokok. Ada asbak milik tuan rumah di bawah samping Sofa yang berisi banyak bekas bubuk tembakau, berkat asap rokok itu ruangan ini berbau manis khas musim gugur. Lampu di meja kecil yang tak jauh dari lukisan menyala, sinar putih redupnya menerangi seperempat lukisan. Suara itu semakin berlipat, sepertinya ada dua petani lain yang ikut membajak tanah. Kusadari lukisan pa

