Tobacco

1134 Kata
Hujan reda ketika kami memutuskan untuk pulang ke rumah sekitar jam 4. Langit masih dipenuhi sekumpulan bulu domba kelabu yang menutupi matahari, aroma tanah basah juga menenangkan halaman depan rumah Mrs. Hamish. Moirai permisi lebih dulu, dia berjalan melewati gerbang. Tuan rumah menemani kami berdua sebelum pamit. “Aku akan kembali malam nanti, Nyonya Hamish,” ucap Levine. “Apakah lukisan itu akan baik-baik saja sampai kau datang?” lirihnya cemas. Lelaki berusia 25-an itu masuk ke kursi pengemudi tanpa merespons balik. Dasar kasar sekali. “Tenang saja, Nyonya. Aku pastikan kami tidak akan lama.” Levine membuka suara ketika kami keluar dari gerbang tinggi indah itu. “Kami? Kau berencana untuk ikut lagi?” Aku yang duduk di sampingnya menoleh. “Kenapa? Tidak boleh?” “Kau hanya akan menghalangi proses.” Proses? Aku menautkan alis. “Jadi, kau itu cenayang?” “Bukan. Pekerjaanku lebih elite dari orang yang meneriakkan mantra-mantra itu.” Elite? Aku hampir tertawa. “Tapi, kau membasmi hantu juga.” Buliran air mengalir jatuh dari kaca spion, jalan besar yang kami lalui cukup sepi. Aku tidak pernah melihat hantu. Jika kau tanya apakah aku mempercayainya, aku bisa saja percaya kalau pernah mengalami fenomena paranormal. Sayangnya, aku hidup tenang tanpa usikan makhluk tak kasat mata itu. Hidupku sudah cukup terganggu karena krisis moneter, aku bisa hilang akal kalau para hantu bertingkah. “Kenapa dia menumpahkan darah ke lukisan itu?” Levine membelokkan mobil, masuk ke jalan perumahan. “Kau masih ingat soal doa yang suaminya ucapkan? Apa kau benar-benar memiliki kemampuan psikometri?” Kini aku jengkel. “Kau mau aku membacamu?” “Menjauh sana,” umpatnya. Aku merotasikan mata, lalu  menopang dagu pada bingkai jendela mobil dan ikut mengumpat dalam hati. *** Levine sedang bersiap usai kami makan malam. Sekarang aku berada di ruang tengah, duduk di sofa yang kemarin Levine duduki, menatap jendela yang belum tertutup gorden. Meskipun rasa penasaranku mendidih dalam otak, tapi berkat kejudesan lelaki bersurai hitam itu, aku jadi malas kalau menghabiskan waktu di sana dengannya. Lebih baik kalau ada Moirai. Hari ini aku tahu kalau Moirai bukan hanya manusia. Dia pesuruh tuhan yang mengurusi persoalan ‘takdir’. Oke, ucapanku barusan sangat fantasi, sangat klise. Aku sendiri percaya kalau ada psikometri lain di luar sana dan orang-orang yang diberkati dengan berbagai kelebihan selain aku. Tapi, dewa di luar itu. Mereka bukan hanya diberkati. Hah, aku pusing dengan semua ini. Wanita itu bilang kalau Levine membutuhkanku. Sampai detik ini, aku tidak mengerti maksudnya. Kalau candaannya soal menikahiku dengannya itu serius, lebih baik aku pergi dari sini secepatnya. Tanganku meraih pipa rokok yang ramping berwarna hitam di meja. Aroma Vanilla yang kuhirup sejak pertama kali masuk ruangan ternyata berasal dari sini. Apakah setiap bubuk tembakau memiliki rasa dan aroma berbeda? Hidungku mendapati aroma manis citrus di ujung pipa, bagian yang ditaruh di mulut. Ini wangi yang sama dengan aroma tubuh lelaki itu. Aroma manis memabukkan. Apa ada rasa yang masih menempel di sana? Apa rasa itu manis semanis aromanya? Kau tidak akan tahu sebelum menempelkan bibir di tempat yang sama dengan lelaki itu saat dia menghisap rokok. Sebelum hatiku berbuat gila, otakku langsung mengambil alih tepat sebelum aku melakukan ciuman tidak langsung dari pipa rokok Levine. Aku gila! Sedang apa kau mencium pipa rokok orang? Bagaimana kalau dia punya penyakit menular? Iih! Aku berdeham, menaruh benda itu kembali seperti semula. Lelaki itu keluar dari lorong, menghampiri pipa rokok dan kaleng kecil tembakaunya. Dia memakai kemeja hitam dan mantel senada. Rambutnya masih belum benar-benar kering, menguarkan aroma sampo berbau mint dan timun. Matanya melirikku. “Jangan ikut.” “Tidak, kok,” cetusku. Aku heran kenapa Dean tahan punya majikan seperti dia. Telepon rumah di atas meja kecil berdering. Levine mengangkat gagang telepon hitam model jadul itu. Manik biru keabu-abuannya kembali melirikku, menatap jengkel. Lebih baik aku ke kamar dari pada di pelototi terus di sini. “Tunggu.” Kudengar suara tangannya yang menaruh telepon ke tempatnya semula begitu aku hendak masuk ke lorong. Aku berpaling, menatapnya dari bahu. “Moirai ingin kau ikut.” “Moirai juga ikut?” tanyaku dengan girang. “Tidak. Dia masih ada pekerjaan.” Ya sudah, aku lebih baik tidak ikut. “Ya sudah, aku ikut.” Mulutku berkata sebaliknya. Aku meringis kesal karena kelabilan sendiri. Dengan rasa penasaran, aku mengambil blazer rajut yang agak kebesaran dan sepatu lalu kami berdua berangkat ke rumah Mrs. Hamish. Jam di ponsel 2G ku menunjukkan pukul setengah sembilan. Kira-kira pukul berapa suara-suara itu akan terdengar? Apakah Levine akan membasminya secara tuntas? Lelaki itu melihat ponselku. “Kukira ponsel itu sudah tidak di produksi lagi.” “Kenapa? Apa aku terlihat seperti orang tua kalau pakai ponsel ini?” tanyaku. “Tidak, aku juga tidak suka mengikuti jaman. Ponsel sekarang membuat orang-orang malas.” Ucapannya bisa kutoleransi. Dia memang tidak mengikuti jaman, malah dia seperti kalender lama yang masih terpajang setelah berpuluh-puluh tahun terlewat. Pipa rokok, logat, cara berpakaian. Levine tidak seperti pemuda dua puluh lima tahun yang lain. Kami sampai di teras depan rumah Mrs. Hamish. Si nyonya pemilik rumah menunggu kami di depan pintu, di bawah lampu yang menyala. Dia menatap kami dengan raut resah. Bibirnya bahkan lebih pucat dari pada tadi sore dan sanggul rambutnya berantakan. Aku menghampirinya, dia meraih tanganku. Lengannya terasa dingin dan dia gemetaran. “Suara itu terdengar lagi,” lirihnya. Aku menepuk pundaknya. “Sekitar jam berapa Anda mendengarnya, Nyonya?” “Suara itu berhenti tepat ketika aku menutup pintu.” Baru saja terjadi. Aku menatap Levine yang berdiri di sampingku. Rautnya kosong, entah apa yang sekarang memenuhi benaknya, tapi dia tidak menghiraukan kondisi Nyonya Hamish dan langsung masuk ke rumah. “Nyonya, kusarankan Anda tinggal di rumah kerabat terdekat untuk sekarang.” Wanita itu mengangguk seraya menahan takut. “Aku sudah memanggil adikku, dia sedang dalam perjalanan ke sini.” Aku tidak meninggalkannya sendirian dan menyusul Levine. Aku ragu wanita itu kuat untuk berdiri jadi aku menemani sampai adiknya datang. Mobil putih berhenti di depan gerbang rumah Mrs. Hamish, seorang wanita segera keluar dari kursi pengemudi dan masuk menghampiri. “Oh, syukurlah kau datang.” Nyonya itu hampir saja menangis ketika sang adik merengkuhnya. “Ini gila, kenapa kau tidak bilang sejak kemarin?” “Aku kira aku berhalusinasi.” Adiknya yang terlihat sepuluh tahun lebih muda memperhatikanku lamat-lamat. “Apa kau cenayang itu?” Aku menggeleng kaku. “Aku temannya cenayang itu, dia sudah ada di dalam rumah.” “Kalau begitu, cepat bereskan semua kegilaan ini,” tukasnya dengan nada kesal lalu melangkah pergi bersama Nyonya Hamish. Aku melangkah masuk. Lampu di dalam tidak ada yang menyala. Ruang tengah diterangi sinar malam dari jendela yang dibuka, Levine ada di sana, duduk di sofa tepat di hadapan lukisan sambil menyesap tembakau. Satu hal yang kusadari, ruang tengah itu terasa lebih dingin dari suhu di luar. Semakin aku mendekat ke lukisan, semakin menggigit. Levine berkata saat aku berdiri di sisinya. “Lihat padinya.” Mataku menatap ke sana. Torehan cat kuning keemasan yang membentuk padi siap panen entah kenapa terlihat berbeda dari yang tadi sore kulihat. “Tadi lukisan padi itu masih cukup banyak, sekarang terlihat berkurang seperempatnya. Seolah padi di lukisan itu benar-benar di panen.” “Kalau begitu, kita harus apa?” Dia mengembuskan asap beraroma Vanilla dan citrus ke udara, mata kanannya bersinar karena pantulan cahaya dari jendela. “Menunggu.” Menunggu apa? Aku memutuskan untuk duduk di sofa di belakang, ikut menunggu. Bahu lebar lelaki itu membalap panjang punggung sofa. Tangannya yang bersarung terlihat lebih lentik dari biasanya. Jari itu pasti biasa menyentuh perempuan. Itulah kenapa dia bersikap kurang ajar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN