Bab 9: Cemburu yang Tidak Diatur Sistem
Hari itu kembali normal—atau setidaknya terlihat seperti normal. Ruang kelas dipenuhi siswa lain. Guru Biotek masuk sambil menenteng holografis board, membahas tentang “Mekanisme Organik dalam Dunia Digital.” Tapi lima pria tampan dan satu cewek pusat perhatian… tak bisa menahan energi yang berbeda.
Arshinta duduk di tengah. Di sebelah kirinya: Leon, sang misterius. Di kanan: Aven, si jenius. Di belakang: Rayden, si cuek tapi memperhatikan. Di depan: Kairo, si santai. Di ujung lain ruangan: Hosea, si nyentrik yang tak pernah serius tapi tajam saat dibutuhkan.
> Dan seluruh kelas tahu: Satu wanita. Lima pria. Dan aroma kompetisi samar.
Leon yang jarang bicara mendadak menyodorkan botol air ke Arshinta. “Minum. Kamu kelihatan pucat.”
Aven langsung menoleh. “Dia bisa ambil dari dispenser, Leon.”
Leon menatap Aven datar. “Tapi aku yang bawa.”
Aven memutar bola matanya. “Kamu anak lama. Masih pikir air botolan lebih romantis?”
Arshinta hanya geleng-geleng. “Gue cuma haus. Kalian yang bikin suasana kayak sinetron siang hari.”
Kairo menyeringai. “Bukan sinetron, Shin. Ini live streaming di hati kami masing-masing.”
Hosea berdiri dan langsung menempelkan tulisan di dinding kelas: “5 PRIA: 1 WANITA = 1 MASALAH.”
Guru Biotek menoleh. “Siapa yang nulis teori sosial itu di papan? Itu bukan bagian dari kurikulum!”
Kelas tertawa. Tapi saat itu pula, perasaan aneh mulai muncul di d**a Arshinta. Bukan karena tekanan, tapi karena…
> Salah satu dari mereka mulai menjauh.
Rayden. Si misterius yang dulu selalu duduk dekatnya, kini bahkan tak menatap matanya.
Saat jam istirahat, Arshinta menyusul Rayden ke taman belakang kampus. Tempat yang tenang, biasanya hanya dia dan Rayden yang tahu. Tapi hari ini...
“Kenapa kamu makin dingin?” tanya Arshinta to the point.
Rayden tidak langsung jawab. Ia memandangi pohon holografis yang daunnya berkedip seperti bintang.
“Aku cuma jaga jarak... karena yang lain mulai terlalu dekat.”
“Dan kamu pikir menjauh itu solusi?”
Rayden menoleh, pelan. “Bukan solusi. Tapi... cara aku tetap waras.”
Arshinta tertawa lirih, getir. “Lo salah. Karena makin lo jauh, makin gue cari.”
Rayden terlihat sedikit terkejut. Tapi ia langsung menunduk.
> Untuk pertama kalinya, bukan sistem yang membuat mereka bingung. Tapi perasaan manusia biasa.
---
💬 Kutipan Bab 9:
"Kadang... yang paling menyakitkan bukan karena
tak bisa memiliki, tapi karena terlalu takut untuk dekat."
Bab 10: Zona Pertama — Labirin Cahaya
Setelah hari-hari penuh teka-teki, akhirnya misi pertama sebagai tim “Guardian” dimulai.
Gedung tua di sisi utara kampus—yang dulu disebut Ruang Arsip—ternyata menyimpan lorong bawah tanah. Pintu masuknya tersembunyi di balik rak buku digital yang sudah tak terpakai.
N.R membawa mereka turun melewati lift manual. Di dasar tanah, terdapat sebuah gerbang besar dari cahaya transparan yang terus berubah bentuk—seperti gelombang data yang hidup.
> “Selamat datang di Zona Pertama: Labirin Cahaya.
Di sinilah kalian akan diuji... bukan oleh musuh, tapi oleh apa yang kalian sembunyikan.”
Leon menyipitkan mata. “Tes psikologis dalam bentuk digital?”
“Bukan,” jawab N.R. “Lebih tepatnya... ruang bawah sadar kalian sendiri.”
Arshinta menarik napas dalam. Suara degup jantungnya terasa keras. Ia menatap ke lima pria di sekelilingnya.
“Kalau gue gagal, gue bisa keluar?”
N.R tersenyum samar. “Kalau kamu gagal, zona ini akan keluar bersamamu. Dan menelan yang lain.”
Rayden, yang sempat menjauh, mendekat. “Kita semua masuk bareng. Keluar bareng.”
Satu per satu mereka melangkah ke dalam zona. Cahaya di sekeliling membentuk dinding-dinding data—terlalu terang untuk dilihat, tapi cukup transparan untuk memunculkan bayangan masa lalu mereka masing-masing.
Kairo tiba-tiba melihat bayangan masa kecilnya—sendiri di tengah lapangan tanpa teman.
Aven menghadapi ayahnya yang selalu membandingkan dia dengan saudara laki-lakinya yang jenius.
Leon menemukan sosok ibunya, hilang dalam kabut data—bayangan tentang kehilangan yang tak pernah selesai.
Hosea tertawa, tapi tubuhnya gemetar saat melihat kloning dirinya yang gagal.
Dan Rayden... dia berdiri diam, menghadapi refleksi dirinya sendiri. Tapi versi itu memakai seragam militer—berlumur darah.
Sementara itu, Arshinta berada dalam labirin cermin. Semua pantulan adalah dirinya—dengan ekspresi berbeda.
> Tertawa. Menangis. Dingin. Marah.
Semua versinya berkata:
“Kamu bukan kamu yang sebenarnya.”
Arshinta menggertakkan gigi. “Gue tahu siapa gue. Dan gue tahu siapa yang gue sayangin. Gue nggak mau jadi alat. Tapi gue juga nggak mau lari.”
Seketika, semua pantulan pecah. Dinding-dinding cahaya runtuh satu per satu.
Mereka semua berhasil melewati uji zona pertama.
Saat keluar dari zona, mereka mendapati simbol SIRKA di punggung tangan masing-masing... menyala untuk pertama kalinya.
> Mereka bukan lagi sekadar siswa. Mereka sekarang telah terikat oleh sistem, rahasia, dan pilihan.
---
💬 Kutipan Bab 10:
"Yang kamu hadapi pertama bukan dunia... tapi dirimu sendiri."