“Jangan salahkan aku jika melakukan kekerasan pada kalian,” ujar Amanda yang saat ini telah berubah menjadi tak memiliki perasaan.
“Kamu sungguh anak yang tak tahu berterima kasih,” ujar Renata geram.
“Aku tak perlu berterima kasih kepadamu karena kamu bukan siapa-siapa ku. Terlebih kau yang telah merebut ayahku. Apa kau bangga memiliki predikat sebagai perebut suami orang?”
“Kamu!” Renata menunjuk Amanda tepat di depan wajahnya. Namun, wanita itu tak berani menyentuh anak tirinya itu.
“Sayang!” rengek wanita itu kepada Ryan.
“Diamlah!” bentak pria itu kepada istri mudanya.
“Ke mana kami harus pindah? Kau tahu kalau kami tak mendapatkan sedikit pun dari warisan itu. Setidaknya kau memberikan kami hunian dan pekerjaan sebagai bentuk rasa kemanusiaan.”
Amanda tersenyum miring. Ia menggelengkan kepalanya perlahan. Sesuai dugaan, mereka pasti akan meminta hunian dan pekerjaan dengan berbagai macam alasan.
“Aku telah menyiapkan rumah untuk kalian. Kalian bisa pindah ke sana. Dan untuk pekerjaan, aku hanya bisa memberikan masing-masing dari kalian pekerjaan di kantor cabang.”
“Apa? Di kantor cabang? Yang benar saja!” seru Ryan tak terima.
“Kau berniat untuk menyiksa kami dengan menempatkan kami di kantor cabang bukan?” ujar Renata yang sangat kesal.
“Bibi, kantor cabang tak seburuk itu. Kecuali kalian yang membuat kantor cabang menjadi tempat yang buruk.”
“Untuk hunian kalian, aku telah menyiapkan rumah yang cukup nyaman dan besar meski tak sebesar rumah ini. Jadi, apa itu masih disebut sebagai bentuk penyiksaan?” lanjut gadis muda itu lagi.
“Baiklah. Kami akan berkemas dan pindah siang nanti.”
“Aku akan memeriksa barang-barang yang akan kalian bawa nanti. Ingat! Jika ada di antara kalian yang membawa barang milik kakek, jangan salahkan aku bersikap kasar pada kalian!” ancam Amanda kepada keluarganya.
Amanda berulang kali menguatkan hatinya agar tak mudah dibujuk dan merasa kasihan kepada mereka yang tak memiliki belas kasih. Gadis itu juga ingin memberi pelajaran kepada keluarganya bahwa kekayaan itu hanya sementara dan mudah hilang.
Amanda kemudian berjalan menuju ke kamar ibunya, meninggalkan anggota keluarga yang lain yang masih tampak berdiskusi usai kepergian ya ke dalam rumah itu. Gadis itu mengetuk pintu kamar ibunya yang tertutup. Dia yakin kalau ibunya masih belum tertidur. Ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh wanita itu kepada ibunya.
Saat ketukan ketiga, pintu kamar di hadapan gadis itu terbuka. Seorang wanita yang usianya lebih muda daripada dirinya membuka pintu ruangan itu.
“Bisa aku menemui ibu?”
“Masuklah, Kak.”
“Tolong kunci pintunya,” ujar Amanda kepada adik bungsunya yang juga berada di dalam kamar itu.
Gadis muda itu menuruti apa yang dikatakan oleh kakaknya. Dia mengunci pintu kamar itu agar tak ada orang lain yang mencuri dengar pembicaraan mereka.
“Ibu.”
“Kemarilah, Nak,” ujar wanita paruh baya itu.
“Aku merindukanmu. Maafkan aku yang tiba-tiba membuatmu khawatir,” Amanda meminta maaf kepada ibunya karena dia selalu membuat ibunya merasa sedih.
“Yang penting kau baik-baik saja, Amanda. Ibu akan mendukung apa pun yang kau lakukan,” ucap wanita itu seraya tersenyum.
“Ada yang ingin Amanda sampaikan.”
Wanita itu menatap wajah ibunya. Entah mengapa gadis itu merasa sedih saat melihat wanita yang saat mudanya sangat cantik itu menanggung kesedihan karena dirinya yang menjadi anak yang tak diharapkan.
“Mengenai rumah ini?” tebak wanita itu lagi.
Amanda menganggukkan kepalanya. “Maaf karena aku tak mungkin membiarkan ibu di rumah ini juga. Aku hanya tak ingin ibu berada dalam situasi berbahaya. Dan juga aku tak ingin Anandita berbuat semena-mena.”
Diandra menganggukkan kepalanya. Meski dengan berat hati, Bagaimana pun juga dia harus meninggalkan rumah besar itu. Dia yakin kalau keputusan yang diambil oleh anaknya itu bukanlah hal mudah. Oleh karena itu dia tak banyak protes saat putrinya memintanya untuk pergi juga dari rumah itu.
“Ibu mengerti. Kamu tak perlu khawatir. Yang penting kau jaga keselamatan dan kesehatanmu di sini. Jangan sampai kau kalah. Dan jangan terlalu mengkhawatirkan ibu. Meski ayahmu tak memedulikan wanita tua ini, dia tak akan mungkin tega membunuhku. Biasanya dia akan mengucap kata kasar atau mengabaikan ku seperti sebelumnya,” ujar wanita yang melahirkan Amanda ke dunia itu.
Gadis itu kemudian memeluk ibunya dengan sangat erat. Bulir bening di sudut matanya turun tanpa ada yang menghalangi. Pemandangan mengharukan itu tak lepas dari pandangan Andini si bungsu yang juga mulai paham mengapa kakaknya jadi orang yang tega kepada keluarganya. Hanya saja dia tak berani menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
“Amanda sebenarnya membelikan rumah lain untuk ibu dan juga Andini. Amanda membeli rumah itu atas nama Ibu. Untuk berjaga-jaga takut mereka memanfaatkan Ibu atau menyakiti Ibu dan juga Andini.”
“Kau telah menyiapkan sebanyak itu, Nak. Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Diandra kepada putri pertamanya.
“Amanda tak bisa menceritakan seluruhnya, Bu. Hanya saja semua ini Amanda lakukan untuk kebaikan kalian,” ujar gadis itu seraya menunduk.
Wanita paruh baya itu kemudian mengusap pucuk kepala putrinya yang menyembunyikan wajahnya.
“Semoga kebaikanmu akan mendapat balasan yang baik,” ujar wanita itu mendoakan putrinya.
Mereka pun tersenyum dan berpelukan. Setelah mengurai pelukan, Gadis itu pamit kepada ibunya usai memberitahu alamat rumah yang disiapkan untuk wanita paruh baya itu.
Amanda pun pamit pergi dari rumah itu. Dia akan pergi ke kantor Hadiningrat grup untuk meninjau perusahaan dan juga berkas-berkas baru yang perlu ia tandatangani.
***
Sementara itu Hendra baru saja tiba di rumahnya. Rumah itu tampak sepi. Meski mengetahui bahwa sehari sebelumnya pria itu menikah, tak ada sambutan dari saudara dan kerabat pria itu di rumahnya.
(Beruntung Amanda tak ikut dengan pria itu ke rumahnya)
Dengan langkah gontai, pria itu berjalan menuju pintu utama yang tertutup. Di dalam rumah yang cukup mewah itu hanya ada dirinya dan mamanya. Sementara adik dari pria itu lebih memilih tinggal di apartemen mewah tak jauh dari tempat mereka bekerja.
Pria itu membunyikan bel rumah itu. Hingga tiga kali, tak ada tanda-tanda pintu besar itu akan terbuka. Pada akhirnya lelaki itu merogoh ponsel di sakunya, menghubungi mamanya yang sudah bisa dia pastikan kalau ada di rumah itu.
“Mama di mana?” tanya pria itu saat mendengar panggilan ponselnya terhubung.
“Mama sedang di rumah. Kenapa?” tanya seorang wanita di seberang panggilan.
“Buka pintunya. Hendra ada di depan rumah.”
Terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah itu. Tak lama kemudian, pintu besar itu terbuka menampilkan sesosok wanita paruh baya yang menoleh ke kanan dan kiri memastikan kalau anak lelaki pertamanya itu datang sendiri.
“Apa yang sedang Mama lakukan?” tanya pria itu saat melihat tingkah aneh mamanya.
“Tidak ada. Masuklah!” ujar wanita itu setelah memastikan kalau tak ada orang lain selain mereka.
“Mama seperti orang yang tengah dikejar oleh penagih hutang saja,” ujar pria itu yang kemudian merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu itu.
“Benar apa yang kau katakan. Ada seseorang yang sedang mencari mamamu ini.”
“Siapa? Mungkin Mama berhalusinasi. Hendra tak memiliki hutang meski perusahaan saat ini sedang dalam kondisi terancam.”
“Lalu, bagaimana dengan istri dungu yang beberapa hari lalu kau nikahi itu?”
“Ternyata dia tak mudah untuk dibodohi. Dia mengancam akan menceraikan ku jika dia bertemu denganku lagi.”
“Bagaimana bisa seperti itu?” tanya wanita paruh baya itu.
“Dia memergokiku tengah bermain-main dengan wanita lain di hotel.”
“Lalu?”
“Sebenarnya dia memberiku dua pilihan.”
“Apa pilihannya?” ujar wanita itu menahan geram.
“Dia menyuruhku bercerai dan menerima sejumlah uang atau tak bercerai namun tak diizinkan bertemu,” ujar pria itu.
“Lalu kau memilih yang mana?”
“Aku memilih pilihan ke dua.”
Wanita paruh baya itu kemudian memukul kepala pria itu menggunakan bantal sofa yang ada di dekatnya. Wanita itu tak habis pikir dengan anaknya. Bukankah lebih baik kalau memilih pilihan pertama, sehingga mereka bisa menggunakan uang itu untuk membangun kembali perusahaan mereka?
“Ma! Aku punya alasan kenapa tak memilih pilihan pertama.”
“Alasan apa lagi? Kau sungguh tak berguna! Untung saja papamu saat ini sedang tak ada di rumah.”
“Ma! Coba dengar penjelasan ku dulu!”
Hendra meminta ibunya untuk berhenti memukulinya. Pria itu tak mungkin bisa melawan ibunya yang menyerangnya tanpa henti.
“Katakan, apa rencana mu!” ujar wanita itu.
“Apa Mama tak pernah memikirkan untuk memanfaatkan nama Hadiningrat untuk keuntungan kita? Tak mengapa aku tak mendapatkan wanita itu. Tapi setidaknya kita bisa menggunakan namanya untuk berbagai hal. Dengan mengaku kalau aku adalah suami dari Amanda Hadiningrat, segala urusan akan lebih mudah.”
Mamanya tampak berpikir. Perkataan anak lelakinya itu ada benarnya juga. Amanda tak mungkin mengelak kalau mereka menggunakan namanya dan mengeruk keuntungan dari wanita itu. Dan kalau pun wanita itu menolak menemui putranya, dia bisa menjadi wakilnya untuk menghubungi menantunya itu dan bernegosiasi dengannya.
Namun, tak ada yang menyangka kalau tak semudah itu jika berurusan dengan Amanda.
“Bagaimana kalau cara itu tak berhasil?” tanya wanita itu lagi.
“Mama tenang saja, Hendra memiliki rencana cadangan agar wanita itu tak bisa mengelak saat kita memanfaatkan status hubungan kami,” ujar pria itu menyeringai.