Kau tahu bagaimana rasanya menunggu? Menunggu dirinya membuka mata. Menunggu dirinya mengeluarkan kata-kata pedas dari mulutnya. Menunggu... Rasanya seperti kau berada di tengah-tengah angin topan. Tubuhmu tetap di atas tanah namun kau tidak dapat mengendalikan arah angin. Untuk kesekian kalinya, Victor menundukkan kepalanya di atas lutut. Kedua tangannya mengusap rambutnya yang mulai memanjang dengan gusar. Ia mendesah panjang. "Ini sudah hari kedelapan," kata Victor lebih pada dirinya sendiri. Pergerakan mulutnya membuatnya sadar bahwa ia belum bercukur bulan itu. Rambut wajahnya mulai tumbuh. Apalagi karena semenjak Mawar tak sadarkan diri, ia hampir tidak pernah meninggalkan kamar Mawar. Kantung matanya semakin tebal. Beberapa hari belakangan, pria itu telaten merawat Mawar. Ter

