XAVIOR : Apa pria yang bersamamu kemarin Jaiden? Sedang apa kau bersamanya di atap?
Gawat. Xavior benar-benar nekat mengirimkan surat pagi-pagi begini di mana sedang ada banyak orang yang beraktivitas. Setidaknya ada belasan pasang mata yang melihat, belum lagi di Supermoon Pack. Walau kelihatannya biasa saja jika mengirimkan surat, tetapi bagi mereka yang bisa melihat arah tujuan dan asalnya akan bertanya-tanya.
Jangan bilang jika pria itu berpikiran macam-macam tentang kemarin. Dia juga tidak mengirimkan suratnya malam tadi, tetapi malah sekarang—pagi buta.
“Aku harus jawab apa?” gumamnya melirik surat yang dikirimkan Xavior seraya menggigit jarinya.
“Eveline, data—”
Burung phoenix langsung terbakar sementara Eveline terperanjat dari duduknya. Terlambat, Jaiden sudah melihat semuanya ditambah abu dari burung phoenix ada di bawah jendela. Eveline menyembunyikan surat di balik tubuhnya, mencengkeram erat pinggirnya hingga tertekuk.
Sial, dia terjebak dalam bahaya lain.
“Kenapa ada burung phoenix di sini?” todong Jaiden membanting pintu, dengan langkahnya yang besar mendekati Eveline.
“A-aku menerima surat dari ....”
Belum saja Eveline selesai menjawabnya, tanpa mau berkompromi Jaiden merebut surat yang disembunyikan Eveline dan membacanya. “Supermoon Pack?” gumamnya tak percaya dengan mata membesar. “Dia memperhatikan kita kemarin?”
Mati, mati, mati. Berakhir sudah hidup Eveline kalau begini caranya. Dia akan mendapat murka dari Eiden karena menyembunyikan dan bahwa mate-nya berasal dari pack musuh. Mana dia mengetahuinya dari Jaiden, kemarahannya akan berkali-kali lipat.
Astaga, bagaimana bisa semuanya terjadi secepat ini? Eveline bahkan belum siap menghadapi kakaknya.
“Jaiden, tolong dengarkan aku dulu.”
“Tidak bisa. Aku harus melaporkannya pada Eiden.”
Jaiden berbalik, membawa serta surat Eveline untuk dijadikan bukti. Namun, entah kekuatan dari mana, Eveline bisa mendahuluinya dan memblokir pintu, merentangkan tangannya untuk menghalangi pria itu keluar dari kamarnya.
“Kumohon dengarkan aku dulu!” seru Eveline putus asa kemudian berlutut. Dia tak menyangka akan melakukan ini, tetapi sorot matanya dibuat sesendu mungkin bak anak anjing yang kehilangan induk. “Aku akan memberitahunya sendiri, tapi nanti. Aku belum siap memberitahunya sekarang.”
Eveline memejamkan matanya erat dengan kepalan tangan diletakkan di depan d**a, berusaha membuat Jaiden iba. Ya, kurang lebihnya dia memang sangat putus asa dan akan melakukan apa pun asal Jaiden mau mendengarkannya.
Terdengar desahan berat dari pria tersebut. “Baiklah. Aku akan memberimu waktu tiga hari. Jika tiga hari kau belum memberitahunya, aku akan memberitahunya sendiri.” Jaiden mundur, duduk di kasur Eveline dan memelototinya. “Jadi, katakan, siapa dia?”
Seluruh otot tubuh Eveline yang tadi menegang kini lemas bak tak memiliki tenaga sama sekali. Ah, tadi itu hampir saja. Entah apa yang terjadi jika Jaiden tak mau bekerja sama.
Dengan sisa-sisa tenaganya, Eveline berdiri dan bersandar ke pintu. “Aku belum bisa mengatakan siapa, yang jelas dia mate-ku.”
“Kau sudah bertemu dengan mate-mu?” Jaiden terkesiap. “Apa itu alasannya kau sering ke perbatasan?”
“Tetapi aku tidak berbohong tentang berlatih. Kami berlatih bersama.”
“Omong kosong. Memangnya kau bisa fokus jika ada belahan jiwamu, huh?” Jaiden menyugar rambutnya ke belakang, tak habis pikir dengan fakta yang baru saja ditemukannya. “Apa saja yang sudah kalian lakukan? Dia belum menandaimu, ‘kan?”
“Tentu saja tidak. Memangnya kau lihat ada tanda di leherku?” Eveline sampai menarik turun kerah pakaiannya yang tinggi, memperlihatkan dengan jelas pada Jaiden keadaan lehernya yang bersih total.
“Kenapa kau menyembunyikannya?”
“Tentu saja aku harus. Dia berasal dari Supermoon Pack, Jaiden, kau pikir apa yang akan dilakukan Eiden jika mengetahuinya?”
“Lalu kau pikir bisa menyembunyikannya? Sekarang atau nanti, tidak ada perbedaan. Kau tak bisa menyembunyikannya selamanya.”
Eveline menunduk, bergumam, “Aku tahu. Aku hanya perlu waktu dan meyakinkan diri.”
Astaga, diinterogasi oleh Jaiden saja begini menegangkan, bagaimana jika dengan Eiden langsung? Tanduknya tetap saja mengerikan, bahkan jika itu pada Eveline—adiknya sendiri. Eiden dan Eirth, dua-duanya sama-sama memiliki kendali yang buruk mengenai emosi.
Jaiden berkacak pinggang, berlalu ke jendela dan mengusap abu dari burung phoenix yang mulai memanas tersebut. “Dia bisa mengakses tempat tinggi. Dia bukan rakyat biasa, ‘kan?”
Eveline tetap menggeleng meski Jaiden membelakanginya.
“Siapa? Warrior? Healer? Delta? Be—”
“Jaiden,” sela wanita itu. “Kumohon. Aku ingin Eiden jadi orang pertama yang mengetahui siapa persisnya dia.”
“Ya, faktanya aku yang lebih dulu menangkap basah dirimu. Mungkin jika aku tidak tahu, kau tak akan pernah mengatakannya pada Eiden.”
“Apa kakakku benar-benar belum tahu?”
“Kau tahu bagaimana cara kerja kami? Eiden adalah otak sepenuhnya dalam setiap rencana. Dia bisa menyembunyikan banyak hal dariku dan memikirkannya sendiri. Jadi, aku tak bisa memastikan dia sudah tahu atau belum.”
Eveline mendesah berat dan memijat pangkal hidungnya. Bahkan setelah Jaiden mengetahuinya, Eveline masih dilanda rasa penasaran yang kuat. Dia kira Jaiden mengetahui semuanya tanpa terkecuali tentang Eiden.
Jaiden bergeser dan berbalik, melirik burung phoenis yang mulai muncul dari abu pembakarannya sendiri. “Omong-omong, bagaimana bisa mate-mu mengenalku? Bagaimana dia bisa melihat kita dari jarak yang sangat jauh?”
“Ada sebuah benda dari dunia manusia yang namanya teropong. Bisa melihat dari kejauhan. Aku juga punya, pemberian darinya.”
“Sudah bisa dipastikan dia bukan orang sembarangan. Setahuku Damian tidak memiliki adik laki-laki lain. Siapa dia?”
“Jaiden, tolong, jangan cari tahu siapa dia. Lagi pula aku kan sudah berjanji akan memberi tahu tiga hari lagi,” mohon Eveline.
“Baiklah. Jangan buat aku yang memberi tahu Eiden lebih dulu.”
Jaiden menyimpan surat yang bentuknya sudah tidak jelas tersebut ke ranjang Eveline. “Sebaiknya kau balas dulu mate-mu itu. Sepertinya dia sedang ingin menerkamku karena dekat-dekat dengan mate-nya.”
Segera setelah Jaiden menghilang dari pandangannya, Eveline meraih surat tersebut dan membaca ulang. Ya, bentuknya sudah tidak karuan dengan lipatan di mana-mana, bahkan hampir sobek. Meski begitu, seharusnya masih bisa dioleh gel dan diantarkan burung phoenix—yang baru.
Eveline : Ayo kita bertemu hari ini.
***
Keduanya dilanda kebingungan yang sama setelah Eveline menceritakan situasi yang terjadi pada Xavior. Lebih ke bagaimana dan apa yang akan mereka lakukan ke depannya, terlebih Eveline hanya punya waktu tiga hari. Pilihannya hanya ada dua, Eveline yang memberi tahu sendiri atau Jaiden yang memberitahunya—jelas pilihan kedua akan berakhir lebih buruk.
Sejujurnya, kebingungan Xavior tidak sebesar kebingungan Eveline. Sedikitnya, dia senang hubungan mereka sedikit demi sedikit diketahui orang lain meski itu akan membawa masalah. Namun, jika Xavior membayangkan ada di posisi Eveline, jelas ini bukan masalah sepele.
Bisa saja menyangkut hidup dan mati atau nasib mereka ke depannya.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Eveline parau.
“Aku tidak tahu bagaimana sifat Jaiden atau apakah dia bisa dipercaya atau tidak. Bagaimana menurutmu? Kau yang lebih mengenalnya.”
“Entahlah. Dia memang selalu menepati janji, tetapi tidak ada jaminan jika ini menyangkut pack. Maksudku, dia kucing yang begitu penurut pada Eiden. Hanya dia sendiri yang tahu apa yang dipikirkannya.”
“Tetapi kita memang tidak bisa seperti ini selamanya. Bagaimanapun baik sengaja maupun tidak, Eiden dan Damian akan tahu. Sekarang atau nanti tak akan mengubah fakta jika kita berasal dari pack yang berbeda.”
“Jadi, kau akan mengatakannya dalam waktu dekat?”
“Aku memang belum merencanakannya, tetapi aku akan menyiapkan diri jika memang aku harus menghadapinya di waktu yang tidak kurencanakan.”
“Menurutmu, bagaimana respons mereka?”
Inilah yang paling ditakuti Eve, yang paling menjadi beban pikirannya. Semua hal yang diawali ‘bagaimana’ dan diakhiri dengan ‘bagaimana’ juga. Tak ada yang benar-benar terjawab karena terendap di pikirannya, di bagian yang membuat jantungnya berdebar-debar ketakutan.
Xavior mengedikkan bahu. “Murka? Tentu saja. Tetapi mereka tak akan bisa melakukan apa pun, tidak jika mereka memang peduli pada kita. Semua manusia serigala tahu aturannya tentang mate. Bukan kita yang memutuskan, tetapi Moon Goddes.”
“Apa mereka akan menyuruh kita saling menolak?”
“Tergantung. Jika saat kita mengatakannya mereka sedang berada dalam suasana hati yang baik, mungkin saja mereka akan mempertimbangkannya. Jika mereka sedang emosi, mereka akan langsung menyuruh kita saling menolak.”
“Semoga saja mereka benar-benar akan mempertimbangkan dan tak menyuruh kita saling menolak.”
Untuk pertama kalinya, Eveline tak merasa takut ketahuan bertemu dengan Xavior di perbatasan seperti ini. Masa bodo jika ada warrior yang sedang berjaga dan melihat mereka, Eve cukup yakin mereka tak akan mengadukannya langsung pada Eiden, melainkan pada Jaiden lebih dulu.
Mungkin itu sebabnya Xavior tak pernah terlihat panik atau takut ketahuan oleh pack-nya sendiri. Dia Beta, dia mengetahui dengan persis apa yang tidak bisa dikuasai Alpha untuk membantunya.
“Oh ya, bagaimana dengan tamu yang kau bilang?” tanya Xavior.
“Dia sangat menyebalkan sampai aku berharap mereka bermusuhan saja dengan Megamoon Pack. Sayangnya, mereka salah satu sekutu paling kuat yang kami miliki,” dengkus Eveline.
“Sama dengan Emerald Pack. Terlalu berisiko untuk melepasnya langsung, tetapi putri mereka sudah melakukan hal yang fatal pada Luna. Sangat tidak bisa dimaafkan.”
“Bagaimana dengan orang-orang di pack-mu? Apa ada dari mereka yang curiga tentang kita?”
“Sejauh ini tidak ada,” Xavior menggumam, “Ah, mungkin aku harus berhati-hati dengan Sean. Dia lebih peka dengan sekitar. Kemarin saja dia menanyakan tentang burung phoenix. Untung saja Damian tidak sepeka itu, dia lebih teralihkan dengan masalahnya.”
Eveline menggenggam dan meremas tangan Xavior kuat. “Kita akan tetap seperti ini, bukan? Bahkan jika mereka menentang, kita tak akan goyah, ‘kan?”
“Tentu saja, Eve. Aku tak akan menyerah padamu, bahkan jika harus menghadapi Eiden. Aku yakin dia tak mau melihat adiknya gila.”
“Aku sangat takut dengan respons mereka. Jangan sampai itu menjadi sesuatu yang buruk.”
“Percaya saja.” Dengan genggaman yang masih bertaut, Xavior berdiri. “Mau berjalan-jalan?”
“Ke mana? Dengan berjalan, bau tubuh kita bisa tercium dengan mudah.”
“Kita bisa berjalan-jalan di sekitar sini. Bagaimana?”
Mungkin Eveline memang membutuhkannya. Dia butuh waktu untuk bertemu Jaiden, untuk bertemu kakaknya agar tidak terlihat jelas kegugupannya. Dia butuh menjauh dari mansion sementara, berada di titik netral di mana dia tak perlu memihak siapa pun.
“Baiklah.”
***
Rupanya tak jauh dari perbatasan tersebut, terhubung ke danau yang dikuasai para putri duyung dan beberapa bagian milik Hydra. Tepian ini berupa cekungan yang tak sengaja terbentuk sehingga jika melihat ke depan, batas tepian milik putri duyung membuat semacam bentuk setengah lingkaran.
Bentang air dan pantulan sinar matahari dengan latarnya daratan lain, bagaimana bisa pemandangan tersebut tidak indah?
“Kenapa kau tahu banyak tempat yang indah seperti ini? Curang, bahkan aku tidak tahu satu pun.”
“Kalau begitu, kau cukup temui aku jika ingin datang ke tempat seperti ini.”
Eveline terkekeh, merapatkan dirinya ke tubuh manusia serigala Xavior yang terasa hangat. Walau hanya di tepian, tetap saja terasa dinginnya. Pakaian Eveline juga tergolong tipis dan tak begitu maksimal menghangatkannya.
Terlebih, mungkin saja momen seperti ini tak akan pernah terjadi lagi.
“Kita hanya punya waktu tiga hari untuk keadaan normal seperti ini. Setelah tiga hari, entah apakah kita akan mudah bertemu atau tetap harus diam-diam.”
“Setidaknya jika hari itu memang datang, kita tidak menyembunyikan rahasia dari siapa pun lagi.”
“Ya, rasa bersalahku pada Eiden akan berkurang.”
Gelembung-gelembung yang muncul dari dalam air menimbulkan bunyi pelan, tanda bahwa ada putri duyung di dekat mereka. Selama mereka masih di daratan dan tidak menyentuh air, mereka aman-aman saja. Putri duyung tak akan melanggar perjanjian bahwa mangsa mereka hanyalah yang menyentuh air.
Pegangan tangan Eveline pada pakaian Xavior berubah menjadi cengkeraman saat Eveline merasakan rasa pusing yang tak tertahan mendera kepalanya. Rasa sakitnya tidak main-main, Eveline sampai terhuyung dan terduduk di tanah.
“Eveline, kau baik-baik saja?”
Suara Xavior terdengar samar dan menggema, bahkan dia tak bisa melihat wajah khawatir pria itu dengan matanya yang tak kuasa membuka. Tak hanya pusing, Eveline mendengar sebuah suara aneh di kepalanya yang bergema dan melengking, menyiksa pendengarannya.
“Sakit sekali,” cicitnya menjambak rambut untuk mengalihkan rasa sakitnya. Sayang, jambakan di rambutnya tidak terasa sama sekali dibanding rasa sakit yang terjadi di dalam kepalanya.
“Apa yang terjadi padamu?”
Saking pusingnya, Eveline tak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya terjadi di kepalanya. Dia sampai terlentang di tanah dan terkulai lemas, tak tahan menghadapi rasa sakitnya. Geraman kuatnya berganti menjadi gumaman lemah.
“Eveline. Eveline, sadarlah.” Xavior menepuk-nepuk pipinya saat Eveline tak kunjung membuka mata walau masih merintih.
“Pusing sekali.”
Rasa yang menyiksa itu semakin menjadi kala suara gema tak jelas semakin keras terdengar di telinganya. Gema-gema tersebut seperti sebuah suara yang datang dari ribuan mil jauhnya, terlalu jauh sampai tak bisa menerjemahkan apa maksudnya. Suara-suara tersebut muncul satu demi satu, menciptakan keriuhan yang menyakiti gendang telinga.
“Argh! Berisik!”
“Eveline, sadarlah!” Xavior menahan tubuh Eveline bersandar pada dadanya, memeluk wanita itu agar dia tetap terjaga.
“Xav, berisik sekali.”
“Apanya yang berisik? Aku tidak mendengar apa pun.”
Suara-suara dan rasa sakit yang tadi datang perlahan menghilang hingga Eveline bisa mendapatkan kesadaran sepenuhnya. Telinganya masih berdengung, tetapi lebih baik dibanding tadi. Belum lagi matanya yang perih sesaat karena tadi penglihatannya gelap gulita.
“Kau sudah baikan?” Xavior masih terdengar khawatir.
“Tadi itu apa?”
“Entahlah, aku tidak pernah merasakannya. Tapi kau yakin sudah baik-baik saja? Apa kau perlu pergi ke healer?”
“Tidak perlu.”
Entah mengapa, Eveline merasa ada sesuatu yang berbeda darinya. Seolah bagian dalam dirinya kosong dan ringan, seolah ada sesuatu yang tidak pada tempatnya. Jika didengar-dengar, gema itu masih ada walau sangat samar.
Teralihkan dengan pikiran dan keterkejutannya, Eveline tak sadar jika ada yang datang menghampiri mereka. Tahu-tahu orang itu bertanya, “Ada apa ini?”
Eveline berdecak pelan. Menyebalkan mendapati Jaiden ada di mana-mana, bahkan saat berada di luar jangkaunnya. Bahkan mereka tidak sadar bau tubuhnya jika memang dia sudah di sana sejak tadi. Dan dia juga yang menjadi alasan utama mereka bertemu.
Sementara itu, Xavior sama kesalnya dengan Eve. Lain dengan alasannya, dia tak terima betapa dekat pria itu dengan mate-nya. Xavior merangkul Eveline semakin dekat. “Ayo, kuantar ke healer atau mansion.”
“Kau gila? Aku tidak apa-apa.”
“Biar aku yang bawa.”
Xavior menepis tangan Jaiden yang ingin mengambil alih Eveline dari rangkulannya. Tolong ingat bahwa seorang manusia serigala sangat posesif pada mate-nya sendiri, terutama jika orang itu belum menemukan mate juga.
“Jadi, kau mate Eve?” tanya Jaiden melirik Xavior dengan lirikan yang tak dapat diartikan.
Xavior hanya bisa memperhatikannya dengan tatapan tajam, tak bisa melakukan lebih. Pria di depannya ini Beta dari pack musuhnya dan seseorang yang memegang kartu AS Eveline, Xavior tak bisa berlaku seenaknya—demi Eveline.
Jaiden jongkok di depan Eveline. “Ayo, Eveline. Naik ke punggungku.”
“Apa? Kau mau menghajarku karena aku menyentuh Eveline? Kalau begitu pergilah dan bawa dia. Kujamin kau tak akan bisa pulang,” desis Jaiden saat Xavior tampak tak terima Eveline digendongnya.
Meski begitu, apa yang dilakukan Jaiden memang yang terbaik. Xavior tak akan bisa mengantarnya ke mana pun di Megamoon Pack.
“Sejak kapan kau tahu?”
“Memangnya itu penting?”
Jaiden tersenyum mengejek dan berlari dengan Eveline di punggungnya. Xavior mengumpat, “Sialan.”
***
Kekesalan Xavior masih bertahan, bahkan saat sudah sampai ke mansion. Dia enggan menyapa siapa pun yang membungkuk padanya, terlalu terganggu dengan pikirannya dan ingatan tadi tentang Jaiden yang menantangnya, sengaja dekat-dekat dengan Eveline padahal dia tahu bagaimana posesifnya manusia serigala.
Jangan sampai Jaiden berniat sama seperti Tyra, melangkahi takdir dari Moon Goddes.
Tampaknya aura kemarahannya memang berkata demikian, seolah memperingatkan siapa pun agar tidak mendekatinya. Setidaknya tidak ada satu pun warrior yang mengganggunya dengan laporan.
Xavior berdiri di samping Sean di balkon, kali ini tidak ada Damian di bawah sana. Entah apa yang sedang dilakukan sang Delta, tetapi hanya dia yang bisa Xavior dekati agar tidak membuatnya semakin emosi.
“Xavior, kau baik-baik saja?”
“Tidak.”
Sean terkekeh rendah. “Sangat tidak biasa. Ada apa? Kau andal menyembunyikan ekspresimu sebelumnya, kenapa sekarang kau tak segan-segan menunjukkan kalau kau sedang tidak baik-baik saja?”
Xavior mengernyit, melirik Sean yang balas meliriknya tajam dan tak suka. “Ada apa dengan nada suaramu itu? Kau sedang marah padaku?”
“Tidak. Bagaimana bisa aku marah pada orang paling penting ketiga di pack?”
Kemarahannya bak menguap begitu saja, berganti menjadi kebingungan. Ada apa dengan Sean? Marah tanpa sebab yang jelas, padahal dia jarang sekali menunjukkan kalau dia sedang marah, terutama pada Xavior. Mereka hampir tak pernah bertengkar secara serius.
“Jika kau memang sedang tidak suka denganku, kau bisa mengatakannya.”
“Bukankah kau sedang tidak baik-baik saja? Urusi saja masalahmu sendiri.”
“Apa ini karena Alpha? Apa ini karena aku menolak turun tangan atau menyuruh Luna yang minta maaf lebih dulu?”
“Tidak. Ini tentang betapa aku sadar jika belakangan ini kau sibuk dengan urusanmu sendiri tanpa peduli jika Alpha sedang menggila. Sebagai orang yang paling dekat dengannya, seharusnya kau melakukan sebuah usaha untuk membuatnya lebih baik, bukan egois memikirkan dirimu sendiri.”
Kenyitan di dahi Xavior makin dalam, kali ini dengan sedikit rasa tersinggung. Ya, Xavior tak bisa menampik jika Sean benar, tetapi pria itu tak tahu kebenarannya. Xavior bersedekap d**a dan mendesis, “Katakan, di mana letak keegoisanku?”
“Haruskah? Kenapa kau tidak mencarinya sendiri?”
Perdebatan mereka mengundang atensi dan bisik penasaran warrior dan omega yang ada di sana. Pertama kalinya melihat sang Beta dan Delta yang terkenal akur dan sama-sama baik berseteru di depan umum. Jelas mereka pikir ini bukan masalah sepele, terlebih keadaan mansion sedang tidak baik-baik saja dengan masalah Alpha dan Luna.
Xavior menggeleng pelan. “Aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang kau maksud.”
Sean mendecih, “Kenapa kau sering ke perbatasan belakangan ini?”
“Aku berpatroli.”
“Benarkah? Hanya berpatroli?”
Apakah Sean tahu kebenarannya?
“Memangnya apalagi yang harusnya kulakukan?”
“Entahlah. Siapa yang tahu? Hanya kau. Aku hanya bisa berpikir positif atau mungkin berpikir yang terburuk.” Sean maju selangkah dan berbisik, “Selama ini, aku percaya kau sebagai seseorang yang tak akan pernah membahayakan pack atau melakukan sesuatu yang merugikan. Jangan buat persepsiku tentangmu berubah.”
Begitu Sean pergi, Xavior bergeming di tempat. “Apa dia tahu?”