Aroma kopi yang baru saja diseduh memenuhi ruang makan, memberikan sedikit kehangatan di pagi yang masih dingin.
Almira, tengah menyiapkan sarapan ketika ia melihat putranya duduk di meja makan dengan ekspresi sedikit lelah.
“Kamu sampai rumah jam berapa tadi malam?” tanya Almira sembari menuangkan teh ke dalam cangkir.
Ndaru yang baru saja menyesap kopinya mendesah pelan. “Cukup larut, Ma. Ada sedikit masalah di rumah Tari semalam.”
Almira mengangkat alisnya, namun sebelum sempat bertanya lebih lanjut, Mila muncul dari lorong menuju ruang makan dengan wajah penasaran.
“Masalah apa lagi, Kak? Kenapa lagi itu Tari?” tanyanya langsung.
Ndaru meletakkan cangkir kopinya dan mengangguk pelan. “Kemarin waktu nganterin pulang, Suaminya ada di rumah. Gak tau dia marah karena salah paham karena Tari diantar sama aku atau gimana, yang jelas mereka bertengkar hebat.”
“Suami Tari pulang?” tanya Mila dengan dahi berkerut.
“Maksudnya gimana sih, Mil? Ih, ini tante yang gak enak karena maksa Tari pulang sama Ndaru. Tau gitu nganternya sama kamu aja, Mil. Terus Dar, kamu gak jelasin sama suaminya Tari?” tanya Almira terlihat cemas.
“Dia gak bolehin aku turun, Ma. Katanya nanti dia yang bakal jelasin. Sebenernya, Ndaru juga merasa bersalah, Ma. Mereka bertengkar sampai suami Tari menceraikan Tari di depan warga.”
“Hah?”
“Eh?”
Suara bersamaan Almira dan Mila terasa berdengung di udara.
Mila terdiam sejenak, mencoba mencerna informasi itu. “Cerai gimana sih, Kak? Jangan bercanda.”
Ndaru menatap dalam sepupunya, “rumah tangga orang ngapain aku bercandain sih, Mil.”
Ndaru pun menceritakan detail kejadian yang terjadi di rumah Tari. Bagaimana kacaunya suasana disana hingga bagaimana para warga menanggapi kejadian itu.
“Oh iya, Mil. kelihatannya dia gak punya tujuan, apa mau kamu jemput? Soalnya, Tari dan bayinya diusir sama suaminya,” kata Ndaru di ujung ceritanya.
Mila membelalakkan matanya, hatinya mencelos.
Ia tahu Tari sudah lama menderita dalam pernikahannya, tetapi mendengar bahwa Tari benar-benar diusir di tengah malam bersama bayinya, membuat dadanya terasa sesak.
“Kak, Kakak tau nggak Tari dimana? Anterin aku kesana, Kak. Tari pasti gak tau mau kemana sekarang!” ucap Mila tanpa pikir panjang.
“Kamu mau bolos magang, Mil? Gak nanti aja, pulang magang kamu samperin?” tanya Almira yang mengingatkan keponakannya yang saat ini baru beberapa hari magang di pabrik milik teman suaminya
“Aku izin dulu, Tante. Emh… gak apa-apa ‘kan, Tante? Kasihan Tari, Tante. Dia gak punya keluarga di sini. Dia juga cerita kemarin, dia sudah gak punya uang lagi. Boleh ya, Tante?” ujar Mila dengan wajah memelas.
“Nanti Om bantu izin ke temen Om. Sepertinya penting, tolong dulu temen kamu. kasihan kalau memang dia cuma sendiri dan gak punya uang,” ucap seorang pria yang semenjak tadi hanya memperhatikan percakapan tiga orang yang entah sedang membicarakan manusia yang mana.
“Makasih, Om Juna! Om Juna emang paling best! Oh, iya… Tante, Om, kalau Tari butuh tempat tinggal sementara, boleh nggak dia tinggal di kamarku dulu? Kalau sudah dapat tempat tinggal yang cocok, aku janji dia akan pindah. Janji gak lama, Om.. Tante.. Tiga hari kalau boleh.”
Almira bertukar pandang dengan suaminya, Arjuna, yang sedari tadi diam mendengarkan. Wajah pria itu datar, namun ada sesuatu di sorot matanya yang sulit diterjemahkan. Setelah beberapa saat, Almira menghela napas dan mengangguk. “Baiklah. Kalau memang Tari butuh tempat sementara, dia boleh tinggal di sini. Ada kamar tamu juga di sini, nanti biar dia tidur di sana. Gak perlu buru-buru juga, Tante rasa tiga hari gak akan cukup.”
Mila tersenyum lega. “Terima kasih, Tante!” ucap Mila yang kemudian segera memeluk Almira erat.
“Iya, sayang. Sana makan dulu,” ucap Almira sambil menepuk lengan keponakannya itu.
“Tante, satu lagi…”
“Banyak maunya nih, anak!” celetuk Ndaru yang asyik mengoles selai di rotinya.
“Ish, ini penting, Kak. Tante, Tari butuh pekerjaan. Bisa nggak Tante bantu?”
Almira menatap Mila dengan penuh pertimbangan. “Bisa sih, Tante bantu. Tapi, Mil.. apa dia gak berniat balik ke kampung. Dia satu kampung sama kita’ kan?”
Mila mengangguk cepat. “Iya, sekampung, Tante. Kalu soal balik… kayaknya dia belum berencana balik, Tante. Dia bilang gak enak mau balik, Tante.”
Almira menatap Mila dengan ekspresi yang sulit ditebak. “Anaknya siapa sih, Mil? Tetanggaan sama kita? Tante kenal?”
“Mama pasti mau julid,” ucap Ndaru yang kemudian lahap memakan roti bakar nanas kesukaannya.
“Kebiasaan Mama mu itu,” timpal Arjuna yang kemudian menyesap kopinya.
Melihat respon suami dan anaknya, Almira hanya mencebik kesal. “Papa sama Ndaru ini! ‘kan cuma mau tau aja. Wajah Tari itu familiar sekali di ingatan Mama.”
“Pasti familiar, Tante! Tante pasti kenal Om Seno ‘kan? Orang paling ganteng seantero kampung. Itu bapaknya. Ibunya namanya, Ida. Anaknya Mbok Saropah. Masih inget gak, Tante? Yang rumahnya dekat sama rumah Uti,” jelas Mila panjang lebar.
Saat nama itu disebut, Almira yang sebelumnya terlihat tenang, tiba-tiba terdiam. Ekspresinya berubah sedikit kaku, tangannya yang hendak mengambil cangkir teh berhenti di udara.
Sejenak, tidak ada yang berbicara. Arjuna menatap istrinya yang tiba-tiba menjadi sangat diam. Ia bisa melihat perubahan di wajah Almira, sesuatu yang hanya bisa ia pahami karena telah hidup bersama wanita itu selama bertahun-tahun.
“Tante?” panggil Mila pelan.
“Eh, iya. Tante tahu.” Almira kembali meraih cangkir tehnya dan menyesapnya pelan.
Arjuna hanya bisa menatapnya dengan pandangan penuh arti. Ada sesuatu yang Almira sembunyikan, tetapi tidak ada yang berani bertanya lebih lanjut.
***
Mila segera bergegas menuju rumah tempat Tari menginap.
Begitu tiba di depan rumah, Mila langsung mengetuk pintu dengan tergesa-gesa, tidak sabar ingin bertemu dengan sahabatnya.
Aji yang membuka pintu sedikit terkejut melihat kedatangan seorang gadis yang tampak asing baginya. Namun, hanya butuh beberapa detik baginya untuk menyadari bahwa gadis ini bukan orang biasa.
Matanya terpaku pada sosok Mila yang berdiri dengan wajah penuh kekhawatiran. Ada sesuatu dalam caranya berbicara, sorot matanya yang penuh ketegasan, yang membuat Aji sejenak lupa cara bernapas.
Namun, Mila sama sekali tidak menyadari tatapan Aji. Ia sibuk mencari sosok Tari. Begitu melihat sahabatnya berdiri di ambang pintu dengan wajah lelah dan mata sembab, Mila langsung menghampirinya tanpa ragu dan memeluknya erat. “Tar…”
Tari terisak dalam pelukan Mila. Tangisnya pecah, tetapi bukan karena Deni. “Aku malu, Mil… Aku bener-bener malu,” isaknya di bahu sahabatnya.
Mila mengusap punggung Tari dengan lembut. “Kamu nggak salah apa-apa, Tar. Bukan kamu yang harusnya malu.”
Tari menggeleng dalam tangisnya. “Aku malu pulang ke kampung… Beberapa tahun lalu, aku yang ngotot ingin menikah. Aku berani melawan orang tuaku, terutama Ayah. Tapi ternyata… firasat mereka benar, Mil. Deni bukanlah orang yang baik…” suaranya semakin bergetar. “Sekarang gimana, Mil. Aku harus apa?”
Mila menghela napas panjang. “Tar, kamu nggak bisa menyalahkan dirimu sendiri. Dulu, kamu hanya ingin bahagia. Siapa pun pasti ingin bahagia, kan? Kamu bukan peramal, kamu nggak bisa tahu apa yang akan terjadi.”
Tari menghapus air matanya dengan punggung tangan. “Tapi aku terlalu bodoh menilai orang, Mil. Sekarang aku harus gimana, Mil? Aku malu pulang, tapi aku juga nggak punya keahlian apa pun. Aku harus membesarkan Fendi sendirian, tapi aku bahkan nggak tahu bagaimana caranya mencari nafkah. Aku harus apa, Mil? Sementara Ayah sudah semakin tua… Dan Ibu, aku nggak mau buat Ibu sedih, Mil. Aku gak mau ibu ngerasa semua ini kesalahannya yang mengizinkan dan membela aku untuk menikah manusia sialan itu.”
Mila menatap sahabatnya dengan air mata yang juga sudah menggenang di pelupuk mata. “Tar, sambil mikir jalan ke depannya. Kamu tinggal sama aku dulu ya, di rumah Tante Almira. Tante dan Om juga nggak keberatan. Tante Almira juga ada pekerjaan untuk kamu.”
Ia memahami ketakutan Tari. Hidup sebagai ibu tunggal di kota besar tanpa pekerjaan yang jelas bukan hal mudah.
Tari menunduk, merasa ragu. “Tapi, Mil… Aku malu. Aku takut merepotkan kalian. Aku juga.. gimana aku bisa menjelaskan keadaan ini, Mil. Ini terlalu memalukan. Aku—”
“Kamu nggak perlu malu. Mama bukan orang yang suka bergunjing. Keluarga kami juga bukan tipe yang akan merendahkan seseorang karena masa lalunya. Tinggal lah, anak kamu juga pasti butuh tempat tinggal yang nyaman,” ucap Ndaru yang semenjak tadi sebenarnya berdiri di belakang Almira, namun kehadirannya seolah tak kasat mata.
Tari menatap Ndaru dengan ragu. “Tapi Mas.. aku–”
“Aku tau kamu gak tau mau kemana, Tar. Mending ikut aku sama Kak Ndaru. Itu akan lebih nyaman. Sementara, sampai kamu bisa menyewa tempat. Nanti aku bantu cari tempat,” ucap Mila meyakinkan.
Tari terdiam. Ia menunduk, menggenggam kain bajunya dengan erat. Ia tahu Ndaru dan Mila benar. Ia tak punya tempat lain untuk pergi. Bahkan saat ini, uang yang tersisa di sakunya hanya tiga ribu rupiah.
Tari akhirnya mengangguk ragu. “Baiklah, Mil… untuk sementara.”
***