Rishan memundurkan langkahnya, kembali menutup pintu kamar dan lebih memilih balik turun ke lantai bawah. Dia butuh kopi malam ini, niatnya ingin tidur cepat dia gagalkan, dia lebih memilih begadang dan menghabiskan waktu di ruang kerjanya. Berharap ketika dia masuk kamar Sella sudah terlelap.
“Sesedih itu? Apa saya menyesal? Tapi kalau saya menyesal dan melepaskan Sella setelah kita berdua melakukan ... apa saya terlalu egois?” gumam Rishan memikirkan hal itu.
Rishan membawa satu cangkir kopi hitam di tangan kirinya sedang tangan kanannya sibuk memainkan ponsel sampai dia tidak sadar sepatunya menyentuh sesuatu.
Dengan perlahan Rishan mengangkat kepalanya menatap kaki kecil yang dia dapatkan. Masih nampak tanah jadi bukan orang dari alam berbeda. “Lho?” kaget Rishan saat mendapati keberadaan Sella yang berdiri di depan matanya.
Rishan mengira Sella sudah tidur karena dia tadi melihat dengan jelas istrinya menarik selimut.
“Kenapa, Bapak Rishan? Apa ada sesuatu yang ingin Anda tanyakan kepada saya?” tanya Sella sinis bersedekap d**a menatap suaminya.
“Anu ... itu saya tadi—”
“Anu?” potong Sella tidak rela.
“Selingkuhan baru? Atau ‘mantan’ baru?” tandas Sella.
Rishan mengernyit bingung. “Anu? Mantan? Mantan yang mana, ya?” tanya balik Rishan menggaruk tengkuknya. Dia tidak maksud dengan tuduhan Sella malam ini. Maklum agak sedikit oleng.
“Ternyata Bapak memiliki mantan lebih dari satu? Lalu kenapa saya yang diajak nikah? Kenapa bukan—”
“Hemp ....”
‘Tak!’
Kejadian ini berlangsung terlalu cepat. Cangkir yang berada di tangan kirinya Rishan letakan asal pada meja di belakang Sella. Dengan menyerobot begitu saja pilihan terakhirnya adalah serangan mendadak yang membungkam bibir ranum istrinya yang mendadak sangat menggoda. Apalagi dengan perkataan sinisnya semakin membuat Rishan bernafsu untuk melahapnya habis.
“Mi-ming ... minggir ....”
Nyatanya Rishan seolah gelap mata. Dia mendadak tuli. Dengan kasar mengambil kedua tangan Sella untuk dia pegang erat. Meja di belakangnya mendadak menggoda Rishan untuk meniduri.
Pungutan mereka masih berlanjut meski Sella beberapa kali menggelengkan kepalanya menolak sapuan halus dari Rishan. Rishan melakukannya dengan sangat lembut. Dia seolah tidak ingin menyakiti istrinya yang entah kenapa malam ini terlihat lebih cantik dan menggoda dengan balutan piyama berwarna merah terang.
“Kalau ada apa-apa bisa tanyakan ke saya. Bukan mengira yang tidak-tidak,” kata Rishan setelah melepaskan tautan mereka. Mengambil cangkir lalu berjalan menuju ruang kerjanya.
Sedangkan Sella dia berdiri mematung, baru kali ini dia merasa sedikit ... terangsang? Bukankah sudah jelas memang begitu adanya. Embusan napasnya masih terasa berat. Tindakan tiba-tiba dari Rishan membuat Sella seketika blank.
“Suami gue nggak ada obat!” jerit Sella tertahan. Niat hati ingin menginterogasi Rishan, justru dirinya yang merasa terintimidasi oleh perkataan Rishan.
“Sialan! Dasar buaya!” umpat Sella menghentakkan kakinya dengan kesal. Merasa niatnya sudah gagal.
***
“Hoam ....”
Sella menggeliat dalam tidurnya. Dia merasakan beban pada area pinggangnya. Matanya masih terpejam erat enggan untuk terbuka. Masih terlalu pagi, sepertinya.
“Demi sempak Agnes gue kaget pake banget!” pekik Sella begitu mendapati dirinya berhadapan dengan d**a bidang milik Rishan yang entah sejak kapan terdapat bulu-bulu halus. “Nikmat Tuhan yang tidak baik didustakan.”
Bukanya kembali tidur Sella justru bangun. Sayang sekali baru hendak menginjakkan kaki di lantai lengannya ditarik paksa oleh seseorang yang tidak lain suaminya sendiri.
“Lepaskan, Pak!” Sella berkata penuh permohonan. Hari ini dia berencana untuk pergi menemui Agnes di cafe depan kantor Diantoro. Dia sengaja tidak memberitahu Rishan dan memilih pergi diam-diam.
“Astaga jangan sampai saya mengira Bapak mati, ya.” Sella mengangkat lengan kekar Rishan menggantikan tubuhnya dengan bantal guling.
“Ujian anak muda,” gumam Sella.
***
Berhasil keluar dari rumah besar ini adalah salah satu keberuntungan yang Sella dapatkan. Segala penjuru ruangan dilengkapi oleh kamera CCTV. Yang mana artinya siapa pun akan terdeteksi, tapi untung saja karena saat Sella kabur tidak ada satu pun penjaga yang sudah bangun baik di pintu utama atau di pintu belakang.
“Tuhan seolah tahu gue lagi butuh pertolongan-Nya,” ratap Sella menangkup kedua tangannya di depan d**a. Berdoa meminta perlindungan pada Sang Pencipta.
“Taksi!” panggil Sella menyetop taksi yang lewat di depannya.
“Cafe RoseXXX, Pak,” ujar Sella. Dia memutuskan untuk menunggu Agnes di cafe yang sudah ditentukan saja. Sebenarnya ada niatan untuk mengunjungi toko, tapi saat ini jadwal Sella menjenguk Romli. Karena bagaimana pun meski cara Asih mengabarinya sangat menyebalkan, hal tersebut tidak bisa dibenarkan jika dia mengacuhkannya.
Setidaknya berterima kasih kepada adik tirinya. Meski agak tidak rela.
“Sampai, Bu,” beritahu supir taksi itu dengan ramah.
Sella menengok. “Perasaan baru saja masuk kenapa udah sampai saja?” tanya Sella kepada diri sendiri. Menyerahkan dua lembar uang berwarna merah kepada sang supir.
“Ambil saja, Pak,” tolak Sella ketika sang supir hendak mengulurkan sisa kembaliannya.
Cafe sudah buka, tapi masih sepi hanya ada beberapa saja yang datang. Sella memasuki cafe memilih tempat di pojok belakang agar tidak terlalu terlihat. Sembari menunggu Agnes datang Sella memilih menyibukan diri bermain ponsel. Jika diperkirakan sepuluh puluh menit lagi Agnes akan datang, jika tidak terlambat.
“Udah datang saja. Gue kira masih nungguin pak suami bangun dulu,” ledek Agnes.
Sella memutar bola matanya malas. Perkataan Agnes seolah menyindir dirinya karena memang benar dia pergi tanpa izin kepada siapa pun. Biarkan saja. Tidak terlalu penting juga.
“Pesan makanan dulu, deh. Gue belum sempat sarapan,” usul Agnes yang diangguki setuju oleh Sella karena dia juga belum sempat mengisi perutnya.
“Apa aja,” ujar Sella saat Agnes hendak mengoper buku menunya.
“Gimana? Lo kenapa?” tanya Agnes memusatkan perhatiannya kepada Sella yang nampak pucat pagi ini. “Lo sakit, Sell? Mau ke rumah sakit aja?” panik Agnes. Karena biar bagaimana pun juga wanita di depannya sedang tidak sendiri. Takut saja jika terjadi sesuatu.
Gelengan dari Sella membuat Agnes berhenti menanyakan.
“Terima kasih,” ujar Agnes kepada pramusaji. Makanan sudah terhidang di atas meja, tapi sepertinya Sella tidak bernafsu untuk itu membuat Agnes kembali meletakan sendoknya.
“Lo kenapa? Cerita sama gue.” Tangannya memegang tangan dingin Sella.
“Dingin, Sell.”
“Gue gugup, Bego!” maki Sella. Dengan segera Agnes melepaskan tautan mereka.
“Najis! Lo kira gue suka donat?!” sentak Agnes mengerucutkan bibirnya kesal.
“Gue gugup bukan karena itu, ish! Gue gugup karena kabur dari rumah itu!”
“Wah! Hebat juga!” puji Agnes tidak segan bertepuk tangan heboh mengacungi keberanian Sella.
Sella menghela napasnya kasar. “Mau gimana lagi gue nggak bisa minta pelan-pelan sok nurut. Berada di rumah itu buat pergerakan gue terbatas. Gue paling nggak bisa disuruh untuk berdiam diri. Hamil bukan membuat seseorang itu untuk malas!”
“Jadi orang hamil dimanjakan malah sewot!” maki Agnes geram sendiri. Menjadi menantu orang kaya membuat Sella riweh sendiri. Karena sejak kecil Sella terlahir kaya hanya saja hidup dia sederhana. Sesederhana makan nasi kucing.