bc

TITAH

book_age12+
0
IKUTI
1K
BACA
adventure
dark
prince
no-couple
serious
witty
city
pack
small town
war
musclebear
like
intro-logo
Uraian

Kisah ini bercerita tentang janji Soekarno terhadap Sultan dengan sukarela bergabung dengan Republik Indonesia pasca kemerdekaan.

"Ketika semua dalam keadaan tidak menentu, maka Ibrahim lah sang penentu."

DISCLAIMER

Semua nama karakter, tempat dan kejadian merupakan karangan belaka, adapun jika terdapat kesamaan itu hanya imajinasi penulis yang mengkaitkan peristiwa sejarah dengan cerita ini.

Mohon bijaksana dalam membaca.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bagian 1: Sultan
... Belanda menyerang pada hari Minggu, hari yang biasa dipergunakan oleh kaum Nasrani untuk memuja Tuhan. Mereka menyerang pada saat tidak lama lagi akan merayakan hari Natal Isa AS, hari suci dan perdamaian bagi umat Nasrani. Justru karena itu semuanya, maka lebih-lebih perbuatan Belanda yang mengakui dirinya beragama Kristen, menunjukkan lebih jelas dan nyata sifat dan tabiat bangsa Belanda: Liciknya, curangnya, dan kejamnya. Karena serangan tiba-tiba itu mereka telah berhasil menawan Presiden, Wakil Presiden, Perdana Menteri, dan beberapa pembesar lain. Dengan demikian, mereka menduga menghadapi suatu keadaan negara republik Indonesia yang dapat disamakan dengan Belanda sendiri pada suatu saat negaranya diduduki Jerman dalam Perang Dunia II, ketika rakyatnya kehilangan akal, pemimpinnya putus asa dan negaranya tidak dapat ditolong lagi. Tetapi kita membuktikan bahwa perhitungan Belanda itu sama sekali meleset. Belanda mengira bahwa dengan ditawannya pemimpin-pemimpin kita yang tertinggi, pemimpin-pemimpin lain akan putus asa. Negara RI tidak tergantung kepada Sukarno-Hatta, sekalipun kedua pemimpin itu sangat berharga bagi kita. Patah tumbuh hilang berganti. Kepada seluruh Angkatan Perang Negara RI kami serukan: Bertempurlah, gempurlah Belanda di mana saja dan dengan apa saja mereka dapat dibasmi. Jangan letakkan s*****a, menghentikan tembak-menembak kalau belum ada perintah dari pemerintah yang kami pimpin. Camkanlah hal ini untuk menghindarkan tipuan-tipuan musuh." Halaban, Payakumbuh, Sumatera. Pidato Mr. Syafruddin Prawiranegara, Ketua PDRI/Perdana Menteri/Menteri Pertahanan/ Menteri Penerangan/Menteri Luar Negeri pada 23 Desember 1948. Sehari setelah Pemerintah Darurat Republik Indonesia dibentuk menyusul setelah Ibukota negara di Yogyakarta di duduki Belanda yang menyebabkan ditangkapnya Ir. Soekarno, Moh. Hatta dan Syahrir. ** "Apapun yang dikehendaki oleh Tuanku Yang Mulia, kami akan tunduk patuh!" ujar seorang pria paruh baya memecah keheningan. Keheningan yang berlangsung lama memenuhi seluruh ruangan, menempatkan empat pria ini dalam kebekuan fikir. "Ini bukan sesuatu yang mudah, rakyatku, rakyatmu pula bergantung pada keputusan kita malam ini" "Yang mulia, jika kita berdiri sendiri. Maka tanah ini akan kembali berdarah. Kita akan kalah jumlah" Pria paruh baya lainnya mulai membuka suara. "Aku paham, ini demi masa depan rakyat. Biarkan aku berpikir semalaman, bermunajat dan berserah padaNya. InsyaAllah, akan ku kabari esok sebelum fajar. Berkumpullah kembali disini setelah tuan-tuan memimpin Shalat Subuh di Kampong kalian" Sultan menutup diskusi. "Baik Tuanku, kalau begitu kami pamit undur diri. Semoga Allah memberikan jawaban yang terbaik. Assalamualaikum!" Ketiga pria itupun berjalan mundur menjauhi sang Sultan, menghilang dibalik gelap malam. ** "Bismillah, aku telah putuskan." Sultan mantap, seraya memberikan secarik kertas bertuliskan tinta emas. Ketiga pemimpin Kampong besar pun membaca kata-per-kata dengan seksama dan perlahan garis kerutan itu mengangkat membentuk sebuah senyuman diakhiri dengan anggukan. "Aku yakin ini adalah jalan terbaik, tak ikut Republik maka kita berpotensi dimusuhi oleh Republik dan direbut kembali oleh Netherland. Aku tak ingin darah kembali tumpah di tanahku. Tak ingin rakyatku menderita. InshaAllah aku ikhlas." "Sungguh Allah telah mengirimkan Sultan terbaik untuk kami. Saya, Syamsul Khairil bin Abdul Salim Khairil pemimpin Kampong Besar Bandar ikut titah Tuanku Sultan!" "Saya, Fachrul Muzzammil bin Rachman Muzzamil pemimpin Kampong Besar Teluk Muara ikut titah Tuanku Sultan!" "Saya, Badrusalam bin Jaidi pemimpin Kampong Besar Lembah Panjang ikut titah Tuanku Sultan!" Ketiga pemimpin Kampong besar berlutut tunduk dihadapan Sultannya, untuk yang terakhir kali. "Bangkitlah Tuanku, telah kusiapkan seluruh emas dan sisa gulden ku. Mari kita berangkat!" Pagi itu, langit tampak begitu biru, Sultan beserta ketiga pemimpin Kampong besar bertolak menuju Solok kediaman Pimpinan Republik saat ini. Perjalanan sehari-semalam telah ditempuhnya menyeberangi laut, sungai, hingga menyusuri rimba Sumatera. Setibanya di tempat yang ia tuju, Sultan tak lantas bertemu dengan tuan rumah. Ia diperkenankan menunggu terlebih dahulu. Sultan enggan menunggu di ruang tamu, meminta nya ia ijin untuk menunggu di Surau untuk melakukan Shalat sunnah beserta ketiga pemimpin Kampong Besar. Lebih dari sejam ia menunggu sampai tiba-lah waktu Maghrib, namun ia masih bersabar menunggu sembari menunaikan Shalat Maghrib. Selesai mengucap salam dan memimpin doa lepas Shalat, lantas seorang pria berkacamata menghampiri Sultan yang berada di posisi Imam. "Assalamu'alaikum, apa yang membawa Tuanku menemui saya?" Ujar pria tersebut sambil mengajaknya berjabat tangan. "Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Tuan sudi menemui saya! Namun, perkenankan aku untuk Shalat Sunnah dan lanjut Shalat Isya, setelah itu barulah aku akan berbicara apa maksudku jauh datang kesini bertemu Tuan." Sultan membalas jabat tangannya dengan tegap dan tegas. Sementara tiga pemimpin Kampong Besar menatap pria itu dengan sinis karena telah membiarkan Sultan yang dihormatinya menunggu lama tanpa jamuan keramahan. Sultan melihat gelagat ketiga pengikutnya seraya memberikan isyarat tangan sebagai tanda agar ketiga pemimpin Kampong Besar lebih menghormati tuan rumah. ** "Silahkan diminum, hanya jamuan alakadarnya. Mohon maaf membuat Tuan-Tuan telah menunggu lama. Tadi saya ada sedikit berdiskusi dengan rekan-rekan." Sang tuan rumah mempersilahkan Sultan beserta ketiga Pemimpin Kampong Besar untuk duduk dan memulai berdiskusi. "Apa gerangan yang membawa Tuan-Tuan datang dari jauh untuk bertemu saya?" Tuan rumah kembali bertanya. Sultan kembali memberikan isyarat tangan kepada pesuruhnya untuk membuka peti berisikan bawaannya berupa emas dan uang gulden. "Tuanku, saya Malik Salam Hudin bin Salahuddin, Sultan Negeri Tiga beserta rekan-rekan pemimpin dari Kampong Besar yang ada di wilayah kekuasaanku, Kampong Besar Bandar, Tuan Syamsul Khairil bin Abdul Salim Khairil. Kampong Besar Teluk Muara, Tuan Fachrul Muzzammil bin Rachman Muzzamil. Kampong Besar Lembah Panjang, Tuan Badrusalam bin Jaidi pemimpin Kampong Besar Lembah Panjang. Yang tak lain maksud kedatangan kami adalah untuk menyatakan bahwa kami hendak ikut Republik." Terang Sultan yang diikuti oleh anggukan ketiga Pemimpin Kampong Besar. "Negeri Tiga?" Sang Tuan Rumah mengernyitkan dahi. "Mohon maaf Tuanku, bukankah Negeri Tiga masih wilayah kekuasaan Inggris?" Tuan Rumah berusaha meyakinkan dirinya. Sultan tersenyum kecil dan memberikan secarik kertas bukti bahwa Negerinya bukanlah milik siapapun. "Tuanku, Negeri kami memang tak seberapa besar. Hanya sebuah pulau yang berada pada selat malaka. Namun bukan berarti kami mudah untuk dijajah. Telah lama Inggris meninggalkan Negeri Tiga. Namun, jika Belanda ataupun Inggris kembali, apalah daya Negeri kecil untuk melawan kekuatan besar." Sultan tertunduk sesaat. "Saya tak ingin rakyat Negeri Tiga kembali menderita, tak boleh ada lagi pertumpahan darah disana. Oleh karenanya, sudi lah Tuanku menerima mahar yang saya bawa sebagai syarat kami hendak ikut pada Republik" "Mengapa baru sekarang Tuanku? Sudah 3 tahun Republik terbentuk, mengapa Tuanku baru datang sekarang?" Tuan Rumah nampaknya meragukan ketulusan Sultan. "Mohon Tuanku memahami, bahwa melepas Negeri yang keluarga saya pimpin dari generasi ke generasi bukanlah hal mudah." Sultan kembali tertunduk. Melihat Tuannya berbicara begitu rendah dan penuh hormat, ketiga Pemimpin Kampong Besar tak lantas dapat berkata apa-apa. Jika Sultannya saja begitu menghormati sang Tuan Rumah, tak pantas rasanya mereka ikut campur dalam pembicaraan penting ini. "Namun Tuanku, sebagai pemimpin dari Negeri Tiga. Tak pantas rasanya saya memberikan nasib rakyatku sepenuhnya." "Maksud Tuan?" Tuan Rumah nampak tersinggung dengan ucapan Sultan. "Mohon maaf Tuanku, bukan saya lancang. Kiranya Tuan menerima syarat kami untuk bergabung dengan Republik." Sahut Sang Sultan seraya memberikan secarik kertas bertinta emas yang telah dipersiapkannya. Sang Tuan Rumah membaca seluruh poinnya dengan seksama, tanpa ragu sang Tuan Rumah menandatangani dokumen tersebut seraya berkata "Dengan kutandatanganinya perjanjian kita ini, maka Tuanku bukanlah lagi seorang Sultan dan Tuan-Tuan bukanlah lagi Pemimpin Kampong Besar. Ku tak ingin adanya kepemimpinan berganda, semua harus tunduk atas komando pusat. Dan Negeri Tiga bukanlah sebuah Negeri lagi, biar kuputuskan nanti apakah akan mejadi wilayah apa nantinya." Sultan dan Ketiga Pemimpin Kampong Besar mengangguk setuju dengan senyum merekah, pertemuan kali itu berjalan lancar. Tak lama berselang, Sultan bertolak pulang dengan perasaan yang tak lebih tak bukan adalah, ikhlas. **

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Trapped in My Future Boss

read
3.4K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.9K
bc

Menyala Istri Sah!

read
4.5K
bc

Putri Zhou, Permaisuri Ajaib.

read
9.0K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
54.4K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
21.7K
bc

OM DEWA [LENGKAP]

read
8.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook