EPW 11 Welcome

2292 Kata
TEMPAT apa ini? Seolah terasa nyata dan tidak, Eveline berdiri di tengah-tengah padang rumput yang luasnya tak berujung. Kelihatannya ini hanya di tengah padang rumput luas dengan sisi-sisinya dipenuhi hutan, tetapi tidak ada siapa pun sejauh mata memandang. Benar-benar hanya dia sendirian. “Di mana ini?” “Apakah ini mimpi? Aku tak pernah tahu ada tempat seperti ini.” Tanpa tahu dengan jelas, Eveline tetap menunggu sesuatu datang atau menjelaskan alasan kenapa dia ada di sini. Jika benar ini mimpi, seharusnya ada maksud lain. Eveline tidak terasa sedang menjejakkan kakinya di atas tanah. Seolah dia tidak sedang berdiri dan kakinya tidak terasa nyata. Tidak pegal sama sekali berdiri seperti ini dan mendongak, menatap langit. “Ada banyak bintang, tetapi sulit untuk terlihat indah. Malah mencekam.” Malam, gelap, dan sendirian adalah perpaduan yang menjadi mimpi buruk, terutama bagi setiap anak kecil. Tak terkecuali Eveline, dia juga masih takut dengan hal itu. Hembusan angin yang janggal mereka tengkuknya yang tertutupi helaian rambut. Anehnya, angin tersebut hanya terasa di tengkuknya, sementara di bagian kulit yang lain tidak terasa sama sekali. Saat kemudian terdengar geraman dari belakangnya, Eveline tak bisa mengabaikannya lagi. Perlahan dia berbalik, seketika mundur selangkah mendapati sesuatu berdiri tepat di belakangnya. Matanya membelalak dengan tubuh yang menegang. “Siapa kau?” Sorot mata kucingnya tajam tertuju pada Eveline dengan geraman yang tak usainya berhenti, menggerakkan rambut Eveline dengan hembusan napasnya yang kuat. Serigala yang tingginya lebih dari tinggi badan Eveline dengan tubuh luar biasa besar berbulu putih bersih. Menakutkan sekaligus menawan. Cahaya bulan yang menyinari membuat bulu serigala tersebut bercahaya. Terutama saat kucing besar itu mundur dan memperlihatkan seluruh tubuhnya pada Eveline, berkali-kali lipat lebih menakjubkan. “Cantik sekali,” gumam Eveline tanpa sadar. “Seandainya aku memiliki serigala, aku ingin memiliki yang sepertimu.” Eveline berani bertaruh jika bulu lebatnya sangat lembut, bahkan mungkin selembut selimut dari dunia manusia. Jika dia memiliki keberanian lebih, ingin sekali mengelusnya. Namun, Eveline hanya bisa mematung di tempat dan waspada. “Ivy.” Suara tersebut menggema di udara, berkali-kali terdengar dengan intonasi yang semakin rendah dan kabur. Perlahan-lahan sang serigala memudar, bersamaan dengan ladang yang ada di sekitarnya dan suara tersebut. Penglihatannya bak berputar, meninggalkan Eveline dalam kegelapan .... Eveline tersentak, terbangun dari tidurnya. Jantungnya masih berdetak cukup kencang, menyadarkan Eveline bahwa tadi itu hanya mimpi. Terasa sangat nyata. “Ivy?” gumamnya. Wanita itu kembali terkesiap saat pintu terbuka tanpa panggilan atau ketukan, langsung mendorongnya begitu saja. Seseorang muncul dari balik pintu, Jaiden. “Turunlah ke bawah. Amethys Pack akan pergi,” katanya tanpa basa-basi, menarik lagi badannya dan menutup pintu. Jaiden terkesan sangat berbeda, sekarang berubah menjadi dingin dan mempersempit interaksinya dengan Eveline. Memang Eveline sendiri tidak nyaman harus bertemu atau dekat-dekat dengan Jaiden mengingat pria itu menyimpan rahasia besarnya, tetapi dengan Jaiden yang begini malah membuatnya makin tidak nyaman. Eveline kembali diingatkan kalau Jaiden tahu tentang mate-nya. “Dua hari lagi.” Eveline mengusap wajahnya kasar. “Entah apa yang akan terjadi, waktunya tinggal dua hari lagi.” Dengan langkai gontai, Eveline bangkit dan bersiap. Tidak terlalu niat, yang penting rapi saja untuk mengantarkan kepergian Amethys Pack. Sejak kejadian Eveline berdebat dengan Winston, Eveline tak lagi bertemu satu pun dari Amethys Pack. Tidak secara sengaja, tetapi syukurlah, Eveline memang enggan bertemu. Di bawah, iring-iringan milik Amethys Pack sudah dipenuhi dengan para warrior yang berubah wujud. Hanya tinggal Alpha Hans dan Winston yang belum berubah. Warrior Megamoon Pack yang lainnya juga berkumpul sebatas formalitas dan mengantar mereka pergi. Karena enggan dekat-dekat dengan Jaiden, Eveline menyelinap dan berdiri di samping Gaston, berada di sisi paling kiri di antara anggota inti pack. “Lama tidak bertemu, Eve,” ujar Gaston. “Apanya yang lama? Kita ‘kan baru bertemu beberapa hari lalu.” “Benarkah? Aku lupa.” Alpha Hans membungkuk pada mereka—anggota inti pack—terlebih pada Eiden. “Terima kasih atas kebaikanmu, Alpha Eiden. Kami jadi menginap dua hari, padahal rencananya kami hanya akan menginap satu hari. Mohon maaf juga atas keributan yang ditimbulkan anakku.” Kali ini giliran Winston. Setelah membungkuk pada Eiden, dia kembali membungkuk pada Eveline. “Aku sangat minta maaf, Alpha, Eveline.” Gaston terkekeh pelan, “Kau benar-benar membuatnya kapok rupanya.” “Baguslah kalau itu artinya dia tak akan menggangguku lagi.” Pengantaran pack lebih sederhana dibanding biasanya, yang kali ini terasa dipercepat dan serba canggung. Padahal jika memang sudah muak sejak awal, Eiden tak perlu mengadakannya hanya untuk menjaga tradisi. Hanya mengantar pack yang hendak pergi, tak akan berpengaruh sama sekali. Para warrior mulai membubarkan diri setelah mendapat isyarat dari Eiden. Eveline menunduk saat sang kakak berdiri tepat di depannya. “Aku tak melihatmu sama sekali kemarin. Kau ke mana?” Spontan Eveline melirik Jaiden yang mana pria itu tahu apa yang terjadi kemarin. Celaka jika Jaiden tak mau bekerja sama. “Hanya berlatih seperti biasa.” “Bersamaku.” Jaiden menambahkan tanpa permohonan sama sekali dari Eveline membuat wanita itu terkesiap. “Lain kali basa-basilah padaku dan bilang mau ke mana. Jangan sampai aku mengerahkan semua warrior untuk mencarimu.” “Sudah kubilang aku bukan anak kecil lagi.” “Dan Eveline sudah waktunya menemukan mate. Jangan merendahkannya begitu, Eiden.” Eiden terkekeh, mencubit kedua pipi Eve dan menggoyang-goyangkannya. “Aku tak sabar melihat bagaimana mate-mu. Pasti seseorang yang gagah dan kuat untuk melindungi adikku yang menggemaskan ini.” Terakhir, Eiden menepuk puncak kepala Eveline sebelum pergi diikuti Gaston. Hanya Gaston, karena Jaiden tak beranjak sama sekali, tetap berdiri di depan Eveline. “Terima kasih telah membantuku,” cicit Eve. “Aku membelamu hanya sampai waktu perjanjian kita habis. Setelah itu, jangan harap aku membelamu lagi, yang ada aku akan mendorongmu ke jurang,” dengkus Jaiden juga meninggalkannya pergi. Eveline berdecak. “Jahat sekali.” Niatnya ingin menyusul Jaiden untuk membujuk tentang rentang waktu perjanjian mereka, tetapi Eveline justru mematung dan mencengkeram rambutnya, merasakan rasa sakit itu lagi. Sakitnya lebih menyakitkan dari kemarin, lebih memusingkan. Eveline terduduk di lantai, merapatkan kakinya ke d**a dan menyembunyikan wajahnya di sana. “Argh!” Jaiden yang paling dekat dengannya menoleh, memahami situasi selama beberapa detik sebelum berlari dan ikut berlutut. “Eveline, kau kenapa?” Wanita itu masih histeris dengan rasa sakitnya, tidak merespons pertanyaan Jaiden sama sekali. Rasa sakit itu seolah menusuk-nusuk kepalanya dengan sesuatu yang sangat tajam dan berulang. Belum lagi rasa mual yang timbul karena Eveline dilanda pusing yang luar biasa, sangat menyiksa. “Eve! Katakanlah kau kenapa!” “Sakit!” “Warrior! Panggil healer! Cepat!” Jaiden menarik Eveline bersandar ke dadanya, mengguncang tubuh wanita itu agar senantiasa terjaga. “Eveline, bertahanlah.” Sayangnya, Eveline lagi-lagi tak bisa menahan rasa sakit tersebut dalam keadaan sadar. Karena sebagian besar rasa sakit bermuara di kepala, kesadarannya dengan mudah hilang dan terenggut oleh kegelapan. *** Xavior mendesis, menjambak rambutnya sendiri dan menarik-nariknya saat kepalanya merasa tak nyaman, seperti ada rasa gatal menusuk yang tak bisa diraihnya. Jelas itu sangat mengganggu di saat Xavior tengah berada dalam pembicaraan serius dengan Damian tentang pack. “Kau tidak apa-apa?” “Ya, aku baik-baik saja, Alpha. Hanya pusing sedikit.” Damian menutup buku yang sedang dibaca Xavior dan menaruh di tempatnya. “Mungkin kau sudah terlalu banyak bekerja. Panggillah Sean untuk menggantikanmu.” Ah, Sean. Xavior tidak tahu alasan kenapa pria itu marah, tetapi Xavior jadi segan bertemu atau berkomunikasi dengannya. Dia tidak nyaman dengan tatapan tajam dan sinis Sean yang baru dilihatnya kali ini, sangat berbeda dengan dirinya yang selama ini Xavior kenal. “Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.” “Jangan terlalu memaksakan diri. Kau juga butuh istirahat.” Damian memejamkan matanya. “Sean, kemarilah.” Ya, Xavior sadar dia tak bisa menghindar. Lagi pula, ini hanya Sean. Xavior yakin semua ini sebatas kesalahpahaman karena dia tak melakukan sesuatu yang membuat Sean marah padanya. Setidaknya, Xavior tidak melakukannya secara sengaja. Pintu diketuk, tetapi Xavior menahan diri untuk tidak menoleh. Sudah jelas siapa yang datang dan Xavior hanya akan mendapati tatapan tajam milik Sean menyudutkannya. Mungkin kelihatannya Xavior tenang dan datar, tetapi dia tak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa dia tak nyaman. Damian mengerutkan keningnya. “Ada apa dengan kalian? Kenapa kau terlihat marah, Sean?” “Aku berbuat salah pada Sean, Alpha. Hanya kesalahpahaman.” Xavior berdiri dan membungkuk pada Damian. “Kalau begitu, aku pergi dulu,” pamitnya meninggalkan mereka berdua secepatnya. Selepas kepergian Xavior, Sean duduk di tempat sang Beta duduk tadi—tepat di depan sang Alpha. “Apa yang terjadi?” Sean meletakkan sikunya di meja, berniat semakin dekat dan mengatakannya secara rahasia. “Sepertinya Xavior melakukan sesuatu di luar sepengetahuanmu, Alpha.” Damian ikut melakukan hal yang sama. Tampaknya ini memang hal yang serius. “Apa yang dia lakukan?” “Xavior bertemu seseorang di perbatasan. Bukan hanya sekali dua kali, setiap hari. Setiap kali dia pamit untuk patroli, Xavior menemui seorang wanita.” “Lalu apa anehnya itu?” “Wanita itu berasal dari Megamoon Pack.” Sang Alpha tersentak ke belakang, menggeleng-geleng. “Apa? Tidak mungkin Xavior melakukan hal seperti itu.” “Kenyataannya memang begitu, Alpha. Semula salah satu warrior memberitahuku tentang itu, lalu aku yang datang sendiri untuk memastikannya. Memang Xavior bertemu seorang wanita berambut merah dari seberang.” “Kenapa dia melakukannya tanpa bilang padaku? Apa yang sedang dilakukannya?” “Mungkinkah Xavior mengkhianati pack, Alpha?” tebak Sean meski ragu pada perkataannya sendiri. “Tentu saja tidak mungkin. Yang sedang kita bicarakan itu Xavior, Sean, dia tak mungkin melakukannya.” Damian mendorong kursinya dan berdiri, berjalan bolak-balik seraya memikirkannya. Dia ingat dengan jelas tak pernah memerintahkan Xavior demikian atau Xavior melapor sesuatu tentang bertemu seseorang dari Megamoon Pack. Aneh mengingat Xavior selalu melaporkan hal detail padanya. “Tetapi tidak ada yang mustahil, Alpha. Bisa saja dia memang melakukannya.” Jari Damian menjentik. “Atau mungkin dia menemukan mate-nya yang berasal dari Megamoon Pack?” “Mate?” “Kau ingat saat dia pergi untuk menemui mate-nya? Mungkin saja wanita itu memang datang, tetapi Xavior berbohong pada kita karena khawatir dia dari Megamoon Pack.” “Aku tidak berpikir sampai ke sana,” ringis Sean merasa bersalah. “Lalu apa yang akan kau lakukan jika itu memang benar?” Tampaknya Damian sudah lebih tenang sekarang. Dia kembali duduk di kursinya dan berkata, “Kau tahu sendiri ini bukan keinginan Xavior, tetapi takdir yang diberikan Moon Goddes. Aku tak berhak marah padanya atau menyuruhnya menolak mate-nya.” Sean mengusap kasar wajahnya dan menggumam, “Astaga, aku merasa buruk telah menuduh dan berpikiran hal yang sangat mengerikan. Bisa-bisanya aku berpikir Xavior mengkhianati pack dan aku sudah membuat keributan.” “Tak apa-apa, refleks seorang Delta ingin melindungi pack-nya.” “Aku harus minta maaf padanya.” “Hm, tapi jangan bilang kau sudah mengatakannya padaku. Aku ingin Xavior yang mengatakannya sendiri, dia hanya sedang mencari waktu yang tepat.” “Baiklah, Alpha.” Sean membungkuk dan undur diri, meninggalkan sang Alpha yang sibuk dengan pikirannya dan tanpa sadar menggumam, “Dari Megamoon Pack?” *** Semula hanya cahaya kecil, perlahan Eveline mendapatkan kesadaran sepenuhnya. Penglihatannya kabur selama beberapa saat dengan sisa pusing yang masih terasa, berusaha mengingat bagaimana dia bisa berakhir di sini. Eiden ada di sampingnya, hanya dia. Baguslah, Eveline sedang tak ingin bertemu siapa pun selain kakaknya. Eiden meremas tangan adiknya yang bergerak lemah. “Eve, kau baik-baik saja?” Eveline berusaha duduk ingin meredakan pusing di kepalanya, mungkin akibat berbaring cukup lama. “Apa yang terjadi?” “Kau pingsan tadi pagi.” Wanita itu menampilkan raut bingung, tak ingat kapan atau kenapa dia pingsan. Rasa pusing di kepalanya terlalu menyita perhatian dan membuatnya ingin muntah. “Lalu apa kata healer?” “Kau salah bertanya. Bukan healer, tetapi tetua.” “Kenapa malah memanggil tetua? Aku sakit, harusnya healer yang memeriksaku.” “Sepertinya rasa sakit itu berasal dari wolf yang mulai terbangun.” “A-apa?” Eiden tersenyum lebar. “Ya, Eve, kau memiliki wolf di dalam dirimu.” “Tunggu, aku tidak mengerti. Bisa kau jelaskan dari awal?” “Lumrah mengalami kesakitan yang luar biasa saat wolf hendak berkomunikasi denganmu. Dia butuh waktu untuk bisa muncul sepenuhnya dan kau bisa merasakannya.” Sulit dipercaya. Eveline memiliki wolf di dalam dirinya? Terdengar seperti mimpi sampai detik ini. Terlebih, Eveline tak merasakan sesuatu yang berbeda di dalam dirinya sendiri. Tidak ada suara atau sesuatu yang lain hadir. “Tetapi aku hanya half, Eiden, memangnya aku punya wolf? Apa aku bisa berubah?” “Walau half, kau tetap manusia serigala, Eve. Aku tak yakin kau bisa berubah atau tidak, tetapi itu tetap hal bagus ‘kan? Kau selalu ingin memiliki teman untuk diajak berbicara dan sekarang itu tidak mustahil lagi.” “Semalam aku bermimpi bertemu dengan serigala yang cantik sekali, dia berkata Ivy. Apa benar dia akan menjadi serigalaku?” “Mungkin saja. Cobalah berinteraksi dengannya.” Eveline memejamkan matanya kuat-kuat, berusaha fokus. ‘Halo?’ Dia menunggu balasan lain atau sekadar dengungan, apa saja yang penting Eveline mendapatkan balasan. Akan tetapi, sangat sunyi di pikirannya, tidak terdengar apa-apa. “Bagaimana?” Eveline menggeleng pelan, menyerah. “Tidak ada balasan.” Eiden mengusap puncak kepala adiknya penuh kelembutan. “Tenanglah. Seperti yang kubilang, dia memerlukan waktu. Tetapi satu yang pasti, dia pasti akan muncul. Bersabarlah, penantianmu sedikit lagi akan berbuah manis, Eve.” Yang lebih dipikirkan Eveline adalah mungkin setelah ini, akan lebih mudah berkomunikasi dengan Xavior. Tak perlu datang secara langsung hanya untuk mengobrol walau memang dia lebih senang bisa bertemu langsung. Setidaknya, mereka tak memerlukan teropong dan senter hanya untuk mengajak bertemu atau terlewat satu sama lain akibat kesalahpahaman. Eveline juga memikirkan bagaimana rasanya punya teman bicara, bagaimana rasanya mengobrol tanpa menggerakkan bibir, atau bagaimana rasanya memiliki penciuman serta pendengaran yang sangat awas milik para serigala. Eveline tak akan merasa terasingkan lagi. Memikirkannya saja sudah cukup untuk menarik sudut bibirnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN