"Ayo sini, pegang tanganku!" Keira kecil menuntun adiknya keluar dari mobil.
"Aku takut." Diacuhkannya tangan yang tergantung di udara itu.
"Takut kenapa? Aku sudah berjanji akan menjagamu." Keira menunjukkan senyumnya yang manis. Tangan kecilnya masih belum berlalu dari hadapan sang adik.
"Benarkah? Bagimana kalau anak-anak itu nakal padaku?" Reina mengeratkan pegangannya pada sandaran kursi di depannya.
"Tidak akan! Aku akan pukul mereka jika berani mengganggumu. Ayo turun!" Kini kedua tangannya melayang di udara. Bersiap menangkap tubuh sang adik dari bawah.
Reina kecil menoleh pada pria dengan wajah paling hangat yang sering ia temui, Pak Abdi. Pria itu tersenyum padanya.
"Pergilah, Nona. Saya akan menunggu disini. Tidak akan ada yang berani mengganggu kalian."
Reina memberi anggukan kecil tanda setuju. Wajahnya lalu berpaling pada wanita yang berdiri di belakang Keira. Pengasuhnya dan Keira, Marta. Wanita yang kini memiliki posisi sebagai kepala maid di istana Sanjaya.
"Ayo, Nona. Kita akan terlambat. Saya akan menunggu di depan kelas." Marta berkata lembut pada gadis itu.
Reina kecil tampaknya menyetujui ajakan itu. Rasa takutnya kini hilang. Semua orang menjaganya. Reina tersenyum kecil, lalu menggapai tangan kakaknya dan turun perlahan dari mobil. Ia memegang kuat tangan kecil milik Keira hingga mereka berdiri di depan pintu. Ini adalah hari pertama mereka sekolah di Taman Kanak-Kanak.
Keira harus mengalah demi sang adik. Mereka bersekolah bersama-sama, di kelas yang sama, meskipun usianya lebih tua satu tahun dari Reina. Keira kecil sangat menyayangi adiknya itu, membuatnya harus mengabaikan rasa takutnya sendiri. Dan perlahan membentuknya menjadi karakter yang kuat dan mandiri. Setidaknya, ia akan bangga saat menceritakan hal itu pada papa dan mamanya nanti. Meskipun entah kapan suami istri itu akan kembali dari padatnya pekerjaan mereka.
(Flashback off)
Pagi-pagi sekali Keira keluar dari kamarnya sambil mendorong koper berukuran sedang miliknya. Suara derit roda dari benda itu terdengar hingga ke ujung lorong yang satunya. Ia berjalan anggun dengan stelan kerja berwarna abu-abu, lengkap dengan sepatu slingback heels berwarna hitam. Suara ketukan heels dari sepatunya ikut mengiringi derit roda koper miliknya itu.
Langkahnya baru saja sampai di depan lift, saat Reina keluar dari kamarnya dengan benda yang sama di tangannya. Gadis itu menunjukkan senyuman lebar di bibirnya. Mengayunkan langkahnya cepat saat berjalan mendekati Keira. Derit roda dari koper miliknya kini bergantian bergema di di lorong itu.
"Aku pikir kamu tidak jadi ikut." Sebuah seringai miring muncul di bibir Keira.
"Aku pasti ikut. Kakek mengijinkanku untuk ikut denganmu." Reina membalasnya dengan seringai ejekan dan dengusan nafas.
"Jangan lakukan hal yang akan membuatku malu," katanya mengingatkan.
"Oke. Kau bisa pegang janjiku." Reina mengacungkan kelingking kurusnya ke hadapan Keira.
"Baiklah." Keira mengaitkan kelingking miliknya.
Untuk pertama kalinya mereka menggunakan lift di rumah besar itu. Reina menggandeng kuat lengan kakaknya saat kotak besi itu bergerak turun. Wajahnya terlihat sedikit memucat.
"Tidak apa-apa. Kamu harus mulai terbiasa jika ingin ikut denganku." Keira menenangkan adiknya lagi.
"Ya, aku baik-baik aja." Reina menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya kuat. Reina merasakan jantungnya berdebar sangat kuat.
Trauma masa kecilnya masih terus membayang. Reina pernah terkurung di dalam lift sendirian tanpa disengaja. Ia menekan tombol berlampu di dinding bagian luar lift, saat ia masih berusia lima tahun. Saat pintu terbuka, Reina berlari masuk ke dalamnya. Namun ia menjadi panik dan ketakutan saat pintu mulai tertutup dan tak kunjung membuka.
Semua orang sibuk mencari gadis itu ke seluruh bagian rumah, dari dalam hingga ke luar rumah, dari lantai bawah hingga ke lantai atas. Namun suara jeritan Reina membuat semua orang manajamkan pendengaran mereka. Suara jeritan yang samar. Hingga mereka akhirnya sadar, pada satu tempat yang mungkin tanpa sengaja gadis kecil itu masuki. Lift.
Kedua gadis itu mengayunkan langkahnya keluar dari sana saat pintunya membuka lebar. Wajah pias Reina sudah membuktikan bahwa rasa takutnya masih belum hilang.
Suara ketukan langkah kedua gadis itu membuat beberapa maid yang tengah bertugas membersihkan seluruh ruangan di lantai satu menoleh ke arah mereka.
"Tolong antar ini ke mobil." Keira mengeluarkan suaranya. Seorang maid maju dan mengambil kedua koper itu, lalu membawanya ke pintu depan.
Sementara itu, Keira dan Reina melangkah menuju ruang makan. Bu Marta terlihat sedang mengawasi maid yang bekerja di bagian dapur sedang menata meja makan. Wanita paruh baya itu tau, kedua anak asuhnya akan pergi keluar kota untuk beberapa hari. Karena itu, maid yang bekerja di dapur dan juga koki terlihat sangat sibuk pagi ini.
Masih terlalu dini untuk sarapan. Akan tetapi, perjalanan yang akan mereka tempuh, membuat kedua gadis itu harus mengisi perutnya lebih awal. Setidaknya, nasi goreng seafood cukup untuk mengganjal perut selama di perjalanan.
"Jaga rumah dengan baik!" Keira berpesan pada Bu Marta.
"Baik, Nona."
"Kalau Papa menelpon ke rumah, langsung kabari saya. Katakan padanya, Reina ikut dengan saya. Jika beliau marah, katakan saja bila Reina sudah mendapatkan ijin dari Kakek Kesuma."
"Saya mengerti," sahut Marta.
Marta mengiringi langkah kedua gadis itu hingga ke pintu depan. Pak Abdi terlihat sedang berdiri di samping mobil sambil tersenyum hangat.
"Pak Abdi juga akan ikut dengan saya selama beberapa hari. Saya sudah minta ijin pada Kakek. Dan untuk sementara, Kakek akan mengirimkan supir pengganti nanti siang." Keira menjelaskan pada Marta.
"Kalau Papa marah, bilang aja, semuanya atas sepengetahuan Kakek Kesuma." Reina ikut bersuara.
"Baik, Nona. Saya mengerti."
Pak Abdi menyalakan mobil dan menekan pedal gas. Dengan perlahan mobil bergerak maju meninggalkan pelataran rumah dan keluar dari pintu gerbang. Petugas penjaga rumah segera menutup gerbang setinggi tiga meter itu.
Reina sengaja memilih duduk di bangku depan, di samping Pak Abdi. Tangannya menyetel rendah sandaran kursi penumpang agar bisa rebahan. Sementara Keira sibuk dengan layar pintarnya yang selalu ia bawa saat bekerja. Pagi ini, kedua gadis itu harus menaiki pesawat yang telah disiapkan oleh Atmajaya Kesuma.
Seperti biasa, mobil melaju kencang tanpa hambatan berarti. Pak Abdi dengan sigap mengambil jalan tercepat menuju bandara. Sebab, jalan utama sudah dipenuhi oleh kendaraan yang mulai padat merayap memenuhi jalanan kota. Itu adalah pagi yang sibuk. Banyak orang tumpah ke jalan, dan saling berebut kendaraan umum. Ada yang ingin berangkat bekerja dan juga ke sekolah atau kampus.
"Rein!" Keira mengguncang lengan Reina kuat membuat gadis itu segera bangun.
"Ayo turun! Apa kamu ingin tinggal di mobil?" pancing Keira. Kalimat itu berhasil membuat Reina tersadar seketika.
"Apa kita sudah sampai?"
"Mungkin."
"Hah? Yang benar aja!" Reina menegakkan duduknya dan memandang sekeliling. "Kau menipuku, Kei! Ini hanya bandara!" ucapnya ketus.
"Aku tidak menipumu. Kita memang sudah sampai, tapi di bandara. Ayo turun!" titahnya kemudian keluar dari mobil.
Dengan malas, Reina keluar dari mobil dan mulai meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Mereka berjalan beriringan. Pak Abdi mendorong troli yang membawa barang-barang mereka. Dua buah koper berukuran sedang dan sebuah tas ransel milik Pak Abdi.
Setelah melewati pintu pemeriksaan, ketiganya langsung mengarah ke terminal keberangkatan pesawat. Rombongan pramugari telah menunggu di pintu masuk. Menyertai perjalanan mereka pagi ini dari Jakarta menuju Medan. Perjalanan bisnis pertama mereka di kota itu.
***
Sementara itu di istana Sanjaya. Sebuah taksi memasuki gerbang utama langsung menuju pelataran rumah. Seorang pria turun dari pintu penumpang belakang dengan wajah ketat. Bu Marta yang mendengar suara mobil langsung berlari tergopoh-gopoh ke pintu depan bersama Ani yang membuntutinya dari belakang.
"Selamat pagi, Tuan." Bu Marta menundukkan kepalanya saat Sanjaya Kesuma berdiri di hadapannya.
"Bawa ini ke kamar saya," titahnya. Ani segera maju dan membawa koper itu berlalu dari sana.
"Dimana Pak Abdi? Kenapa dia tidak mengangkat telpon saya?" tanyanya berang. Ia melangkahkan kakinya ke ruang keluarga dengan langkah besar dan nafas yang memburu. Tubuh atletisnya di hempaskan ke sofa empuk saat tiba di ruangan itu.
"Maaf, Tuan. Pak Abdi sedang tidak ada di rumah. Mungkin sudah berada di pesawat sekarang," Marta menjelaskan dengan takut-takut.
"Apa? Di pesawat? Kamu jangan bercanda!" timpal Sanjaya. Pria itu terlihat sangat marah. "Emangnya dia mau kemana?"
"Maaf, Tuan. Pak Abdi ikut dengan Nona Keira tugas ke luar kota."
"Ikut dengan Keira? Untuk apa?" tanyanya dengan suara keras, membuat semua maid di rumah itu ketakutan saat mendengar tuannya sedang marah.
"Katanya menemani Nona Keira, Tuan. Mereka sudah mendapatkan ijin dari Tuan Besar Kesuma."
"Lalu, siapa yang akan mengantar saya? Di rumah ini hanya punya satu supir. Dan itupun telah dibawa oleh Keira. Untuk apa dia membawa supir bersamanya?" Pria itu mendengus sebal.
"Maaf, Tuan. Supir baru yang dikirim oleh Tuan Besar Kesuma akan tiba disini nanti siang."
"Lalu Reina? Kemana anak manja itu?"
"Nona Reina ikut bersama Nona Keira, Tuan. Dan sudah mendapatkan ijin dari Tuan Besar."
"Dimana istri saya? Apa dia juga pergi dari rumah ini? Kenapa semua orang selalu ingin pergi dari sini? Apa yang kurang dari rumah ini?" ujarnya frustasi.
"Nyonya masih belum kembali, Tuan." Jawaban singkat dari Marta seakan menyulut emosi Sanjaya yang sedang berkobar jadi semakin berkobar kuat.
Suara dengusan nafasnya yang kasar, terdengar kuat di tempat itu. Marta bisa merasakan kemarahan tuannya itu. Suara gemeretak giginya ikut terdengar saat Sanjaya mengeraskan rahangnya.
"Perempuan itu..." gumam Sanjaya pada dirinya. "Ibu dan anak, semuanya sama saja!"
"Kamu boleh pergi," katanya pada Marta.
"Apa Tuan ingin disiapkan sarapan?" Marta memberanikan dirinya untuk bertanya sebelum pergi dari tempat itu.
"Tidak usah! Selera makan saya sudah hilang sejak tadi. Beritahu saya jika supir baru itu telah sampai disini."
"Baik, Tuan."
Marta mundur beberapa langkah, kemudian membalik tubuhnya dan pergi dari ruangan itu dengan segera. Ia merasa jantungnya hampir copot. Berulangkali ia mengusap dadanya kuat sambil menghembuskan nafasnya. Sudah lama ia tak melihat tuannya semarah ini, membuatnya sangat ketakutan.
Sanjaya bangkit. Beranjak dari ruang keluarga menuju kamarnya sendiri. Ia melangkah menuju lift yang akan membawanya menuju lantai empat. Tatapannya sedikit pun tak teralih dari layar ponsel pintarnya. Sebuah nama tertera disana dan dalam mode memanggil. Ayuningtias. Tetapi tak juga mendapat jawaban.
Sanjaya menyentak nafasnya kuat saat panggilannya berakhir begitu saja tanpa sahutan. Ia mengulang kembali panggilan itu hingga beberapa kali, namun masih mendapatkan hasil nihil. Ayuningtias tak juga menerima panggilan telpon darinya.
Sanjaya akhirnya menghentikan panggilan itu dan mengalihkannya ke nomor lain. Atmajaya Kesuma. Pria itu menelpon ayahnya sendiri. Namun tak juga mendapat sahutan hingga panggilannya yang kedua.
Merasa kesal, Sanjaya melempar ponselnya ke atas kasur king size miliknya saat tiba di dalam kamar. Koper besar yang dibawa masuk oleh Ani masih berdiri tegak di samping ranjangnya. Ia menghela nafasnya lagi. Kemudian melempar tubuhnya di atas ranjang dan mulai memejamkan matanya. Perjalanan panjang selama hampir lima jam dari Hongkong, membuatnya kelelahan. Itu semua ia lakukan demi menjalin kerjasama dengan salah satu pemilik hotel di negara itu.
Setidaknya, ia membawa kabar baik saat kembali ke negaranya. Meskipun, hanya perasaan kesal yang menyambutnya saat tiba di kediaman megahnya. Termasuk ulah anak dan istrinya itu. Ia berjerih lelah, melebarkan sayapnya hingga ke negara asing untuk memperluas bisnis perhotelan yang mereka miliki. Namun, hanya mendapatkan pengkhianatan dari sang istri.
Ponsel Sanjaya berdering nyaring saat matanya hampir terpejam sempurna. Rasa kantuk mulai menguasai netranya saat menerima panggilan itu sehingga ia tak melihat nama yang tertera di layar pipih itu.
"Halo," jawabnya.
"Kamu dimana?" tanya suara di seberang sana.
Sanjaya refleks membuka matanya lebar.