Malam itu, Airlanda memiliki pertemuan dengan kolega bisnisnya di hotel mewah di kota itu. Hotel Airlangga adalah milik perusahaan Hutama. Oleh sebab itu dia tak perlu membuat janji temu di hotel lain karena hotel milik ya merupakan hotel yang sangat bagus dibanding yang lainnya di kota itu.
Usai bertemu dnegan rekan bisnisnya, tanpa sengaja dia melihat kompetitornya juga ada di hotel itu. Mereka juga mendekati pria yang baru saja bertemu dengannya itu.
Siapa sangka, kompetitor perusahaannya itu mengatakan kalau sudah menyiapkan sebuah hadiah di kamar pribadinya di hotel itu.
“Aku harap Anda bisa menghabiskan malam yang begitu menyenangkan,” goda pria itu.
Mereka tahu kalau sebenarnya Airlanda tak pernah bermalam dengan wanita mana pun. Oleh sebab itu tanpa pria itu sadari, mereka telah memberikan sesuatu ke dalam minuman pria itu.
Serbuk putih yang bisa membakar gairah seorang pria jika mendapati lawan jenisnya di hadapannya.
Mereka yakin kalau Airlanda adalah pria normal. Oleh sebab itu mereka yakin kalau hadiah spesialnya itu tak akan salah sasaran.
Setelah pertemuan itu, Airlanda kembali menuju kamarnya. Kamar yang biasa dia gunakan itu adalah kamar khusus miliknya. Dia selalu menggunakan kamar itu saat dia merasa lelah dan enggan kembali ke rumah utamanya.
Saat berjalan melewati koridor yang menuju ke arah kamarnya, dia berpapasan dengan seorang pramusaji yang tampak tak biasa. Sepertinya pramusaji itu adalah orang baru karena pria itu tak pernah melihat wanita itu sebelumnya.
Tanpa rasa curiga, Airlanda berjalan menuju kamarnya yang berada di ujung koridor lantai itu.
Pria itu terkejut saat mendapati pintu kamarnya dalam keadaan tak terkunci. Tak biasanya petugas layanan kamar lupa mengunci pintu kamarnya. Untung saja hanya ada dua kamar di lantai itu. Kamar VIP yang hanya bisa diakses olehnya dan member VIP yang sangat jarang ke sana.
Airlanda mengedarkan pandangannya. Sesuatu yang bergerak Di atas ranjangnya mengalihkan perhatiannya. Dia memasang alarm bahaya pada tubuhnya. Saat ini dia dalam keadaan waspada. Bisa saja saat ini di balik selimut itu adalah musuh yang kapan saja siap menyerangnya.
Pria itu sedikit heran saat mendapati sepasang sepatu wanita tampak tergeletak tak jauh dari ranjang itu.
Pada akhirnya Airlanda mendekat ke arah tempat tidur itu. Dia kemudian menyibak selimut yang ada di atas ranjang dan mendapati seorang wanita di dalamnya meliuk-liuk seperti ular kepanasan.
Airlanda membiarkan wanita itu begitu saja di atas ranjangnya sementara dia memilih untuk berganti pakaian karena merasa gerah usai minum bersama dengan koleganya.
Siapa sangka wanita yang dia anggap lemah itu kini menjadi musuh paling beringas yang menyerangnya. Meski tak menggunakan senjata, wanita itu mendekat ke arahnya dan entah dia sadar atau tidak, gadis itu menyerang Airlanda dengan kecupan yang membekas di anggota tubuh pria itu.
Airlanda yang juga merasa gerah malam itu, tanpa dia sadari mulai terbawa suasana.
Dia terlambat menyadari kalau ada sesuatu yang salah dalam minuman yang telah diberikan oleh rekan bisnisnya.
“Sial!” umpat pria itu.
Entah kenapa dia merasa tubuhnya sangat panas dan merasa nyaman saat kulitnya bersentuhan dengan wanita itu.
Tak hanya itu, Airlanda melihat wanita itu dengan kasarnya merobek pakaiannya sendiri dan melemparkannya begitu saja ke sembarang arah.
“pakai kembali bajumu!” ujar Airlanda sembari berusaha mencegah wanita itu melucuti pakaiannya sendiri.
“Kau tak tahu kalau kamar ini sangat panas? Hm?” ujar wanita itu tak dapat dicegah.
Airlanda membulatkan kedua matanya saat melihat seorang wanita yang hanya mengenakan pakaian dalamnya berada di hadapannya. Bahkan mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Gadis itu saat ini duduk di atas pangkuan Airlanda yang tak berdaya.
“Baiklah, kalau itu maumu, aku akan mengabulkannya,” ujar pria itu yang kemudian mengikuti permainan Amanda yang saat itu sedang dalam pengaruh obat.
Mereka tak mendengar keributan yang ada di kamar lain yang bersebelahan dengan kamar mereka. Di kamar lain, Hendra tampak marah dan kecewa karena apa yang telah ia rencanakan gagal. Pria itu meninggalkan wanita yang ada di kamar lain begitu saja. Dia tak berminat dengan wanita lain yang belum pernah ia kenal. Meski wanita itu sangat menggoda dan tampak berpengalaman.
***
Setelah apa yang terjadi di malam hari, Airlanda yang baru saja mendapat serangan dari orang asing itu kembali menuju kamarnya. Dia yakin kalau penembak itu masih ada di tempat yang sama. Dia ingin mendapatkan lokasi akurat orang yang menembaknya itu. Hampir saja dia membuat orang tak bersalah menjadi korbannya.
Dan seperti biasa, hal itu seperti telah direncanakan. Usai mengirim wanita ke kamarnya, mereka akan berusaha melenyapkan wanita yang telah menemani Airlanda.
Entah apa motifnya, pria itu masih belum bisa memecahkan misteri dibaliknya.
Airlanda saat ini sudah bersiap menuju kantornya. Pria itu hanya mengenakan pakaiannya semalam kecuali kemejanya. Dia tak memiliki kemeja ganti lain selain yang dipakai oleh wanita yang kini telah pergi lebih dahulu. Meski tanpa mengenakan kemeja di dalamnya, Airlanda tetap tampak menawan karena tubuh kekarnya yang menjadi pujaan setiap wanita.
Hanya saja saat mereka melihat ada luka di wajah pria itu, para wanita yang berniat mendekatinya akan mundur dengan sendirinya. Namun, entah mengapa hal itu tak berlaku dengan Amanda.
Bagi pria itu, gadis yang menghabiskan malam panjang dengannya itu sangat unik. Dari kepribadiannya sudah bisa ia tebak kalau wanita itu bukan orang kalangan biasa. Dan tak mungkin kalau wanita itu sengaja memanjat ke atas ranjangnya mengingat perlakuannya tadi pagi yang menimbulkan panas di salah satu pipinya.
Sepanjang perjalanan menuju kantornya, Airlanda membayangkan wanita itu. Wanita yang sangat tangguh di mata pria itu.
“Siapa sebenarnya kamu, Amanda.”
Tak terasa mobil berhenti di depan lobi perusahaan Hutama. Pria itu menatap ke arah karyawannya yang saat ini berbaris dengan sangat rapi untuk menyambutnya. Padahal tak ada yang meminta mereka untuk melakukan hal itu.
Asisten pria itu begitu sigap menyambut kedatangan Airlanda di lobi kantor. Pria itu kemudian membacakan jadwal atasannya sembari berjalan menuju ruangannya.
“Hari ini kita akan memiliki janji temu dengan pemimpin perusahaan Hadiningrat.”
“Aku dengar pimpinan perusahaan itu sudah berganti. Seorang wanita yang memimpin perusahaan itu. Apa itu benar?”
“Benar, Tuan.”
“Apa kau memiliki profil wanita itu?” tanya Airlanda kepada Asistennya.
“Tidak ada yang tahu seperti apa rupa wanita itu, Tuan. Wanita itu sangat misterius. Dia adalah pewaris tunggal Hadiningrat sehingga semua akses informasi tentang dirinya dihalau oleh pihak Hadiningrat.”
“Dia membuatku penasaran. Baiklah. Atur pertemuan dengan mereka. Aku akan datang menghadiri pertemuan itu,” ujar Airlanda.
Asisten pria itu kemudian izin undur diri untuk meninggalkan ruangan. Dia akan kembali menuju ruangannya yang terletak di samping ruangan atasannya itu.
Airlanda mengangguk. Tugas asistennya pagi itu sudah cukup. Masih banyak hal lain yang akan dikerjakan oleh pria itu.
Tak lama kemudian, telepon yang ada di meja pria itu berbunyi. Lelaki itu pun mengangkat panggilan telepon yang ternyata dari sekretarisnya itu.
“Maafkan saya mengganggu, Tuan. Tuan Besar ingin bertemu dengan Anda,” ujar sekretaris itu.
“Biarkan papa masuk,” ujar pria itu.
Airlanda kemudian memasang wajah datarnya. Dia tak ingin ayahnya melihat dirinya yang tengah memikirkan seorang wanita. Dia juga tak ingin ayahnya mengetahui kalau dia menghabiskan waktu di malam hari dengan seorang wanita untuk pertama kalinya.
“Mengapa kau tak pulang ke rumah?” ujar pria paruh baya itu saat pertama kali menemui Airlanda.
“Bukankah selama ini tak penting bagi papa apakah aku pulang atau tidak?”
“Kau salah! Sejak dulu aku selalu mengkhawatirkan kamu. Hanya saja mungkin caraku berbeda.”
“iya. Sangat berbeda. Kau menyembunyikan ku seolah aku tak ada karena tak ingin kau jadikan sebagai penerus keluarga ini.
“Kau boleh berkata seperti itu. Hanya saja itu bukan hal sesungguhnya.”
“Maafkan aku, Papa. Hanya saja kenangan masa kecil itu selalu sama. Kejadian itu seolah enggan pergi dari kehidupanku,” ujar pria itu lagi.
“Papa yang seharusnya meminta maaf padamu. Dan juga berterima kasih kepadamu atas apa yang kau lakukan untuk membuat perusahaan kita bangkit.”
“Aku hanya melakukan ini karena mendiang kakak,” ujar pria itu menoleh ke arah lain. Dia tak ingin membuat pria paruh baya itu kembali mengkhawatirkan dirinya.
Tak hanya itu, Airlanda benar-benar merindukan kakaknya. Anak lelaki itu sudah sejak lama dididik menjadi calon pewaris keluarga. Namun, siapa sangka keberuntungan tak berpihak padanya.
Kakak laki-laki satu-satunya pria itu lebih dahulu pergi meninggalkan mereka.
“Pulanglah ke rumah sesekali. Apa kau tak merindukan pria tua ini? Ujar ayah pria itu.
“Ada urusan apa Anda datang kemari?” tanya Airlanda kepada sang ayah.
“Aku hanya ingin melihat perusahaan,” ujar pria itu.
Airlanda menganggukkan kepalanya.
“kalau begitu, silakan nikmati tur perjalanan Anda,” ujar pria itu.
Airlanda kemudian berbalik dan berjalan menuju meja kerjanya di ruangan itu. Dia mengabaikan sang ayah yang diam-diam bersedih, menyesal karena perbuatannya yang mengabaikan pria itu saat anaknya itu masih kecil.
“Apa yang bisa Papa lakukan untuk menebus kesalahan Papa padamu?” tanya pria yang rambutnya sudah mulai memutih itu.