“HARUSKAH?”
Pemandangan tak biasa terjadi di tempat Eveline biasa berlatih senjata dan bela diri. Lapangan yang biasanya kosong hanya ada beberapa orang, kini cukup ramai—sekitar belasan sampai puluhan orang. Kebanyakan dari mereka memakai pakaian polos berwarna violet.
Siapa lagi kalau bukan warrior dari Amethys Pack? Dengan satu orang pemimpin yang paling menyebalkan bagi Eveline. Kalau dia tidak mengenakan baju berlatihnya, lebih baik putar balik dan melewatkan latihan.
Orang yang memberitahukan tentang latihan Eveline telah menjadi musuhnya sekarang, bahkan jika orang itu Eiden. Entah apa maksud kakaknya, padahal sudah jelas jika Eveline tidak menyukai mereka.
Eiden malah biasa-biasa saja saat mengatakan, “Kau tahu sendiri mereka jarang mempelajari ilmu bela diri tanpa berubah dan senjata. Kau bisa mengajari mereka sambil mempertajam kemampuanmu.”
Eveline memutar bola matanya. “Aku tak memerlukan mereka. Aku bisa menghajar Jaiden saja jika perlu,” gerutunya melirik Jaiden di belakang sang kakak.
Bukan hanya ada para warrior dan Winston, tetapi Alpha dari Amethys Pack juga di sana. Sepertinya ayah dan anak tidak jauh berbeda. Jangan bilang jika mereka memang memiliki tujuan untuk mendekati Eveline.
“Halo, Eve,” sapa Winston terdengar sangat menyebalkan di telinga Eve, terutama karena pria itu melanggar aturannya dengan memanggil Eve saja—bukannya Eveline.
“Kau memang ingin membuatku kesal.”
“Kalian berlatihlah. Aku ada keperluan dengan Alpha Hans.”
Kedua Alpha itu meninggalkan area latihan, masuk ke ruangan yang tak jauh dari sana. Lorong yang mengarah langsung ke area latihan dengan bagian lain berjejer ruangan-ruangan yang sebagian besar dipakai Eiden untuk kepentingan pack dan ruangan-ruangan kosong. Mengingat kebanyakan penghuni terletak di lantai dua, jadilah lantai satu memang dikhususkan untuk umum.
Begitu mereka pergi, rasanya Eveline hanya berdua dengan Winston. Ya, karena aura menyebalkan yang ada di sini sangat kental hingga warrior yang lainnya juga terkesan menyebalkan.
“Kenapa kau tidak menolaknya?” dengkus Eveline.
“Kenapa aku harus?”
“Kau bahkan tidak bisa menggunakan panah atau melumpuhkan mangsa dengan benar. Untuk apa mau belajar seperti ini? Lebih baik kau berburu dengan warrior-mu itu, aku tak ada waktu untuk melayani pemula.”
“Kau harus melaksanakan perintah kakakmu,” kekeh Winston.
“Aku sudah sering melanggarnya.”
Eveline berbalik ke arah lorong yang berlawanan, tetapi Winston menahannya agar tidak ke mana-mana. “Kalau begitu kau harus menganggapnya sebagai Alpha. Ayo, laksanakan.”
“Winston.” Seseorang menginterupsi mereka berdua hingga cekalan Winston pada Eveline terlepas tanpa sengaja. Seseorang itu menggigit bibir bawahnya lalu meralat, “Maksudku Alpha.”
“Siapa dia?”
“Dia Betaku.” Winston mendengkus sebal dan bersedekap d**a, mendelik pada pria yang baru datang tersebut. Bahkan dengan adanya Eveline, Winston tak menjaga ekspresinya dan secara terang-terangan menunjukkan kalau dia kesal akan kedatangannya. “Ada apa?”
“Ada sesuatu yang harus kita bicarakan.”
Mungkin, sepertinya Eveline mulai menyukai Beta tersebut karena dengan kedatangannya, Winston pergi begitu saja tanpa harus diusir.
Selama mereka mengobrol berdua, Eveline teringat dengan janjinya dan Xavior untuk mencoba teropong dan senter yang kemarin dibicarakan. Tengah hari, itu berarti sebentar lagi. Eveline cukup khawatir jika mereka saling melewati, Eveline tak ada saat Xavior datang dan Xavior tak ada saat Eveline datang.
Coba saja Eveline bisa menggunakan mindlink. Semuanya akan lebih mudah.
“Apa kau bilang?!”
Bukan hanya Eveline, tetapi seluruh warrior yang ada di sana juga terkejut dengan seruan Winston. Tak hanya itu, Winston terlihat marah dan pria tadi seperti gugup.
“Aku tidak sengaja. Dia datang begitu saja.”
“Harusnya kau tahan dia! Bagaimana mungkin kau tidak bisa menahannya?!”
“Ada apa ini?” Eveline menengahi, menarik si pria tadi mundur selangkah agar tidak terlalu dekat dengan Winston. Tak ada yang tahu jika Winston tak bisa menahan diri dan akhirnya berbuat anarkis.
“Aku tidak melaksanakan perintahnya dengan baik, Nona.”
“Winston, kau bisa mengatakannya pelan-pelan, tak usah memarahinya di depan semua orang.”
“Kesalahannya fatal, Eve. Bagaimana bisa aku tidak marah, huh?”
“Sudah kubilang bahwa—”
“Ini tetap salahmu!” Winston memotong ucapan pria yang katanya Beta itu, wajahnya semakin memerah. Eveline berharap dia tak akan berubah menjadi serigalanya atau Eiden akan turun tangan.
“Kau bisa bicarakan ini baik-baik dengan Betamu, Winston. Kau mau mengumumkan pada semua orang kalau dia bersalah?”
“Kau tidak mengerti. Beraninya serigala rendahan seperti dia membuat kesalahan sefatal ini.”
Eveline mendengkus keras, menarik pria tadi ke belakangnya agar Winston menghadapnya langsung. Kali ini bukan untuk membela, tetapi antara Eveline dan Winston. “Kenapa kau terus menyebut orang lain rendahan? Memangnya setinggi apa kau ini, huh?”
“Kau hanya calon Alpha, kau ada di posisi ini karena ayahmu. Semuanya sudah takdir dan menjadi rendahan yang kau bilang bukan pilihan siapa pun. Kau pikir seseorang bisa memilih ingin menjadi warrior atau terlahir sebagai half?”
Bisa ditebak bagaimana reaksi mereka yang mengenal Eveline sebagai wanita yang tenang dan tak banyak bicara, bahkan Winston saja mematung. Ya, Eveline tidak memedulikan apa pun, yang penting hatinya lega sudah mengatakan itu semua—walau masih ada banyak yang ingin dikatakannya.
Lenggang untuk sesaat, tidak ada yang bergerak dan menunggu bagaimana tatapan tajam Eveline terputus dari Winston.
“Ada apa ini?”
Eiden dan Alpha Hans keluar setelah mendengar keributan, mendapati keadaan sangat tegang di sini dan tertuju pada satu arah. Eveline.
“Berhenti merendahkan orang lain seperti itu, Winston. Dia calon Betamu, kau akan sangat membutuhkannya di masa depan. Satu lagi, memangnya apa yang rendah menjadi seorang Beta? Aku mengenal Beta terbaik dalam hidupku dan kau perlakuanmu membuatku muak.”
Setelah mengatakan itu, Eveline langsung mengambil langkah lebar-lebar meninggalkan mereka dan area latihan, hanya satu yang menjadi tujuannya sekarang. Atap.
***
Belakangan ini, baik Xavior maupun semua penghuni mansion jarang menemukan sang Alpha berjalan-jalan di lorong seperti biasanya. Damian lebih sering terdiam di satu tempat dalam waktu yang sama. Xavior yakin dia masih terganggu dengan keadaan kakunya dengan Flora, tetapi tak mau mengambil langkah duluan.
“Sean, di mana Alpha?” tanya Xavior menjumpai Sean di tepi balkon.
“Kau tahu di mana dia belakangan ini.” Dia menunjuk ke bawah dengan dagunya, ke arah seseorang yang bergelut dengan kayu untuk berlatih bela diri.
Tentu saja dia Damian, seseorang yang sedang dicari Xavior.
“Apa Alpha dan Luna akan terus seperti ini?”
“Apa yang bisa kita lakukan? Kau ada ide?”
“Mungkin kau bisa membujuk Luna untuk minta maaf duluan,” saran Sean.
Xavior menggeleng. “Satu-satunya orang yang harus minta maaf adalah Alpha. Jika orang lain yang terus mengalah, dia tak akan mau menurunkan egonya bahkan jika dia yang salah. Kita harus melakukan sesuatu yang tidak menyakiti hati Luna dan juga tidak berdampak buruk bagi Alpha.”
Sean mendesah berat. Dia tidak terlalu mengerti permasalahan yang ada, juga tidak mengerti bagaimana cara berpikir Xavior. Menurutnya, tidak penting siapa yang minta maaf duluan, yang penting masalahnya selesai dan mereka berbaikan lagi. Tidak masalah jika Flora bersedia minta maaf duluan.
“Kenapa kita harus terjebak di antara mereka? Alpha hanya perlu minta maaf atau Luna hanya perlu sadar kalau apa yang dia lakukan salah, semuanya selesai. Entah bagaimana bisa permasalahannya jadi seserius ini.”
Di bawah sana, Damian makin brutal menghajar sebuah kayu yang dibentuk bak manusia. Beberapa bagiannya sudah rusak, bahkan patah karena pukulan Damian. Setidaknya sang Alpha sadar untuk tidak melawan warrior mana pun dan menghindari seseorang cedera.
“Xavior, apa kau melihat semalam ada burung phoenix yang terbang bolak-balik dari mansion?”
Xavior menegang, melirik Sean diam-diam. Ya ampun, padahal dia cukup percaya tak akan ada yang melihatnya karena semua sudah tidur. Kecuali para warrior, mereka akan melaporkan pada Xavior. Jadi, Sean tak dihitung sebagai ancaman—sebelumnya.
“Itu ... aku yang melakukannya,” gumam Xavior.
“Benarkah? Kau berkirim surat dengan siapa?”
“Orang tuaku.”
“Tetapi arah terbangnya menuju dan berasal dari perbatasan.”
“Memangnya kau tahu di mana rumah orang tuaku? Dekat perbatasan.”
Sean terdiam sebentar mengangguk-angguk. “Ah, benar juga. Aku lupa pernah ke rumahmu atau tidak.”
Hembusan napas panjang dikeluarkan Xavior begitu mendengarnya dan tak ada tanda-tanda Sean hendak bertanya lagi. Xavior memang tidak pernah melihatnya sebagai seseorang yang begitu ingin tahu atau bertekad besar jika sudah memiliki suatu keinginan, tetapi tidak mustahil Sean bisa mengorek informasi.
Lain kali, Xavior harus lebih berhati-hati dan menahan Rex melakukan hal-hal nekat untuk memuaskan keinginannya. Dia tak bisa terus menerus mengambil risiko tertangkap basah.
“Argh! Sial!”
Damian merebahkan dirinya di tanah dengan sekujur tubuh yang memerah dari kulit-kulitnya yang tidak tertutupi kain. Cahaya matahari mengilap di kulitnya yang basah terkena keringat sekaligus membuat tanah menempel di kulitnya yang basah.
Sudah beberapa kali seperti itu. Damian akan memporsir dirinya berlatih sampai kelelahan sendiri. Jika belum lelah, dia akan mengajak seseorang bertanding.
“Alpha akan baik-baik saja?”
“Dia akan baik-baik saja. Kalau terluka pun Dane bisa memulihkan diri dengan cepat.”
“Xavior, kemarilah!”
Tentu saja tak ada yang mampu bertahan melawan Damian jika bukan Xavior, rekannya berlatih sejak kecil. Setidaknya, Xavior sangat mengenal cara berkelahi sang Alpha dan bisa menghindari kemungkinan terburuk.
“Kau akan baik-baik saja?”
Xavior menepuk-nepuk bahu Sean. “Aku tak akan membiarkan Alpha melukaiku.”
***
Astaga, apa yang sudah dilakukannya tadi? Sangat memalukan.
Eveline baru sadar betapa buruk kehebohan yang sudah ditimbulkannya. Membentak Winston, si calon Alpha itu? Akan jadi masalah jika Amethys Pack balik murka dan menyerang Megamoon Pack. Ya, meski kesannya mustahil dan hanya ketakutan semata, bisa saja hal itu terjadi.
Entah kenapa dia sulit menahan emosinya saat mendengarkan makian Winston yang bahkan tidak ditujukan padanya. Eveline tanpa sadar menganggapnya sedang menghina Xavior mengingat pria itu juga seorang Beta.
Tidak pantas Beta mana pun mendapatkan perlakuan dari Alpha seperti Winston, bahkan Eiden tak pernah melakukannya. Dia malah sangat baik memperlakukannya dibanding Risand—walau sikapnya tetap saja agak kasar, tetapi memang itu versi baiknya.
Sama seperti pada Eveline. Baik yang diselimuti kejahilan.
Eveline merasakan seseorang datang, disusul dengan suara terbukanya pintu di belakang. Sontak dia menyembunyikan teropong dan senter yang dibawanya di balik tubuh, senantiasa menghadap seseorang yang baru datang tersebut untuk menghalaunya dari pandangan.
Dia sampai memejamkan matanya karena takut ketahuan saat seseorang berdiri di sampingnya.
Pria itu, Jaiden, bertanya, “Apa kau melakukannya untukku?”
“Apa maksudmu?”
“Tentang calon Alpha itu. Kau bilang mengenal Beta terbaik.”
Terlalu diliputi keterkejutan dan khawatir ketahuan membuat Eveline memikirkannya lebih lama. Dia mengangguk pelan saat paham maksud Jaiden.
Tampaknya pria itu berpikir jika Eveline memarahi Winston untuk membelanya sebagai Beta bahwa Eveline memikirkan Jaiden saat mengatakannya. Jujur saja, Eveline tidak memikirkannya sama sekali, tetapi dia tidak mungkin bilang kalau dia memikirkan Beta dari Supermoon Pack yang merupakan mate-nya.
Dia terkekeh. “Hei, aku hanya kesal saja dia memperlakukan Betanya begitu. Jangan kegeeran, aku hanya tidak sengaja mengatakannya.”
“Aku tidak heran jika kau mengagumiku. Aku memang sehebat itu.”
“Kau membuatku mual.”
“Tetapi, terima kasih. Beberapa Beta memang diperlakukan begitu.” Jaiden menumpukan sikunya di pembatas atap, memperhatikan pemandangan yang terlihat.
“Apa kau pernah diperlakukan begitu juga?”
“Tentu saja, tetapi tidak pernah setelah aku menjadi Beta Eiden. Dia memperlakukanku sangat baik. Ya, kalau dia marah atau tidak menyenangkan, aku mengerti sikapnya memang seperti itu. Tidak masalah untukku.”
Eveline mengangguk-angguk, cukup salut dengan Jaiden. Entah karena dia Beta atau memang sebelumnya berpikir seperti itu, tak banyak yang mau memikirkan Eiden dari sisi lain yang tidak menyangkut temperamen buruknya. Bahkan Eveline kadang tak memikirkan hal itu.
“Bagaimana reaksi orang-orang di bawah?”
“Kau membuat kehebohan, Eve. Bahkan si calon Alpha itu mematung selama beberapa saat.”
“Kuharap setelah ini dia tidak menggangguku lagi. Lebih baik dia menjadi musuhku saja dibanding temanku. Ugh, akan sangat merepotkan dikelilingi orang seperti dia,” dengkus Eveline. “Uhm, bagaimana respons Eiden?”
Jaiden terkekeh, melirik wanita yang lebih muda darinya itu dengan lirikan cerah. “Kau ingin tahu? Dia sangat gila.”
“Jangan bilang kalau dia ....”
“Tidak. Dia hanya memberikan teguran pada si calon Alpha itu. Malah Alpha Hans yang minta maaf dan memarahinya juga.” Jaiden meninggikan wajahnya, berusaha melirik ke belakang Eveline. “Apa itu di belakangmu?”
“Bukan apa-apa.” Eveline makin merapatkan tubuhnya dengan benda-benda tersebut dan mundur menjauhi Jaiden.
“Ei, apa yang kau sembunyikan?”
“Bukan urusanmu, Jaiden. Sana, pergi saja ke kakakku. Dia pasti membutuhkanmu.”
Jaiden mengangguk, kemudian menepuk puncak kepala Eveline dua kali dan mengusapnya. “Baiklah, baiklah, anak kecil ini sudah punya rahasia sendiri sekarang. Jangan sampai kakakmu mengetahuinya, ya, dia sangat jago soal mencari tahu rahasia.”
“Ya, ya, pergilah sana.”
Tubuh Eveline masih mengikutinya, menghadap Jaiden yang berjalan menjauh dan masuk ke lorong tangga. Tak bisa dipungkiri betapa Eveline lega bahwa Jaiden tidak memaksanya memberi tahu, padahal pria itu lebih daripada mampu.
Saat berbalik, Eveline terkesiap. Dengan tangan yang dingin, dia menempatkan teropong di depan matanya dan menelan ludah susah payah.
Sejak kapan Xavior ada di sana, melihatnya pakai teropong?