Bab 3: Kamar Enam, Masalah Satu
Asrama Royal Five Academy seperti hotel bintang tujuh—pintu otomatis, lemari yang bisa bicara, dan bahkan dispenser yang bisa nyeduh kopi sesuai mood penggunanya.
Tapi Arshinta tidak peduli semua itu.
Yang ia pedulikan adalah fakta bahwa ia tinggal satu kamar dengan lima cowok tampan dan aneh.
Kamar 7-LUX, letaknya di lantai paling atas. Dilengkapi jendela kaca besar yang menghadap ke langit kota. Di tengah kamar ada enam ranjang. Ranjang Arshinta—entah mengapa—berada di tengah-tengah.
“Serius? Tengah?” keluhnya.
Hosea sudah langsung duduk di kasur paling kiri sambil membuka laptop holografiknya. Aven menggantungkan sweater rapi di lemari. Rayden masuk tanpa bicara, langsung tidur. Leon masih sibuk dengan tabletnya, dan Kairo? Berdiri diam menatap langit-langit.
“Dengar ya,” Arshinta angkat suara, “aku perempuan, dan kalian tahu itu. Jadi jaga jarak, jangan aneh-aneh, dan... jangan coba bikin drama."
Leon menoleh sedikit. “Kamu pikir kami ini siapa? Cowok-cowok di drama TV pagi?”
Arshinta menatap tajam. “Kalau perlu aku sekat tempat tidur ini dengan lemari, aku akan sekat.”
“Terserah,” Rayden bergumam tanpa membuka mata.
Aven tersenyum. “Aku bisa tidur di sofa kalau kamu tidak nyaman.”
“Tak perlu,” sahut Kairo pelan, “aku tidak akan tidur. Aku tak perlu itu.”
Hening.
Hosea menutup laptopnya. “Oke, oke, semua santai. Ini baru hari pertama. Yuk bikin aturan kamar.”
Leon mengetik sesuatu di tablet. Layar besar menyala:
1. Dilarang bawa pacar ke kamar (kecuali kalau jadi pacar bareng).
2. Dilarang ngorok.
3. Dilarang jatuh cinta tanpa persetujuan bersama.
Arshinta melotot. “Nomor 1 dan 3, maksudnya apa?!”
Hosea tertawa. “Itu Leon. Dia suka ngetes reaksi orang.”
“Ya baguslah. Kita mulai hari ini dengan aturan yang absurd,” Arshinta menggerutu.
Tiba-tiba, layar besar di tengah kamar menyala dengan simbol Royal Academy.
[TANTANGAN HARI PERTAMA: SURVIVAL QUEST – TEAM BUILDING MODE]
Pesan itu muncul dengan bunyi dramatis. Lalu lantai kamar berguncang, dan dinding-dinding terbuka membentuk lorong-lorong holografis.
Aven berdiri kaget. “Jangan bilang… ini sistem pelatihan bawah tanah?”
Rayden menghela napas. “Selamat datang di Royal Five.”
---
💬 Kutipan Bab 3:
"Hidup bareng itu mudah… sampai kamu sekamar dengan lima
cowok tampan dan sekolahmu suka bikin acara iseng tiap malam."
Bab 4: Survival Quest Dimulai
Lorong holografis di kamar mereka berubah jadi seperti labirin bawah tanah. Langit-langit bersinar dengan cahaya biru, lantai mengeluarkan uap tipis, dan suara sistem AI bergema:
“Selamat datang di Survival Quest. Misi: Bertahan dan bekerjasama. Durasi: 2 jam. Zona keluar akan terbuka bila semua peserta lolos tes kerja sama.”
Arshinta langsung mundur satu langkah. “Serius... ini bukan sekadar sekolah biasa, ya?”
“Sekolah ini nggak pernah biasa sejak berdiri,” Aven menjawab tenang, menyalakan semacam gelang di tangannya.
Hosea memutar bola matanya. “Tenang aja, Shinta. Ini cuma permainan orientasi. Seru kok. Tahun lalu katanya ada yang ditempel lintah listrik, sih...”
“Apa?!” Arshinta refleks memegang lehernya.
Tiba-tiba, sebuah jalan dari hologram terbuka ke arah selatan lorong. Di ujungnya, pintu logam besar dengan tulisan merah: “Kerjasama Atau Mati Gaya.”
Mereka melangkah masuk.
Di ruangan pertama, muncul layar lagi:
> Tantangan 1: Puzzle Telepati
“Pilih satu orang untuk memimpin, sisanya harus mengikuti arahannya... TANPA suara, TANPA tulisan.”
Mereka saling pandang.
Semua otomatis melihat ke arah... Arshinta.
“Aku? Ngapain kalian lihat aku?”
Kairo angkat bahu. “Karena kamu satu-satunya yang suka ngomong dan cerewet. Sekarang buktikan kalau kamu juga bisa diam dan mikir.”
Arshinta mendelik. “Kalau bukan karena cowok seganteng kamu yang ngomong, aku udah lempar sandal sekarang.”
Puzzle pun dimulai.
Ada lima bola bercahaya yang harus mereka susun dalam urutan warna tertentu. Tapi tidak ada petunjuk urutan, dan hanya Arshinta yang bisa melihat kodenya di layar atas.
Ia harus memberi isyarat kepada mereka.
Arshinta menunjuk bola merah, lalu memberi isyarat ‘dua jari’ ke Rayden. Lalu bola biru dan ‘empat jari’ ke Aven. Yang lainnya mulai bingung, tapi mengikuti.
Lima menit berjalan...
Sepuluh menit...
Lima belas...
KLIK!
Sebuah pintu terbuka.
Sistem AI berkata: “Puzzle selesai. Nilai kerja sama: 89%. Koordinasi visual: cukup. Kekompakan emosional: perlu ditingkatkan.”
Hosea menyender ke dinding. “Pertama kalinya aku kagum sama bahasa tubuh seorang cewek.”
Arshinta menyeringai. “Lain kali, biar aku yang atur semua.”
Leon menatapnya sambil mengetik sesuatu. Layar kecil di gelangnya muncul:
> ‘Tertarik. Tapi jangan sombong dulu, putri nyentrik.’
Arshinta tersenyum licik. “Tenang aja, pangeran misterius. Aku belum keluarin jurus utama.”
Pintu menuju tantangan selanjutnya terbuka perlahan. Lampu berkedip. Musik dramatis mulai terdengar.
Rayden mendesah. “Dua jam ini akan terasa kayak dua tahun…”
Dan petualangan mereka baru saja dimulai.
---
💬 Kutipan Bab 4:
"Terkadang, diam lebih mengikat daripad
a kata-kata. Terutama kalau kamu harus kerja sama dengan lima cowok absurd."