Episode even dan detang yang terukur

881 Kata
Bab 11: Aven dan Detak yang Tak Terukur Malam setelah mereka keluar dari Zona Pertama, semua tampak kembali normal di sekolah modern itu. Tapi bagi Aven, sesuatu tidak berjalan seperti biasanya. Ia duduk di laboratorium fisika sendirian, menatap layar hologram tanpa fokus. Data melayang-layang, tapi pikirannya justru ke satu arah: > Arshinta. Aven memang jenius. Tapi soal hati, dia selalu kalah langkah. Terutama kalau harus berhadapan dengan Rayden, Leon, atau bahkan Hosea si nyeleneh. Arshinta tiba-tiba muncul di pintu laboratorium. Hoodie-nya masih berdebu dari latihan sore tadi, dan wajahnya tampak lelah tapi... tetap memikat. “Aku tahu lo di sini,” katanya santai, lalu duduk di sebelah Aven. “Gimana lo bisa tahu?” tanya Aven, menyembunyikan senyumnya. “Karena cuma lo yang suka nonton data scroll jam segini.” Mereka tertawa kecil. Hening beberapa detik. Lalu... “Aven,” kata Arshinta. “Gue mau tanya.” “Hm?” “Kalo gue bukan bagian dari misi SIRKA, lo masih mau temenan sama gue?” Aven menoleh. Matanya tidak sebercanda biasanya. “Gue nggak deketin lo karena lo ‘bagian dari misi’. Gue deket karena… lo beda.” Arshinta tertawa kecil. “Beda apanya?” “Beda karena lo bikin gue ngerasa normal. Padahal otak gue chaos tiap detik.” Arshinta terdiam. Kali ini, dia nggak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya. Lalu tiba-tiba—alat pengukur detak jantung di pojok lab menyala. 📡 D-Heart Monitor: Anomali terdeteksi. 📡 Dua gelombang emosional sinkron dalam radius 1 meter. Aven langsung bangkit. “Itu... nggak mungkin! Ini buat uji coba! Bukan buat deteksi cinta!” Arshinta melirik monitor. “Cinta?” Aven panik. “Nggak! Maksudnya... ya... eh…” > Detak itu tak terukur oleh logika. Tapi dirasakan... oleh hati. Arshinta mendekat. “Tenang, Ven. Gue juga deg-degan kok.” Dan entah kenapa... malam itu terasa lebih hangat dari biasanya. Bukan karena suhu. Tapi karena dua hati yang akhirnya tidak lari dari sinyal masing-masing. --- 💬 Kutipan Bab 11: "Logika b isa menjelaskan dunia. Tapi detak jantung? Itu urusan lain." Bab 12: Dimensi Retak dan Rahasia yang Terkuak Pagi itu terasa aneh. Langit di atas Sekolah Modern Virelia tampak seperti biasa—biru, bersih, tak berawan. Tapi entah mengapa, suasananya seperti... terlalu sunyi. Burung-burung mekanik yang biasanya berkicau rutin tidak terlihat. Drone pemantau yang terbang tiap jam pun mendadak tidak aktif. Bahkan notifikasi sistem sekolah yang biasanya cerewet, hari itu... diam. Arshinta berjalan menyusuri koridor utama dengan tas selempang dan ekspresi setengah ngantuk. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat sesuatu di luar jendela kaca aula. > Langit... tampak bergelombang. Bukan bergelombang seperti awan badai, melainkan seperti air yang beriak—seolah-olah realitas sedang... menggeliat. Beberapa siswa lain juga mulai menyadari. “Itu... efek hologram?” tanya salah satu. Tapi jawaban tak pernah datang. Yang datang adalah alarm. 📡 ALERT LEVEL 3: GANGGUAN DIMENSI TERDETEKSI 📡 SEMUA GUARDIAN SIAGA DI RUANG INTI SEKARANG. Arshinta langsung lari ke ruang rahasia di balik perpustakaan. Di sana, kelima pria tampan yang menjadi bagian dari hidupnya sudah berkumpul. Leon bersandar di dinding, mata tajamnya mengamati layar. Rayden duduk dengan tangan terkunci, wajahnya penuh konsentrasi. Aven mondar-mandir sambil mencocokkan data, terlihat lebih tegang dari biasanya. Kairo mencoba melucu, tapi tidak ada yang tertawa. Hosea... masih menggambar sesuatu di buku catatannya, tapi itu bukan lelucon—itu pola dimensi yang mulai retak. “Ini... bukan simulasi,” kata Aven lirih. “Kita benar-benar berada di ambang retakan dimensi.” N.R muncul di layar hologram di tengah ruangan. Rambutnya terikat dan wajahnya lebih serius dari biasanya. > “Retakan ini... bukan alami. Seseorang—atau sesuatu—telah mencoba menembus batas dimensi Virelia. Dan mereka bukan datang dengan damai.” “Siapa?” tanya Leon. “Belum diketahui pasti. Tapi kita punya satu petunjuk: mereka mencari 'kunci' untuk mengakses pusat Virelia. Dan dari semua elemen hidup yang terdata… yang paling cocok disebut 'kunci' adalah...” Semua mata tertuju pada Arshinta. Gadis itu menatap N.R, lalu kelima pria yang kini menatapnya dengan ekspresi campuran antara terkejut, khawatir, dan penasaran. “Aku? Gue... cuma siswa biasa.” “Tidak, Shinta,” kata N.R perlahan. “Kamu... bukan sekadar siswa. DNA-mu memiliki jejak fragmen dimensi alpha, sesuatu yang hanya bisa diturunkan dari satu sumber: penghuni asli dimensi luar.” Hening. Aven melangkah maju. “Maksudmu... dia bukan dari dunia kita?” N.R mengangguk. “Secara biologis, Arshinta bukan sepenuhnya manusia Virelia. Dia adalah setengah interdimensional being.” Arshinta menahan napas. Tubuhnya gemetar, tapi matanya tetap tajam. > “Jadi... semua ini... gue dijadikan teman... pasangan... target... karena gue... bukan ‘mereka’?” Rayden mengepalkan tangan. “Jangan pikir kayak gitu. Kita semua peduli sama lo bukan karena lo ‘kunci’. Tapi karena lo... ya, lo.” Leon menambahkan, “Kalau pun lo punya bagian dari dimensi lain, itu nggak bikin lo beda. Lo tetap Arshinta. Cewek paling keras kepala yang pernah gue temuin.” Kairo menyeringai. “Dan paling berani ngomelin kita satu-satu.” Hosea mengangkat tangannya. “Gue sih oke kalo lo alien, asal jangan minta gue makan makanan planet lo.” Suasana mencair sedikit. Tapi di balik itu semua, mereka tahu: Sesuatu dari luar sana sedang datang. Dan Arshinta adalah pusat dari segalanya. --- 💬 Kutipan Bab 12: "Kadang yang kita pikir 'biasa' adalah kunci untuk membuka semua yang tak pernah kita pahami."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN