Suka cerita ini? Kalau suka dukung penulisnya dengan cara ini ⬇️⬇️⬇️
Pencet bintang ⭐
Pencet ikuti FoxyRibbit
Ketik komentar
Follow IGku Livia_92 buat spoiler
Ditunggu
_____________________________________________
Matahari naik di atas kediaman Mr. Benedict, sinarnya masuk melalui jendela tinggi besar dan menembus ke dalam. Dari balik tirai besar berwarna lembayung muda, bagian sinarnya terpancar dan mengenai sisi samping wajah Lucy.
Lucy meringkuk ke dalam selimut sewaktu cuaca dingin masuk menembus ke dalam kulitnya. Ia memeluk selimut itu lebih dekat ke tubuhnya hingga membentuk gulungan putih.
Wanita itu mengerang sewaktu cahaya menyilaukan tersebut mengenai wajahnya dan membangunkan Lucy. Ia menguap lebar dan membuka kedua tangannya di udara sewaktu menegakkan punggung, membuat selimut hangat tersebut jatuh ke pinggulnya.
Lucy melemaskan ototnya saat pelayan datang mengetuk pintu. Kedua pelayan tersebut membungkuk saat masuk dan membawa baskom berisi air panas sementara yang lain membawa nampan berisi handuk.
"Kami membawakan anda air hangat Miss."
Kedua gadis tersebut berhenti bergerak dan melongo saat melihat jenis pakaian dalam yang dikenakan Lucy. Itu bukan jenis pakaian dalam yang dikenakan para bangsawan lainnya.
Mereka mengenakan kain sutra yang mahal dan lembut ataupun kain satin yang terbuka lebar di bagian bahu dan menampilkan lengan dan panjangnya menyentuh lantai.
Atau yang terbaru dan sedang digilai para wanita. Japonism. Sebuah kain katun yang sangat halus dan memiliki model seperti baju terusan. Cara mengenakannya juga sangat mudah, para wanita hanya harus memasukkan kedua tangan mereka di lubang baju yang sangat besar.
Untuk menahan baju tersebut mereka melilitkan tali beberapa kali di pinggang dan mengikatnya menjadi simpul. Baju tidur tersebut sangat mahal, sehingga hanya beberapa bangsawan kelas atas saja yang mampu memakainya.
Sementara Luciana tidak diantara semua baju tersebut. Baju tidurnya hanya berupa pakaian dalam biasa yang terbuat dari katun. Hanya saja, ia memotong kedua sisi lengan baju tidurnya, begitu juga dengan bagian bawah roknya yang berakhir di atas lutut.
"Miss, apa...?" salah satu pelayan akhirnya membuka mulut sebelum tak bisa berhenti melanjutkan ucapannya saat yang lain hanya terpaku.
Luciana tahu, satu kalimat yang salah dan ia akan kehilangan martabatnya. Para pelayan akan bergosip, dan ia akan mendapat panggilan baru. Wanita pengeruk harta saja saat ini sudah sangat menyulitkannya, Luciana tak bisa terpuruk lebih jauh lagi.
Jadi ia mengingat-ingat tata krama yang seharusnya dan tersenyum malu dengan tatapan menyesal. "Aku hanya memotong kain tersebut karna menyulitkan gerakku. Kalian tak perlu membesar-besarkan masalah ini."
Kedua pelayan tersebut tampak tak percaya dengan ucapan Lucy. Tentu saja, mana mungkin mereka akan percaya dengan ucapan wanita bangsawan yang jatuh miskin, ya kan?
Tapi manakala mereka membantu wanita itu berganti baju setelah mencuci muka, keduanya menutup mulut mereka rapat-rapat, untuk saat ini. Keadaan akan berbeda saat mereka berkumpul dengan pelayan lain.
"Perlu kami bantu untuk berganti pakaian, Miss?" tanya yang lain saat pelayan tersebut membuka lemari baju Luciana dengan cepat.
Lucy ingin menahannya tapi terlambat. Kini mereka dengan sukses melihat segalanya.
Sapu tangan dari Perancis, tas cantik dari Belgia, kipas anggun dan topi berpita biru cantik. Bahkan gaun yang tampaknya luar biasa mahal tersebut penuh sesak di lemari baju Lucy.
Mereka berdua mengerutkan dahi bingung. Semua orang sudah tahu soal kondisi keuangannya, jadi itu adalah misteri bagaimana Lucy bisa memiliki banyak sekali baju mewah yang elegan. Ia belum menikah atau bertunangan, jadi ia tak memiliki pelindung.
Kecuali tentu saja, rumor bahwa ada seorang bangsawan yang menemuinya setiap malam di jam-jam yang mencurigakan. Rumor itu akan menjelaskan kenapa Lucy memiliki gaun seindah ini untuk seseorang sepertinya.
"Tak perlu memberikan alasan lain bagi para pelayan untuk bergosip," itu adalah kalimat yang selalu neneknya dan Dowager Viscountess Marseina katakan.
Well maafkan aku Dowager, pikir Lucy sesal dalam hati saat menyadari bahwa pagi ini rumor baru tentangnya akan dimulai. Kalau mereka tak percaya bahwa Lucy memiliki sponsor, sekarang mereka akan percaya.
***
Luciana akhirnya bisa bertemu dengan Bella saat para wanita itu berada di ruangan lain sembari menunggu pelayan menyiapkan sarapan. Para pria berada di perpustakaan dan berbincang, membahas politik yang pastinya sangat membosankan sewaktu para wanita saling berbincang.
Ia menatap Miss Roselyn dan Lilianne Hopkins yang sedang berbicara pada Bella sewaktu mereka duduk membelakangi jendela. Perapian dinyalakan di ruang tersebut dan beberapa dowager lain duduk di sudut sambil menyesap teh dan menatap anak asuh mereka.
Bella menyadari keberadaan Lucy lebih dulu sebelum ia menarik tangan temannya untuk ikut bergabung. "Lily, Rose, ini adalah temanku yang ku katakan pada kalian, Luciana Edinburgh."
Kedua Hopkins bersaudari tersebut menyambutnya. Mereka berdua memiliki tulang pipi yang tinggi dan ujung hidung yang sedikit bengkok ke depan. Mereka mengenakan sarung tangan berwarna putih dan rambut coklatnya dijepit ke atas dengan gaya yang sangat apik.
Bola mata mereka berwarna coklat dengan kilau jail yang tak disembunyikan.
Miss Lily yang lebih tua dengan senyum bersahabat sementara Miss Rose, sang adik, terlihat acuh tak acuh. Luciana merasa canggung karna ini pertama kalinya ia bertemu dengan teman-teman Bella.
Bella mendapatkan pendidikan di sekolah ternama, dan ia juga mendapatkan seorang governess yang sangat terkenal. Wanita itu selalu bisa mengendalikan amarah dan menjaga sikapnya di depan umum.
Selama mereka berteman, hanya satu kali Bella kehilangan kendali dirinya dan itu saat mereka mengunjungi kediaman Mr. Benedict.
Lily menatap Lucy terang-terangan dengan pandangan menilai dari atas ke bawah sebelum tersenyum. "Jadi kau ya gadis pohon itu?"
"Hah?" menyadari ia menggunakan kalimat yang salah, Lucy dengan cepat meralatnya. "Maaf?"
Rose menyengir lebar, "Bella bilang kau pandai memanjat pohon, apa itu benar?"
Lucy menengok ke belakang dengan cepat dan saat tak ada satupun yang sepertinya mendengar ia mengangguk kecil lalu menatap Bella bingung. "Aku penasaran apa saja yang kau katakan pada temanmu soal diriku."
Bella membungkukkan punggung, membuat bagian dadanya seakan menyembur keluar dari korset tersebut sebelum tersenyum geli. "Kecuali kita pandai memanjat pohon dan berenang, tak ada yang tak ku ceritakan."
"Kalau begitu bagaimana dengan Mr. Benedict?"
"Lily menolaknya," ia menatap wanita tersebut dengan kesal. "Bagaimana bisa kau menolak temanmu yang dalam kesulitan?"
Lily menatapnya balik dengan tatapan tak percaya. "Kau berniat menjodohkanku dengan seorang pengusaha Amerika, tentu saja aku menolaknya."
"Tapi dia tampan."
"Ayahku berharap mendapatkan Earl atau mungkin Marquis."
Rose menatap kakaknya sungguh-sungguh dengan senyuman licik. "Kau mungkin akan menjadi perawan tua seumur hidup kak. Dengan sikapmu seperti itu aku yakin tak akan ada bangsawan terhormat yang mau menikahimu."
Lily menatap adiknya tajam dengan senyuman yang sama. "Kalau begitu aku juga akan membuat rumor yang buruk tentangmu sehingga kau tak akan bisa menikah."
Lucy menatap mereka geli dan pandangannya bertemu dengan Bella yang juga menikmati hal ini. "Mereka sudah terbiasa dengan debat seperti ini. Kau akan terbiasa melihat ini semua Lucy."
"Benar," timpal Lily setuju. "Mungkin kami terlihat seperti putri seorang bangsawan pada umumnya, tapi percayalah bahwa kami tidak."
"Kami liar," ujar Rose semangat sewaktu Lucy menarik alis bingung.
"Kupikir kalian mendapatkan pelajaran dari governess kalian?"
"Hanya selama 7 tahun. Lalu selama 10 tahun terakhir ini ayah membawa kami ke Perancis dan aku mengubah pemikiranku soal bangsawan. Kau pernah pergi kesana?"
Lucy menggeleng dan meremas jarinya dalam balutan sarung tangan. "Aku tak pernah bisa kesana."
"Kau harus mencobanya. Itu menyenangkan. Tidak seperti di sini, di Perancis wanita dan pria bisa menunggu di ruangan yang sama. Mereka bisa saling berbicara dan bahkan pergi keluar bersama."
"Perancis jauh lebih modern."
"Aku harap aku bisa kesana," ungkap Lucy jujur saat tersenyum pahit. "Tapi mungkin tak bisa."
"Kenapa?" tanya Rose penasaran.
"Aku tak memiliki uang. Kesehatan nenekku semakin memburuk dan keuangan kami kian menipis. Kalau saja aku bisa menikahi pria kaya, tak akan menjadi masalah. Tapi sayangnya tak ada pria yang mau denganku."
"Tapi kenapa? Kau cantik."
"Itu karna rumor bahwa Lucy adalah wanita pengeruk harta dan seorang simpanan," jawab Bella kesal dan memasang wajah geram.
Rose menatap Lucy dengan pandangan membelalak. "Wajahmu tak terlihat seperti itu. Mereka yang lebih mungkin pengeruk harta."
Mereka yang Rose maksud adalah para bangsawan lain yang saat ini bergunjing di belakangnya. Wanita muda tersebut membuka lebar kipasnya dan menatap ke arah Lucy sementara Lily terang-terangan menatapnya dingin.
Lucy mengangkat bahunya dan tersenyum masyul. "Bahkan kalaupun itu tak benar, tak ada yang mau menikahi wanita miskin yang sudah tua."
"Memangnya berapa umurmu?" tanya Lily blak-blakan.
"26 tahun ini."
"Aku dan Bella 25 sementara Rose 22. Tapi sungguh siapa yang berkata atau berpendapat bahwa wanita diatas umur 25 itu tua?"
Bella meralat dengan sopan, "Tepatnya diatas umur 20 sayang. Kita semua sudah dianggap tua."
Lily menatap Bella serius. "Kalau kau yang tercantik saja dianggap tua, aku yakin aku sudah nenek-nenek."
Lucy menyengir lagi dan menatap mereka senang. Sudah lama ia tak memiliki teman untuk berbicara dan tertawa. Setelah ayahnya meninggal, semuanya pergi meninggalkan Lucy. Tentu saja itu hal yang wajar mengingat keluarga mereka memiliki hutang.
Teman-temannya atau mungkin lebih tepat ia sebut sebagai kenalannya, praktis meninggalkan Lucy karna takut dimintai bantuan. Bahkan keluarga White begitu. Mereka langsung memasukkan Bella ke sekolah terkenal, tempat dimana hanya putri bangsawan ternama yang bisa masuk.
Lucy sempat putus asa dan depresi, berpikir Bella juga akan meninggalkannya. Namun wanita itu diam-diam datang berkunjung ke kediaman neneknya dan menemui Lucy. Sang Viscount tahu hal tersebut dan menghukum putrinya dengan mengirimkan ia pergi ke Perancis.
Dan disana ia bertemu kedua saudari Hopkins. Lucy kembali kehilangan kontak dengannya sebelum ayah Bella menyuruh putrinya pulang untuk diperkenalkan. Bella dan Lucy kembali bertemu dan kini mereka terang-terangan berteman di hadapan Viscount.
Mungkin Lucy terlalu percaya diri mengatakan ini, tapi ia yakin hanya ia satu-satunya yang Bella percayai. Pun sebaliknya.
Rose menatap mereka semua dengan tatapan bersekongkol, "Membicarakan umur, apakah tak ada satu lelaki yang kalian suka disini?"
"Tertarik Rose," ralat Bella berbaik hati dan ia menggeleng. "Tak ada satupun pria yang menarik minatku."
"Aku juga tidak."
"Dan kau Lucy?"
Menyadari Lucy belum memberikan jawaban, 3 wanita tersebut menatap penuh rasa penasaran. "Aku hanya akan menikah dengan lelaki manapun yang bersedia melamarku."
Rose memajukan mulutnya dan berpikir keras, "Bukan itu jawaban yang ku inginkan."
"Lelaki manapun? Maksudmu kau tak peduli dengan umurnya?" tanya Lily sambil menarik sebelah alisnya dan Lucy menyesap tehnya.
Oh sudah lama sekali ia tak meminum teh semanis ini. Wanita itu mengangguk. "Selama ia kurang dari 50 tak masalah."
"Itu terlalu tua. Bagaimana dengan wajah?"
"Aku tak masalah dengan bekas luka."
"Gairah? Cinta?"
"Juga tidak apa-apa."
Lily menatapnya sambil menganggukkan kepala. "Kalau begitu kenapa kau tidak menikahi Mr. Benedict saja?"
Bella tersedak oleh tawanya karna ia sempat berpikir hal yang sama sementara Lucy melengoskan wajah ke samping. "Tak mungkin. Aku tak menyukainya sama sekali."
"Dia cukup tampan. Dan kalau dia pengusaha pasti kaya raya."
"Tetap tidak. Kami seperti minyak dan api yang selalu bersitegang. Kecuali Fredge dan Mr. Benedict, aku mempertimbangkan pilihan lain."
_____________________________________________
Japonism: kalau sekarang kita kenal dengan nama yukata.