Bab. 23

1541 Kata
Keira terlihat bergerak gelisah di bawah selimut. Beberapa kali ia menggumam pelan dalam tidurnya, membuat Reina mengernyit. Baru kali ini Reina mendapati kakaknya terlihat begitu rapuh. Berbanding terbalik dengan Keira yang ia kenal selama ini. Keira yang kuat, mandiri, dan tidak cengeng. Sejak mereka kecil, hampir tidak pernah ia mendapati Keira menangis. Sehingga, ketika melihat Keira yang menangis histeris seperti itu membuat Reina ikut merasakan kesedihan di hati Keira. "Kau sudah bangun?" Reina beranjak untuk duduk di tepi sofa. Mengusap punggung gadis itu dengan lembut. "Gimana perasaanmu sekarang? Apa sudah lebih baik?" tanya Reima cemas. "Hmm... aku baik-baik aja." Keira mengangguk pelan, menyiratkan senyum yang agak dipaksakan agar Reina berhenti mencemaskannya. "Ada apa? Kenapa kau menangis seperti itu?" cecar gadis itu lagi. "Apa terjadi sesuatu denganmu?" Keira menghela nafasnya yang terasa begitu sesak. "Tidak ada yang terjadi. Aku hanya ingin menangis, itu saja." "Jangan berbohong padaku, Kei. Kau tidak bisa pendam semuanya sendiri. Kau bisa mengatakannya padaku, dan aku janji akan merahasiakannya." Reina mengangkat dua jarinya ke udara seraya tersenyum. "Sungguh! Aku tidak merahasiakan apapun padamu," timpal Keira. Ia bangkit berdiri lalu beranjak masuk ke kamar mandi. Membersihkan wajahnya dari riasan yang telah rusak karena air matanya. Keira menatap dirinya di depan cermin. Bayangannya mengatakan dengan jelas bahwa ia memiliki garis wajah yang berbeda dengan Reina. Meskipun mereka berdua memiliki kecantikan yang sama. Alih-alih merasa kecewa dan terpuruk, Keira justru semakin kuat dan tegar. Ia justru bersyukur karena menjadi bagian dari keluarga Sanjaya, meskipun keluarga itu tidak sempurna. Karena kehidupan yang dia miliki jauh lebih baik dibandingkan orang lain diluar sana. Beberapa saat kemudian, Keira muncul di ambang pintu pemisah antar kamar tidur dan living room. Wajahnya telah kembali seperti semula, dengan riasan natural look. "Ayo kita turun," ajaknya. Kening Reina berkerut dalam. "Kemana?" "Makan siang. Apa perutmu tidak lapar?" Keira meraih tasnya di atas meja. Berjalan mendahului Reina keluar dari kamar hotel. "Tunggu, Kei..." Reina berlari ke kamar, merapikan rambutnya, meraih tasnya diatas nakas, lalu kembali ke luar mengejar Keira yang berada jauh di depan. "Ada apa denganmu? Tadi kau menangis histeris. Sekarang malah bersikap dingin seperti itu." Reina menggerutu selama berada di dalam lift. Dadanya naik turun, nafasnya masih memburu setelah mengejar Keira. Keira menyunggingkan senyumnya. "Aku tidak memintamu mengejarku, kan? Kamu bisa menyusulku tanpa harus berlarian seperti itu." "Kenapa kau baru bilang sekarang? Kau tidak bilang seperti itu tadi." Reina mendengus kesal. Keira malah tertawa melihat reaksi gadis itu. "Ya sudah, aku minta maaf." "Telat!" Reina memalingkan wajahnya dari sang kakak. Bukan Keira namanya, jika ia tak bisa membuat Reina kembali berbaikan dengannya. "Baiklah, aku minta maaf. Gimana kalau nanti sore kita nonton bareng di mall yang biasa kamu datangi itu? Aku dengar, ada film baru bakal tayang malam ini. Nanti aku traktir sekalian, deh..." bujuk Keira, matanya mengerjap lucu. Reina bergeming untuk sesaat. Namun senyumnya melebar sesaat kemudian. "Baiklah. Karena kau sendiri yang mengatakannya, aku setuju." Kedua gadis itu saling mengait kelingking, sesaat kemudian keduanya melangkah keluar dari lift sambil bergandengan tangan. Senyum mereka mengembang sempurna. Layaknya kakak dan adik sungguhan. Ya, kakak dan adik sesungguhnya. "Oh ya, Kei... tadi Bu Marta nelpon ke ponsel kamu." "Apa? Kapan?" "Tadi, saat kau masih tidur." "Ada apa?" Keira menghentikan langkahnya, berbalik menatap Reina. "Bu Marta hanya bertanya, kapan kita pulang ke Jakarta." "Kenapa?" Reina mengedikkan bahunya. "Aku juga gak tahu. Bu Marta juga bilang kalau keluarga Om Dimas datang ke rumah tadi pagi." Kedua alis Keira saling bertaut kala dahinya berkerut dalam. "Sebaiknya kau menelpon ke rumah, Kei. Tanyakan langsung pada mereka. Atau, kau bisa bertanya pada Kakek." Keira diam seribu bahasa. Tak ada sahutan yang keluar dari mulutnya. Pikirannya melayang entah kemana. *** Sebuah taxi online terlihat melewati gerbang setinggi tiga meter di depan pos penjagaan super ketat. Kemudian berhenti di depan pelataran sebuah rumah berlantai empat bergaya eropa modern. Dengan empat tiang utama terletak di depan pelataran rumah. Sepasang kaki beralas stileto heels setinggi delapan senti, terlihat turun dari pintu belakang. Disusul kepala yang menyembul keluar dengan rambut bergelombang warna kemerahan yang digerai panjang. Setelah itu di ikuti dengan tubuh yang dibalut oleh gaun setinggi lutut. Tangannya terangkat, melepaskan kacamatanya dan menyampirkannya di atas kepala. Wanita itu berdiri sempurna dengan koper berukuran sedang di sisinya. Membiarkan taksi online itu berlalu pergi. Seorang wanita muda berseragam berlari dari dalam rumah sambil menunduk. Mengambil alih barang bawaannya dan membawanya masuk tanpa diperintah. "Nyonya, anda sudah tiba." Seorang wanita berusia lebih tua berdiri di ambang pintu menyambutnya. "Iya. Kabar apa yang kau punya?" Wanita itu berkata seraya melangkah masuk dengan anggun. "Tuan meminta anda untuk menunggu." "Kenapa?" Wanita itu bertanya lagi tanpa menoleh. "Keluarga Kesuma akan kedatangan tamu." "Siapa?" tanyanya sambil meletakkan bokongnya di atas sofa mahal di ruang tamu rumahnya. "Keluarga Dimas Danuarta, Nyonya." "Ooh...." Wanita itu tersenyum, seakan tahu maksud dan tujuan kedatangan tamunya. "Dimana Sanjaya?" "Tuan sedang keluar. Akan balik sebentar lagi." "Dan anak-anak? Dimana mereka? Kenapa rumah besar ini terlihat sangat sepi?" "Maaf, Nyonya. Nona Keira dan Nona Reina sedang berada di Sumatera saat ini." "Kenapa? Untuk apa mereka kesana?" Marta menarik nafasnya dalam, kedua tangannya saling meremas. "Perintah Tuan Besar Kesuma, Nyonya." Marta menjawab takut-takut. Wanita itu menyentak nafasnya, lalu tertawa sinis. "Kenapa Papa selalu ikut campur urusan keluargaku?" gumamnya. "Apa tidak cukup hanya aku saja yang mereka atur? Kenapa masih ikut mengatur kehidupan kedua putriku juga?" desisnya kesal. "Apa Papa juga akan datang ke runah ini?" tanyanya dengan nada kesal. "Maaf, Nyonya. Saya tidak tahu." Marta menunduk takut. Sekali lagi, wanita itu menyentak nafasnya. Menetralkan emosinya yang sempat meluap. "Siapkan hidangan makan siang. Saya yakin, mereka akan tiba sebentar lagi." Marta mundur beberapa langkah, kemudian melangkah pergi. Sesuai dugaannya. Suara deru knalpot terdengar semakin dekat. Lalu hening secara beruntun. Disusul suara pintu mobil yang dibanting dengan kuat beberapa kali. Wanita itu yakin bahwa tak hanya satu orang yang berada di luar rumahnya saat ini. "Kau sudah lama sampai?" Sanjaya muncul dari pintu depan. "Iya. Aku baru aja sampai." "Hai, Ayu. Lama tidak bertemu denganmu." Seorang wanita terlihat bergandengan tangan dengan suaminya, muncul di belakang Sanjaya. "Lena. Apa kabar?" Wanita yang disapa Ayu itu bangkit berdiri menyambut tamunya. Kedua wanita itu saling berpelukan beberapa saat. "Kapan kamu sampai? Wah... kamu tambah cantik ya, sekarang. Benar kan, Pi?" Lena menoleh, menyenggol lengan suaminya pelan. "Aku baru aja sampai. Maklum aja," sahutnya sambil tersenyum. Kedua wanita itu lanjut mengobrol. "Ada apa kalian datang kesini? Kenapa tidak memberi kabar padaku? tanya Ayu basa-basi. "Maaf ya, Yu. Aku juga sebenarnya tidak tahu. Dimas yang mengajakku untuk menemaninya datang kesini." "Ooh... dimana Banyu? Apa dia tidak ikut dengan kalian?" "Dia masih ada pekerjaan. Maklum, pengusaha muda." Lena terdengar sangat membanggakan putra semata wayangnya. Dimas hanya tersenyum kecut mendengar pembicaraan sang istri. "Putramu memang hebat," puji Sanjaya pada sahabatnya itu. "Ah, bukan seperti itu. Aku hanya ingin agar dia jadi pria yang mandiri dan bertanggung jawab. Tidak baik terlalu membanggakan orangtua dan terus berlindung di belakang nama baik orangtuanya. Benarkan? Sama sepertimu. Walau sudah jadi penerus Kesuma Grup, masih terus mengembangkan sayap sampai ke luar negri. Bukankah itu hebat?" Dimas balik memuji, membuat Sanjaya tertawa senang. Setidaknya Sanjaya berpikir bahwa ia berhasil menorehkan nama baik diatas nama baik Atmajaya Kesuma. Kedua istri mereka ikut tertawa bangga. Ya, begitulah yang terlihat di depan mata. Ayu dan Sanjaya harus bersandiwara bahwa mereka adalah keluarga yang hebat dan harmonis. Tak seorang pun tahu bahwa dibalik kesuksesan dan nama baik Sanjaya, keluarga itu sebenarnya telah lama hancur. Hanya saja, mereka pandai menyembunyikannya dengan menghindari kata perpisahan, apapun yang terjadi. Karena bagi kalangan atas seperti mereka, berita perpisahan hanya akan merusak reputasi mereka. Para pencari berita tidak akan pernah tidur demi mendapat gosip terbaru untuk menjatuhkan mereka. "Baiklah. Kita kembali ke tujuan awal kita." Dimas kembali mengalihkan percakapan mereka. "Begini..." Sanjaya membuka mulut. "Saya berniat untuk menjodohkan salah satu putri saya dengan putra kalian. Apakah kalian setuju?" Dimas dan istrinya saling melempar pandang. Sesaat kemudian balik menatap Sanjaya dan Ayu bergantian. "Apa kamu serius?" tanya Ayu memastikan. Ia tidak terkejut dengan ucapan suaminya. "Tentu saja. Putra Dimas sudah dewasa dan juga mapan. Dan putri kita juga sudah menyelesaikan pendidikan mereka. Usia mereka juga sudah cukup dewasa untuk menikah." "Apakah kedua putrimu sudah mengetahuinya?" tanya Dimas. Sanjaya tertawa. "Pada akhirnya mereka akan tahu. Dan mereka tidak akan menolak. Mereka bertiga sudah saling kenal dan sudah lama berteman sejak kecil. Jadi, rasanya tidak sulit." Dimas dan Lena menangguk, membenarkan setiap ucapan sahabatnya itu. Tidak ada salahnya menerima perjodohan itu, karena keluarga Kesuma bukanlah keluarga sembarangan. Siapapun yang dapat menikahi putri mereka pasti sangat beruntung. "Baiklah, kami setuju. Tapi kami tidak bisa memutuskan siapa yang akan menikah dengan Banyu," timpal Dimas kemudian. "Itu tidak perlu. Karena aku akan menikahkan Banyu dengan Reina," putus Sanjaya. Ayu mengeryitkan dahinya. "Kenapa Reina, Mas? Keira yang lebih tua. Harusnya kita mendahulukan Keira, bukan Reina." Ayu menentang keras keputusan suaminya. "Tidak apa-apa. Karena aku yakin, Banyu lebih menyukai Reina dibanding Keira. Aku sudah lama memperhatikan mereka," ujarnya mematahkan pendapat sang istri. "Baiklah, siapun yang menikah dengan Banyu, kami tetap setuju." Dimas memberikan keputusannya. Ayu hanya bisa bungkam. Sementara Sanjaya tersenyum lebar. Sanjaya memiliki alasan sendiri untuk menjodohkan Reina dengan Banyu. Bukan karena ia tidak menyayangi Keira. Tetapi pria itu ingin menjauhkan Keira dari wanita yang mengaku sebagai ibunya, demi rasa sayangnya pada gadis itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN