Tadi malam Rishan memang menggusur Selin untuk tidur di kamarnya bersama Sella, sedangkan dia menempati kamar milik Selin. Itu pun diam-diam karena jika Mita mengetahui sudah bisa dipastikan dia akan tidur di pos satpam. Memang sangat kejam.
“Gimana?” tandas Rishan langsung ketika Selin keluar dari kamar.
“Aman, dong! Jangan lupa sama imbalannya,” ujar Selin menaikturunkan alisnya dengan lihai.
Kerlingan bola mata Rishan hadiahkan. Dia menatap sepupunya dengan garang. “Menolong saudara sendiri nggak ada ikhlasnya sama sekali kamu! Dasar bocil.” Dikata seperti itu justru membuat Selin senang bukan main.
Tangannya masih terulur di depan Rishan. “Lima aja juga nggak papa, kok,” katanya dengan santai. Tidak memperdulikan Rishan yang mendelik. Bukan masalah uangnya, melainkan akan menjadi kebiasaan. Anak kecil pegang uang segitu banyaknya.
“Kamu jadi cewek—”
‘Hoek ... hoek ... hoek ....’
“Siapa, Lin?
“Kayaknya, sih, istri Abang.”
“Hah? Gimana, Lin?” Selin memutar bola matanya malas. Tangannya masih menengadah di depan Rishan. Karena gemas sendiri alhasil dia merampas uang yang disodorkan oleh Rishan.
“Istri Abang lagi muntah! Jangan kayak orang bego, Bang!” teriak Selin. Memang sangat cerdas. Sehabis merampas uang kini pergi dengan senyum merekah. Sedangkan Rishan dia masih melongo. Tangannya pun masih mengudara. Cengo nggak tuh?
“Sella bukan, sih?” gumam Rishan. Dia masih berdiri di depan pintu tidak ada niatan masuk. Dia malah sibuk berpikir antara mau masuk atau di luar saja.
Begonya nggak kira-kira dan terkesan natural, mungkin jika Mita tahu bisa saja kepala Rishan akan benjol karena lemparan sepatu miliknya. “Sejauh ini gue baru nikah sekali dan itu pun ... astaga, Sella!” pekik Rishan menerobos masuk ke kamar.
Tanpa membuang waktu Rishan masuk ke kamar mandi mendapati Sella yang sudah tidak bertenaga. “Sella ...,” lirih Rishan meraih tubuh ramping yang sayangnya berat menuju ke ranjang. Rishan bisa melihat tatapan terkejut yang dihadiahi oleh Sella namun, bukan waktunya untuk sesi tanya jawab karena kondisi wanitanya sudah sangat lemah.
Wanitanya.
Iya, mulai saat ini Rishan harus menegaskan hatinya. Memang benar dengan tamparan Mita mengenai dirinya yang—
“Pak!” cegah Sella memegang lengan kekar Rishan yang akan mengangkat bajunya. Rishan yang tadinya akan mengoleskan minyak kayu putih pada perut istrinya seketika berhenti begitu saja. Dia seolah menyadari sesuatu bahwa mereka tidak sedekat itu. Dan mungkin bahwa Sella merasa tidak nyaman.
“Maafkan saya, Sell,” kata Rishan. Memalingkan wajahnya enggan menatap manik mata Sella yang nampak mengeluarkan buliran embun kecil.
“Sini!” panggilnya pada Rishan.
Rishan masih diam menatap cermin di depannya yang nampak lebih menggoda. Entahlah apa maksud Sella karena dia tiba-tiba saja ingin lebih dekat dengan Rishan. Sayangnya orang yang sedang didekati cuek dengan tampangnya yang terlihat sangat menyebalkan.
Karena tidak ada tanggapan Sella membelakangi Rishan. Bibirnya sudah melengkung turun, siap untuk mengeluarkan suara tangisnya.
“Nggak papa, Nak!” gumam Sella mengelus area perutnya yang masih rata. Usia kehamilan enam minggu memang belum terlihat jelas, mungkin itu juga yang membuat Rishan tidak sadar.
“Awas aja!” batin Sella berteriak ingin sekali menjambak rambut pria itu yang hitam lebat.
Jika Rishan lebih peka dan lebih melihat sekeliling mungkin dia akan dengan mudah menangkap sinyal yang diberikan orang-orang di sekitarnya. Namun, sayang sekali seorang pemimpin perusahaan yang ini bukanlah seorang pria yang cerdas.
Padahal sudah dengan jelas Mita menekankan kata ‘mereka’ yang artinya bukan hanya Sella saja, tapi susah memang berbicara dengan orang modelan Rishan. Nggak ada duanya dan sulit untuk ditebak.
‘Drtz ... drtz ... drtz ....’
“Iya?” sapa Rishan kepada si penelepon. Melirik sekilas ke arah Sella yang masih asik memunggungi dirinya.
“Apa nggak ada hari besok, Bel?” Rishan memberengut. Bisa ditebak siapa yang meneleponnya pagi-pagi. Dan entah sadar apa tidak bahwa Sella mendengar percakapan mereka yang pada akhirnya diakhiri dengan kata ‘oke’ dari bibir Rishan.
Sakit!
Ingin marah!
Tapi ... tidak berhak!
Itu yang dialami oleh Sella saat ini.
‘Cklek’
“Bapakmu mirip dakjal, Nak. Jangan mau jadi pengikutnya.” Saking kesalnya Sella tidak sadar bahwa dia menggigit gemas boneka babi berwarna merah jambu. Dan entah sejak kapan ada boneka sejenis yang dia punya di rumah, bahkan motifnya pun sama. Lihat ini jadi gemoy, setidaknya dengan ini bisa meredakan sedikit emosinya.
“Memang nggak seharunya berharap lebih. Dasar laki!” oceh Sella dia merasa geregetan sendiri. Mana ada suami yang lebih memilih meninggalkan istrinya demi seorang mantan. Mantan tunangan lebih tepatnya, tapi nggak gitu juga caranya kalau memang ingin melepaskan harusnya bilang dari awal, dong.
Yang ada Sella sudah seperti dipermainkan? Atau justru ada sosok lain yang mempermainkan? Kita tidak tahu, tapi akan segera tahu. Tidak akan lama lagi. Dan Sella pastikan lepas dari itu dia akan—
“Ibu kira kamu masih tidur,” kata Mita melangkah masuk ke dalam kamar anaknya. Mendapati langkah kaki ibu mertuanya membuat Sella dengan segera bangkit dari acara berbaring. Akan terlihat tidak sopan.
“Maaf, Bu.” Nggak tahu kenapa, tapi Sella merasa dia perlu mengatakan permintaan maafnya.
Mita tersenyum maklum. Dia memaklumi karena mungkin Sella masih butuh adaptasi dengan lingkungan barunya. “Belum mandi?” Sella menggeleng. Dia merasa malu. Asli sangat malu. Ditanyakan hal sensitif oleh orang yang sensitif pula.
“Rishan ke mana?” Sella menggeleng ragu. Agak aneh rasanya jika sebagai istrinya justru tidak tahu ke mana perginya Rishan. Yang jelas Sella malas bertanya dan Rishan tidak ada inisiatif untuk memberitahu.
Mungkin jika situasinya memang baik, bisa saja Rishan berbasa-basi meski tidak ditanggapi, tapi mereka sedang dalam tahap tidak baik-baik saja, jadi akan sangat canggung saat Rishan bersikap sok dekat. Pikir Sella.
“Ibu ke bawah dulu nanti ada mbak yang datang bawakan kamu sarapan. Di kamar saja, ya, sama Selin. Jangan naik turun tangga. Besok Ibu minta Rishan buat pindah kamar,” ujar Mita panjang lebar seolah tidak mempersilakan Sella menyela, bahkan dengan gamblangnya berbicara seolah Sella sudah setuju dan parahnya lagi Sella hanya diam seperti patung. Tidak mengangguk atau menggeleng.
“Kayaknya ada kesalahpahaman di sini!” cetus Sella ketika Mita sudah keluar dari kamar. Karena mana mungkin dia berani berkata demikian di depan Mita, yang ada langsung dicoret dari daftar menantu, meski itu yang Sella inginkan.
Niat datang untuk mengantar bunga justru terdampar di sini semalam. Dan parahnya lagi ke mana Tama. Aneh, Sella sudah pusing rasanya merangkai sedemikian rupa.