bc

OBSESI Reina

book_age18+
240
IKUTI
1K
BACA
family
HE
pregnant
doctor
heir/heiress
ambitious
high-tech world
coming of age
lonely
stubborn
like
intro-logo
Uraian

"Hiduplah dengan bahagia karena itu adalah hakmu. Tak ada batasan untuk bahagia."

_ (Reina Santika Kesuma) _

Jika ada 2 pilihan kebahagiaan di depanmu, yang mana yang akan kau pilih, Cintamu atau Obsesimu?

Jika kau memilih Cintamu, cinta seperti apa yang akan kau pilih? Pria muda tampan dengan hasrat seperti kuda liar atau Pria tua kaya raya namun tak mampu memenuhi hasratmu?

Dan jika kau memilih Obsesimu, obsesi apa yang kau miliki? Harta atau Anak?

Aku memilih Obsesiku dan menolak Cintaku. Tetapi, Obsesiku mengantarkan aku pada Cinta yang baru dan aku sangat bahagia.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab. 1
Gadis itu menari, tubuhnya bergoyang meliuk seirama suara dentuman musik yang menggelegar di penjuru ruangan. Kepalanya berayun - ayun mengangguk sambil sesekali berteriak tak jelas Sementara di sekitarnya orang - orang saling berdesakan dan bersenggolan di ruangan padat manusia. Semuanya bergerak sesuka hati membentuk gerakan yang tak sinkron. Wanita disk jokey bertubuh padat berisi dengan rambutnya yang dicat kuning keperakan tengah berdiri di atas panggung dengan pakaian sedikit terbuka di sana-sini, bersama seorang pria. Kedua tangannya memutar - mutar sesuatu berbentuk bundar di depannya. Sesekali tangannya ikut teracung ke atas sambil menghentak - hentakkan tubuhnya. Bergoyang mengiringi malam mereka. Lalu kembali menaik turunkan beberapa tombol di mesin musiknya. Penikmatnya riuh menyambutnya. Sementara sepasang mata tengah mengikuti gerak - gerik seorang gadis yang tengah menikmati tariannya dari kejauhan. Dari tempatnya berada sambil memutar - mutar gelasnya yang kemudian diteguknya hingga kandas. Mencari celah sambil menunggu kesempatan saat gadis itu lengah. Ia kemudian berdiri dari duduknya, melangkah perlahan dalam diam. Tak menghiraukan musik yang keras itu, bahkan pada manusia yang berdesakan dan hilang akal itu. Dia membawa gelasnya di tangannya dengan minumannya yang sudah diisinya kembali separuhnya saja. "Ayo minumlah, kau pasti haus!" Bisiknya di telinga gadis itu sambil menyodorkan gelas yang dibawanya. "Terima kasih." Tangannya menyambut tanpa rasa curiga. Hampir saja gelas itu mencapai bibirnya saat tangan seorang gadis lain mencekalnya dan menghentakkannya hingga gelas itu terjatuh, pecah dan menumpahkan isinya. "Apa yang kau lakukan, Kei?" Sontak ia berteriak terkejut karena minumannya jatuh dan tumpah. Namun suara musik itu seakan meredam teriakannya. "Dasar bodoh! Dia ingin menyakiti mu, Rein! Pria itu menaruh obat dalam minuman mu." Balas Keira tak kalah teriak. Pria di depannya mendengus kesal. Aksinya ketahuan tapi tak merasa gentar sedikit pun. Tak ada penyesalan di wajahnya, hanya senyum licik yang terlihat disana. "Sialan! Siapa kau? Apa yang kau lakukan?" Keira mendongak menatap tajam pria tak dikenal itu. Kedua gadis itu menatap tajam padanya. Musik yang diperdengarkan sudah tak menarik lagi. Pria itu sudah merusak malam mereka. Bukan jawaban yang mereka dapatkan. Pria itu berbalik arah memunggungi mereka tanpa rasa bersalah, kembali ke mejanya yang dipenuhi gadis - gadis haus belaian dan uang yang akan dihamburkannya bersama mereka. "Hei! Mau pergi kemana kau!" Keira menuding pria itu, namun tak dihiraukan. "Dasar cowok gila!" pekik Reina. Ia menghentakkan kakinya kesal diperlakukan seperti itu. "Ayo Rein, kita balik sekarang!" desak Keira menarik lengan Reina kelua dari sana "Aku masih mau disini!" sahut Reina. "Enggak. Kita harus balik sekarang! Kamu gak aman disini, Rein. Tadi aja ada orang yang punya niat jahat sama kamu." Keira mencekal erat lengan Reina. "Please Rein... kita balik sekarang!" pintanya memohon. Reina yang jengah ditatap seperti itu akhirnya menurut, keluar dari tempat amat bising itu. Tempat hiburan malam di tengah kota besar. Dia adalah customer vip disana mengingat siapa dirinya. Siapa yang tak kenal Reina Sanjaya, pewaris bisnis perhotelan terbesar di Indonesia. Keluarganya bahkan memiliki jaringan hotel di beberapa negara. "Mana kunci mobil, Kei... biar aku yang bawa!" Katanya sambil bersandar pada pintu mobil. Reina tak dapat menguasai keseimbangan badannya "Biar aku yang nyetir! Kamu udah mabuk, dan aku belum ingin mati." Keira mendorong tubuh Reina masuk di kursi penumpang. "Jangan muntah di mobil, Rein! Kalau tidak, kamu yang harus membersihkannya. Aku tidak mau," gerutu Keira kesal. "Sudahlah, kau ini seperti nenek sihir, Kei. Ayo jalan." Reina menutup matanya. Kepalanya bersandar di kaca mobil. Keira hanya bisa mendengus kesal. Membanting pintu mobil dan segera pergi dari sana. ***** Tirai jendela tersingkap lebar, membebaskan cahya mentari pagi masuk dengan bebas ke dalam kamar. Seorang maid begegas masuk untuk membersihkan ruang kamar Reina. Mengutip pakaian yang terserak di lantai kamar sejak tadi malam dan menyimpan kembali sepatunya ke tempat semula. Lalu seorang maid yang lain masuk sambil membawa sarapan paginya. Segelas s**u coklat hangat dan roti bakar selai kacang kesukaan Reina. Diiringi oleh Keira tepat di belakangnya. "Apa dia sudah bangun?" tanya Keira pada maid pertama bernama Ani. "Belum nona," jawabnya sambil membungkuk. "Letakkan sarapannya di meja!" Titahnya pada Emi, maid yang datang bersamanya tadi. "Kalian keluar. Lanjutkan pekerjaan kalian!" Titahnya pada kedua maid. Mereka menunduk hormat lalu keluar dari kamar Reina beriringan. "Bangun Rein, sudah siang. Habiskan sarapanmu selagi hangat." Keira menarik selimut yang menutupi tubuh Reina. Membuat gadis itu menggeliat kesal. "Aach... aku masih ngantuk, Kei. Keluarlah!" desisnya. Reina kembali sembunyi di balik selimutnya yang nyaman. "Rein, ayolah. Hari ini kamu ada jadwal penerbangan. Dan itu tidak mungkin dibatalkan," katanya seraya menarik selimut itu kembali. Sekilas menampakkan tubuh Reina yang hanya mengenakan lingerie. "Penerbangan? Kemana?" tanyanya malas. Ia begitu lelah, tubuhnya serasa hampir remuk. Sepertinya dia lupa kejadian tadi malam kerena mabuk berat. "Singapura. Papa menunggu kedatanganmu disana siang ini. Nanti sore kamu juga harus bertemu dengan Kakek, kamu ingat kan?" ujar Keira ketus, ia sudah seperti asisten saja bagi Reina. Keira melotot saat menyadari Reina ternyata kembali tidur di balik selimutnya. "Reina, bangun!" Keira terpaksa menarik kaki Reina ke bawah agar gadis itu membuka matanya. "Achh... kau aja yang pergi, Kei. Aku bener - benar ngantuk. Nanti aku susulin kamu ke rumah Kakek. Aku janji!" Reina mengangkat kelingkingmya. Sementara tubuhnya masih sembunyi di balik selimut. "Aku gak mau! Kamu selalu bilang begitu." Keira mencebik kesal. "Terserah padamu, Rein! Jangan nangis kalau kamu gak ngelihat aku di rumah." Keira bangkit, lalu keluar sambil membanting pintu kamar. Tidak ada yang perduli padanya di rumah ini. Selalu saja dia yang mengkhawatirkan semua orang, tanpa ada yang perduli dan khawatir padanya. Sejak kecil, Keira dan Reina tumbuh besar bersama. Kedua orangtua mereka selalu sibuk dengan bisnis dan pekerjaan mereka. Bisa dihitung dengan jari berapa kali mereka bertemu dalam satu bulan. Dan itu sudah berjalan bertahun - tahun lamanya. Sejak kecil, Keira dan Reina sudah saling memiliki dan saling menjaga satu sama lain. Keira lebih tegar, mandiri dan juga lebih dewasa, sehingga Reina selalu bersandar padanya, meskipun usia mereka hanya terpaut satu tahun. Sementara ia sendiri pun membutuhkan tempat untuk bersandar. Pukul sebelas siang. Keira masih belum melihat Reina turun dari kamarnya. Istana megah berlantai empat iitu tampak lengang. Para maid tengah sibuk mengerjakan pekerjaan mereka masing - masing. Keira menuruni anak tangga satu persatu dengan perlahan. Matanya menatap kosong betapa luas dan indahnya istana tempatnya berdiri. Namun tak punya arti apa - apa karena penghuninya bahkan entah berada dimana. Hanya menjadikannya tempat persinggahan sebelum akhirnya pergi lagi untuk waktu yang lama. Keira sudah berpakaian rapi lengkap dengan sebuah handbag mahal keluaran rumah mode terkenal. Heel sepatunya yang beradu dengan lantai granit istana mereka menciptakan bunyi bergema ke seluruh ruangan. Seperti layaknya ketukan bel, langkah kaki Keira seperti panggilan bagi para maid untuk datang mendekat. "Nona mau berangkat sekarang?" tanya maid kepala sambil menunduk. "Iya. Tolong siapkan mobil!" Perintahnya dan langsung dikerjakan tanpa menunggu lagi. Kepala maid itu langsung memberi kode pada maid yang lebih muda, yang segera berlari menuju pintu depan. "Ambil sarapan di kamar Reina, dia tidak memakannya. Biarkan dia tidur dulu. Kalau dia mencariku, katakan aku menunggunya di rumah Kakek!" "Baik, Nona." Maid kepala menyahut. Sama seperti yang ia lakukan tadi, seorang maid lain langsung berlari naik ke lantai atas. "Nanti siang tolong antarkan lemon tea hangat pakai madu untuk Reina. Kepalanya pasti masih pusing karena mabuk semalam!" Titahnya lagi. Wanita setengah baya itu mengangguk. "Jaga rumah ini baik - baik. Jangan biarkan orang lain masuk tanpa seijin saya." "Baik, Nona." Maid tua itu menyahut dengan kepala tertunduk. Keira menghela nafasnya. Ia melangkah keluar. Pak Abdi sudah berdiri dengan sebelah tangan terentang membuka pintu mobil untuknya. Perjalanan Keira kali ini memakan waktu lebih banyak. Kendaraan yang padat merayap menghalanginya untuk tiba tepat waktu. Ia menoleh datar pada jam kecil bertahta batu permata yang melingkar cantik di pergelangan tangannya. Ia sudah menduga ini akan tetjadi. "Ambil jalan pintas! Kita harus tiba di bandara tepat waktu, Pak Abdi!" titahnya. Wajahnya menatap lurus ke depan. Seperti tak tergannggu dengan jalanan macet dan riuh rendahnya bunyi klakson dari kendaraan yang tak sabar untuk memotong kenderaan di depannya. "Baik nona." Pak Abdi dengan cekatan mengambil alih jalanan, memutar di perempatan jalan. Kemudian menekan pedal gas kuat, memacu mobilnya kencang melewati beberapa tikungan. Sudah lama ia bekerja pada keluarga Kesuma. Yang mengharuskannya menguasai setiap jalur perjalanan yang harus mereka tempuh, memahami kondisi jalan, dan mengetahui jalur jalan pintas tercepat dan paling aman untuk dilalui. Memakan waktu tak sampai limabelas menit, kendaraan mereka telah tiba di depan pintu masuk bandara. Seulas senyum tipis tercetak di bibir Keira. Ia melihat kembali jamnya. Masih ada waktu sekitar sepuluh menit lagi baginya untuk masuk. "Terima kasih Pak Abdi." Keira menepuk pundak supirnya itu sebagai bentuk penghargaan. Pak Abdi membalasnya dengan seulas senyum tipis di wajahnya yang mulai tampak keriput. Namun tidak menutupi kegagahannya. "Nanti setelah makan siang, tolong antar Reina ke rumah Kakek Kesuma. Beliau sudah menunggunya." Keira berpesan sesaat sebelum melangkah masuk ke dalam bandara. "Baik." Pak Abdi menganggukkan kepalanya. Lalu kembali masuk ke dalam mobil. Keira melangkah anggun memasuki pintu masuk bandara Soeta dan langsung menuju ke terminal keberangkatan. Kehadirannya sudah di nantikan oleh segenap kru pesawat yang akan mengantarkannya langsung ke Singapura siang ini. Sebuah pesawat yang siap untuk mengantar Keira. Ya, hanya dirinya seorang. Tak ada penumpang lain di dalamnya. Seharusnya siang itu Keira tidak sendiri. Karena penumpang lain yang sedang mereka tunggu kedatangannya adalah Reina. Akan tetapi gadis itu tak terlihat datang bersama Keira. "Kita berangkat sekarang. Reina tidak ikut denganku kali ini." Keira berkata datar. Pintu pesawat mulai tertutup. Suara mesin pesawat mulai terdengar nyaring diikuti dengan getaran pada badan pesawat yang tidak berlangsung lama. Pesawat sudah berhasil mengudara. Keira mulai agak tenang sekarang. Sejenak ia teringat pada Reina. Gadis itu pasti akan menangis histeris bila tahu Keira meninggalkannya sendirian di istana megah mereka. Keira tak pernah jauh darinya. Sudut bibirnya terangkat. Keira tertawa pelan. Akhirnya dia bebas dari Reina. Akhirnya dia bisa bebas berjalan kemana pun yang ia mau. Ia bebas dari Reina untuk beberapa jam, dan ini sangat menyenangkan. Ini adalah momen berharga yang ditunggu - tunggu olehnya. Jauh dari Reina dan semua tingkah bodohnya itu. Jarang sekali bisa mendapatkan kesempatan seperti ini. Rasanya seperti habis menang lotre. ***** Pak Abdi menyalakan mesin mobilnya. Perlahan ia keluar dari lingkungan bandara Soeta. Kali ini dia menyetir dengan santai. Tidak ada yang sedang dikejarnya sekarang. Sebab dia hanya akan kembali ke kediaman Sanjaya Kesuma. Mobil pribadi itu telah sampai di pelataran parkir kediaman Kesuma. Pak Abdi kembali ke ruangannya untuk beristirahat lebih dulu sebab setelah makan siang dia akan mengantar nona mudanya ke rumah Tuan Besar Kesuma. Sementara itu, Reina masih bersembunyi di balik selimutnya. Perlahan matanya mulai membuka, silau cahaya matahari yang semakin meninggi menusuk penglihatannya. Beberapa kali Reina mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan diri dengan cahaya yang masuk ke matanya. "Auhh... kepala ku sakit sekali." Reina merintih. Tangannya memegang kepala yang terasa pusing. "Kei..!" teriaknya. Reina menatap pintu kamar. Tak bergeming. "Kei...!" Ia teriak lagi. Namun yang dipanggil tak juga menampakkan dirinya. "Auhh... Keira!!" Reina kembali teriak. Ia bangkit untuk duduk bersandar di kasur king-sizenya. Pintu terbuka. Seorang maid berlari tergopoh - gopoh mendekati Reina di kasurnya. "Ani, mana Keira?" tanya Reina ketus. Ia masih saja memegangi kepalanya yang pusing. "Maaf Non Reina, Non Keira tidak ada." Ani menunduk. "Loh, Keira kemana?" "Non Keira sudah berangkat dua jam yang lalu, Non." Ani menjawab dengan kepala tertunduk. "Kemana? Keira pergi kemana? Kok gak ngajak aku sih?" jawab Reina mulai merasa frustasi. "Maaf, Non Reina. Tadi pagi Non Keira sudah membangunkan Non Reina. Katanya hari ini akan bertemu Tuan Sanjaya di Singapura. Tapi karena Non Reina belum sadar, Non Keira berangkat sendirian." Dia menyahut takut - takut. Takut kalau tiba - tiba Reina meledak marah lalu menimpuknya dengan bantal berulang kali. "Keira!!" Reina teriak histeris. Ia mengacak - acak rambutnya. Lalu menangis sesunggukan. Ani mundur beberapa langkah ke belakang. Ia menoleh saat pintu terbuka. Maid kepala muncul dari balik pintu mengejar Ani yang masih tegak berdiri di posisinya. "Ani, ada apa?" tanya Marta setengah berbisik. "Non Reina baru bangun, trus teriak - teriak manggil Non Keira, Buk." Perempuan itu menyahut pelan. Maid kepala bernama Marta itu manggut - manggut. Ia sudah menduga ini akan terjadi. Ia sudah bekerja selama hampir dua puluh tahun di kediaman Sanjaya Kesuma, sejak kedua putri Sanjaya masih kecil - kecil. Separuh usianya dia habiskan untuk menjaga kedua putri Kesuma. Sebab kedua orangtuanya hampir tak pernah ada di rumah untuk menjaga atau sekedar bermain dengan mereka. Sehingga Marta paham betul dengan sifat kedua putri Sanjaya yang saling bertolak belakang. Sebab kedua putri itu tumbuh besar di tangannya. "Pergi ambilkan lemontea hangat, tambahkan madu. Setengah jam lagi siapkan makan siangnya. Nona Reina akan segera turun ke bawah!" titahnya pada Ani yang langsung dikerjakannya tanpa menunda - nunda lagi. Marta berjalan mendekati ranjang Reina. Gadis itu terlihat sesunggukkan. Ia membenamkan wajahnya di atas lututnya. Ia mengusap dengan lembut kepala anak asuhnya itu. Marta merasa sedih melihat Reina menangis seperti itu. "Non Reina..." katanya. Reina tak bergeming. "Non Reina... jangan menangis lagi. Non Keira bukan sengaja meninggalkan Non Reina. Tapi Tuan Sanjaya sudah menunggunya. Sedangkan Non Keira tak ingin mengganggu karena Non Reina masih dipengaruhi alkohol." Marta menjelaskan dengan perlahan. "Keira bisa membangunkan aku, tapi kenapa tak dia lakukan..." ucapnya dibalik isaknya yang masih jelas terdengar. "Non Keira sudah lakukan itu. Apa non Reina tidak mengingatnya? Non Keira bahkan keluar kamar sambil membanting pintu. Saya pikir kalian sedang bertengkar tadi." Reina mengangkat kepalanya. Ia mencoba mengurai ingatannya, namun tak begitu jelas. Ia hanya ingat Keira ada menarik kakinya tadi, karena itu masih terasa sakit. Pintu di dorong dari luar. Ani masuk membawa segelas minuman yang diminta Marta padanya. Lalu menyodorkannya di atas nakas. "Ayo habiskan lemontea hangatnya. Non Keira sudah berpesan untuk membuatkan ini supaya sakit kepala non Reina membaik sehabis mabuk semalam." Kata Marta lembut. Seulas senyum tampak di wajah Marta saat Reina menerima sodoran gelas dari tangannya dan menghabiskan isinya. Marta melirik pada Ani. Ani yang mengerti segera ia maju mengambil gelas itu dan membawanya keluar dari kamar. "Ayo, sekarang non Reina mandi dan berpakaian yang rapi. Setelah makan siang, supir akan mengantar non Reina ke kediaman tuan besar Kesuma. Non Keira menunggu disana." Marta segera menuntun nonanya untuk bangkit berdiri dan melangkah perlahan menuju kamar mandi. Ia segera menyiapkan air hangat untuk Reina, kemudian meninggalkan Reina sendirian. ***** Satu jam sebelumnya. Pesawat pribadi yang ditumpangi Keira tiba di bandara Changi Singapura. Lebih awal satu jam daripada menumpang pesawat biasa. Ia melangkah meninggalkan bandara, sebuah mobil jemputan telah menunggu kedatangannya. Perlahan mobil itu keluar dari area bandara. Mengantarkan Keira ke hotel bintang lima terbaik di kota ini. Sanjaya Kesuma merupakan salah satu pemilik saham di hotel ini. Oleh sebab itulah Sanjaya Kesuma akan memilih hotel ini untuk menginap setiap kali ia datang ke negara ini untuk urusan bisnis. Keira berjalan meninggalkan mobil yang ditumpanginya tadi. Ia melangkah masuk ke dalam loby hotel. Staf hotel itu menunduk padanya, mereka mengenali dirinya sebagai salah satu putri Sanjaya. Ini bukan pertama kalinya Keira datang kesini. Keira hanya membalasnya dengan senyuman ramah. Ia selalu berusaha untuk menjaga nama baik orangtuanya. Keira memilih untuk duduk menunggu di loby hotel. Di keluarkannya benda pipih persegi empat dari tasnya. Tring ! Tring ! Beberapa notifikasi muncul saat Keira mengaktifkan kembali ponselnya. Ia membacanya satu persatu. Ada pemberitahuan panggilan dari nomor yang tidak Keira kenal. Keira mencoba menghubungi kembali, tetapi nomor itu sedang sibuk. Keira kemudian membaca notifikasi lebih ke bawah. Ada beberapa pesan dari nomor yang sama yang tadi ia coba hubungi, yang isinya hanya menanyakan keberadaannya. "Selamat siang, Miss Keira." Seorang pria menyapa Keira. David Hartono, sesuai tanda pengenal yang bertengger di kemejanya, menjabat sebagaii manager hotel tempat Keira berada saat ini. "Selamat siang." Keira tersenyum menyahut sapaannya. "Mister Sanjaya sedang menunggu anda di kamarnya di lantai lima hotel ini. Silahkan ikut dengan saya." Pria itu mempersilahkan dan Keira mengikutinya dari belakang. "Silahkan, lewat sini!" Katanya sesaat mereka keluar dari lift. Tangannya terulur ke depan menunjukkan arah tujuan mereka, kamar bernomor 502. Sementara Keira mengiringi langkah pria di depannya dalam diam. Tok tok...!! Pria itu mengetuk pintu kamar. "Silahkan masuk, Miss Keira..." katanya seraya membuka pintu bagi Keira dan menutupnya kembali sesaat setelah Keira masuk. Keira hanya membalas perlakuannya dengan senyuman, tanpa mengatakan apapun. "Hai Pa, apa kabarnya?" Keira memeluk pria tua yang dipanggilnya papa. "Baik," jawabnya datar. "Dimana Reina?" Sanjaya bertanya saat menyadari Keira hanya sendirian. "Dia tidak ikut, Pa. Dia sedang tidur saat aku pergi tadi," jawabnya. Lalu duduk di sofa di depan Sanjaya. Keira mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Tak ada orang lain disana selain mereka. "Mama dimana, Pa?" tanya Keira. "Kamu tidak perlu menanyakannya! Entah berada dimana perempuan itu sekarang. Mungkin sedang bersenang - senang menghabiskan uang di tangannya," katanya kesal. Matanya memerah penuh kemarahan dan kebencian pada istrinya. "Maaf, Pa." Keira tertunduk. "Udah, gak usah basa - basi sama Papa!! Dimana Reina? Kenapa dia tidak ikut denganmu, Kei?" Sanjaya kembali mengulang pertanyaannya. "Kei udah bilang tadi, Reina masih tidur. Aku gak mungkin bohong sama Papa. Kei bisa telpon ke rumah kalau Papa gak percaya," katanya seraya menghubungi rumah kediaman mereka. Telpon itu berdering, namun belum ada jawaban. Keira kembali mengulang panggilannya. "Hallo..." seseorang di kediaman mereka menjawab panggilan itu. Keira sengaja mengaktifkan mode loudspeaker ponselnya. "Ini saya Keira." "Oh, maaf Non Keira, saya tidak tahu..." sahutnya, suaranya terdengar bergetar. "Ini siapa?" tanya Keira. "Saya Ani, Non." "Dimana Reina? Apa dia sudah bangun?" tanya Keira padanya seraya melirik pada Sanjaya. "Non Reina masih belum bangun." "Sudah coba dibangunkan?" "Tidak Non, tidak ada yang berani." Wanita itu menjawab jujur. "Kenapa?" tanya Keira pura - pura tidak tahu. Sebenarnya dia hanya ingin mengetahui reaksi Sanjaya. "Takut Non Reina marah. Maid pada takut ditimpukin non Reina. Maaf non..." katanya takut - takut. "Ya sudah, tidak apa-apa. Saya sudah ketemu sama Papa. Kalau Reina bangun, sampaikan saya menunggunya di rumah kakek." "Baik Non." Sahutnya. Keira memutus panggilannya. Lalu menatap Sanjaya lekat. Pria itu hanya mendesah berat. "Apa Reina mabuk lagi, Kei?" Keira hanya mengangguk pelan. Keira berusaha menutupi kesalahan Reina di depan papanya. Tapi ternyata, papanya telah mengetahui kelakuan Reina meskipun ia jarang berada di rumah. "Anak itu..." Suaranya terdengar bergetar. Rahangnya mengeras karena menahan marah, tangannya mengepal kuat. "Ada apa Papa memanggil kami kesini?" tanya Keira berusaha mengalihkan perhatian papanya. "Tadinya Papa ingin mengenalkan kalian pada seseorang," jawabnya datar. "Lalu, mana orangnya?" Keira yakin tak ada orang lain di kamar ini, hanya ada mereka berdua. "Dia baru saja pergi." "Lalu, bagaimana? Kei sudah tiba disini." Keira merasa kecewa. "Terserah kamu. Papa tidak bisa menemanimu, Papa masih ada janji dengan klien Papa sekarang." Sanjaya berkata enteng. "Terserah jika kamu masih mau disini, karena papa akan pergi sekarang." Sanjaya bangkit. "Tapi, Pa..." Keira ikut bangkit dari duduknya. Ia merasa kecewa pada papanya. Keira baru bertemu dengannya lagi setelah dua bulan lalu mereka bertemu di rumah. "Sudahlah, Kei. Mumpung kamu sudah disini, kamu bisa jalan - jalan atau belanja. Terserah kamu!" Sahutnya ketus. Keira terkesiap, air matanya jatuh perlahan. Ia dan Reina begitu merindukan sosoknya. Tapi Sanjaya tak pernah ada untuk mereka. Keira berusaha menahan rasa sesak di dalam dadanya. "Papa pergi sekarang. Nanti papa akan transfer uang buat kamu dan juga Reina. Papa titip Reina sama kamu, jadi tolong jaga Reina baik - baik, Kei." Pria itu berkata lagi. Sanjaya mencium kening Keira lantas pergi meninggalkannya membeku di tempatnya berdiri. Dan menghilang di balik pintu yang tertutup di belakangnya. Keira menjatuhkan dirinya ke sofa. Saat ini kakinya seperti tak mampu lagi menopang beban tubuhnya. "Aaacchh...!" Keira berteriak kencang. Ia meraih semua benda yang ada di dekatnya kemudian melemparkannya ke sembarang arah. Sudah seperti kapal pecah. Ting..!! Notifikasi muncul di layar ponselnya. Sebuah pemberitahuan di pihak bank bahwasanya nomor rekening miliknya baru menerima dana sebesar lima ratus juta rupiah. "Aacchhh...!" Keira kembali menjerit histeris. Air matanya berlinang. Ia menyentak nafasnya kuat, lalu mengacak - acak rambutnya. "Kami gak butuh uang mu...!" Keira teriak dengan suara nyaring. Namun tak ada yang mendengar suaranya. *****

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
60.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook