Mobil berhenti perlahan di depan sebuah rumah dengan halaman yang luas. Langit sore mulai meredup, menambah kesan sendu di hati Tari. Mesin mobil sudah dimatikan sejak beberapa menit lalu, tetapi Tari tetap duduk diam di tempatnya, tidak bergerak. Tangannya mengepal di pangkuan, sementara matanya menatap kosong ke arah rumah yang begitu familiar. Rumah tempat ia tumbuh, tempat ia dulu merasa aman sebelum semuanya berubah. Mila melirik sahabatnya dari kursi penumpang. Ia tahu betul, bukan karena Tari malas turun dari mobil. Tetapi ada rasa takut dan kegelisahan yang selama beberapa tahun ini ia simpan. "Kamu mau aku temenin ke dalam?" tanya Mila pelan. Tari menggeleng tanpa menoleh. "Aku bisa sendiri." Mila belum sempat membalas ketika tiba-tiba pintu rumah terbuka. Di sana, berdiri

