Mendekati Aretha

1549 Kata
“Katakan, apa itu?” “Hendra akan membuat kelemahan wanita itu takluk padaku.” Wanita paruh baya itu menautkan alisnya. Dia masih tak paham dengan apa yang dimaksud dengan kelemahan dari menantunya itu. Gadis yang kabarnya merupakan seorang wanita yang penurut, ternyata tak sesuai dugaannya. Menantunya ternyata adalah seorang gadis pembangkang dan sangat kasar. Dia tak tahu kalau sebenarnya Amanda memang seorang gadis yang lembut dan sangat santun. “Kau lakukan apa saja yang menurutmu baik. Mama akan senantiasa mendukung kamu. Asal jangan sampai kau melupakan Mamamu ini jika kau telah mendapatkan tujuanmu,” ujar wanita itu. Tak lama kemudian pintu rumah itu kembali terbuka. Sosok seorang pria tampak memasuki rumah itu. “Hai, Kak. Bagaimana kabarmu usai malam pertama dengan istrimu?” kekeh pria yang lebih muda dari Hendra. Ingin rasanya pria itu memukul adiknya yang seolah mengejeknya karena gagal melakukan ritual malam pengantin dengan wanita yang berstatus sebagai istrinya. “Kau sedang mengolok ku?” ujar Hendra yang sedikit terbawa emosi. “Apa maksudmu, Kak? Apa jangan-jangan??” Pria itu membulatkan kedua matanya. Sepertinya apa yang dipikirkan olehnya adalah benar. Pria itu nyaris menertawakan sang kakak yang gagal menjinakkan wanitanya. “Apa kau begitu senang mengetahui kemalangan kakakmu, Abiwara?” hardik satu-satunya wanita yang ada di sana. Abiwara menundukkan kepalanya. Pria itu masih berusaha menahan diri agar tak tertawa lagi di hadapan mama kakaknya. “Ada apa kamu ke sini?” tanya wanita itu. “Oh, iya. Aku ingin mengenalkan seseorang kepada kalian. Dia adalah calon istriku. Kami sepakat akan menikah bulan depan,” ujar Abiwara. Kabar yang dibawa oleh pria itu sangat mengejutkan. Dua orang yang lebih tua darinya. “Sejak kapan kalian saling kenal? Kenapa bisa secepat itu?” tanya Hendra yang terkejut dengan pernyataan adiknya. “Kakak sudah mengenalnya. Dia satu universitas dengan kakak,” ujar Abiwara dan sukses membuat kakaknya mengangkat sebelah alisnya. *** Sementara itu, Aretha masih sangat kesal dengan saudara tirinya. Dia tak terima karena diusir oleh wanita itu. Terlebih rumah yang akan mereka tempati tak sebagus rumah mereka sebelumnya. Kamar di rumah itu juga tak seluas kamarnya di mansion keluarga Hadiningrat. “Bersabarlah. Rumah ini tak kalah bagus dengan rumah sebelumnya,” ujar Renata menenangkan anak gadisnya. “Iya memang. Tapi terlalu banyak orang di rumah ini. Tak bisakah hanya kita saja yang menempati rumah ini?” ujar gadis itu sembari menghentakkan kakinya. “Ya, kamu benar. Rumah ini seharusnya milik kita. Kalau kita membuat wanita itu dan anaknya pergi dari sini, Amanda pasti akan menampung kembali tiga orang itu, bukan?” “Ma, aku mempunyai sebuah ide.” “Ide? Apa itu?” “Kita akan membuat wanita itu percaya kalau kita sudah berubah. Setelah dia percaya kalau kita sudah menjadi orang baik, dia pasti akan mengajak kita kembali ke rumah besar itu.” “Jadi, rencana untuk mengusir istri pertama ayahmu, dibatalkan?” tanya Renata kepada anaknya. Anak gadis wanita itu mengangguk. “Itu akan menjadi opsi ke dua jika Amanda tak tergerak hatinya untuk membawa kita kembali ke sana.” “Tapi, semua itu bukan hal mudah,” ujar Renata kepada putrinya. “Mama tak perlu khawatir. Aku yang akan membujuknya. Mama jaga sikap di sini. Jangan sampai membuat istri pertama papa itu mengadukan hal yang buruk kepada anaknya.” Renata menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan anaknya. Dia mengakui kalau anaknya itu adalah seorang gadis yang cerdik. Tak salah jika dia menyekolahkan anak semata wayangnya itu hingga ke jenjang tertinggi di universitas terbaik. “Kau jangan khawatir. Mama paling jago dalam hal akting. Buktinya ayahmu terjerat oleh pesona mamamu ini,” kekeh wanita itu. Ponsel Aretha berdering. Sebuah panggilan dari nomor tak dikenal tertera di layar ponsel pintar wanita itu. “Siapa?” tanya mamanya. Aretha menggelengkan kepalanya. Gadis itu ingin menjawab panggilan itu namun ia ragu. Dia takut kalau yang menghubunginya adalah orang aneh yang iseng. “Angkat saja. Barangkali telepon penting,” ujar Renata kepada anaknya. Aretha yang mendapat persetujuan dari sang mama untuk menjawab panggilan itu, akhirnya menggeser tombol hijau yang ada di layarnya. “Halo?” sapa Aretha kemudian. “Oh, Hai. Kau Aretha, bukan?” suara seorang pria dari dalam panggilan suara itu. “Iya, benar. Kamu siapa?” tanya Aretha menautkan kedua alisnya. “Aku Hendra. Suami Amanda. Apa kita bisa bertemu sore nanti?” tanya pria itu kepada Aretha. “Apa ada sesuatu yang mendesak?” tanya wanita itu lagi. “Tak ada. Hanya ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Mungkin sekalian kita bisa makan malam?” tanya pria itu dari dalam panggilan. Aretha melihat ke arah mamanya. Siapa sangka wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya, menyetujui anaknya agar bertemu dengan Hendra untuk mengetahui apa yang akan pria itu sampaikan. “Baiklah. Di mana kita bisa bertemu?” tanya Aretha. “Kita akan bertemu di hotel Airlangga. Bukankah kau suka makan malam di restoran hotel itu?” Aretha bersorak dalam hati. Dia tak menyangka kalau pria itu sangat mengerti dirinya. “Baiklah. Kita akan bertemu pukul lima sore nanti.” Panggilan pun berakhir. Meski penuh tanda tanya, entah mengapa terselip rasa bahagia dalam hati wanita itu saat mengetahui bahwa ada seseorang yang begitu mengerti dirinya. Bahkan orang itu mengerti kalau dirinya sangat menyukai hidangan yang ada di restoran hotel terkenal itu. Sementara di sebuah ruangan, seorang pria tersenyum menyeringai. Pria itu tak sabar untuk menanti pertemuannya dengan seorang wanita yang tadi dihubunginya. Dia yakin rencana kali ini akan berjalan lancar. Dan dia yakin kalau dirinya bisa memegang kendali atas wanita yang meremehkannya sebelumnya. “Siapa yang baru saja kau hubungi?” “Hanya kenalan saja, Ma.” “Oh iya. Sepertinya Hendra nanti tak akan pulang. Aku akan menginap di rumah temanku,” ujar pria itu kepada mamanya. *** Jarum jam terasa berputar begitu cepat. Hari sudah mulai sore. Jam menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit. Seorang pria tengah duduk di salah satu kursi yang dekat dengan jendela kaca besar di salah satu restoran hotel berbintang di kota itu. Pria itu tengah menunggu tamu undangannya, seorang wanita cantik yang tak jauh cantiknya dengan istrinya. Bahkan wanita itu jauh lebih seksi dan berisi dibandingkan istrinya yang menurutnya sangat kurus. “Kak Hendra?” sapa seorang wanita bergaun merah marun di dekat mejanya. Mendengar namanya disebutkan oleh seorang wanita cantik, membuat pria itu menoleh dan pandangannya seketika terkunci saat mendapati seorang wanita cantik berdiri di dekatnya. “Kau Aretha?” tanya Hendra memastikan. Wanita itu menganggukkan kepalanya. Gadis yang usianya tak terpaut begitu jauh dengan istrinya itu tampak memesona sore ini. Bahkan jiwa lelaki pria itu tanpa disadari bangkit begitu saja saat pertama kali menatap bidadari tak bersayap di dekatnya. “Silakan duduk,” ujar Hendra mempersilakan wanita cantik itu duduk di kursi yang berhadapan dengannya. “Apa lebih baik kita makan dahulu?” tawar pria itu. Aretha menganggukkan kepalanya dengan anggun. Wanita itu tak menyangka kalau suami dari kakak tirinya itu sangat tampan jika dilihat dari dekat. Pantas saja Anandita juga menyukai pria di hadapannya ini bahkan rela menjadi pengantin pengganti jika Amanda membatalkan pernikahan. “Kau mau makan apa?” tanya Hendra sembari membolak-balikkan buku menu yang baru saja diberikan oleh pelayan yang mendekat ke meja mereka. “Bolehkah kalau aku makan kamu saja?” ujar Aretha tersenyum menggoda. Pria itu pun tampak salah tingkah. Namun, lelaki itu berpura-pura tak menghiraukan godaan yang sangat nyata di hadapannya. “Kau tak perlu khawatir. Kau akan mendapatkan bagian kamu nanti malam,” ujar Hendra tanpa mengalihkan pandangannya dari buku menu.” “Steak medium rare, apa kau suka?” tanya Hendra menawarkan menu makanan yang dia suka kepada wanita di hadapannya itu. “Boleh. Aku adalah pemakan segala. Jadi kau tak perlu khawatir aku tak suka,” ujar wanita itu sembari terus menatap wajah pria yang berstatus sebagai iparnya itu. “Baiklah, steak medium rare dua dan juga sebotol wine terbaik hotel ini,” ujar pria itu kemudian menyerahkan menu beserta kartunya kepada pelayan itu sekaligus menanggung pembayaran makanan sore itu. Pria itu tak masalah jika harus berkorban di awal. Dia yakin setelah ini akan mendapatkan mangsa yang besar usai pengorbanannya yang tak main-main. Pramusaji restoran itu kemudian meninggalkan meja dua orang pemuda itu. Sembari menunggu hidangan makan malam mereka, keduanya saling memuji penampilan masing-masing. Tak hanya itu, mereka juga merasa memiliki ketertarikan yang sama. Hanya saja Hendra hanya tertarik dengan tubuh wanita di hadapannya. Bukan mencintai wanita itu seperti halnya mencintai seorang wanita yang selalu ada dalam pikirannya sejak lama. “Untuk mempersingkat waktu, katakan ... Apa yang sebenarnya kau inginkan?” tanya Aretha langsung pada intinya. “Aku ingin kamu membantuku,” jawab Hendra. “Apa yang akan aku dapatkan jika berhasil mewujudkan keinginanmu?” tantang wanita itu lagi. “Aku akan mengabulkan keinginanmu,” jawab pria itu. “Bahkan jika aku ingin menghabiskan malam ini denganmu?” tantang wanita itu dengan sangat berani. Hendra menganggukkan kepalanya. Pria itu bahkan dengan senang hati akan mengabulkan keinginan wanita itu. Bukankah itu adalah sebuah keberuntungan karena bisa menikmati tubuh wanita itu tanpa perlu meminta bahkan memaksa? Wanita itu bahkan dengan sukarela menyuruhnya mencicipi madu yang akan disuguhkan oleh wanita itu malam ini. “Dengan senang hati aku akan melayanimu. Malam ini aku milikmu,” ujar Hendra seraya tersenyum. Tak lama kemudian, pesanan mereka dihidangkan. Mereka menikmati makan malam mereka sebelum mereka melanjutkan pembicaraan mereka selanjutnya di sebuah kamar yang penuh kehangatan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN