Episode lima cowo tampan lima tatapan

460 Kata
Bab 2: Lima Cowok Tampan, Lima Tatapan Royal Five Academy tak hanya punya bangunan mewah dengan teknologi canggih, tapi juga sistem sosial yang… agak gila. Di sekolah ini, siswa baru wajib memperkenalkan diri di tengah aula utama. Dan tentu saja, Arshinta berdiri di tengah aula dengan lima cowok tampan yang belum genap dua hari ia temui. Kepala sekolah—yang lebih mirip manajer idol group daripada pendidik—berdiri dengan senyum lebarnya. “Silakan, anak-anak. Perkenalkan dirimu. Dimulai dari yang rambutnya merah dulu.” Hosea melangkah maju dengan percaya diri. Ia tersenyum ke semua arah sebelum matanya jatuh tepat ke arah Arshinta. “Namaku Hosea. Aku suka berpikir. Aku bisa membaca bahasa tubuh, kadang pikiran juga. Tapi jangan takut… aku nggak akan baca perasaan kamu... kecuali kamu minta.” Satu aula langsung riuh. Arshinta hanya mengangkat alis. “Playboy detektor: aktif,” bisiknya pelan. Cowok berikutnya maju. Aven, si kalem. Ia menunduk hormat. “Aku Aven. Aku bukan siapa-siapa. Tapi aku ingin menjadi seseorang yang berguna.” Suaranya lembut, dan... agak bikin merinding. Tipe cowok yang diam-diam punya sisi gelap. Arshinta mencatat dalam hati: Misterius level 7/10. Lalu, giliran Leon. Cowok ini melangkah seperti pemilik panggung. Tatapannya tajam, penuh percaya diri. Tapi dia tidak bicara. Ia mengeluarkan ponsel dan mengetik cepat. Layar besar di belakang menampilkan: "Aku Leon. Aku nggak suka bicara. Tapi aku tahu segalanya tentangmu. Hati-hati dengan rahasiamu." Seluruh aula terdiam. Lalu... histeris. Arshinta mengedip pelan. “Psycho level ringan.” Kemudian Rayden maju. Hoodie-nya masih sama dari kemarin. Tapi kali ini ia menatap semua orang dengan tajam. Termasuk Arshinta. “Aku Rayden. Aku nggak mau ada di sini. Tapi karena sesuatu... aku harus. Jangan ajak aku ngobrol kalau nggak penting.” Datar. Kasar. Tapi justru karena itu... menarik. Dan terakhir—Kairo. Pria yang sejak tadi diam di pojok aula, menatap lantai seolah lantainya menyimpan rahasia dunia lain. Ia maju pelan. “Aku Kairo. Aku tidak ingat siapa aku. Tapi kalian semua... akan jadi bagian dari ingatan yang akan datang.” Aula terdiam. Lagi. Arshinta hampir membuka mulut, tapi sesuatu menahan. Lima cowok. Lima gaya. Lima dunia berbeda. Dan satu perempuan: dirinya. Kepala sekolah tertawa puas. “Nah! Sekarang kalian semua resmi siswa tahun ini. Mulai hari ini, kalian akan tinggal di asrama yang sama.” Arshinta terbatuk. “Asrama... yang sama?” Kepala sekolah mengangguk. “Kamar utama. Satu kamar. Enam tempat tidur. Supaya kalian bisa mengenal satu sama lain lebih dekat.” Seluruh aula pecah. Tapi bukan karena heboh... karena gila. Arshinta hanya menatap ke depan. Semua cowok menatap balik padanya. Entah kenapa, tidak satu pun dari mereka terlihat kaget dengan keputusan gila ini. --- 💬 Kutipan Bab 2: "Masalah bukan ketika kamu jatuh cinta… tapi ketika kamu harus jatuh cinta pada lima kemungkinan sekaligus."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN