“Jujur sama gue, Nes! Lo ada rencana apa sama mas Tama?”
“Lha? Lo sinting, ya?!” Agnes melotot tidak terima dituduh macam-macam oleh Sella. Dia tidak tahu menahu dalang dibalik ini semua.
“Gue merasa ada yang nggak beres, tapi ... apa? Bantuin mikir, dong!” ujar Sella frustasi hampir berteriak jika saja Agnes tidak lebih dulu melotot.
Helaan napas Agnes hembuskan. Menatap Sella dengan serius. “Lo maunya gimana? Gue siap bantu kalau lo butuh tenaga dan otak gue yang nggak seberapa ini.”
“Ayah sakit. Gue dikasih kabar sama Asih.” Agnes mengangguk mengerti.
“Lo mau jenguk om Romli, ‘kan? Ya udah apa lagi yang lo khawatirkan, Sell?”
Sella diam. Mungkin jika hubungan keduanya layaknya ayah dan anak akan dengan senang hati Sella datang merengkuh tubuhnya yang sudah tidak muda lagi, tapi situasinya tidak bisa dijabarkan. Belum lagi pasti akan berdebat nantinya. Hal tersebut yang membuat Sella ragu untuk datang.
Tadi juga Sella berniat menghubungi ibu tirinya, tapi tidak jadi karena bisa saja ibu tirinya bertanya macam-macam dan meminta dirinya untuk pulang.
Mana bisa seperti itu. Masalah yang dia alami tidak seenteng itu. Belum lagi Sella yang sudah diusir dan bukan lagi anggota keluarga Romli.
“Emang paling benar itu, ya, tinggal menua sama suami. Dapat suami mapan, ganteng lagi kenapa lo tinggalin, sih?” celetuk Agnes menyuapkan satu sendok nasi ke depan mulut Sella yang langsung disambut dengan senang hati.
“Gue jaga-jaga, Nes. Gue perempuan jadi kudu punya prinsip.” Sella menatap ponselnya yang berkedip.
Matanya juga ikut berkedip mengikuti ponselnya yang terus saja menyala. Meski dalam mode senyap cahaya ponselnya tidak akan senyap. Nama ‘Bos’ tertera di layar utamanya.
“Angkat aja dan bilang jujur lagi sama gue! Pak Rishan udah jelas khawatir itu, Sell. Lagian lo main pergi gitu aja!” oceh Agnes, kali ini menyodorkan segelas jus jeruk kepada Sella.
Sella menimbang dengan segala baik buruknya dan jawaban ‘tidak’ akan dia layangkan. “Males banget gue. Lagi pula gue mau pulang ke kontrakan aja!”
‘Uhuk ... uhuk ....’
Sella memberikan jus miliknya kepada Agnes yang tersedak. “Pelan-pelan aja, sih!” tegur Sella gemas.
Agnes mendelik tidak terima. “Mau dikata apa lo sama mertua? Udah gitu yang gue tahu di sana ada anggota keluarga besar yang lagi berkunjung!”
Mendengar perkataan Agnes membuat mata Sella memicing curiga. “Kayaknya lo lebih paham dari gue, deh, Nes?”
“Masih nggak mau ngaku juga? Udah, sih ngaku aja biar idup lo lancar jaya!” seloroh Sella memojokkan Agnes yang sudah ketat-ketir tidak jelas.
“Lo tahu ‘kan seberapa lama sembunyi akan tetap ketahuan juga. Ibaratnya kayak maling, deh,” kata Sella dengan entengnya yang dibalas pelototan dari Agnes. Dia tidak terima dikata maling oleh temannya sendiri.
“Makanya pulang aja, deh, daripada lo banyak kepo sama kehidupan orang,” balas Agnes pedas di telinga Sella. Hanya saja dia cuek menganggap perkataan Agnes hanya bualan semata.
***
Sella tidak tahu apakah keputusannya salah atau benar, tapi yang jelas hatinya merasa lega karena mendapati Romli tertidur ketika dia datang. Jadi waktunya yang sedikit ini tidak Sella buang sia-sia. Dia memandang sendu wajah ayahnya yang terbaring lemah. Dari informasi yang diberikan oleh ibu sambungnya adalah sang ayah yang beberapa kali menolak minum obat dan juga banyak begadang.
Sella tidak tahu seberapa berat pekerjaan Romli yang jelas yang dia tahu sama halnya dengan Rishan, mungkin Romli juga sama kerasnya.
“Udah berapa hari dirawat, Tan?” tanya Sella tanpa mengalihkan pandangannya.
“Hampir dua minggu, Nak,” balas Ratna lembut. Dia selalu menyempatkan panggilan sayang kepada anak-anaknya. Tidak ada yang dibedakan, tapi entah kenapa Sella sangat sulit menerima kehadiran Ratna.
Jika dulu Sella membenci panggilan itu karena ibu kandungnya yang kerap kali memanggil dengan panggilan sayang namun, entah kenapa ketika Ratna yang berucap rasanya teduh dan berbeda. Hanya saja Sella masih belum bisa menerima dengan sepenuhnya. Mungkin untuk saat ini.
“Kenapa baru kasih tahu aku, Tan?” Ada nada sendu yang tercipta tetapi, Sella tidak ingin menunjukkannya secara gamblang.
Ratna mendaratkan tangannya pada bahu anak sambungnya, meremasnya lembut. “Kamu lagi hamil Tante nggak mau buat kamu kepikiran, tapi ternyata anak nakal itu memberitahu kamu tanpa izin Tante.”
Sella cukup terkejut, apalagi saat tangan Ratna mengelus pelan permukaan perutnya yang sudah mulai membuncit jika diperhatikan lebih dekat. Namun, Sella merasa tidak memberitahu siapa pun kecuali—
“Kamu tidak perlu berpikir aneh-aneh. Tante seorang ibu, Tante tahu perbedaan wanita hamil. Jangan terlalu capek, ya. Jaga kesehatan kamu karena jika bukan kamu siapa lagi?” nasihat Ratna. Sella menunduk merasakan usapan lembutnya.
“Apa karena Sella hamil yang membuat ....” Sella tidak berani melanjutkan perkataannya saat mendapat senyum teduh dari Ratna yang menunjukkan segala pertanyaan terjawab sudah.
Sella meraup wajahnya kasar. “Ya Tuhan!” ratapnya.
Mendapati Sella yang nampak stres membuat Ratna khawatir. Segelas air putih Ratna berikan kepada anak sambungnya. “Duduk dulu, Nak!”
Sella menerimanya dengan tangan bergetar. Duduk di kursi besi yang tersedia.
Setelah lebih tenang Ratna memapah Sella mengantarkan keluar. Tidak baik ibu hamil terlalu lama di rumah sakit. Sella pun tidak memberikan penolakan.
“Kak!” Panggilan dari Asih membuat langkah Sella berhenti. Dia menatap adik tirinya yang sedang duduk di sofa.
“Maaf.” Hanya kata itu, tapi Sella mengerti kemana arah pembicaraan adiknya itu. Hanya saja, lidahnya kelu walau hanya untuk sekedar mengatakan ‘iya’. Anggukan darinya saja yang mewakilinya.
“Sudah dijemput sama suami, Nak,” ujar Ratna menunjuk ke arah sosok pria yang sedang bersedekap d**a. Menatap lantai pijakannya.
Di samping pria itu juga ada sosok wanita yang tadi datang bersamanya. Entahlah bagaimana Rishan ada di sini yang jelas Sella sudah tidak punya tenaga. Fakta mengetahui ayahnya yang terbaring sakit karena dirinyalah.
Meski hubungan keduanya tidak sehat, tapi mengetahui fakta ini sukses membuat Sella merasa sangat bersalah. Dengan meminta pergi dari kehidupan Rishan sudah membuat Romli sakit, apalagi mengetahui cucu pertamanya darah daging pria yang sangat dibencinya.
Entah apa yang membuat keduanya saling membenci atau hanya Romli saja yang membenci.
“Ya Tuhan, Sella!” Teriakan penuh rasa kejut dari Ratna membuat Rishan berlari begitu pula dengan Agnes yang sigap memapah Ratna yang ikutan terjatuh.
“Mah?!” kaget Asih. Ikut menuntun Ratna sedangkan Sella sudah dibawa oleh Rishan ke ruangan sebelah Romli.
“Mamah nggak papa. Sella Ya Tuhan kenapa dengan anak itu.”
“Tante jangan khawatir, ya. Saya yakin Sella wanita yang kuat dia tidak akan tumbang dengan mudah. Lagi pula ada Rishan di sampingnya saat ini. Saya yakin Sella baik-baik saja.”