Part 8

1511 Kata
Lucy dan Viscountess datang cukup larut ke kediaman Mr. Benedict. Kereta kuda yang mereka sewa memiliki masalah sehingga mereka datang dengan sangat terlambat. Ia menatap obor api yang dinyalakan diluar sebagai penerangan dan menghembuskan nafas gugup sewaktu membantu Viscountess untuk turun. "Luciana sayang, bukan tugas seorang Lady untuk membantu wanita lain turun dari kereta kuda. Itu adalah tugas seorang pelayan," tegurnya lembut saat menatap sayang. Lucy tersenyum kikuk, "Tak ada seorangpun pelayan yang terjaga selarut ini. Aku takut kau mungkin akan melukai kakimu saat terjatuh." Viscountess menatap sekitarnya dengan pandangan ragu sebelum memegang bagian depan kerudungnya. Sang kusir mengambil sebuah lentera yang terisikan oleh lilin dan memandu sang Viscountess berjalan menuju ke depan pintu. Mereka mengetuk pintu dan menunggu beberapa saat sewaktu pelayan yang sama yang membukakan pintu untuk Lucy muncul. Ia sepertinya cukup terkejut karna mendapati kedua wanita bangsawan yang baru saja datang selarut ini. Tapi pelayan tersebut dengan bijak menutup mulutnya. "Selamat datang Dowager Viscountess Marseina, dan Miss Edinburgh." Lucy tersipu menyesal saat menatap pelayan ini. Pria tua itu seharusnya tidur, dan bukannya membukakan mereka pintu. Para tamu lain juga pasti telah terlelap. "Maafkan kami yang datang terlambat. Kereta kudanya mengalami masalah." Goose terkejut karna wanita itu mengucapkan permintaan maaf. Hal yang tak pernah dilakukan bangsawan kepada pelayannya. Tapi dengan cepat ia menguasai dirinya. "Cuacanya memang tak bersahabat my Lady. Saya akan memandu anda ke kamar sementara pelayan akan memasukkan barang-barang anda, mari ikuti saya." Goose mengambil sebuah katup listrik bergagang hitam dan memandu mereka naik ke lantai atas. Dengan perenangan yang remang-remang, Lucy hampir tak bisa melihat apapun. Wajah samping Goose menunjukkan sedalam apa garis wajah lelaki itu dan ia tampak lelah. Mereka tiba di atas dan setiap pintu dipasangi lentera lampu dengan detail rumit di bagian atasnya. Goose berhenti di pintu kelima dari kanan dan menatap Viscountess menyesal. "Ini kamar anda, Dowager." "Dan kuduga kamar Lucy tepat disampingku?" tanyanya saat Goose menggeleng dan melemparkan tatapan meminta maaf pada Miss Edinburgh. "Sayangnya tidak. Kami kekurangan kamar akibat besarnya minat para tamu sehingga kamar Miss Edinburgh berada di sebrang kamar Mr. Benedict." Seandainya ada yang lebih buruk lagi. "Boleh kutahu dimana kamar temanku? Miss White?" "Di lorong kiri, nomor lima dari sini Miss." Dan betapa beruntungnya Bella. Lucy memasang wajah sedatar mungkin saat menatap Viscountess. "Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja." "Kau yakin akan baik-baik saja Sayang?" Walau Lucy sangat ingin mengatakan 'tidak' tapi ia menolak mengatakannya. Pengaturan kamar ini terlalu aneh bahkan baginya sendiri. Ia tak tahu alasan apa yang membuat Benedict melakukan ini, dan ia berniat mencari tahu. "Kita akan bertemu saat sarapan," hanya itu yang Lucy katakan sebelum pelayan lain tiba dan memasukkan koper Viscountess ke dalam. Mereka kembali turun dan Lucy sengaja berhenti di selasar sewaktu menatap Goose cermat. "Miss?" "Pengaturan kamar itu, dilakukan sendiri oleh Mr. Benedict kan?" tanyanya lugas saat Goose terdiam. Pelayan itu tak menjawabnya tapi Lucy tahu itu benar. "Ada alasan tertentu ya kan mengapa aku ditempatkan di dekat kamarnya?" Goose mengangguk lagi. "Ya Miss." "Apa dia masih terjaga?" "Ya. Tapi dia mengatakan untuk membangunkan anda pagi-pagi sekali, agar kalian berdua bisa berbincang." "Tak perlu menunggu. Bawa aku padanya sekarang juga." Sangat tidak sopan seorang wanita lajang masuk ke dalam kamar pria di tengah malam. Skandal dan rumor akan terjadi. Dan jelas hal itu akan merugikan pihak wanita. "Miss, walaupun semua tamu sudah tertidur tapi anda masih harus menjaga reputasi anda." "Aku sudah direndahkan selama beberapa tahun hingga tak ada lagi reputasiku yang tersisa. Bahkan kalaupun aku keluar hanya dengan pakaian dalam tak akan ada yang mengatakan hal itu tak pantas. Bawa aku kepadanya." Goose menimbang situasi dengan cermat. Saat ini pelayan yang membawakan barang milik Miss Edinburgh pasti sudah kembali ke kamarnya. Beberapa pelayan juga sudah tertidur sejak tadi. Ia bisa saja mrnolak permintaan ini, tapi sepertinya Miss Edinburgh akan membuat keributan kapau Goose tak melakukannya. "Saya akan menunggu di depan pintu Miss." Jadi mereka berjalan menuju ke kamar Sebastian. Lucy tahu hal itu tak pantas, tapi ia tak peduli. Ia mengalihkan pandangan dan menatap Goose. "Aku minta maaf karna kau masih harus terjaga selarut ini karna aku." "Miss, anda tak perlu meminta maaf. Ini adalah tugas saya, pekerjaan saya. Bangsawan tak boleh meminta maaf Miss." "Bukan itu yang diajarkan ibuku," aku Lucy jujur. "Dan lagipula, aku tak pernah diajari bagaimana cara bersikap seperti bangsawan pada umumnya. Aku tak mendapatkan pelatihan tersebut." Goose berhenti di depan pintu dan menatapnya was-was. "Anda mungkin ingin berubah pikiran Miss." "Tidak. Aku akan mengatakan apapun yang ingin ku katakan." Goose mengetuk pelan dan pintu terbuka. Luciana menatap Benedict yang mengenakan kemeja satin dengan satu kancing terbuka di bagian atas. Terdapat perapian di sudut dan nyala api itu begitu terang sewaktu Lucy masuk, seakan-akan lelaki itu tengah menunggunya. Ia menatap gelas berisi brandy di sisi meja yang menghadap ke arah jendela dan beberapa surat terlampir disana. Lelaki itu sedang duduk disana, menekuk sebelah lututnya yang panjang saat menarik sebelah alisnya melihat sosok Lucy. "Miss Edinburgh, sebuah kejutan yang menyenangkan," sapa lelaki itu dengan suara kering saat berdiri dan mendekati Lucy. "Boleh saya tahu apa yang anda lakukan dikamar saya selarut ini?" Goose menutup pintu sambil tetap menundukkan kepala dan menepati ucapannya saat menunggu di depan. Lucy menarik turun kerudungnya dan menatap Benedict pelan. "Hentikan basa basi dan sopan santunnya. Katakan padaku kenapa kamarku tepat berada di sebrang kamarmu, Mr. Benedict?" "Bukankah seharusnya anda menjaga sikap anda Miss Edinburgh? Seorang wanita bangsawan seperti Anda tak seharusnya menemui seorang pria tanpa pendamping." Lucy balas tersenyum dengan datar. "Ah, tapi anda bukan kelas bangsawan kan? Setahu saya anda hanyalah pengusaha Amerika Mr. Benedict." "Anda percaya dengan gosip yang beredar rupanya." "Pilihan apalagi yang saya punya? Seandainya anda seorang bangsawan, setidaknya beberapa bangsawan lain akan tahu ya kan? Sulit untuk menutupi strata sosial seseorang." Sebastian mengendikkan bahunya santai, "Baiklah. Bangsawan atau pengusaha, semuanya kuserahkan padamu Miss Edinburgh. Tapi aku akan tetap mengatakan ini demi kesopanan kita berdua, apapun yang ingin anda katakan bisa menunggu besok." Lucy tersenyum licik, "Sayangnya tidak. Saya sangat penasaran bagaimana bisa kamar yang akan saya tempati selama beberapa minggu ke depan tepat berada di sebrang kamar Anda persis?" Lelaki itu melipat tangan di depan perut dan melemparkan senyum malas. "Apakah anda percaya kalau saya katakan hanya itu kamar tersisa?" "Anda mungkin bisa menipu yang lain tapi bukan saya," jawab Lucy bijak. Benedict menatap ke samping dan berdiri dengan malas. "Miss Edinburgh, ketertarikan saya hanya ditujukkan untuk Miss White. Tak ada kamar lain yang tersisa karna kebetulan kamar yang seharusnya anda tempati mengalami kerusakan." "Suatu kebetulan sekali," sindir Lucy tajam. "Tapi tidak, aku tak percaya. Aku ingin kau memindahkanku ke kamar lainnya." "Perbaikan akan memakan waktu selama kurang lebih dua minggu. Saya sangat tak menyukai hal tersebut sama seperti anda, kalau anda mau tahu." Luciana mendengus dengan cara yang sangat tak sopan dan akan membuat masyarakat kelas atas London menganggapnya tak pantas di kalangan bangsawan. "Saya memilih berada di kamar tersebut daripada tidur di kamar yang anda pilihkan meski hanya semalam." "Walaupun tawaran itu sangat menggiurkan sayangnya aku harus menjaga reputasiku." "Dan kalimat itu muncul dari seseorang yang bergegas ingin menikah kurang dari seminggu setelah ia dicampakkan. Maafkan aku, tapi dimana reputasimu?" Sebastian benar-benar tak percaya ada seorang wanita yang selalu membantah setiap ucapannya. Bukankah mereka dididik untuk tidak bersikap bar-bar seperti ini? Seorang wanita tak diijinkan berdebat dengan pria, atau membahas anggota tubuh. Tapi Lucy sepertinya mengabaikan semua peraturan tersebut. Menahan amarah, Sebastian menghembuskan nafas dengan amat terpaksa. "Apa yang ingin kau katakan Miss Edinburgh?" "Aku ingin mengganti kamarku," jawabnya lugas dengan nada yang tak bisa ditolak. "Baiklah. Kau bisa menggunakan kamarku," balas lelaki itu santai saat menikmati keterkejutan di wajah Luciana. Ah, akhirnya aku bisa menemukan cara untuk membungkam mulut wanita ini, pikir Sebastian puas saat ia melanjutkan ucapannya. "Aku tak keberatan dengan kamar manapun Miss Edinburgh. Seperti yang kau lihat, kamar ini sangat luas dan jendelanya yang lebar menghadap langsung ke arah luar. Kau bisa mendapatkan pemandangan terbaik kapanpun kau mau." Lucy menggeram dan menatapnya dingin sebelum menghentakkan kaki dan memutar rok sewaktu ia membuka pintu. Tanpa banyak bicara ia masuk ke dalam kamarnya dan langsung menutupnya sementara Sebastian memijat kening. Goose menatap majikannya ragu saat membuka pintu dan mendekatinya, "Your Highness, apa tak sebaiknya kita memindahkan saja Miss Edinburgh ke kamar biru?" Kamar biru adalah kamar paling besar dan paling indah kedua setelah kamar Sebastian. Dinamakan kamar biru karna pemandangan dari jendela yang langsung menghadap ke langit. Untuk menambahkan nuansa, tirai dan temboknya dicat warna putih khusus yang memberikan kesan elegan. "Jangan. Kamar itu khusus untuk Miss White setelah kami menikah." Pelayan itu ingin berkata bahwa pernikahan tersebut tampaknya mustahil di laksanakan. Miss White langsung mengurung dirinya di dalam kamar begitu ia tiba. Walau wanita itu tak mengatakan apapun tapi ekspresi wajah dan gerak tubuhnya mengatakan pernikahan ini tak akan terjadi. Mungkin keadaan akan jauh berbeda seandainya Sebastian memberitahu identitas aslinya. Miss White akan sukarela menikahi lelaki itu. Siapa yang akan menolak menikahi Putra Mahkota? _____________________________________________ Suka cerita ini?  Kalau suka dukung penulisnya dengan cara ini ⬇️⬇️⬇️ Pencet bintang ⭐ Pencet ikuti FoxyRibbit Ketik komentar Follow IGku Livia_92 buat spoiler Ditunggu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN