EPW 8 Next Try

3529 Kata
TIDAK ada janji sama sekali, tidak ada tanda dari burung phoenix yang terbang. Namun, Eveline tetap pergi ke perbatasan—hanya untuk sekadar menuntaskan rasa penasarannya. Dan lagi, dengan Jaiden memergokinya waktu itu Eveline memiliki alasan kuat dengan alasan untuk pergi berlatih. Tidak terduga dan tidak berharap sama sekali, tetapi seseorang yang dibayangkannya memang ada di sana. Duduk di tempat biasa mereka berbincang. Eveline sampai menganggap ini mimpi karena tidak bisa dipercaya jika Xavior benar ada di sana. Saat mereka membuat janji saja ada banyak hambatannya, tidak masuk akal tidak sengaja bertemu seperti ini terjadi dengan mudahnya. “Sejak kapan kau ada di sini?” Xavior menoleh, tersenyum manis menyambut kedatangan Eveline. “Entahlah, setengah jam yang lalu? Kita tidak menetapkan waktunya.” “Ya, dan aku tidak bilang aku mau datang atau tidak.” “Tetapi kau di sini, ‘kan?” “Sebenarnya jika kau tidak ada, aku ke sini untuk berlatih panahan. Jaiden sudah bilang pada Eiden kalau aku berlatih di perbatasan dan kakakku mengizinkannya,” ujar Eveline memamerkan busur dan anak panah yang selalu dibawanya ke mana-mana. “Kalau dia tahu tempatnya di sini, mungkin reaksinya akan lain,” gumam Xavior tidak didengar Eveline. Wanita itu menimbang-nimbang haruskah dia berbicara mengenai, “Xavior, sepertinya ada kabar baru mengenai wolf-ku.” “Benarkah? Jadi bagaimana?” “Tetua bilang dia merasakan semacam kehidupan yang samar. Dia tak yakin apakah wolf-ku belum tumbuh atau dia sudah mati.” “Masih ada kesempatan.” Xavior mengangguk-angguk. “Lunaku manusia, tetapi Alpha pernah bilang tetua bisa membuat Luna melakukan mindlink. Ya, tentu saja Luna hanya bisa melakukan mindlink pada Alpha karena akan berisiko jika terlalu banyak orang.” “Hanya bisa untuk beberapa orang, berbeda dengan memiliki wolf.” Eveline menendang-nendang udara, merasa marah sendiri pada dirinya yang tidak memiliki wolf. Bukan tentang mindlink, tetapi setidaknya Eveline bisa dianggap manusia serigala dengan memiliki wolf walau tidak bisa berubah wujud. Jika dia tidak memiliki sama sekali, terasa seperti manusia sepenuhnya. “Bukankah yang penting sekarang kita bisa berhubungan dulu?” Ujaran Xavior mengundang tatapan terkejut dari Eveline. Xavior sendiri terhenyak setelah beberapa saat, sadar betapa dia terdengar egois. “Maafkan aku, aku tak bermaksud orang lain tidak penting bagimu.” “Bersabarlah beberapa waktu lagi. Jika aku masih tidak bisa melakukan mindlink secara alami, aku akan datang ke tetua,” desah Eveline duduk di samping Xavior. “Jadi, apakah kau punya ide untuk tanda pertemuan kita?” Pria itu mengangguk dan mengedepankan tas punggungnya. Dia mengeluarkan beberapa benda yang baru pertama kali dilihat Eveline dengan bentuk yang tidak sesuai dengan barang-barang di dunianya. “Salah satu warrior membelikan ini dari dunia manusia. Kupikir ini bisa berguna.” “Apa itu?” tanya Eveline setelah menerima kedua benda yang diserahkan Xavior. Pria itu menyimpan dua benda yang sama persis. “Teropong dan senter. Kita bisa menggunakannya di atap jika ingin bertemu.” Xavior mengambil satu benda yang bentuknya panjang dan menekan sesuatu di sampingnya—sebuah tombol. Bersamaan dengan itu, cahaya keluar dari sisinya yang lain, bersinar lurus selaras dengan arah yang ditunjukkan Xavior. “Warnanya merah?” “Ya, aku melakukan sesuatu pada senternya agar terlihat saat siang hari. Jika terlalu jauh untuk melihat, kita bisa menggunakan teropong.” Bak sedang melakukan demo, Xavior kembali menunjukkan bagaimana cara pemakaiannya. Dia menempatkan bagian yang lebih kecil di depan wajah Eveline dan mendekatkannya ke mata. Kening Eveline mengernyit dalam dengan apa yang dilihatnya, tampak sangat terkejut. Teropong di arahkan ke semua sudut sebelum berhenti di satu titik. “Astaga, kau dekat sekali. Aku bisa melihat kulitmu dengan sangat jelas. Aku tidak tahu ada benda seperti ini. Lebih hebat dan dekat dengan penglihatan kita yang biasa.” “Ada banyak benda yang tidak kita pikirkan di dunia manusia. Luna sering menceritakan betapa berbedanya di sini dengan di dunianya.” “Pasti tak mudah untuk pertama kali.” Xavior terkekeh. “Aku ingat Luna selalu memelototi aku dan Alpha setiap kali kami ke kamarnya. Dia akan menggerutu berbagai macam hal dan keras kepala ingin pulang. Menggelikan jika mengingatnya.” Eveline menurunkan teropongnya, terpikir sesuatu. Benar juga, Lunanya Xavior sepenuhnya manusia, tetapi dia bisa bertahan di sini. Wanita yang sangat tangguh, bahkan berani melawan—dengan kabur. Jika berkaca pada sang Luna, kedengarannya menjadi manusia tidak seburuk itu. “Aku sangat ingin bertemu dengan Luna, tetapi mungkin akan sulit. Itu artinya Alpha harus mengetahui dulu tentang aku dan kita dan kemungkinan besar mereka akan menolak,” gumam Eveline. Xavior meremas tangan Eveline, menuntut untuk menatapnya. “Percaya padaku, aku bisa meyakinkan Alpha untuk menerimamu. Bagaimanapun, kau bukan ancaman atau seseorang yang akan memanfaatkan keputusan Moon Goddes untuk menjadikan kita mate.” “Tetapi aku juga mengkhawatirkan Eiden. Dia pasti akan melakukan sesuatu jika tahu kau mate-ku. Dia akan berpikir kalau kau akan melakukan segalanya untukku.” “Memang benar, aku akan melakukannya.” Tatapan mereka berdua beradu dengan jarak yang cukup dekat dan Xavior yang melanjutkan, “Tetapi tidak untuk menyempurnakan rencana Eiden. Aku akan menjadi orang pertama yang menentangnya.” “Jika aku bisa, aku tak ingin Eiden menyebabkan ada peperangan atau perkelahian lagi.” Kedengarannya cukup mustahil, bahkan jika Eveline menempatkan Eiden sebagai kakaknya. Dia terlalu hafal bagaimana sikap kerasnya yang tak peduli dengan siapa pun jika orang itu tidak sepaham dengannya, termasuk Eveline. Merajuk pun tidak akan meluluhkannya. Xavior meraba kantong lain di tasnya. “Eve, ada sesuatu lagi yang ingin kuberikan padamu,” ujarnya meletakkan sebuah benda persegi berwarna merah muda dengan pita kecil di paha Eveline. “Apa ini?” “Luna bilang ini namanya dompet. Aku menemukannya di gudang tempat kami menyimpan banyak barang dari dunia manusia. Luna bilang untuk memberikannya jika aku menemukan mate. Jadi, itu untukmu.” “Terima kasih. Ini cantik sekali—walau aku tak tahu untuk apa.” “Kalau begitu, kau bisa menyimpan batu ini dariku untuk sementara. Aku akan segera mengganti batu itu dengan sesuatu yang lebih bagus,” ujarnya memungut dan memasukkan batu berukuran kecil tersebut ke dalam dompet seolah dia sedang memasukkan uang koin. “Terima kasih lagi,” kekeh Eveline. “Xav, sepertinya aku harus pergi.” “Tidak bisakah kau tinggal sebentar lagi?” “Kupikir sudah terlalu lama. Lagi pula aku juga takut ada yang melihat kita di sini.” “Mungkin sebaiknya kita cukup berkomunikasi lewat surat saat malam. Sepertinya aku juga harus segera menyelesaikan masalah Alpha dan Lunaku.” Xavior menarik Eveline berdiri. “Bisakah aku memelukmu sebelum pergi?” Eveline tercekat, sangat tidak menyangka akan mendengarnya. “T-tentu saja.” Wanita itu berusaha merilekskan tubuhnya saat Xavior merengkuhnya. Jenis rengkuhan yang hangat dan tidak menjepit. Ini pertama kalinya Eveline dipeluk pria selain Eiden. Semoga saja Xavior tidak merasakan detak jantungnya yang bertalu-talu atau betapa gagal Eveline melemaskan tubuhnya. Sementara itu, Xavior menghadapi kesulitan yang berbeda. Dia harus menekan dirinya dan dorongan dari Rex untuk menghalau aroma tubuh Eve yang sangat memanjakan hidungnya. Apalagi jaraknya dengan leher Eveline sudah menempel, hanya tinggal menancapkan— Xavior menggeleng keras, berefek dengan menguat pelukannya. ‘Tahan, Rex. Jangan buat Eve membenci kita.’ Eveline yang lebih dulu mendorong d**a Xavior agar mengurai pelukan mereka. “Aku menunggu surat darimu,” bisik Xavior. “Ya, akan kukirim.” Pria itu bak sedang dihipnotis, hanya diam dan menyentuh kedua pipinya sementara Eveline berlari menjauh. Seolah baru saja mendapatkan lotre berhadiah persediaan daging yang tak akan pernah habis. “Aku baru saja memeluk seorang wanita ....” *** Ada iring-iringan dan sekumpulan warrior dari luar pack di depan mansion Megamoon Pack. Eveline tak tahu berasal dari mana manusia serigala dengan warna resmi violet muda tersebut, tampak menggelikan melihat serigala dengan warna demikian. Mungkin Moon Goddes sudah mencoba semua warna untuk menjadi warna setiap pack dan yang ini kebagian warna ungu. Karena enggan dan lelah harus bertemu dengan kakaknya, Eveline berniat masuk ke mansion lewat pintu lain—yang jelas bukan pintu utama karena mengarah langsung ke semua tempat untuk membahas pack. Sayangnya sebelum dia berbalik, seseorang sudah berujar, “Eveline, kemarilah.” Eveline memutar bola matanya. Tentu saja itu sang kakak, dengan beberapa orang bersamanya. Mau tak mau wanita itu menghampiri sang Alpha. “Ada apa?” “Kau ingat mereka? Mereka dari Amethys Pack. Dia Winston, dulu kalian sering bermain bersama.” Ah ya, batu ametis; warna ungu. Salah satu pack yang menjadi sekutu Megamoon Pack. Eveline ingat dulu dia pernah merengek ingin memiliki bulu seperti mereka karena sangat menarik di mata seorang bocah perempuan. Ya, untungnya sekarang dia malah bersyukur tidak berada dalam pack tersebut. “Benarkah? Aku tak ingat pernah punya teman karena kau sering melarangku bermain,” gerutu Eveline melirik seorang pria yang tampak seumuran dengannya. “Setidaknya kalian benar-benar teman dulu. Ayolah, jangan hanya bergaul dengan Jaiden, kau harus berinteraksi dengan seseorang dari luar pack juga.” Diam-diam Eveline berdecih. Andai Eiden tahu kalau dia sudah melakukannya, bahkan lebih dari sekadar berinteraksi. Pria yang tampak seumuran dengannya itu merangsek di antara Eiden dan Eveline, dengan tampang percaya dirinya menyapa, “Halo, Eve.” Rambut putih gelap ditata ke atas, aroma khas batu basah yang kuat, dan jangan lupakan kulit putihnya yang dihiasi bintik-bintik kecil merah dan coklat. Entah kapan dia pernah bertemu dengan pria seperti itu—yang katanya Winston. “Tolong Eveline saja. Aku tak nyaman,” dengkus Eveline meninggalkan kakak dan tamu-tamunya. Tentu saja dia berharap Winston juga tetap diam, tetapi pria itu malah mengikutinya dan tidak mengindahkan raut tak menyenangkan Eveline. “Baiklah, Eveline. Kita sudah lama tidak bertemu, ya?” “Bahkan aku tidak ingat kapan kita pernah bertemu.” “Sudah lama sekali, sewaktu kita masih kecil.” “Aku hanya ingat dengan Amethys Pack, tidak denganmu. Jadi, sebenarnya kau siapa di Amethys Pack?” “Aku calon Alpha. Ayahku masih belum percaya aku sudah bisa menjadi Alpha jadi aku masih berada dalam pengawasannya.” “Semoga kau tak akan mendapatkannya.” “Apa kau bilang?” “Lupakan saja.” Eveline berhenti di tengah lorong, menghadap ke kanan yang mana tempatnya berlatih bela diri. “Kau mau berlatih? Jika kita memang teman dulu, seharusnya kau tahu jika aku half dan seorang half harus menguasai banyak senjata.” “Ya, kupikir kau tak perlu karena kakakmu Eiden dan ada banyak warrior yang menjagamu.” Eveline semakin yakin tak pernah benar-benar berteman dengan pria yang katanya calon Alpha itu. Lebih manja dibandingkan dirinya yang hanya half dan adik Alpha. “Jangan menyepelekan musuh. Justru karena Eiden adalah kakakku makanya aku harus ekstra waspada.” Dia menyodorkan busur beserta anak panahnya. “Kau lebih dulu.” Winston menerimanya dengan ragu dan tampak kaku saat menarik tali busur. Beberapa kali dia membenarkan posisinya, tetapi tetap kesulitan membidik target yang berjarak sepuluh langkah tersebut. Saat akhirnya dia melepaskan tali yang sudah ditariknya, anak panah terlontar jauh dari target, sama sekali tidak mengenai bantalan target. Seraya menggerutu, Winston memberikannya kembali pada Eveline. “Tak heran kenapa aku tak bisa menggunakannya sama sekali. Senjata ini dikhususkan bagi manusia serigala rendahan.” Shoot! Anak panah terlepas begitu saja dari belakang kepala Winston, tertancap tepat di tengah target. “Ya, kalau begitu kau seharusnya tak mau bergaul dengan serigala rendahan sepertiku,” dengkus Eveline. “B-bukan itu maksudku, Eve.” “Eveline.” “Menguasai senjata tidaklah wajib bagi seorang Alpha. Akan ada banyak warrior yang menjaganya hingga tak membutuhkan ini semua,” alibi Winston. “Ternyata ada orang yang lebih buruk dibanding Eiden. Setidaknya dia sadar untuk mengandalkan diri sendiri, bukannya merasa tenang karena menjadi penguasa yang memiliki banyak pengawal.” “Hei, apa maksudmu?” “Kalau kau pintar, kau bisa mengartikannya sendiri.” Eveline menyampirkan kembali busur dan tas anak panahnya walau dia tidak berniat ke mana-mana. Hampir saja Eveline berharap jika Winston akan terlalu malu untuk mengikutinya, tetapi di sanalah pria itu berada. Masih mengikutinya. “Jadi, kau belum menemukan mate-mu?” tanya Winston. “Kelihatannya?” “Tampaknya belum. Entah kenapa aku mencium bau dari Supermoon Pack darimu.” Sontak Eveline berhenti berjalan dan mengendus tubuhnya sendiri. Astaga, dia lupa tadi Xavior memeluknya. Pasti dari sana baunya menempel. “Kau mengetahui bagaimana baunya?” “Ya, aku punya saudara di sana. Meski akhirnya kita jadi musuh karena aku mengikuti kakakmu, aku hafal bagaimana baunya.” “Lalu bagaimana denganmu? Belum memiliki seorang wanita untuk diganggu?” “Aku lebih muda darimu, jadi aku bisa tenang selama kau belum menemukannya juga.” Entah dari mana datangnya, mendadak pria ini merasa seolah dia paling akrab dengan Eveline. Mungkin kalau dia tahu Eveline sudah menemukan mate dan mate-nya berasal dari Supermoon Pack, Winston tak akan mengikutinya lagi seperti sekarang. Dia akan bertingkah sebagai anak buah Eiden yang paling setia dengan ikut memusuhi Eveline. Sedikitnya, Eveline mengharapkan hal itu terjadi sekarang. “Kenapa kau ke sini?” “Ayahku sedang berada dalam perjalanan menuju timur sekaligus mengenalkanku pada pack-pack sekutu.” “Jangan bilang kau akan menginap.” Winston mengedikkan bahu. “Sayangnya ya. Tak ada pack sekutu dalam jarak yang dekat dan sekarang sudah hampir petang. Lagi pula kakakmu sendiri yang menawarkannya.” Menghela napas super dalam, Eveline mendengkus dan melanjutkan jalannya. “Terserahlah, asal jangan ganggu aku.” “Oh, aku tak bisa melakukannya. Aku tak mungkin mengganggu kakakmu karena aku tidak mau mati.” “Rambut merahmu sangat cocok denganmu, Eve. Kupikir tak ada yang lebih cocok dengan warna rambut seperti itu jika bukan kau.” “Kuharap Betamu tak akan mengutuk hidupnya karena harus menjadi Beta dari Alpha yang berisik sepertimu.” *** Satu dari hari paling buruk yang diingat Eveline. Bayangkan saja, dia baru pertama kali bertemu dengan Winston dan pria itu sudah merepotkannya setengah mati. Berjalan-jalan ke sini, mengikuti ke sana, belum lagi dengan perkataan yang tak ada habisnya. Ayolah, bahkan dia tak bisa memangsa buruannya sendiri dan—ah sudahlah. Malam hari dan Eveline masih tertahan bersama mereka. Kalau bukan karena Eiden yang memerintahkannya sebagai Alpha untuk makan malam bersama, lebih baik Eveline kelaparan atau mengendap-endap tengah malam. Masih lebih baik dibanding terjebak dalam situasi super membosankan ini. Eiden dan Alpha dari Amethys Pack, Alpha Hans, sibuk membicarakan beberapa hal tentang pack. Satu-satunya suara yang terdengar di meja makan karena selain mereka, yang lainnya hanya diam mendengarkan. Aneh melihat Eiden bisa berbicara banyak dengan orang lain. Biasanya hanya Jaiden yang betah menjadi teman bicaranya. “Eve, kenapa kau diam saja?” tanya Eiden di sela-sela diskusinya. Eveline melirik malas. “Lalu aku harus bicara sendiri?” “Mengobrollah dengan Winston. Kalian bisa dekat lagi seperti dulu.” “Ya, Eve, cobalah nyaman denganku,” ujar Winston. Lirikan tajam Eveline langsung melayang pada pria itu, seolah memerintahkannya untuk diam saja. “Dagingnya sangat lembut, Eve. Kau dan Winston memilih mangsa yang tepat,” puji Alpha Hans. “Sebenarnya, Ayah, Eve yang memilih mangsanya. Aku hanya membantunya melumpuhkan mangsa itu dengan bantuan serigalaku.” “Adikmu sangat tangguh walau dia hanya seorang half.” “Apa maksudmu ‘hanya’? Apakah menjadi half adalah sesuatu yang buruk?” dengkus Eiden terdengar tersinggung, membuat seisi ruangan menegang, terutama Alpha Hans. Bahaya jika Eiden sudah emosi. Walau umur mereka jelas jauh lebih tua Alpha Hans, tetapi soal kuasa dan kekuatan jauh lebih unggul Eiden. Siapa yang bisa dibandingkan dengannya? Mungkin hanya Damian. “Tidak, Alpha, bukan maksudku begitu. Eve cerminan dirimu dalam bentuk wanita yang selalu tangguh dalam setiap kondisi. Bukannya seperti ....” Walau perdebatan itu tentangnya, Eveline malah cuek. Sontak dia berdiri saat melihat burung phoenix terbang menuju mansion, menarik perhatian orang-orang, terutama Eiden dan Alpha Hans yang sedang bersitegang. “Eiden, aku ingin ke kamar lebih dulu. Semuanya, tolong selesaikan makan malam kalian.” Tanpa menunggu apa pun lagi, Eveline langsung melesat ke kamarnya dan mengunci pintu. Burung phoeix itu sudah ada di sana, di bingkai jendelanya yang dibiarkan terbuka. Surat tergeletak tak jauh darinya. “Auch!” Eveline lupa kalau burung phoenix itu berapi, otomatis suratnya juga panas. Dia mengambil kain dari lemari dan menutup surat tersebut seluruhnya, mengusap-usapnya untuk menghilangkan gel yang menahannya dari panas burung phoenix. Xavior : Surat darimu tak kunjung datang, jadi aku mengirimkannya lebih dulu. Apa yang sedang kau lakukan? Semua hal menyebalkan yang terjadi hari ini seolah tak pernah ada. Sudut bibir Eveline terangkat begitu saja, membentuk sebuah senyuman yang lebar. Eveline : Maaf aku terlambat mengirimkannya. Eiden sedang kedatangan tamu dari Amethys Pack dan mereka menginap sehingga aku harus ikut makan malam. Jika aku bisa, aku sudah menyelinap dari tadi. “Di mana aku menaruh gelnya?” Gara-gara Winston, Eveline lupa menyiapkan malam ini sebaik mungkin. Dia yang biasanya jarang memakai gel untuk surat kelimpungan mencari karena sebelumnya hampir tak pernah mengirim surat pada siapa pun. Eveline bergegas keluar membawa serta suratnya, berniat untuk menggunakan gel di tempatnya. Namun, seseorang sudah lebih dulu terlihat di lorong, sudah dekat dengan kamarnya. Sontak Eveline menyembunyikan surat tersebut di balik tubuhnya dan memastikan Winston tak melihat surat tersebut. “Uhm, hai.” “Ada perlu apa?” “Aku kemari ingin memastikan, apa kau kembali ke kamarmu gara-gara ucapan ayahku? Aku merasa tidak enak.” “Tidak, aku bahkan tidak dengar ayahmu bicara apa.” Winston mengulum bibirnya ke dalam. “Kau bisa mengatakannya dengan jujur padaku.” “Aku sangat jujur, bukan karena ayahmu.” “Lalu kau mau ke mana?” Bola mata Eveline melirik ke mana-mana, berusaha meminta bantuan pada omega yang ada di sana. Sayangnya, tak ada satu pun dari mereka yang peka. “Aku sedang mencari sesuatu.” “Hei, kau, Eve butuh sesuatu.” Winston menunjuk salah satu omega agar mendatangi mereka. Omega tersebut membungkuk. “Ada yang kau butuhkan, Nona?” “Sebenarnya aku sedang mencari gel untuk mengirim surat melalui burung phoenix.” Eveline menarik gagang pintu kamarnya agar tertutup rapat saat Winston berusaha mengintip ke dalam. “Baik, Nona, akan kuambilkan.” Omega tersebut kembali membungkuk sebelum pergi dan berbelok di lorong sebelah kanan. “Sudah, ‘kan? Ada apa lagi kau di sini?” dengkus Eveline. “Kau sedang berkirim surat dengan siapa larut malam begini?” “Urusanmu?” “Aku tak ingin kau tanpa sadar berada dalam bahaya, Eve. Bisa saja—“ “Kubilang panggil aku Eveline.” “Baiklah, Eveline, tetapi fokuslah pada niatku. Jika kau tidak mengenal dengan baik seseorang itu, bisa saja ternyata dia sedang berniat jahat padamu.” Eveline terkekeh rendah, mengejek kepercayaan diri Winston. Dia tahu maksudnya baik, tetapi jika yang mengatakannya Winston, entah kenapa Eveline tak bisa menahan diri untuk tidak menertawakannya. Ucapan yang lebih cocok diucapkan pada diri sendiri. Omega yang tadi pergi mencari gel datang dengan benda yang dibutuhkan Eveline. Bisa dibilang dengan datangnya omega itu sama dengan kunci kepergian Winston. “Kuhargai niat baikmu itu, tetapi kau tidak perlu khawatir, Winston. Aku sangat mengenalnya dengan baik dan dia tak mungkin berniat buruk padaku. Jangan tersinggung, tetapi satu-satunya orang yang harus kucurigai adalah kau. Bahkan aku tak ingat kapan kita bertemu sebelumnya.” “Aku pergi dulu.” Masa bodo dengan reaksi pria tadi, lebih bagus jika setelahnya Winston jadi memusuhi Eveline. Bahkan Eveline terpikir sengaja melakukannya agar Winston benci padanya. Begitu mendapatkan gelnya, Eveline hendak memakaikan pada surat tersebut. Sebelum dia ingat untuk menambahkan sesuatu di suratnya. Eveline : Catatan, maafkan aku lama membalas karena orang yang mengaku temanku terus saja mengganggu. Aku sudah mengunci pintu sekarang, jadi tak ada gangguan lagi. Selesai dengan surat dan pemakaian gelnya, Eveline menyelipkan surat tersebut di antara cakar burung phoenix dengan bantuan tongkat miliknya. Burung itu baru pergi sesaat setelah Eveline memberikannya pakan sebagai upah. Cahaya api dari burung tersebut memungkinkan Eveline untuk melihat sudah sejauh mana dia terbang. Cukup jauh dia terbang sampai menghilang di balik pepohonan Supermoon Pack. Itu artinya jarak mereka memang sejauh itu, bahkan mindlink saja entah bisa menjangkaunya atau tidak. Burung tersebut ditandainya dengan cahayanya muncul tak lama setelah menghilang. Eveline hanya bisa berharap Eiden tak melihatnya atau dia akan menginterogasi penyihir rumah. Ah, sudahlah. Biar menjadi urusan nanti. Xavior : Kutebak dia lebih menyebalkan daripada Dane. Sepertinya besok kita tidak bisa bertemu kalau kau memiliki tamu. Padahal aku ingin sekali mencoba teropong dan senter itu. Mungkin lain kali. Eveline : Ya, mungkin besok sebaiknya kita tidak bertemu. Aku tak mau mengambil risiko. Jika kau mau, aku bisa pergi ke atap hanya untuk mencobanya, tetapi aku tak akan bisa bertemu. Oh ya, apa burungnya baik-baik saja? Apa harus menggantinya dengan milikku? Dia terpikir untuk melakukan idenya dengan mengganti burung tersebut. Eveline tak tahu pastinya seberapa lama burung phoenix bisa bertahan, tetapi jika dipakai mengirimkan surat bolak-balik, jelas tak akan lama. Ada rasa khawatir jika burung tersebut terbakar di tengah jalan. Namun, apinya masih membara dan panas. Seharusnya dia bisa bertahan untuk satu putaran lagi. Burung itu kembali dari Supermoon Pack dengan api yang sudah meredup selama beberapa saat. Untungnya, burung itu berhasil hinggap di jendela kamar Eveline sebelum akhirnya terbakar menjadi abu. Xavior : Kutebak burungnya sudah terbakar, bukan? Jika kau mau meneruskannya, kau bisa menggunakan burung milikmu. Tetapi jika kau terlalu lelah, kita akhiri saja. Tolong rawat burungku di sana. Satu lagi, aku akan merindukanmu besok. Senyum Eveline tertahan, mendekap surat terakhir yang dikirimkan Xavior. Ya ampun, cara mereka berkomunikasi seperti bukan manusia serigala yang nekat melakukan segalanya yang penting bersama. Setidaknya, mereka masih memikirkan orang lain meski kadang Xavior harus melawan serigalanya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN