Karena perkataan Rishan barusan Sella berhasil dibuat mati kutu. Posisi keduanya masih sama. Bahkan tangan besar Rishan masih berada di atas area perut Sella dengan nyaman.
“Perlu pergi ke dokter?”
“Nggak!” Tanpa sadar Sella membentak membuat pria itu tersentak.
Rishan mengernyit bingung mendapati penolakan Sella yang terlalu kentara jelas.
“Saya hanya masuk angin saja, Pak. Maafkan, bukan bermaksud membentak Bapak,” tutur Sella menjelaskan. Dia tidak mau Rishan salah paham, atau lebih parahnya lagi mengetahui kondisinya saat ini. Itu saja yang Sella takutnya.
Perkara mual pagi tadi itu tidak direncanakan karena biasanya Sella tidak separah itu, hanya pagi ini saja. Itu pun karena mencium aroma parfum yang bercampur di kamar suaminya. Tapi saat ini dia malah merasa nyaman berada dekat dengan Rishan.
Sangat membingungkan. Dan itu membuat Sella merasa anaknya ingin dekat dengan sang ayah.
“Lho? Sella kenapa, Nak?” tanya Mita terkejut. Di tangannya terdapat segelas s**u untuk Sella yang sengaja Mita buatkan sesuai arahan dokter. Demi calon bayi yang berada di dalam perut menantunya Mita bahkan rela turun langsung ke dapur. Biasanya dia hanya akan masak makanan untuk dirinya sendiri.
Karena mendapati keberadaan Mita membuat Sella berniat turun dari atas pangkuan Rishan namun, hal itu tidak dibiarkan oleh Rishan karena pria itu semakin mengeratkan pelukannya.
“Jangan kamu peluk sekencang itu, Rishan!” Mita menampar lengan kekar berotot milik anaknya. Gemas sendiri dengan tingkah polos Rishan.
“Ibu terlalu posesif sama istri Rishan,” ujar Rishan dengan nada manja. Tangannya menggenggam telapak tangan Sella yang saling memilin karena gugup. Sella tidak nyaman berada di antara ibu dan anak itu, tapi dia tidak bisa pergi ... untuk saat ini, sih.
Menghiraukan ocehan Rishan wanita paruh baya itu memberikan segelas s**u kepada Sella. “Ibu buatkan sesuai anjuran dokter,” beritahu Mita karena Sella masih belum menerima.
“Aman, Nak,” ujar Mita lembut.
Meski Sella ragu, dia merasa tidak sopan jika menolak padahal sudah dengan senang hati dibuatkan.
“Terima kasih, Bu. Maaf sekali merepotkan.”
Mita mengibaskan tangannya. “Jangan berlebih. Ibu senang melakukannya,” kata Mita.
Mendapati keanehan itu Rishan diam namun, otaknya bekerja keras. Selama tinggal beberapa minggu, dulu. Sella tidak pernah minum s**u, paling sering adalah jus atau teh manis. Kini, kebiasaan Sella sudah berubah tanpa Rishan tahu.
Gila?
Tidak peka?
Dan ... cuek?
Hanya Rishan seorang!
“Lepaskan, Shan!”
Mau tidak mau Rishan melepaskan kaitan lengannya pada pinggang Sella. Membiarkan istrinya bangun dari atas pangkuannya. Gagal sudah niatnya untuk mendekatkan diri.
“Saya rasa sudah terlalu siang, Bu. Jadi ... apa saya sudah boleh pergi?” tanya Sella menunduk. Dia tidak berani menatap wanita di depannya.
“Mau ke mana? Di sini saja! Saya tidak menerima penolakan.” Menatap tajam kepada Sella yang masih setia menunduk menekuri lantai putih. “Jika ingin pergi minta diantarkan Rishan.”
“Dengar apa kata Ibu?” Mita menatap tegas kepada Rishan yang mengangguk mengerti.
Padahal aslinya dia sama sekali tidak mengerti. Rishan hanya asal mengangguk saja karena tidak mau membuat keributan bersama sang ibu yang pastinya akan dimenangkan oleh Mita.
“Selin berikan barang-barang Sella!” teriak Mita menaiki tangga. Selin yang hendak duduk di sebelah Sella tersentak, begitu pula dengan Sella yang sama kagetnya. Usia boleh saja tidak muda, tapi suara masih kuat dengan beberapa oktaf.
Rishan berlalu pergi dari ruangan itu meninggalkan istri dan sepupunya.
Dia memilih mengambil kunci mobilnya dan bersiap berangkat ke kantor. Jangan pikirkan sekertarisnya karena semejak Sella pergi dari rumah Rishan lebih suka bekerja seorang diri, bahkan peran Ferrnan tidak dianggap penting oleh Rishan.
***
“Gila banget ibu saya lebih berani ketimbang saya, Nan!” dengus Rishan menyulut sesuatu di sela jari tengah dan jari telunjuknya.
“Gue lebih yakin kalau tante Mita lebih berani. Karena gue udah pernah minta lo buat jemput bini sebelum emak yang bertindak, Buaya!” maki Ferrnan menyalahkan kebodohan Rishan kala itu. Pria itu kalau belum kebobolan tidak akan pernah sadar, dan jika tidak disadarkan juga tidak akan menyadarkan diri.
Ferrnan sudah hafal dengan tabiat anak laki-laki Diantoro.
“Mulut sialan kamu harus dibasmi sampai kerak membandel!” Rishan melemparkan korek api ke arah Ferrnan yang dengan sigap menghindar.
Ferrnan menatap lawan bicaranya dengan nyalang. “Kali ini apa lagi masalah lo? Istri udah pulang, ya ... meski dengan cara yang tidak benar, tapi mending begini, sih. Gue lebih suka lihat lo kacau!”
Rishan menatap sinis ke arah temannya yang dengan santai menaikkan kakinya di atas meja. Bos tidak memiliki harga diri sama sekali dan herannya lagi Rishan biarkan begitu saja.
Pada intinya dua orang ini sama-sama tidak benar, tidak beres, atau dalam bahasa lainnya tidak waras! Ada benarnya kalau Sella meninggalkan Rishan saat itu juga.
“Saya penasaran dengan sosok laki-laki yang saat ini terduga memiliki hubungan dekat dengan Sella,” ujar Rishan mengambil asbak di samping jendela. Dia berhenti sejenak, menatap bawah di mana banyak kendaraan berlalu-lalang.
Jalanan kota siang ini dipadati oleh banyaknya kendaraan. Tahu sendiri bagaimana hingar bingar kota metropolitan.
“Itu namanya bukan penasaran, tapi lo merasa nggak rela lihat istri lo dekat dengan pria lain. Itu yang gue tangkap dari gelagat lo, saran dari gue cepat lo ungkapin apa tujuan lo! Maksud gue ... tujuan awal lo, Shan!” ujar Ferrnan menepuk pundak Rishan dua kali. Memberikan dukungan penuh kepada pria itu. Entah sejak kapan sosoknya sudah berdiri di samping Rishan dengan gagah.
Masalahnya Rishan tidak seberani itu untuk mengungkapkan apa tujuan awal.
***
“Gue nggak tahu kenapa bisa terdampar di sini! Dan gue yakin lo berdua ada sangkut pautnya, ‘kan?”
“Jujur sama gue, Nes!” Sella memaksa Agnes untuk angkat bicara.
Sella mengatakannya dengan nada tinggi, dia merasa perlu tahu di balik kejadian ini dan juga yang lebih parahnya sosok Tama tidak bisa dihubungi. Itu semakin membuat Sella curiga ada persengkokolan dibelakangnya.
“Nes ....” Sella berkata lirih. Dia capek, dia capek menduga-duga. Belum lagi tadi Asih menghubungi dirinya memberitahu bahwa Romli tengah terbaring sakit.
Entahlah kenapa seolah begini.
“Sell,” lirih Agnes di seberang sana.
Mendengar nada lirih dari Sella membuat Agnes tidak berdaya. Dia tidak tahu dengan apa yang dibicarakan oleh Sella akan tetapi, Sella seolah menuduh dirinya. Itu yang membuat Agnes merasa tidak enak dan lebih memilih diam. Tapi, ternyata dengan keterdiaman dirinya membuat Sella berpikiran macam-macam.
“Lo tidur saja ini udah malam nggak baik buat begadang. urusan mas Tama biar gue yang mengatur, oke?”
Sella mengangguk saja meski Agnes tidak bisa melihatnya. Dia sudah lemas. Seharian ini berada di rumah padahal biasanya dia beraktivitas. Diperlakukan spesial membuat Sella tidak nyaman.