SELAMA ini, Xavior mengenal Rex sebagai serigala yang tenang dan selalu berada dalam pemikiran yang sama dengannya, kebalikan dari Dane. Dia hanya ‘liar’ saat terlalu marah atau sedang ada sesuatu yang mengganggunya—dan itu sangat jarang terjadi. Terakhir kali yang diingat Xavior adalah saat Dane mengejeknya dulu bahwa Rex hanyalah serigala rendahan.
Ya, Dane pernah menjadi kebencian semua orang yang menimbulkan khawatir karena dia adalah wolf Alpha. Awal-awal muncul, ada banyak masalah yang ditimbulkan serigala itu dan Damian belum bisa menguasainya.
Baru kali ini Xavior merasakannya lagi di mana Rex sangat bising di kepalanya dan terus mengatakan banyak hal tentang pertemuan mereka dengan Eveline. Kebanyakan dia mengatakan tentang betapa beruntung mereka mendapatkan Eveline atau kenapa Xavior tidak membiarkannya muncul dan bertemu Eveline secara langsung.
Tentu saja Xavior tak akan melakukannya. Siapa yang tahu apa yang akan dilakukan serigala tersebut, bisa saja dia berubah menjadi tidak terkendali.
Pagi ini, Rex masih sama menyebalkannya. Gerutuannya kali ini berganti menjadi, ‘Xavior, kenapa aku tidak bisa menghubungi Eveline atau wolf-nya?’
Xavior harus memastikan tak ada orang di sini sebelum membalas, ‘Memangnya seorang half juga mempunyai wolf?’
‘Setahuku tidak semua ada dan tidak semua tidak ada. Kenapa kau lupa untuk menanyakannya?’
‘Kenapa kau tidak mengingatkanku untuk bertanya?’
‘Seharusnya kau tidak melupakan hal penting seperti itu.’
Dia mendengkus sebal, pertama kalinya kesal pada Rex yang tidak sepemikian dengannya—malah menyalahkannya. Kemarin Xavior terlalu larut dalam obrolannya dengan sang mate sampai tidak kepikiran hal seperti itu. Dia kira berjanji untuk bertemu lagi hari ini sudah cukup.
Dengan pakaian pack-nya, Xavior mendapati Damian ada di balkon. Sang Alpha masih tampak tak baik-baik saja. Biasanya, Damian datang ke balkon untuk merenung atau berpikir dan kemungkinan besar ini menyangkut Flora.
“Alpha, kau tidak menghampiri Luna?”
“Untuk apa? Untuk menerima makian lagi?” balas Damian dengan nada sebal.
Xavior mengernyit. “Jadi maksudmu kau akan menyerah? Memangnya apa yang dikatakan Luna sampai membuatmu mudah menyerah begini?”
“Dia lebih memilih Eiden daripada aku.”
“Mungkin Luna hanya sedang emosi. Kau tahu sendiri bagaimana kau memaksa dan melakukannya di saat Luna sedang pingsan.”
“Lalu apa yang salah dari itu? Aku hanya ingin mengurangi rasa sakitnya. Lagi pula bukan aku yang membuatnya tak sadar, dia pingsan karena tak kuat menerima rasa sakit saat aku menandainya.”
“Oleh karena itu, kau tidak boleh menyerah padanya.”
Damian mendelik pada pria di sampingnya. “Kau itu Betaku. Kenapa malah berpihak padanya?”
Xavior menggeleng pelan. Mengerti duduk masalahnya bukan mengerti seberapa rumit masalah yang dirasakan Damian. Xavior berusaha memandangnya sebagai ‘mata’ yang netral dan tidak memihak, tetapi tidak menampik kalau dia lebih condong pada Flora mengingat dia adalah seorang wanita—yang lebih lemah.
“Aku berpihak pada siapa yang menurutku pantas. Alpha, aku mengerti kau sakit hati karena Luna berusaha kabur dan meminta bantuan dari Eiden, musuhmu sendiri. Aku tidak menyangkal jika Luna juga salah. Tetapi jujur saja, caramu ini juga salah.”
“Tapi aku—”
“Aku belum selesai bicara.”
Tidak biasanya Damian diam saja jika dipotong begitu, membuat Xavior menyimpulkan kalau dia memang benar-benar membutuhkan saran atau pencerahan. Dia melanjutkan, “Aku mengerti kau sebenarnya tidak sengaja melakukannya karena sedang emosi dan dorongan Dane untuk segera menandai Luna, tetapi kau harus mencoba menempatkan dirimu berada di posisi Luna.”
“Apa yang buruk dari berada di posisinya? Dia pantas mendapatkannya,” decak Damian masih saja keras kepala dengan kepercayaannya.
“Keras kepala sajalah jika tidak ingin mendengarkan nasihatku,” dengkus Xavior berbalik hendak pergi—walau jujur saja dia ingin pergi sungguhan. Dia lupa tak menetapkan waktunya dan takut Eveline sudah ada di sana.
“Tunggu. Baiklah, aku mendengarkan.”
“Kau harus ingat jika Luna belum mencintaimu saat ini. Kau memperparah dengan memaksanya dan mengambil sesuatu yang dijaga setiap manusia. Mungkin di sini mating tidak begitu penting, tetapi di dunia manusia, ada beberapa orang yang mementingkan keperawanan.”
“Dari mana kau tahu?”
Dia mengedik. “Dari film yang pernah kulihat saat ke dunia manusia.”
Dengan mata yang menyipit curiga, Damian mencibir, “Tampaknya kau tahu banyak tentang manusia.”
“Itu juga karena Eve—”
Xavior menghentikan ucapannya, diam-diam merutuk dalam hati. Untungnya masih bisa dihentikan dan belum terlalu fatal, tetapi lihat saja bagaimana Damian meliriknya yang tiba-tiba menghentikan ucapannya.
“Kenapa berhenti? Apa yang ingin kau katakan?”
“Itu juga karena ... efektivitas. Maksudku, mempelajari hal tentang manusia efektif untuk membantu kita setiap kali berkunjung saat mencari persediaan makanan.”
Damian masih menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan—atau Xavior hanya terlalu panik dalam mengartikannya. Sang Alpha tidak bereaksi apa-apa terhadap ralat secara refleks yang dibuat Xavior untuk menutupi keceplosannya.
Tidak mungkin ‘kan jika Damian sudah mengetahuinya.
“Aku tetap tidak mengerti kenapa Flora harus sangat marah begitu. Sepertinya dia hanya sangat membenciku,” sungut Damian.
Huhh, tadi itu nyaris saja. Xavior bahkan kesulitan menelan ludahnya sendiri karena khawatir dengan respons atau kecurigaan Damian.
“Terima saja, Alpha. Luna berada dalam dimensi yang berbeda dengan dunianya, tak mudah baginya menerima sesuatu yang tidak banyak dipercayai seperti makhluk immortal. Cepat atau lambat dia pasti akan menerimamu.”
“Kalau begitu beri dia waktu untuk berpikir. Jangan menemuinya atau ke kamarnya sama sekali. Omega yang akan melakukannya.”
“Kau ingin mengurung Luna?”
“Dia bisa keluar jika ingin. Aku atau penyihir rumah tidak mengunci pintunya jika dia mau keluar.”
“Tapi kau sendiri tahu dia tak akan mau keluar.”
“Oleh karena itu, semua ini tergantung padanya. Terserah dia apa maunya.”
Damian pergi ke lorong yang mengarah semakin dalam ke mansion. Belakangan ini, dia tidak produktif melakukan semua tugasnya atau mendiskusikan sesuatu, Damian lebih banyak melamun di balkon, atap, atau kamarnya. Tampaknya dia memang sulit bekerja jika masalah sedang menimpanya.
Xavior sendiri bingung bagaimana harus memberikan saran pada masalah sang Alpha dan Luna. Sebenarnya sederhana, hanya saja di antara mereka harus ada yang mau minta maaf duluan. Yang lainnya tak mungkin tak memaafkan sekalipun Flora membenci Damian.
Wanita dan manusia sangat erat dengan yang namanya kelembutan.
“Alpha! Aku akan berpatroli di perbatasan!”
Damian melambaikan tangannya tanpa menoleh yang diartikan Xavior sebagai perizinan dari sang Alpha. Andai dia tahu Xavior hendak menemui salah satu dari pack musuh, mungkin Damian akan menghalangi Xavior setengah mati.
***
Seharusnya Eveline bisa bersikap biasanya—setidaknya itu yang berusaha dia lakukan. Tak ada yang berbeda dengan pagi-pagi biasanya, pakaiannya pun pakaian longgar yang sering dipakainya untuk berlatih dan nyaman untuk beraktivitas. Setidaknya Eveline berusaha tetap sama.
Mungkin jika ada yang sadar betapa lebar senyum dan wajahnya yang cerah, itu bisa menjadi pengecualian. Semoga saja tidak banyak yang sadar.
Eveline sempat bertanya-tanya haruskah dia mengenakan pakaian yang sama seperti kemarin, tetapi akan menimbulkan kecurigaan pada Eiden. Dan lagi, Eveline ingin menunjukkan pada Xavior bagaimana dia yang sebenarnya.
Dia sudah menyampirkan tas anak panahnya saat Eiden menghampirinya. “Mau ke mana?” tanya Eiden.
“Latihan berkuda dan memanah. Bukankah kau harusnya tahu?”
“Ya, tapi bukankah kau melakukannya dua hari sekali?”
Benar juga. Untuk memanah, Eveline memang melakukannya hampir setiap hari. Namun, jika untuk berkuda, dia tak sering melakukannya karena kudanya sering hilang atau kudanya kelelahan. Hilang dalam artian ada yang memakannya atau semua kuda habis digunakan untuk persediaan makanan.
“Lalu kenapa?”
“Kemarin ‘kan kau sudah berlatih.”
“Dari mana kau tahu?!” Tanpa sadar Eveline memekik, seketika khawatir jika kakaknya mengetahui lebih dari itu.
Eiden mengedikkan bahunya santai. “Dari warrior yang menjaga di perbatasan,” balasnya dengan nada bingung dan curiga.
Tenang, santai, bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Kau pasti bisa, Eveline.
“Umm, aku hanya sebal karena ternyata orang itu bukan mate-ku. Aku baru tahu jika wewangian dari dunia manusia ternyata cukup harum dan memabukkan,” jelas Eveline akan pekikannya tanpa alasan yang jelas, berusaha menghilangkan kecurigaan kakaknya.
Semoga saja Xavior tak mengalami kesulitan dalam menyembunyikan rahasia mereka. Sungguh, Eiden bukan seseorang yang mudah diyakinkan.
Pria itu mengangguk pelan, meletakkan kedua tangannya di belakang tubuh. “Kau sebutkan saja bagaimana ciri-cirinya. Aku dan Jaiden akan mencarikan untukmu saat ke dunia manusia nanti.”
“Lain kali saja. Aku masih terlalu kesal sampai ingin berlatih lagi.”
Eveline berbalik, diam-diam bersorak karena kakaknya tidak curiga atau menanyainya sesuatu. Untuk sementara, rahasianya dengan Xavior aman dari sang Alpha Megamoon Pack.
“Eveline.”
Sial. Eiden memanggil namanya begitu hanya jika dia ingin membicarakan sesuatu yang serius. Padahal tinggal sedikit lagi, dia sudah bisa meraih tali kekang kudanya. Eveline berbalik dan tersenyum tipis. “Ada apa?”
Wajah Eiden cukup serius saat mengatakan, “Jangan mendekati perbatasan.”
Terang saja Eveline berubah gugup. Jangan mendekati perbatasan, tetapi kali ini dia memang akan ke sana. Jelas dia tak bisa mengiyakan, bahkan walau hanya kebohongan. “Memangnya kenapa?”
“Tidak ada. Antisipasi saja, jangan sampai kau memberikan Damian celah untuk menyerangmu.”
“Ya, tentu saja. Itulah gunanya aku belajar banyak senjata selama ini.” Tak ingin ada apa-apa lagi, Eveline lekas naik ke atas kuda dan mengarahkan kuda itu ke arah tujuannya. “Aku pergi dulu, Kak. Oh, untuk ke sekian kalinya, jangan suruh Jaiden atau siapa pun untuk mengikutiku karena itu sangat menyebalkan. Aku bukan anak kecil lagi astaga.”
Eveline memecut tali kekang kuda hingga kuda tersebut berlari ke arah yang ditunjukkannya. Ke samping mansion dengan jalan yang memutar lebih dulu agar tidak ada yang curiga, kemudian kudanya diarahkan berjalan terus lurus.
“Tinggal lurus saja.”
Mendekati perbatasan, laju kuda memelan. Eveline baru pertama kali ke sini sendirian dan dia tak boleh salah mengambil lajur. Terlebih, suara berisik dari tapak kuda bisa menarik perhatian warrior yang berjaga.
Benar saja, sudah ada warrior yang menuju ke arahnya.
Eveline menurunkan busur panahnya sebagai persiapan dan bukti untuk mendukung alasannya.
“Nona Eveline, mau ke mana? Alpha melarang siapa pun mendekati perbatasan,” ujar warrior tersebut.
“Memangnya siapa bilang aku mau ke perbatasan? Kau tidak tahu jika aku sedang berlatih berkuda dari ujung ke ujung? Aku melakukannya setiap hari dan tidak ada yang menegurku, termasuk Eiden.”
“Maaf, Nona, saya tidak tahu. Silakan.”
Warrior itu kembali melanjutkan patrolinya ke arah yang berlawanan. Eveline dan kudanya masih diam di tempat selama beberapa saat untuk memastikan tidak ada warrior lain yang memergokinya. Cukup sekali Eveline bersikap keras kepada orang lain, dia tak mau melakukannya lagi.
Jalannya kembali lurus sebagaimana yang dibilang Xavior kemarin. Pria itu benar, pengawasan di daerah ini cukup lenggang walau perbatasan dan mengakses langsung ke seberang. Entah apakah warrior tadi tahu atau tidak adanya tempat ini.
Xavior sudah ada di sana, menunggunya di atas pohon yang tumbang. “Kupikir kau tak akan datang.”
“Apa kau sudah menunggu lama di sini?” Eveline turun dari kudanya dan mengaitkan tali kekang kuda ke pohon.
“Entahlah, tidak ada jam di sini. Mungkin sudah lama, mungkin juga aku hanya menunggu beberapa menit.” Senyumnya tercetak lebar, tetapi matanya tak bisa menyembunyikan kalau Xavior sedang memastikan keadaannya. “Kau baik-baik saja? Apa ada sesuatu yang terjadi sehingga kau lama sampai ke sini?”
“Aku baik-baik saja. Tadi ada warrior yang menghadangku, tetapi dia sudah pergi. Seharusnya.”
Xavior menarik Eveline untuk duduk di sampingnya, menyisakan ruang kecil di antara mereka. “Eve, apa kau memiliki wolf?”
Eveline mengulum bibirnya sebelum menggumam, “Tidak, aku tidak merasakan kehadirannya sama sekali.”
“Mungkin hanya telat.”
“Mungkin aku memang tidak punya. Apa yang bisa diharapkan seorang half sepertiku? Bisa bertahan saja sudah cukup mustahil.”
“Tidak ada yang mustahil. Kau bertahan karena kemampuanmu sendiri.”
Eveline hanya tersenyum tipis, menepis harapan yang ingin tumbuh. Dia mengerti sebagai mate, Xavior menginginkan Eveline sebaik mungkin dan bisa berkomunikasi dari jarak yang jauh. Eveline juga menginginkannya, iri bagaimana manusia serigala yang lain bisa berkomunikasi melalui pikiran.
Sayangnya, dia hanya half yang bahkan tidak sepenuhnya pantas disebut manusia serigala.
“Eiden belum mengetahui tentang kita, bukan?”
“Hm, semoga saja aku memang berhasil menyembunyikan ini darinya. Jangan sampai ternyata selama ini dia tahu di belakangku.” Dia mendongak, mendapati Xavior menatapnya cukup intens. “Ada apa? Kenapa melihatku begitu?”
“Kemarin Alpha dan Lunaku sedang bertengkar karena kesalahpahaman dan dua-duanya keras kepala, merasa yang lain lebih salah dan harus meminta maaf duluan. Ingat ‘kan kalau Lunaku manusia? Aku hanya berharap jika kau tidak sepertinya. Maksudku, hubungan kita bisa lebih baik.”
“Aku tidak mengerti apa maksudmu yang sebenarnya.”
“Lupakan saja,” kekeh Xavior. “Boleh aku jujur? Aku lebih menyukai penampilanmu yang seperti ini. Tampak berani dan tidak takut apa pun, terlihat seperti seseorang yang mengandalkan dirinya sendiri. Dengan panah itu, kau bisa menakuti siapa pun.”
Sontak Eveline memperhatikan penampilannya sendiri. Baju panjang, celana longgar, jubah abu-abu, pelindung di tangan dan dadanya, serta rambut merahnya yang dikepang menjadi satu. Penampilan yang sangat tidak biasa di sini, tetapi itulah tampilan Eveline setiap hari.
Siapa tahu musuh bisa terintimidasi dengan penampilannya yang sangat berbeda itu. “Bagaimana denganmu? Apa kau takut?” tanya Eveline.
Xavior terkekeh. “Tidak, tentu saja. Cobalah memanah sesuatu di sini.”
Eveline menarik satu anak panahnya dan memasang di busur panah, bersiap membidik sesuatu. Atensinya memutar mencari sesuatu yang memacu adrenalin dan keterampilannya dalam memanah. Tidak ada, terlalu diam di sini.
Dia berdiri dan berjalan ke sebuah pohon dengan busur yang masih siaga. Tanpa mengubah posisinya, Eveline menendang pohon itu dan secepat kilat mengarahkan busurnya ke udara. Anak panahnya melesat begitu saja dan menancap ke pohon lain.
Sang mate meliriknya bingung, tidak mengerti apa yang baru saja dilakukan Eveline sampai wanita itu kembali dengan anak panahnya dan menunjukkan sesuatu yang terkena panah. Rupanya Eveline menyasar daun yang jatuh dari pohon tadi.
“Mengagumkan. Bagaimana bisa kau mempelajarinya? Pantas saja kau bisa mengalahkan rogue hanya dengan satu anak panah,” puji Xavior.
“Aku berlatih seumur hidup untuk menguasainya. Entah apakah akhirnya aku bisa berubah menjadi serigala atau tidak, setidaknya aku harus memiliki cadangan kekuatan.” Dia memasukkan kembali anak panahnya. “Kau bilang Lunamu manusia. Apakah ada yang sama dari kami?”
“Kurang lebih. Kalian sama-sama wanita dan tidak bisa berubah, tetapi memiliki senjata lain. Mungkin Lunaku lebih menggunakan kata-katanya sebagai senjata. Alpha saja sampai menyerah karena Luna tak memberinya kesempatan sama sekali.”
“Kedengarannya Lunamu sangat menakutkan. Aku jadi tak sabar bisa bertemu dengannya.”
Tampaknya entah itu berasal dari Supermoon Pack atau Megamoon Pack, mereka akan selalu berada dalam kecemasan setiap kali bertemu secara sembunyi-sembunyi seperti ini. Kali ini Eveline yang lebih dulu mengatakan, “Sepertinya aku harus pergi, Xavior. Aku berjanji untuk tidak mendekati perbatasan.”
“Kalau begitu, kau sudah menjadi pembohong sekarang. Bisa kita bertemu lagi besok?”
“Aku tidak tahu. Kita harus menggunakan sesuatu sebagai pengganti mindlink.”
“Kau ada ide?”
“Bagaimana dengan burung phoenix? Jika kau ingin bertemu, kirimkanlah burung phoenix berputar di perbatasan di tengah hari. Jika aku tidak mengirimkan burung phoenix lain dalam sepuluh menit, artinya aku tidak bisa atau aku tidak ingat.”
Di setiap pack, ada banyak burung phoenix sebagai pengantar pesan atau salah satu pertahanan untuk situasi genting, seperti perang. Selain karena lama hidupnya, burung phoenix tergolong kepada makhluk yang mudah mati karena terbakar apinya sendiri. Namun, dia bisa hidup kembali dari abunya.
Sepertinya memanfaatkan satu burung tidak apa-apa, bukan?
“Baiklah. Layak dicoba.”
Eveline menaiki kudanya tanpa sempat dibantu Xavior. Wanita itu cukup cakap melakukannya sendiri. “Aku harus pergi sebelum ada yang tahu aku ada di sini. Sampai jumpa,” pamitnya berlalu pergi menunggangi kuda, menyisakan Xavior yang memandangnya dari belakang.
“Bukankah dia sangat pas untuk kita?”
‘Ya. Dia pas apa adanya.’
***
Sesampainya di mansion, Eveline berniat langsung ke kamarnya atau berdiam diri dulu di taman belakang mansion untuk mendinginkan badannya yang panas karena sudah berkuda dan berkeringat. Menemui kakaknya tidak ada dalam rencananya sama sekali.
Namun, rencananya berubah secara tidak sengaja begitu Eveline melewati ruangan yang biasa digunakan Eiden untuk pertemuan para anggota inti pack atau menyusun sebuah rencana yang sangat serius. Ada Eiden dan Jaiden di dalamnya seolah menarik Eveline untuk masuk juga.
“Kalian merencanakan sesuatu lagi?” tanyanya membuat kedua pria itu menoleh.
“Bukan untuk diketahui pemula sepertimu,” balas Jaiden bercanda, tetapi Eveline sedang tidak dalam suasana hati yang bagus untuk meladeninya.
“Tak ada yang bertanya padamu, dasar menyebalkan. Eiden, kau merencanakan sesuatu untuk Supermoon Pack lagi?”
“Hanya rencana cadangan, Eve. Aku tak bisa sehari saja tanpa merencanakan sesuatu untuk membalas dendam.”
“Ya, terserahlah. Yang jelas, kuharap tidak ada yang harus terluka lagi. Siapa yang tahu jika akhirnya aku juga menjadi salah satu orang yang kau sakiti.”
Eiden dan Jaiden berubah bingung, sama-sama meliriknya tak mengerti. Jaiden bertanya, “Apa maksudmu?”
“Eiden, melihatmu yang seperti ini, seperti apa yang ditakutkan semua orang membuatku merasa tak enak karena mengenalmu dengan sisi yang berbeda. Aku mengenalmu sebagai kakak yang tak pernah menyakitiku, tetapi bagaimana dengan orang-orang?”
“Kenapa kau tiba-tiba mengatakan ini?”
Ya, kenapa? Jujur saja, Eveline juga tidak mengerti. Dia sedang berada dalam pergolakan batin terjebak dalam dua pack yang bermusuhan dan dia tak bisa hanya memihak satu. Eveline tahu kakaknya memang banyak menimbulkan masalah sebagai Alpha, tetapi dia tidak bisa memusuhinya juga.
Terlebih, Eveline tak ingin jika rencana itu berdampak pada Xavior.
“Entahlah, aku hanya kepikiran. Saat seseorang mengatakan hal yang buruk tentangmu, aku akan mengatakan hal sebaliknya. Kadang aku tak memikirkan mereka yang kau sakiti, aku hanya ingin mereka menyamakan persepsi sepertiku.”
Pipi Eiden bergerak-gerak dari dalam, tanda lidahnya sedang bermain-main. Tatapan matanya datar, bukan jahil seperti yang biasanya dia tunjukkan pada Eveline. “Jadi, kau ingin aku berbuat baik pada semua orang?”
“Bisakah?”
Eiden tersenyum. “Tidak.” Dia mendekati Eveline dengan tatapan yang tak bisa diartikan. “Eveline, aku tahu bagaimana ranah ekspresiku di setiap situasi dan kondisi. Jika aku menunjukkan taringku, maka aku memang harus menunjukkannya. Aku tak bisa terlihat jinak sementara lawanku sedang mengajak berperang.”
“Maksudmu Supermoon Pack?”
“Salah satunya mereka,” desis Eiden. “Jaiden, antar Eve ke kamarnya.”
“Aku ingin kau memikirkan ucapanku,” ujar Eveline sebelum Jaiden menariknya keluar, meninggalkan sang Alpha sendirian. Eveline langsung menepis pegangan Jaiden dan menjauh.
“Kenapa kau mengatakan hal seperti itu pada Eiden?” todong Jaiden. Pertanyaan yang sudah bisa diprediksi.
Eveline mengedikkan bahu tak acuh. “Memangnya kenapa? Aku hanya mencoba melakukannya. Selama ini tidak ada yang cukup berani untuk mengatakannya, bukan? Bahkan tidak kau, Jaiden. Aku hanya ingin Eiden sedikit saja memperbaiki dirinya sendiri, bukan membiarkan sifat kejamnya merajalela.”