A paint

1416 Kata
Kami berangkat dengan porche milik Levine yang diparkirkan di halaman belakang. Yah, bukan hal yang terlalu mengejutkan jika dilihat dari ukuran rumahnya. Dia memang kaya. Nah, pekerjaan apa yang membuatnya bisa memiliki rumah dan porche di usia muda seperti itu? Aku tidak tahu berapa umurnya, tapi wajahnya tak begitu tua, perkiraanku sekitar dua puluhan. Aku duduk di bangku penumpang sendirian. Moirai di depanku, di samping Levine. Hujan mengetuk kaca jendela, menunjukkan pandangan luar versi buram. Selang dua puluh menit, mobil berbelok, masuk ke jajaran rumah mewah; walau tidak semewah milik laki-laki pucat yang sedang mengemudi. Roda berhenti berputar tepat di depan rumah modern bercat abu-abu dengan gerbang emas putih bergambar teratai. Tak lama, gerbang dibuka. Mobil bergerak mundur sedikit, lalu maju masuk ke pekarangan depan rumah elite itu. Levine memarkirkan mobil di depan rumah. Aku meraih payung hitam di tempat duduk sampingku sebelum keluar dari mobil. Guntur terdengar menyerang langit, cahaya mengilapnya sekilas menerangi rumah di hadapanku dengan efek dramatis. Moirai mengetuk pintu dan kami menunggu. Laki-laki bermanik biru terang itu berdiri di sampingku, memegang payung berdua dengan Moirai. Pintu kayu besar mengkilap di depan kami terbuka, seorang wanita paruh baya menunjukkan diri dari baliknya. Raut wajahnya cemas, tatanan rambutnya agak berantakan, terlihat jelas kalau dia memiliki masalah. Dia berparas lembut dengan mata bulat dan bibir tipis pucat. Semua itu mungkin terlihat menawan kalau dia tidak ketakutan seperti saat ini. “Syukurlah, kalian cepat sekali datang. Aku sudah tidak sanggup lagi. Rasanya aku ingin mati,” lirihnya dengan tangan gemetar meraih bahu Moirai. Wanita elegan itu menepuk punggung tangan klien Levine. “Tenang nyonya Hamish, mari kita bicarakan ini di dalam.” Nyonya Hamish membuka pintu, mempersilakan kami masuk. Dia pergi ke dapur, membuat teh sementara aku, Levine dan Moirai menjelajahi ruang tengah. Cat putih tulang ruangan ini memperjelas segalanya. Dari lukisan besar di belakang sofa panjang, patung kepala Napoleon, vas bunga besar, sampai jejeran foto keluarga. Semuanya disusun dengan indah, enak untuk di pandang. Teh dan kue ginger nuts datang, aku langsung meraih nampan karena wanita itu hampir tidak bisa membawanya dengan benar. Tangannya masih gemetaran. Setelah menaruh teh dan piring kue di meja rendah dari batu alam yang unik, kami berempat duduk. Moirai menepuk pundakku seraya mendekat. “Shane, aku ingin kau perhatikan semua pajangan di ruangan ini,” bisiknya. Aku mengerjap. “Untuk apa?” Nyonya Hamish membuka suara sebelum Moirai melanjutkan perkataannya. “Tolong aku, Mrs. July.” Mrs. July? “Kami akan membantu. Sebelum itu, silakan beritahu kami keluhanmu, agar kami tau metode apa yang paling efektif untuk mengatasinya,” balas Moirai dengan lembut. Jadi, dia punya nama lain, July. Sebenarnya yang mana nama yang benar? Levine tidak bicara, sejak tadi dia duduk dan sibuk mengedarkan pandangan ke setiap pajangan di ruangan, memperhatikannya satu per satu. Jadi ini yang Moirai bilang tidak bisa menghadapi perempuan? Yah, dia memang kasar pada perempuan. Aku setuju. “Sepertinya ada makhluk lain yang menempati rumahku.” Aku mendelik. Omongan Nyonya Hamish sukses merebut perhatianku. “Makhluk lain?” ulang Moirai. Dia mengangguk. “Setiap malam, ada suara aneh yang datang dari ruang tamu ini. Suaranya mengingatkanku pada hari panen di desa. Ada suara orang yang memotong rumput, suara mencangkul, suara orang-orang tua yang mengobrol. Semua itu terdengar jelas memenuhi rumah.” Moirai melirik Levine sebentar. “Sudah berapa malam itu terdengar?” “Sudah delapan hari.” “Apa ada sesuatu yang terjadi delapan hari lalu?” Nyonya Hamish terdiam sejenak. “Suamiku wafat.” “Maaf atas kelancangan kami,” ujarku karena merasa kelabu. Beliau menatapku dengan senyum simpul, “Sejak itu, suaranya terdengar menggema setiap malam. Salah seorang pembantuku berkata kalau dia mendengar hal yang sama pada awalnya, namun suara itu semakin lama semakin terdengar mengerikan. Gara-gara itu, semua pembantu di rumahku mengundurkan diri.” Moirai menepuk Levine. “Kau sudah dengar penjelasannya. Apa kau mengerti apa yang harus kau kerjakan?” Levine memberikan tatapan dingin pada wanita yang berduka itu, membuatnya gugup. Apa dia tidak bisa bersikap lembut pada nyonya ini? “Lukisan itu,” katanya sambil menunjuk lukisan besar dengan bingkai kayu di tengah ruangan, “Siapa yang membawanya kemari?” “Itu milik suamiku. Itu lukisan buatannya. Dia pelukis amatir, tapi banyak orang yang membeli hasil torehan catnya dengan harga mahal. ” Dia menatap Levine dan lukisan itu dengan risau. Aku memperhatikan benda itu. Lukisan sekumpulan petani yang sedang memanen padi. Seorang wanita dengan topi anyamannya memotong batang padi, pria dengan topi yang sama sedang mengangkut padi. Di kejauhan, ada gubuk tanpa dinding, tempat beberapa dari mereka sedang menikmati secangkir minuman sambil duduk berleha-leha. Eh? Suasana lukisan ini kurang lebih serupa dengan suara yang Nyonya Hamish dengar. Laki-laki pucat itu berdiri, mendekati lukisan dan menatapnya dalam keheningan. Setelah itu dia berbalik. “Aku tidak suka basa-basi, jadi aku akan mengatakan solusi dari masalahmu, nyonya. Bakar lukisan ini, dengan begitu suara aneh tidak akan menggentayangimu lagi.” Nyonya Hamish berdiri. “Tapi, itu hanya lukisan. Yang menjadi keluhanku adalah suara—“ “Ya, suara yang kau dengan berasal dari sini, wanita tua. Bukankah terlihat sangat jelas? Kau mendengar suara orang memanen padi, suara itu berasal dari lukisan ini,” ucapnya dengan penekanan. Aku menganga, mataku menyalang padanya. Dia sangat tidak sopan! “Levine, jaga kelakuanmu.” Itu teguran dari Moirai. Wanita itu terlihat tersinggung. “Apa kalian benar-benar orang yang ahli di bidang ini? kenapa laki-laki itu bicara melantur?”  “Laki-laki itu memang berkata yang sebenarnya, nyonya. Sebenarnya sulit untuk menjelaskan beberapa hal yang tidak bisa ditangkap oleh nalar manusia pada umumnya, beberapa terdengar sederhana tapi sulit dipercaya. Lukisan yang suamimu lukis adalah pelaku dari suara-suara yang mengganggu setiap malam. Lukisan itu memang harus segera disingkirkan,” tutur Moirai. “Tapi, mana mungkin ….” Sama seperti Nyonya Hamish, aku juga tidak percaya. Jadi pekerjaan yang dia maksud adalah membasmi hantu? Yang benar saja. Ini dunia nyata. Hal semacam itu hanya guyonan. “Bagaimana kalau gadis ini yang akan membuktikannya?” Aku mendelik ketika merasakan Moirai menepuk bahuku. Aku menatapnya bingung. “Ma-maaf?” gumamku. “Gadis ini bisa membaca benda.” Rahangku jatuh. Dari mana dia bisa tahu itu? Aku belum mengatakannya! Nyonya Hamish dan Levine memberikan tatapan heran. Kini aku percaya kalau Moirai itu dewi takdir. “Apa maksudmu?” Levine mendekat, berdiri menjulang di antaraku dan Moirai. Seketika aku berkeringat dingin merasakan tatapannya yang menusuk. Mataku bergeser ke arah lain, bisa-bisa aku berubah jadi batu kalau berbalas mata dengannya. “Gadis ini seorang psikometri. Yah, mungkin kemampuannya tidak begitu hebat. Tapi, dia bisa melakukan hal yang tidak kau bisa,” tutur Moirai. Dia mengatakannya dengan nada mengejek. Bagus, Moirai, kini laki-laki itu terlihat semakin mengintimidasiku. “Benarkah? Kalau begitu silakan. Lakukan pekerjaanmu,” tukas Nyonya. Levine menyingkir saat aku mengangkat bokongku dan bergeser ke tempat lukisan besar itu terpajang. Aku membasahi bibirku dengan gelisah. Ugh, aku tidak suka ini. Mereka berharap terlalu banyak soal kemampuan ini. Sungguh, aku jadi semakin benci punya kelebihan ini. Levine menggaruk belakang kepalanya ketika dia berdiri di sampingku. “Jadi, ini alasan Moirai membawamu?” “Aku tidak mengatakan soal ini padanya,” tekanku. “Ya, tapi dia tau hampir segalanya.” Mataku melihat ke atas, ke puncak lukisan. Setiap aku mendapat bayangan lewat sentuhan, aku akan merasa seperti menaiki lift tua yang bisa jatuh kapan pun. Pendengaranku akan berdengung, pandanganku akan gelap sejenak, itu semua terjadi salam sepersekian detik sentuhan itu terjadi. Maka dari itu, aku tidak pernah berani untuk mencoba bersentuhan lebih dari satu menit. Kurentangkan telapak tangan di depan kaca bingkai lukisan, perlahan menempelkannya. Terjadi sengatan nyeri mendadak, aku menjauhkan diri dari depan lukisan dengan pandangan gelap. Seseorang menahan punggungku saat tubuh ini limbung, aku berpegangan padanya. Seorang pria paruh baya sedang mengangkat lukisan ini ke luar. Dia meletakkan lukisan itu di atas meja, menghadap langit malam. Tangannya meraih telinga seekor kelinci, dia mengangkatnya seakan hewan itu bukan makhluk hidup. Tangan yang satunya memegang pisau kecil, lalu menggoreskannya ke leher si kelinci. Darah amis mengalir ke atas lukisan yang bingkainya di buka, m*****i warna emas yang ditorehkan tuk melukiskan padi siap panen. Darah itu semakin menyusut, seolah lukisan itu menyerapnya. Pria itu melakukan ini setiap minggu, saat tengah malam di belakang rumah. Seolah memberi makan lukisan itu. Napasku tersengal, pandanganku perlahan menjernih. Moirai yang sejak tadi menahanku agar tetap berdiri menatapku dengan takjub. “Kau baik-baik saja?” Aku mengangguk, menelan ludah di tenggorokan yang tiba-tiba kering. Nyonya Hamish menatap cangkir di pangkuannya lalu beralih padaku. “Nyonya, suamimu ....” Wanita paruh baya itu menutup matanya sambil mendengarkan. Apakah dia tau rutinitas suaminya ini? “Dia menumbalkan hewan ke lukisan ini,” lanjutku. Ruang tamu itu hening sejenak. Baik Levine, Moirai atau Nyonya Hamish tidak mengeluarkan bantahan atau sanggahan. Memori itu terulang lagi, hanya sekelebat detail yang tidak terputar tadi. Pria paruh baya berambut pirang cokelat itu juga menggumamkan sesuatu. Dengan khidmat dan tenang. Aku menangkap beberapa katanya. “Ku panggil kau, maka datanglah kau. Aku pengabdi baru hendak bersimpuh, tunjukkan keajaibanmu agar aku tunduk ...,” gumamku dengan mata terpejam. “Dia menyembah lukisan itu?” lontar Levine. Levine dan Moirai menatap Nyonya Hamish yang menangis dalam hening. “Kau benar, itu yang suamiku doakan malam itu.” “Kau melihatnya?” tanya Moirai. Wanita paruh baya itu mengusap air matanya dengan punggung tangan, lalu mengangguk. “Dia pernah mengajakku berdoa bersama.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN