Setelah tragedi yang tidak Sella ketahui dan sialnya lagi sewaktu dia ingin mengatakan sesuatu, justru pesan singkat dari Tama dia dapatkan. Bukan pesan yang mengirimkan beberapa kalimat pembelaan, melainkan pesan singkat dengan emot ‘love’ yang semakin membuat Sella berang.
Dari sini Sella menyakini bahwa Tama ada hubungannya dengan adanya dia di antara kerumunan Diantoro.
Sosok pria yang sangat dia hindari ternyata duduk di depannya, tepat di depan matanya dengan kerlingan mata yang sama bingungnya. Dari sini Sella menyadari bahwa Rishan tidak mengetahui perkara datangnya dia. Karena kikuk sendiri berada di antara mereka Sella lebih memilih diam, berdiri di sebelah sofa yang diduduki oleh Mita. Karangan bunga pesanan Mita masih Sella peluk erat sebagai pelampiasan, dia tidak peduli dengan beberapa helai bunga yang lepek karena remasan tangannya.
“Duduk sini, Sell.” Sella menengadahkan kepala menatap Mita yang tersenyum kepadanya.
Merasa sedang tidak baik-baik saja Sella lebih memilih melengos enggan bertatapan terlalu lama dengan Mita. Sella sadar pria di depannya menatap dirinya dalam, hanya saja dia enggan menanggapinya.
“Saya hanya akan mengantarkan bunga, Bu,” ujar Sella memberitahu lebih awal sebelum semua orang salah paham dengan kedatangannya, apalagi dia datang membawa bunga yang bisa saja menimbulkan kesalahpahaman.
“Duduk dulu. Atau mau langsung istirahat saja?” tanya Mita mengalihkan pembicaraan Sella yang sukses membuat wanita itu mengernyit bingung. Semakin bingung saat kedatangan asisten rumah tangga meminta bunga yang berada dalam dekapannya.
Mau tidak mau Sella menyerahkan bunga itu karena tatapan Mita yang mengisyaratkan seolah menurut. Sella tidak tahu-menahu dengan situasi yang tengah dialaminya saat ini. Dia sendiri, tidak bisa meminta bantuan kepada siapa pun. Terlebih pria di depannya yang mendadak bisu dan juga tatapannya yang seolah ingin menerkamnya habis-habisan.
***
“Apa maksud Ibu?” tanya Rishan tidak mengerti dengan maksud terselubung Mita. Dia tidak tahu dengan kedatangan Sella ke rumah orangtuanya di situasi sedang ramai. Rishan bahkan tahu dengan betul tatapan Sella yang merasa tidak nyaman berada di antara mereka namun, dia tidak seberani itu untuk mendekat. Yang ada dia menggigil di sebelah Sella yang selalu bersikap dingin terhadapnya.
“Bu,” geram Rishan karena Mita seolah membisu.
Karena jengkel Rishan lebih memilih diam. Diam menatap kepergian Sella yang diantar oleh salah satu asisten rumah tangga ke dalam kamarnya, lebih tepatnya kamar Rishan.
Mita seolah tahu bahwa Rishan akan menginap di sini, atau hanya sekedar datang saja. Mita seolah sudah merencanakan hal ini dengan matang. Tanpa semua orang tahu. Dia menggunakan kesempatan emas ini untuk kembali menyatukan anak dan menantunya. Menggunakan berkumpulnya keluarga besar yang dijadikan tameng.
“Yang lain makan duluan saja, saya masih ada urusan dengan Putra saya,” ujar Mita menatap keluarganya dengan sopan yang ditanggapi anggukan oleh mereka.
“Bagaimana? Ibu rasa cukup sampai di sini. Jalan keluar sudah tertera jelas di depan mata kamu, Rishan. Ibu harap tidak lari dari masalah kalian. Terserah kamu mau menginap atau pulang Ibu nggak akan melarang, tapi jangan harap Ibu diam saja membiarkan Sella bekerja dan tinggal di tempat sempit seperti itu!”
“Jika kamu memiliki perasaan tidak seharusnya kamu membiarkan mereka hidup terlunta-lunta. Jangan egois dan bersikaplah dewasa, Rishan!”
Rasanya sangat sakit saat diri kita dihujat habis-habisan oleh orang tua sendiri. Terlebih oleh sosok ibu yang biasanya mengasihi. Mungkin memang benar dengan apa yang dikatakan oleh Mita jika dirinya terlalu egois. Memang benar jika Rishan mau dia bisa saja membawa Sella kembali pulang.
“Argh!” Rishan berteriak tidak karuan. Menjambak rambut panjangnya dengan kasar. Dia merasa tidak berguna. Percuma menjadi seorang pemimpin dari ribuan karyawan kalau dalam rumah tangga dia tidak bisa memimpin
Apa ini ada hubungannya dengan datangnya Bella yang mulai kembali dekat dengannya?
Ingat, ya, laki-laki yang dipegang adalah tanggung jawabnya. Itu yang harus Rishan .
pertanggungjawabkan.
Memilih bangkit menuju taman belakang rumahnya. Dia sebenarnya lelah namun, tidak memungkinkan untuk kembali ke apartemen dan juga dia tidak mungkin merebahkan diri di dalam kamarnya yang jelas-jelas ada Sella di sana. Suasana pasti akan terasa sangat canggung.
“Bang!” Rishan tersentak kaget saat bahunya ditepuk keras oleh sepupunya -Ikki- dia mendelik tidak suka dengan kedatangan Ikki secara tiba-tiba. Dia sedang membutuhkan waktu sendiri dan dengan datangnya Ikki yang ada justru membuat suasana semakin panas. Padahal Rishan sedang ingin mendinginkan pikiran.
“Pergi saja sana! Nggak usah ganggu saya!” usir Rishan tidak suka yang malah dibalas kekehan oleh Ikki.
“Nih.” Melemparkan sebungkus benda yang selalu menjadi pelarian oleh Rishan. Ikki tahu disaat seperti ini sepupunya selalu membutuhkan benda itu.
“Makasih,” ujar Rishan tidak bersemangat. Ikki mengendikan bahunya acuh dengan sikap Rishan.
“Masuk, gih! Dingin banget di sini. Di kamar ‘kan enak ada guling hidup.”
Ingin sekali Rishan melempar batu di sekitarnya kepada Ikki namun, sayang sepupunya itu sudah lebih dulu kabur.
“Sialan banget nggak ada yang waras!” dengus Rishan keki sendiri.
***
Paginya Sella menemukan dirinya di ranjang empuk dengan khas aroma maskulin yang sangat memabukkan. Dia menatap sisi ranjang sebelahnya yang dihuni oleh seonggok manusia. Gadis yang kemarin meneriaki namanya hingga membuat dirinya terjerembab di rumah besar ini.
Sella mencepol rambutnya yang panjang. Menyibak selimut lalu turun dari ranjang menuju kamar mandi yang tersedia di rumah ini.
Sama halnya dengan aroma kamarnya, kini aroma kamar mandi juga dipenuhi dengan pengharum yang sama.
Tanpa menghiraukan aromanya yang entah mengapa seketika membuat perutnya bergejolak Sella lebih memilih mempercepat ritualnya. Sella hanya cuci muka dan gosok gigi dia tidak mandi karena tidak memiliki baju ganti.
“Nggak usah ngaco, deh! Setelah ini lo harus pulang, Sell. Gimana pun keadaannya mas Tama berhak tanggung jawab pokoknya.” Sella ngedumel sendiri sampai tidak menyadari Selin yang tengah menatapnya.
“Nggak mandi, Kak?”
“Astaga!” kaget Sella memegang dadanya. Dia sama sekali tidak mengira Selin sudah berdiri di depannya dengan tangan yang terulur ke depan.
“Apa?” tanya Sella tanpa basa-basi.
Selin mengendikan bahunya acuh. “Dari ... pakai aja, deh, Kak. Risih tahu kalau bangun tidur nggak langsung mandi,” ujar Selin mulus. Sella menjadi curiga. Menatap Selin dengan pandangan menyelidik.
“Kalau nggak mau menerima apa konsekuensinya?” tantang Sella tidak mau asal menerima sesuatu dari orang yang baru dikenal atau bahkan ... tidak mengenal.
Memang benar tidak mengenal, ‘kan?
Selin menggaruk hidungnya yang mancung. “Nggak ada maksud apa-apa, Kak. Jadi mau, ya, dipakai?” kata Selin penuh harap.
Mau tidak mau Sella mengangguk. Mengambil baju yang diserahkan oleh Selin. Senyum lebar Selin hadiahkan karena Sella sudah mau menerima baju yang dibawanya.
Tanpa sadar seseorang yang mengintip melalui celah pintu tersenyum kecil. Sangat kecil.