SETELAH perbincangan kemarin dengan Xavior, Eveline sadar kalau selama ini yang dia lakukan hanyalah menunggu keajaiban dan pasrah saja saat tetua mengatakan jika dia hanyalah seorang half, bukan manusia serigala murni. Tidak ada upaya yang dilakukan Eveline untuk memunculkan wolf dalam dirinya yang selama ini dianggap Eveline memang tak ada.
Dia tak pernah mencoba. Siapa tahu memang ada jalan.
“Eiden, apa tak ada yang bisa kulakukan untuk memunculkan wolf-ku?”
“Kita hanya bisa menunggu, Eve. Jika sudah waktunya, dia pasti akan datang sendiri.”
Oke, jangan salahkan Eveline berpikir hal yang sama seperti. Seseorang yang lebih tua darinya saja menyarankan hal yang sama dan sekarang itu terdengar sangat sesat.
“Setidaknya aku ingin memastikan apakah aku punya serigala atau tidak. Jika memang aku tidak punya, aku tak akan sia-sia menunggunya selama ini.”
Eiden mendongak dari buku-buku yang sedang dibacanya, bahkan menutup buku tersebut dan sepenuhnya menatap Eveline. “Kau tak pernah mempertanyakan ini sebelumnya. Ada apa dengan sekarang?”
Eveline menggeleng pelan, mencebikkan bibirnya. Kakaknya ini mudah sekali menaruh curiga padanya. “Kau tidak tahu bagaimana setiap malam aku bertanya-tanya apakah aku akan memilikinya atau tidak.”
“Kita bisa memeriksakannya pada penyihir atau tetua untuk melacak keberadaan serigala Eveline jika memang dia ada. Tidak mungkin ‘kan di usianya ini serigalanya tak akan terbaca?” saran Jaiden.
“Bisa dicoba. Kau mau melakukannya?”
“Ya, aku mau. Setidaknya aku ingin sebuah kepastian.”
Eiden dan Jaiden saling bertatapan yang mana Eveline menduga mereka sedang melakukan mindlink. Ya, senangnya bisa melakukan mindlink dan memiliki jiwa lain untuk diajak bicara atau dimintai pendapat. Hal yang mungkin tak akan terjadi pada Eveline dalam waktu dekat.
“Tunggulah di bawah. Aku dan Jaiden akan turun sebentar lagi.”
“Baiklah. Jangan lama-lama.”
Dua orang itu memang sesuatu sampai Eiden nekat menyalahi aturan dan mengganti Risand dengan seseorang yang dikenalnya selama beberapa bulan. Dan karena kecocokan itu pula beberapa orang merasa tidak nyaman—seolah Eiden ada dua.
Sampai di lantai dasar, Eveline mengenakan sarung pedangnya dan menyampirkan busur serta anak panah di bahunya. Sebuah keharusan jika dia akan pergi ke luar mansion, bahkan dengan penjagaan para warrior dan Eiden sekalipun. Entahlah, apa saja bisa terjadi. Dia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.
Eveline pernah, bahkan dulu sangat sering mengalami percobaan p*********n. Ya, sampai saat ini memang tak ada yang berhasil karena selalu ada yang menolongnya, tetapi tak ada jaminan kalau hal itu terjadi setiap waktu.
Eiden dan Jaiden sampai tak lama kemudian. “Kau akan berlatih juga hari ini?” tanya Eiden.
“Pemeriksaannya tak akan lama, bukan? Lagian kau sendiri yang bilang untuk selalu waspada. Inilah caraku selalu waspada, Kak.”
Eiden terkekeh, mengusak rambut merah adiknya. “Kau tak pernah mengecewakanku.”
Atensi Eveline teralihkan pada sebuah benda berselimutkan kain yang dibawa Jaiden. Bentuknya tabung panjang dan berukuran cukup besar. “Untuk apa itu?” tanyanya.
“Sesuatu untuk dibicarakan dengan tetua. Ini tentang pack, Nak, kau tak akan mengerti,” jawab Jaiden memasangkan benda tersebut ke tas pinggangnya. Tampaknya cukup ringan.
“Ya, terserah sajalah, orang tua. Aku memang tetap menjadi yang paling muda di antara kalian.” Eveline bersungut-sungut. “Jadi, aku harus menaiki siapa?”
“Tentu saja aku. Kau pikir aku akan membiarkannya menggendongmu? Enak saja.”
Ya, Eiden akan selalu menjadi kakak yang protektif tak peduli sudah setua apa Eve, bahkan kehadiran Yves dulu tak mengubah apa pun. Eveline pernah mengira sifat protektifnya akan menghilang jika sudah bertemu mate, tetapi nyatanya sama saja. Jika pria itu tak bisa mengawasi Eveline secara langsung, dia akan memerintah Jaiden.
Entah bagaimana reaksi Eiden jika tahu Eveline sudah menemukan mate, terlebih mate-nya adalah Beta dari Supermoon Pack.
Dengan Eveline di punggung Eirth, mereka bertiga menuju ke tengah-tengah hutan di mana rumah tetua berada. Bagi penduduk setiap pack, memang tidak ada petunjuk jalan tersendiri untuk menuju suatu tempat dalam pack. Semuanya hutan untuk mengecoh para rogue atau musuh yang menyelinap.
Sudah lama sejak terakhir kali Eveline datang ke rumah seseorang yang paling sakti di pack tersebut. Ah, terakhir kali untuk memastikan bagaimana keadaan Eveline yang tak kunjung merasakan kehadiran wolf-nya sementara yang lainnya sebagian besar sudah muncul.
Saat itu, Eveline datang bersama sang ayah yang saat itu masih menjadi Alpha. Dia kira itu terakhir kalinya menginjakkan kaki di sini, tetapi ternyata di sinilah Eve sekarang.
Satu hal yang paling menyebalkan saat memasuki rumah mereka yang memiliki kekuatan supranatural adalah selalu penuh dengan bakaran atau aroma yang tidak sedap. Asap tipis langsung menyebar keluar saat Eveline membuka pintunya.
“Bau apa ini?” keluhnya menjepit hidung. Asap itu memenuhi ruangan hingga butuh beberapa waktu bagi mata untuk bisa menyesuaikan penglihatan.
“Bau tanaman yang meningkatkan kekuatan tetua. Semakin bau, semakin hebat dia bisa melakukan sesuatu.”
“Entah bagaimana itu bisa berpengaruh, aku memang tak akan mengerti cara kerja kalian.”
Seseorang yang sudah lebih dulu berada dalam asap membungkuk pada mereka, kemudian asap tersebut menghilang sepenuhnya. Sang tetua. Dia melirik pada benda yang dibawa Jaiden dan bertanya, “Kau ingin membahas tentang rencana itu, Alpha?”
“Ya, sudah waktunya ke tahap selanjutnya.”
“Lalu ... Nona Eveline?”
“Aku ingin kau melakukan penglihatan terhadapnya. Hanya penglihatan kecil untuk memastikan sesuatu tentang adik kecilku.”
Tetua mengangguk. “Duduklah, Nona,” ujarnya duduk bersila, begitu juga dengan Eveline. Tetua membakar sisa-sisa tanaman kering dalam sebuah wadah kecil hingga asap yang tadinya sudah menghilang mulai berkumpul kembali. “Berikan tanganmu.”
Dengan mata memejam, jari-jari tetua menyentuh setiap jengkal telapak tangan Eveline. “Apa yang ingin diketahui?”
“Apakah sebenarnya aku memiliki serigala dalam tubuhku? Jika ya, apa aku bisa berubah suatu hari nanti?”
Telapak tangan Eveline ditekan-tekan pelan seolah sedang memijat. Kening dan kelopak matanya menunjukkan ekspresi yang berubah-ubah, kadang terlihat bingung dan kadang terlihat tak yakin. Begitu juga dengan tekanan di tangannya, bisa menguat sewaktu-waktu.
Padahal daun-daun yang dibakar itu sudah sangat bau dan pekat. Perlu sebanyak apalagi sampai kerjanya dapat selesai dengan cepat?
“Kenapa lama sekali?” keluh Eve.
“Eksistensinya sangat lemah. Dia baru hidup atau sisa-sisa kehidupannya?” gumam sang tetua.
“Apa maksudnya itu?”
“Biarkan dia membacanya sampai akhir,” sela Eiden.
Tetua masih ‘membaca’ dan memejamkan matanya selama beberapa saat. Begitu selesai, sang tetua menunjukkan raut yang kurang menyenangkan. “Aku merasakan adanya serigala di dalam, tetapi sangat samar. Aku bahkan tak yakin jika serigala tersebut bisa berkembang dan berubah atau tidak.”
“Berarti tetap ada kesempatan, ‘kan?”
“Tetapi, ada sesuatu lain yang kurasakan. Ada sebuah energi lain di tubuh Nona.”
“Apa mungkin itu karena dia half dan memiliki sebagian besar ciri manusia?”
“Entahlah, Alpha, aku belum bisa memastikannya. Akan kukabari jika aku tahu persis apa itu.”
Biarpun hasilnya tidak pasti, setidaknya Eveline tetap senang mengetahui ada sesuatu di dalam tubuhnya—walau entah apa itu. Semoga saja memang wolf, semoga saja kesempatan itu memang ada dan mungkin terjadi.
“Eveline, bisa kau keluar sebentar?” pinta Eiden.
Eveline menoleh pada Jaiden, tepatnya sesuatu yang dibawa pria itu. “Ingin membicarakan tentang itu?” dengkusnya. “Aku akan pulang lebih dulu atau mungkin berjalan-jalan. Tak usah terburu-buru.”
Keluar dari ruangan itu seolah mendapatkan kembali semua pasokan oksigen yang dibutuhkannya. Terlebih karena kabar bahagia yang didapatkannya menambah berkali-kali lipat kelegaan yang dirasakannya.
Xavior benar. Setidaknya Eveline harus mencoba dan berusaha lebih dulu.
“Halo? Kau bisa mendengarku?”
“Aku bisa mendengarmu.”
Eveline tersentak, mendengkus keras seraya menoleh. “Astaga, Gaston. Kau mengejutkanku saja.”
“Berusaha menghubungi wolf-mu?”
“Hm, tetapi tak ada balasan. Kenapa kau tak masuk bersama Eiden dan Jaiden?”
“Entahlah. Mungkin menemani kucing kecil kita kedengaran lebih baik.” Gaston sama saja dengan Eiden, suka sekali membuat rambut merah Eveline berantakan.
“Beraninya kau memanggilku kucing. Kau akan merasakan cakaran pedangku jika mengatakannya lagi.”
“Astaga, kau sangat menakutkan. Mungkin perang selanjutnya kau harus jadi panglima,” canda Gaston.
Sayangnya, tidak terdengar lucu sama sekali di telinga Eve. Hal pertama yang dipikirkannya adalah peperangan antara Supermoon Pack dan Megamoon Pack. Pertarungan yang tak akan pernah diinginkannya, bahkan jika ditawari jadi panglima.
“Aku tak mengharapkan ada perang atau perselisihan apa pun lagi.”
***
Baru bertemu beberapa kali, tetapi pagi ini terasa hampa karena Xavior tidak bertemu dengan Eveline. Mereka sepakat untuk tidak bertemu paling tidak selama sehari dan memikirkan tanda apa yang bisa mereka gunakan untuk mengajak bertemu.
“Tidak ke perbatasan?” Damian bertanya heran karena belakangan Xavior selalu pergi ke perbatasan, sekarang malah mengekorinya ke mana-mana.
“Tidak. Sepertinya aku sudah terlalu sering ke sana.”
“Tak apa. Tak akan ada yang membahayakanmu, ‘kan? Rogue bukan tandinganmu.”
“Kau baik-baik saja, Alpha? Kau terlihat pucat.”
Refleks Damian meraba wajahnya sendiri, merasakan bulu-bulu halus mulai tumbuh di rahangnya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali Damian merasakan jambang-jambang kecil itu menyambangi wajahnya.
“Hari-hari biasa yang memusingkan.”
“Kau masih tak mau menemui Luna? Kau ingin aku yang melakukannya saja?”
“Bukankah kau bilang harus aku yang melakukannya.”
Xavior mendesah berat. “Daripada kalian sama-sama menyiksa diri, lebih baik aku terpaksa turun tangan.”
“Lupakanlah. Aku saja yang akan melakukannya, hanya saja aku memerlukan lebih banyak waktu.”
“Pastikan kau benar-benar melakukannya.”
Damian berhenti di balkon, memandang ke bawah sana dengan pikiran yang sama-sama ribut seperti sang Beta. Tugasnya sebagai Alpha saja sudah menyita pemikirannya, ditambah urusannya dengan Flora yang kian pelik.
“Alpha, apa yang akan kita lakukan dengan Emerald Pack? Mereka bisa meminta perlindungan dari Megamoon Pack dan itu bisa berbahaya. Mereka terlalu lama bersekutu dengan kita dan tahu banyak hal.”
“Ya, kita tak bisa menyepelekan mereka, tetapi aku tak bisa memaafkan Tyra dan menganggap semuanya tak pernah terjadi. Kelakuannya merupakan sebuah penghinaan bagiku.” Damian mendesah, berbalik menghadap Xavior. “Kita tunda saja mengurus mereka, aku yakin mereka tak akan berpaling pada Eiden.”
Xavior mengangguk-angguk. “Untuk ke dunia manusia waktu berikutnya, ada tambahan muatan. Beberapa bayi baru saja lahir dan kita memerlukan lebih banyak persediaan makanan.”
Faktanya, sulit fokus dengan prioritas lain yang menjadi masalah utamanya. Masalah yang lain terdengar sepele, tidak serumit yang utama. “Xavior, menurutmu seberapa fatal aku membohongi Flora?”
“Tentang kembali ke dunianya? Aku tak bisa mengukurnya sendiri, Alpha, yang jelas pasti Luna sangat kecewa. Dia sudah senang karena kau bilang akan memulangkannya dan hidup bersama di dunia manusia, tetapi faktanya itu hanya akal-akalanmu. Dia tak akan mudah percaya padamu ke depannya.”
“Aku juga tak berharap banyak bahwa dia akan percaya padaku lagi. Mau memaafkanku saja sudah cukup.”
“Entah aku harus berkata berapa kali, tapi kau harus berusaha, Damian.”
Damian mendongak, matanya membesar. “Kau memanggilku Damian? Kau kesal karena terus menasihatiku tetapi aku tidak melakukannya?”
“Aku bukan kesal. Aku hanya tak ingin kau dan Luna terus terjebak dalam masalah yang dibuat oleh kalian sendiri.”
“Kalau begitu kenapa tidak dia saja yang minta maaf? Kenapa harus aku? Apa karena aku lelaki dan aku yang lebih berkuasa, jadi harusnya aku merasa dia rendah dan harus sedikit bertoleransi, begitu?”
Sudah ditetapkan, Damian memang lebih menyebalkan dibanding Dane. Entah kenapa atau sejak kapan Alpha yang terkenal itu berubah menjadi pengecut atau enggan bergerak lebih dulu, memutuskan untuk menunggu yang lainnya untuk mulai.
Lagi dan lagi, Xavior juga yang terseret ke dalam masalah ini.
“Jika aku berkata iya, apa kau akan menemui Luna?”
“Tidak. Dia belum cukup mendapatkan hukumannya.”
“Baru kali ini aku merasa kau lebih menyebalkan dibanding Dane. Terserahlah, jangan mengeluh padaku tentang Luna lagi,” dengkus Xavior meninggalkan sang Alpha, ke mana saja yang penting menjauh dari pria yang membuat pikirannya bekerja dua kali lebih keras.
“Hei! Beraninya kau berkata begitu pada Alphamu sendiri, sialan!”
***
Di hutan yang gelap, yang dipenuhi dengan awan hitam tanpa ada satu pun cahaya yang bisa tembus dari langit. Tampak begitu gelap di antara semua tempat lain di sekitarnya.
Seekor serigala dengan tanda putih di lehernya berjalan di antara pepohonan yang sama hitamnya dengan sekitarnya. Makhluk di sekitarnya berbeda dengannya, tidak ada yang sama satu pun. Meski makhluk lain di sekitarnya memperhatikannya lekat-lekat, serigala tersebut tak gentar melewatinya.
Di dekat sebuah pondok, serigala tersebut berhenti di pohon besar dan mengenakan pakaiannya begitu berganti wujud. Tidak ada siapa pun di sekitar sini, wilayah khusus bagi mereka yang berkepentingan.
“Kau kembali tiga hari lebih cepat daripada biasanya,” ujar seseorang menyambut kedatangan pria yang baru saja datang tersebut dan duduk di hadapannya.
“Ada sesuatu yang mendesak. Aku harus memastikan sesuatu.” Si pria membungkuk, berbisik pada seseorang yang mengenakan pakaian serba hitam tersebut.
“Biar kuperiksa.”
Si pria berpakaian hitam melakukan sesuatu dengan semua benda di hadapannya. Bibirnya berkomat-kamit dengan asap yang mengepul. Kepulan hitam berkumpul di belakang tubuhnya, membentuk sebuah wujud yang tampak seperti manusia.
“Ya, tampaknya mereka memang bersama.”
“Apakah ada peluang untuk mengacaukannya?”
“Kau tahu jika berhubungan denganku dan bangsaku, selalu ada peluang untuk mengacaukan sesuatu. Kau tahu bagaimana sifat asli kami.”
Si pria yang baru saja datang menyeringai. “Kalau begitu rencanakan hal yang bisa memisahkan mereka secepatnya. Aku tak ingin kesempatan ini berlalu begitu saja.”
“Tak usah khawatir. Mereka berdua sama-sama naif. Peluangnya akan selalu terbuka untuk seseorang yang percaya pada orang lain. Tak usah terburu-buru, kau pastikan saja mereka tetap memiliki celah masing-masing. Kau tak akan menyesal bekerja sama denganku.”
“Oleh karena itu, jangan buat aku menyesali risiko yang sudah kuambil.”