Dua puluh tahun lalu ...
Malam itu adalah malam di mana seharusnya mereka bergembira. Jarang sekali mereka bisa berkumpul bersama. Empat anggota keluarga utama itu berencana untuk makan malam bersama. Semua telah tersedia di atas meja begitu pula dengan makanan yang akan menjadi hidangan malam itu. Mereka hanya perlu menunggu sang kepala keluarga yang belum datang bekerja meski Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam.
Malam itu seharusnya adalah malam yang indah dan tak mungkin tergantikan. Namun siapa sangka Kalau malam itu berubah menjadi malam yang Tak terlupakan karena menyisakan kenangan kelam bagi keluarga itu.
Usai menyiapkan makan malam, wanita satu-satunya di keluarga itu tengah menunggu kedatangan suaminya yang kabarnya akan tiba terlambat. Mereka dengan setia menanti kedatangan pria dewasa yang selama ini bekerja membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka.
“kapan papa akan pulang Ma?”
“Katanya dia akan tiba 30 menit lagi.”
“makan malam kita sudah mulai dingin, Ma,” ucap anak lelaki yang paling kecil.
“Mama akan memanaskan makan malam kita sebelum Papa kalian datang.”
“Bukankah mama berkata kalau Papa akan tiba 30 menit lagi? Mengapa kita tak memanaskannya sekarang?” Ucap salah seorang anak yang lebih tua.
“kamu benar. Akan lebih baik menghangatkannya terlebih dahulu sekarang.”
Wanita itu kemudian kembali meletakkan sup yang sudah mulai dingin ke atas panci yang dia letakkan di atas kompor lalu dia menyalakan kompor itu dengan api sedang.
Mereka kemudian berinisiatif untuk menunggu kedatangan Papa mereka di depan rumah. Tanpa mereka sadari kalau mereka melupakan sup yang sedang dipanaskan di atas kompor.
Kepala keluarga Hutama itu tak kunjung tiba. Sudah hampir 1 jam mereka menunggu pria itu.
“Mengapa Papa tak kunjung pulang Ma?”
Wanita itu menggelengkan kepalanya. Dia juga tak tahu apa yang membuat suaminya tak kunjung pulang. Wanita itu kemudian menghubungi ponsel suaminya. Namun wanita itu tak mendapat jawaban.
“Apa kau mencium bau sesuatu, Ma?” tanya anak pertamanya.
“Ya ampun, Mama lupa kalau mama menghangatkan sup di atas kompor.”
Mereka pun berlari menuju dapur dan berusaha mematikan kompor dan memadamkan api yang sudah menyala di atas panci yang telah gosong.
Namun, siapa sangka kalau api itu justru semakin membesar. Api itu dengan cepat menyebar ke seluruh dapur rumah. Benda-benda yang terbuat dari kain, kayu dan benda lain yang mudah terbakar semakin membuat bara api kian tak terkendali.
Wanita itu pun panik. Dia bergegas membawa anak pertamanya yang ada di sebelahnya keluar dari rumah itu. Dia melupakan anak keduanya yang masih terjebak di dalamnya.
“Airlanda!” seru anak lelaki yang sudah berhasil keluar dari rumah itu.
“Kamu tunggu di sini Mama akan menyelamatkan adikmu.”
Wanita itu kemudian berlari kembali ke dalam rumah yang apinya mulai membesar. Dia tak peduli akan keselamatannya. Yang dia pikirkan hanya anaknya yang saat ini terjebak ada di dalam rumah itu.
Tak lama kemudian sebuah mobil tiba di depan rumah yang terbakar itu.
Lama-kelamaan banyak warga yang berkerumun di sekitar rumah itu. Beberapa di antara mereka menghubungi tim pemadam kebakaran agar segera menuju lokasi kebakaran dan menyelamatkan orang yang terjebak di dalamnya selain memadamkan api yang membara.
“di mana mama dan adikmu?”
“Mereka terjebak di dalam rumah itu, Pa!”
“Aku akan membantu Mama menyelamatkan adik, Pa.”
Lelaki kecil itu kemudian berlari menuju rumah yang terbakar itu berniat ingin menyelamatkan adik dan juga mamanya. Namun Siapa sangka api yang awalnya sangat kecil menjadi begitu besar dalam hitungan detik. Tiga orang anggota keluarga Hutama itu terjebak di dalamnya.
Mobil petugas pemadam kebakaran baru saja tiba di lokasi kejadian. Maka bertugas mengamankan lokasi dan melakukan tindakan penyelamatan bagi mereka yang terjebak di dalam rumah itu.
Mereka sedikit kesulitan karena api yang sudah sangat besar membakar apa pun yang mudah terbakar di dalam rumah.
Airlanda yang berniat lari melalui jendela kamarnya terjebak di dalam ruangannya sendiri, dia berteriak memanggil Kakak dan mamanya.
Tak ada yang menjawab panggilannya. Hingga pada akhirnya dia melihat ada seseorang yang berjalan ke arahnya yang ternyata itu adalah seorang petugas pemadam kebakaran.
Lelaki kecil itu menanyakan kepada Paman pemadam kebakaran itu di mana mama dan kakaknya. Akan tetapi pria itu tidak dapat memberikan jawaban atas pertanyaan anak kecil itu.
Airlanda kemudian diserahkan kepada papanya yang berada di luar rumah hanya menatap bangunan yang terbakar itu. Lelaki kecil itu berteriak dan meronta ingin mencari mamanya di dalam rumah.
“Tenanglah, Airlanda! Mereka pasti bisa menyelamatkan Mama dan kakakmu,” ujar pria itu sembari memegang anaknya dengan sangat erat.
"Semua ini salah Papa! jika Papa tidak datang terlambat coba tangan itu tidak akan terjadi mama dan juga Kakak tidak akan terjebak di dalamnya!"
Lelaki itu tak bisa berkata apa-apa lagi. Secara tak langsung ia adalah penyebab dua orang itu terjebak di dalam bangunan rumahnya karena dia yang tak kunjung pulang untuk makan malam bersama seperti yang telah dijanjikan. Dia tak menyangka kalau keluarganya akan menunggu kedatangannya yang saat itu lebih mementingkan pekerjaan di ruangannya yang begitu banyak.
"Maafkan Papa, Airlanda,” ujar pria itu sembari memeluk putranya.
Melihat api yang semakin membesar membuat pria itu tak yakin akan keselamatan istri dan anak pertamanya. Dia memilih ikhlas akan hasil akhir atas anak dan istrinya itu.
***
istri dari Desta Hutama, dikabarkan menjadi korban dalam kecelakaan kebakaran yang terjadi di malam hari begitu pula dengan anak pertamanya yang dikabarkan akan menjadi pewaris dari perusahaannya itu. Itu hanya memiliki anak keduanya Tak memiliki kemampuan apa-apa jika dibandingkan dengan anak pertamanya yang begitu cerdas. Pria itu tak tahu kalau anak keduanya lebih Jenius dibanding dengan kakaknya. Hanya saja anak lelaki itu menyembunyikan kemampuannya karena selalu dipandang sebelah mata oleh papanya.
Pria itu kemudian mengajari Airlanda untuk mengelola perusahaan. Siapa sangka kaya itu sudah memahami seluk-beluk perusahaan meski tanpa diajarkan dari awal. Diam-diam anak lelaki Desta itu membuka buku-buku tentang bisnis perusahaan yang diberikan oleh papanya kepada sang kakak.
Mereka sengaja tak memberi tahu lelaki paling muda di keluarga itu agar anak lelaki itu tumbuh sesuai dengan usianya. Namun sekali lagi hal itu ada di luar dugaan. Airlanda tumbuh dewasa lebih cepat dibanding anak seusianya.
***
Airlanda memijat pangkal hidungnya saat mengingat kejadian di malam mengerikan yang telah membuat orang-orang tercintanya pergi dan tak pernah kembali.
Lelaki itu saat ini telah bersiap untuk bertemu dengan pewaris utama keluarga Hadiningrat. Sebuah kesempatan langka bagi mereka untuk bisa bekerja sama dengan keluarga itu. Keluarga itu adalah keluarga paling kaya yang kekayaannya melebihi milik keluarganya. Banyak perusahaan yang berusaha menggandeng perusahaan itu untuk kerjasama saling menguntungkan. Hanya saja perasaan itu begitu pemilih. Tak semua perusahaan berhasil menjalin kerjasama dengan perusahaan raksasa itu.
Menurut informasi yang dia dapatkan. Pewaris utama keluarga Hadiningrat itu, adalah seorang wanita yang sangat disiplin waktu. Dia tak pernah menyia-nyiakan waktunya untuk hal tak berguna.
Gadis itu dididik langsung oleh kakeknya untuk bersiap menjadi pewaris semua aset dan kekayaan kakeknya itu. Mendiang kakeknya itu seolah mengetahui bahwa hanya cucunya itu yang bisa menjaga aset miliknya agar tak jatuh ke tangan yang orang yang salah.
Menurut informasi yang didapatkan oleh anak buahnya, Airlanda mengetahui bahwa wanita itu seringkali mengadakan pertemuan dengan akan bisnisnya di hotel Airlangga.
Pria itu tak perlu susah payah lagi untuk mengatur tempat bertemu dengan tamu pentingnya hari itu.
Airlanda sudah menunggu kedatangan Amanda sejak Lima belas menit yang lalu. Pria itu tak ingin rekan bisnisnya terlalu lama menunggu.
Pria itu menatap ke arah pintu lift yang terbuka. Dari dalam kotak besi itu, ada sesosok wanita yang berjalan dengan dua orang pengawalnya dan satu asistennya keluar dari kotak lift itu.
Dia membulatkan kedua matanya saat mendapati bahwa wanita yang konon katanya pewaris tunggal keluarga Hadiningrat itu adalah wanita yang tangguh.
"Apakah dia yang merupakan pewaris keluarga Hadiningrat?" gumam Airlanda.
Mengingat perkataan asistennya, pria itu kini menganggukkan kepalanya. Mengingat apa yang terjadi di malam sebelumnya, Airlanda mengakui kalau wanita itu memang seorang wanita yang tangguh. Bahkan saat berada di atas ranjang semalam, wanita itu sangat tangguh hingga mereka melakukannya dengan sangat bersemangat.
Airlanda menyunggingkan senyum kepada wanita yang berjalan di hadapannya itu. Dia kemudian mengulurkan tangannya ke hadapan wanita itu.
Amanda menyambut uluran tangan pria itu dan bersalaman dengannya sebagai sebuah bentuk hormat kepada rekan bisnisnya.
“Maaf sudah membuatmu menunggu,” ujar Amanda.
Pria itu tersenyum dan mengangguk. “Bukankah itu berarti kita berjodoh?”
Amanda tertawa kecil mendengar perkataan pria itu. Sejak kapan ada peraturan seperti itu?
“Apakah Anda pemilik Hutama Grup?” tanya Amanda dengan penuh wibawa.
Tak ada yang tahu kalau mereka sudah menghabiskan malam bersama. Bahkan mereka berdua bersikap seolah baru bertemu hari ini..
Pria itu menganggukkan kepalanya dan mempersilakan Amanda duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
Keduanya duduk dan mulai membahas masalah pekerjaan yang ada habisnya.
"Tunggu dulu. Apa sebelumnya kita pernah bertemu?" Pria itu seperti menyadari sesuatu.