Sella terdiam, benar-benar diam. Setelah hampir tiga jam di kamar saja, terhitung setelah sarapan. Kini, dia memberanikan diri untuk turun ke lantai dasar, bersama Selin yang berjalan di sampingnya. Memantau jalannya Sella takut jika suatu waktu terpeleset di atas tangga.
Selin sendiri sudah diberitahu oleh Mita perihal kehamilan Sella, itu pun tidak semua anggota keluarga tahu, hanya beberapa saja, dan sialnya Rishan tidak mengetahui akan hal itu.
“Kok berhenti, Kak?” tanya Selin heran karena Sella berhenti yang mana artinya dia juga berhenti. Maka dari itu Selin bertanya siapa tahu ada sesuatu.
Gelengan Sella perlihatkan. Dia menatap Selin seolah mengatakan ‘tidak’ padahal Selin tidak mengetahui apa yang dimaksud oleh Sella.
“Gimana, Kak?” Selin meminta penjelasan kepada kakak iparnya. Dia merasa Sella seperti mengindari sesuatu. Begitu maniknya menatap sosok pria yang sedang berbaring di sofa depan televisi. Dengan posisi yang menghadap langsung area tangga membuat mereka bisa melihat dengan jelas siapa orang itu.
“Karena ada bang Rishan?” tebak Selin tepat sasaran.
Sella mendengus. “Aku ke kamar aja!” Menatap Selin menegaskan.
Sayangnya tidak semudah itu. Dia justru ditarik oleh tangan kecil milik Selin menuruni tangga dengan pelan. “Nggak boleh gitu sama suami, Kak,” ujar Selin seolah memberikan peringatan. Tidak tahu saja bagaimana sikap suami kepada istri sebelum ini.
Katakanlah Sella masih sebal semenjak kepergian Rishan begitu mendapat telepon dari wanita lain yang sayangnya pernah berbagi rasa. Bagaimana tidak kesal coba jika berada di posisi Sella?
Padahal Rishan keluar bukan karena pergi menemui Bella. Dia sedari tadi berbincang dengan sepupunya dan sekarang pria itu tengah sendiri karena yang lain sedang keluar rumah. Membuat Rishan memilih berbaring di sana daripada ke kamar yang jelas ada Sella. Karena dia sadar mereka belum siap untuk bertatapan lebih lama.
“Sini, Kak!”
“Ke depan aja, deh.”
“Bang! Jangan tiduran, dong!” teriak Selin melengking tepat di hadapan Rishan yang langsung terbangun. Tidak tidur karena Rishan sendiri sedang bermain ponsel, untung saja ponsel dengan harga selangit tidak terlempar saking terkejutnya.
“Kamu jadi cewek nggak—” Ucapan Rishan berhenti begitu saja saat melihat keberadaan Sella yang berdiri di depannya.
“Sini aja sama Bang Rishan. Aku mau ke tante Mita dulu.”
“Eh?”
“Lah!”
Keduanya saling berpaling. Merasa malu sendiri. Sella masih berdiri, memilin ujung bajunya dengan gugup berada dekat dengan Rishan, apalagi mengingat kejadian tadi pagi membuat Sella malu.
“Saya ke depan dulu, Pak,” pamit Sella namun, belum sempat kakinya melangkah Sella sudah ditarik kencang hingga terduduk di atas pangkuan Rishan.
Tatapan keduanya saling menyatu, baik Sella dan Rishan sama-sama diam. Mereka tidak mengerti dengan situasi seperti apa ini, yang ada di dalam otak Sella bahwa dia pernah berada di posisi ini sebelum kejadian itu membuat keduanya bersatu.
Kini, ingatan itu menampar kesadaran Sella, dia berusaha bangkit, tapi sayang sekali karena Rishan mengeratkan lengan kekarnya pada area pinggang ramping milik Sella.
“Sudah, ya, Sell. Apa kamu masih ingin menghukum saya? Apa masih belum cukup?” tanya Rishan dengan tatapan sayu putus asa.
“P-pak—”
“Kamu tidak ingat dengan perkataan saya waktu itu? Saya dengan keras melarang kamu pergi, tapi ... kamu pergi begitu saja!”
Jika dalam benak Rishan dia merasa salah karena telah membuat Sella salah paham perihal kedekatannya dengan Bella namun, jika dalam pikiran Sella dia perlu menjauh karena itu diperlukan mengingat mereka tidak berjodoh. Pertemuan mereka karena rencana yang sudah dibuat matang oleh pria itu bukan rencana Tuhan.
Sella menggeliat saat Rishan menumpu kepalanya pada bahu kecil Sella. Helaan napas Rishan yang menerpa kulit lehernya membuat Sella tidak nyaman. Terlebih mereka di ruang terbuka yang mana bisa saja dilihat oleh orang.
Sangat memalukan.
Sella kembali menggunakan jari lentiknya untuk melepaskan kaitan lengan Rishan yang mendekap tubuhnya dengan erat, selain itu Sella takut serta was-was saat merasakan bagian bawahnya yang bergesekan langsung dengan milik Rishan.
“Dia bangun?!” batin Sella.
Sella ingin menjerit, tapi dia tahan mengingat bisa saja teriakannya membawa orang datang mendekat. “Pak, saya turun, ya.” Gelengan dari pria itu Sella dapatnya. Melihatnya wanita itu mendengus. Tidak suka dengan situasi saat ini.
“Pak—”
“Stttt!” Rishan semakin menyeruakan kepalanya menyeruduk leher jenjang milik Sella. Mengecup hangat di sebelah telinganya yang rasanya memanas. Mungkin saat ini wajahnya bersemu merah, untung saja Sella membelakangi.
“Laki-laki itu ... ada hubungan apa kamu dengan dia, Sella?”
Sella tersentak. Suara berat Rishan yang terdengar dingin kembali menyapa indera pendengaran Sella setelah hampir satu bulan senyap. Hal itu membuat Sella bergidik ngeri membayangkan yang tidak-tidak.
“Tidak ingin menjawab, hem?” Sella menggeleng. Entah apa yang dia gelengkan, hanya saja Sella sangat tidak nyaman saat ini. Apalagi ketika maniknya menatap gadis SMP yang tengah menatap dirinya dengan mulut yang terkatup rapat.
Sella ingin berteriak, tapi Selin sudah lebih dulu pergi ke lantai atas. Anehnya lagi suasana rumah sebesar ini terlihat sepi, padahal tadi yang Sella tahu ibu mertuanya sedang berada di dapur.
Situasinya seolah sedang mendukung.
Hanya satu yang Sella takutkan kalau Rishan mengetahui keberadaan anak mereka lewat sang ibu. Ditakutkan oleh Sella kalau dia akan semakin terjepit di antara Diantoro.
“Kamu dengar apa yang saya bilang, Sell?”
“Huum?” Sella bergumam pelan. Dia tidak terlalu paham dan mendengarkan karena sibuk dengan pikirannya sendiri.
Decakan sebal Rishan hadiahkan. Dia kesal dengan respon Sella namun, untuk marah tidak bisa dia lakukan karena saat ini Rishan ingin menikmati kedekatan mereka.
“Pak saya datang hanya mengantar bunga pesanan bu Mita, tapi kenapa saya terdampar di sini?” tanya Sella tanpa menatap belakang. Dia sibuk menatap akuarium di depannya, bahkan tidak lagi mempermasalahkan pelukan keduanya.
Dirasa Sella tidak lagi berontak Rishan menyingkap pelan baju milik Sella hingga sebagai d**a. Tangannya yang besar dan sedikit kasar menyapu area perut Sella, memberikan hangat minyak kayu putih yang sengaja dia bawa dari kamar.
Ternyata berguna juga benda ini. Namun, ketika diusapkan kedua tangannya berhenti bergerak dan detik itu pula Sella tersadar. Bola matanya melotot sempurna menatap telapak tangan serta lengan berotot milik Rishan yang bertengger nyaman di atas perutnya.
“Mampus!” batin Sella meneguk salivanya dengan susah payah.
“Kamu makan batu? Kenapa perutnya keras?” tandas Rishan tidak santai. Karena terakhir kali mereka bersentuhan Rishan masih ingat dengan jelas, juga saat ini Rishan baru menyadari bahwa di beberapa bagian tubuh istrinya semakin berisi.
“Awh!” pekik Sella saat Rishan menepuk kecil area perutnya. Dirasa kembung kali, ya?
Dasar pak Rishan kenapa tingkahnya sangat halal untuk dislepet?
“Kamu kembung, Sell? Mungkin iya karena pagi tadi kamu muntah-muntah, tapi saya nggak dibolehin mengoleskan minyak,” ujar Rishan seolah merajuk.
Mengingat hal itu Sella terkekeh, menyadari bahwa dia memang terlalu gamblang menunjukkan penolakannya di hadapan Rishan, tapi kini justru dia yang terbuai akan pesona seorang Rishan Diantoro.