“Maaf, aku tak sengaja. Bisakah kau bangun dari atasku?” suara seorang pria membuat Amanda tertegun. “B-bisakah kau menjauhkan tanganmu dari atasku?” ucap Amanda sembari menunjuk ke tangan pria itu yang saat ini ada di atas tubuhnya. “M-maaf.” Pria itu kemudian menjauhkan tangannya dari tubuh Amanda. Namun, wanita itu masih tak kunjung bangkit dari atas tubuhnya yang semakin lama terasa semakin panas tanpa sebab. Merasa ada sesuatu yang janggal, Amanda akhirnya bangkit dari tubuh pria itu dan merapikan handuk yang ia kenakan. “Kenapa kamu bisa ada di belakangku?” Airlanda kini duduk di atas lantai yang sama sembari mengusap kepalanya dan meregangkan punggungnya karena merasa sedikit sakit akibat kejadian beberapa saat lalu. “Ehm. Awalnya aku hanya berniat membantumu agar tak terjatu

