Episode zona kedua dan bayangan masalalu

940 Kata
Bab 13: Zona Kedua dan Bayangan Masa Lalu Langit Virelia kini tidak lagi biru. Retakan halus yang kemarin seperti ilusi kini melebar menjadi garis samar yang bisa dilihat mata telanjang. Semua siswa diminta tetap di asrama, tapi tim inti—Arshinta, Rayden, Leon, Aven, Kairo, dan Hosea—punya perintah yang berbeda. > Menuju Zona Kedua. Zona ini adalah wilayah yang dulunya tempat riset dimensi, namun ditutup karena insiden besar bertahun-tahun lalu. Zona ini kini jadi wilayah terbengkalai, berdebu, dipenuhi reruntuhan teknologi yang nyaris terlupakan. Tapi di sanalah jawaban tentang siapa sebenarnya Arshinta mungkin disimpan. Mereka turun dari transportasi cepat dan berjalan melewati lorong-lorong tua. "Tempat ini... kayak mimpi buruk," kata Kairo sambil menyalakan senter. "Atau mimpi masa lalu yang belum selesai," jawab Aven tanpa menoleh. Arshinta berjalan di tengah mereka. Wajahnya datar, tapi pikirannya gaduh. Suara dalam kepalanya terus memutar ulang apa yang N.R katakan. "Setengah interdimensional being." "Bukan sepenuhnya manusia." “Kenapa gue? Kenapa harus gue?” bisiknya pelan. “Karena lo kuat,” jawab Rayden dari belakang, membuat Shinta sedikit kaget. “Kalau lo lemah, lo udah tumbang sejak bab 1.” Arshinta tertawa kecil. “Masih bisa bercanda juga lo ya...” Tiba-tiba Leon berhenti. “Diam. Ada suara.” Semua hening. Suara denting logam... seperti langkah kaki, tapi tidak manusiawi. Mereka berlima bersiaga. Hosea menarik belati plasma dari sepatunya, Aven menyiapkan scanner. Lalu dari balik bayangan, muncul... entitas humanoid dengan wajah setengah transparan. Matanya kosong. Tubuhnya tampak seperti perpaduan mesin dan kabut. Arshinta mundur. “Apa itu?” Aven menelan ludah. “Itu... Echo. Pantulan dari dunia lain yang menembus retakan dimensi.” Echo itu berjalan pelan. Lalu... berbicara. “Shinta... kau kembali ke sini... akhirnya...” Semua kaget. Rayden maju. “Apa maksud lo?! Siapa lo?!” Tapi Echo itu tidak menjawab Rayden. Ia tetap menatap Arshinta. “Darahmu... membuka pintu yang dulu tertutup. Masa lalu... akan memburumu.” Lalu Echo itu menghilang, meninggalkan keheningan yang menyakitkan. Shinta gemetar. “Gue pernah ke sini...?” gumamnya. Kairo mendekat. “Jadi lo beneran dari... dunia lain?” Arshinta menggigit bibirnya. “Gue nggak tahu. Tapi kalau ini ada hubungannya sama orang tua gue... gue harus tahu.” Leon menyalakan kompas digital. “Ada satu tempat yang tersisa: Menara Memori. Tempat para peneliti menyimpan fragmen kesadaran. Kalau kita mau tahu siapa Arshinta sebenarnya, itu satu-satunya pilihan.” Dan mereka berjalan. Menembus reruntuhan. Melawan rasa takut. Untuk jawaban. Untuk kebenaran. Untuk Arshinta. --- 💬 Kutipan Bab 13: "T erkadang, masa lalu tidak hilang. Ia hanya menunggu untuk ditemukan kembali." Bab 14: Menara Memori Menara itu menjulang seperti luka di langit Virelia. Bukan menara megah seperti di legenda, tapi bangunan logam tua, berkarat, dengan simbol-simbol dimensi kuno yang menyala samar. Menara Memori—tempat terakhir para ilmuwan menyimpan sisa-sisa pikiran, catatan, dan... fragmen kesadaran dari masa lalu yang ingin dilupakan. Angin bertiup dingin saat keenam anak muda berdiri di depan pintu besar menara itu. Arshinta menatapnya dengan campuran takut dan penasaran. "Ada getaran..." kata Hosea, menggenggam lengan Arshinta. “Kuat banget. Kayak... suara yang nggak bisa didengar tapi langsung ke dada.” Leon mendekat ke panel pintu dan mengaktifkan sistem biometrik. Tapi layar hanya berkedip—akses ditolak. “Biometrik biasa nggak cukup,” gumam Aven. Arshinta menatap layar yang terus menolak semua akses. Lalu… ia meletakkan tangannya sendiri ke panel. ⚡ BZZZT! Lampu menara menyala. Pintu terbuka perlahan dengan suara gemuruh berat. > “Akses diterima. Fragmen α teridentifikasi. Selamat datang, pewaris.” Kelima cowok langsung menoleh ke Arshinta. “Apa barusan lo dibilang... pewaris?” tanya Kairo, kaget. Arshinta hanya menatap tangannya sendiri, bergetar. "Gue... bahkan gak tahu apa yang gue buka barusan." Mereka masuk. Di dalam, lorong panjang membawa mereka ke ruang utama: The Core Chamber. Di sana, ratusan kapsul berisi cahaya mengambang, masing-masing terhubung ke kabel saraf dan monitor antik. Di tengah ruangan, sebuah kapsul lebih besar menyala terang. “Scanner aktifkan. Cek kapsul utama,” perintah Rayden. Aven membaca data. “Nama: Dr. Shireen Alea… Posisi: Kepala Proyek Dimensi Interpolaris…” Arshinta mendekat. Wajahnya berubah. > Foto kecil di monitor menunjukkan wajah yang mirip dirinya. Hanya lebih dewasa. Lebih lembut. Tapi jelas… mirip. "Ini… nyokap gue," bisik Arshinta, setengah tersenyum, setengah gemetar. Tiba-tiba, layar menyala otomatis. Sebuah rekaman muncul. --- REKAMAN MEMORI - AKTIF Suara wanita terdengar lembut tapi penuh kegelisahan. > “Jika kamu melihat ini, Shinta, itu berarti dunia kita telah gagal mengurung kegelapan. Kamu adalah satu-satunya fragmen hidup dari dunia Alpha yang tersisa di dunia Virelia. Aku… ibumu, tapi aku juga penjaga terakhir dari pengetahuan yang harus dikubur." > “Kau dikirim ke dunia ini untuk selamat. Tapi cepat atau lambat… dimensi akan menarikmu kembali. Dan saat itu terjadi, pilihlah: menjadi jembatan… atau menjadi tembok.” --- Rekaman berhenti. Semua diam. Arshinta tidak tahu harus berkata apa. Air matanya nyaris jatuh, tapi dia tahan. “Jadi gue... dikirim ke sini buat kabur?” suaranya bergetar. “Buat ngelindungin sesuatu yang bahkan gue gak ngerti?” “Dan sekarang lo jadi kunci buat ngelawan musuh dari tempat lo berasal,” kata Leon, suaranya tenang tapi tajam. “Lo gak harus nanggung sendiri. Kita di sini.” Rayden menepuk bahunya. Hosea dan Kairo juga tersenyum tipis. Aven tidak berkata apa-apa, tapi ekspresinya cukup menunjukkan: ia akan tetap di sisi Arshinta. > Mereka bukan cuma lima cowok yang naksir cewek sama. Mereka kini... penjaga dimensi. Dan Arshinta, sang playgirl yang dulu hanya main-main dengan cinta, kini berdiri sebagai pusat dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar cinta remaja: > Nasib dua dunia. --- 💬 Kutipan Bab 14: "Terkadang, cinta membawa kita ke petualangan. Tapi kali ini, petualanganlah yang menguji arti cinta itu sendiri."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN