Tersambung ke “Flora: Alpha’s Mate” FAM 24 Mark.
***
EVELINE membatu, tak menyangka dugaannya benar kalau mate-nya tidak akan mau menerimanya akibat perbedaan pack. Dia sudah ditolak dan mungkin tak memiliki kesempatan untuk memiliki mate lagi.
Lenggang sesaat, Eveline terlalu kehilangan kata-kata karena pesimisnya sungguh terjadi. Untuk pertama kalinya dia berinteraksi dengan seseorang dari luar Megamoon Pack dan itu berakhir dengan buruk. Tak ada yang berjalan baik.
“Ya sudah, reject aku.”
“Jadi kau sungguh dari Megamoon Pack?” tanya Xavior. Senyum yang sempat hilang itu kembali lagi. “Tentu saja aku tidak akan me-reject mate pemberian Moon Goddes. Hanya saja, aku tidak yakin bagaimana dengan pendapat Alpha-ku. Kalian tahu sendiri Alpha Damian dan kakakmu bermusuhan sangat lama.”
Jujur saja, Eveline jauh lebih terkejut sekarang dibanding saat tadi pria itu bilang ingin menolaknya. Apa yang bisa diharapkan dari seorang anggota inti pack? Mereka sudah diikat sumpah untuk mengabdi.
“Kau ... kau serius tak akan menolakku?”
“Tidak. Sekarang giliranku memperkenalkan diri. Aku Xavior, Beta dari Supermoon Pack. Tapi tenang saja, aku tak akan berpikir untuk memanfaatkanmu yang berasal dari Megamoon Pack.”
Seorang Beta, tentu saja. Entah rakyat biasa atau anggota inti pack, akan sulit hubungannya jika berasal dari kedua pack yang saling bermusuhan, terutama jika ini Beta. Kedua Alpha tak akan diam saja jika mengetahuinya, terlebih Eiden. Entah apa yang akan dilakukannya.
“Bagaimana jika Alpha kita mengetahuinya? Apa mereka akan tinggal diam?”
“Aku tidak yakin dengan kakakmu, tetapi aku yakin Damian ... maksudku Alpha akan mengerti. Mungkin akan sulit, tetapi Moon Goddes pasti memiliki alasan kenapa memilihmu untukku.”
Tatapan Xavior tertuju pada kuda di belakang Eveline yang tadi ditunggangi wanita itu. Di sini, semua daging termasuk makanan, tentu saja kecuali sesama manusia serigala—tidak terhitung jika dia rogue. Dan melihat kuda digunakan bukan untuk makanan merupakan hal yang jarang terjadi.
Eveline menyadari maksud dari tatapan Xavior kemudian berkata, “Ya, aku half-blood jika kau bertanya-tanya. Alasan lain kenapa kau harus menolakku.”
Hal pertama yang terlintas di benak Xavior adalah wanita itu sama dengan Flora. Darah campuran, kemungkinan besar lebih dominan sifat manusianya mengingat dia ke sini menunggangi kuda, bukannya seperti darah campuran lain jika itu berarti ada darah dari makhluk lain.
Jika darah campuran berarti memiliki dua makhluk yang berbeda dalam satu tubuh, seharusnya dia tetap bisa berubah bentuk dan akan semakin kuat dengan bantuan kekuatannya dari makhluk yang lain. Justru menguatkan kenapa Xavior tidak boleh menolaknya, untuk sang Luna.
Bisa saja mereka menjadi teman.
“Tidak usah mengungkit penolakan di hari pertama kita bertemu.” Lesung pipinya tampak saat senyum Xavior makin lebar. Kemudian dia mengingat saran yang diberikan Flora untuk berkata, “Kau sangat cantik.”
“Terima kasih.”
“Lunaku mengatakan sesuatu tentang menghadirkan binar bintang di mataku. Apa aku berhasil?”
Eveline terkekeh gugup. Astaga, tubuhnya tak bisa bekerja sama sekali untuk menjadi rileks. “Binar bintang? Seperti apa itu?”
“Entahlah. Lunaku yang menyarankannya, dan juga tentang bunganya. Dia menyarankan banyak hal untuk kulakukan di saat pertemuan pertama ini.”
“Lunamu seseorang yang tidak terpikirkan. Kebanyakan akan menyarankan langsung melakukan mating ....”
Sontak Eveline membungkam mulutnya sendiri dan menggerutu dalam hati. Ya ampun, bisa-bisanya dia mengatakan hal itu di depan mate-nya sendiri. Eveline tak mampu mendongak dan melihat bagaimana reaksi pria di depannya—entah apa yang dipikirkannya sekarang.
Xavior terhenyak lalu terkekeh geli dengan reaksi wanita di depannya. Asal jangan dengarkan kata-kata Rex di kepalanya, tampaknya wanita itu hanya keceplosan. “Apa kakakmu menyuruhmu begitu?” godanya.
“Tidak, tentu saja tidak. Kakakku akan membunuhmu jika melakukannya tanpa bertemu dengannya lebih dulu.”
“Ya, mungkin sebaiknya kita perbaiki dulu keadaan sebelum sampai ke tahap itu. Kau dengan kakakmu dan aku dengan Alphaku.” Xavior menoleh ke sekitar, mencari sesuatu yang dibutuhkannya. “Mau duduk dulu? Kau bisa duduk di kudamu jika kau mau.”
“Jangan memperlakukanku begitu. Aku hanya adik Alpha, bukan Luna dari sebuah pack. Tidak apa-apa, aku duduk denganmu saja.”
Eveline duduk di samping Xavior yang duduk di atas batang pohon. Dia tidak peduli mungkin gaun atau jubahnya akan kotor atau rusak, Eveline sudah sangat senang karena pria itu mau menerimanya. Xavior.
“Maaf tidak bisa mengajakmu ke dalam pack. Orang-orang akan salah paham jika mengendus bau pack-mu.”
“Tidak apa-apa. Kakakku pasti akan melakukan hal yang sama jika kau datang begitu saja.”
“Sebenarnya, Luna sangat ingin bertemu denganmu. Dia sangat mengharapkan teman yang bisa menemaninya. Untuk informasi, Lunaku seorang manusia.”
“Benarkah? Hebat sekali. Aku juga lebih seperti manusia dibandingkan werewolf.”
“Kalian pasti akan menjadi teman jika bertemu.”
“Ya, aku tak banyak bertemu wanita selama ini. Eiden dan Jaiden terus saja mengawasiku seperti aku ini anak kecil. Padahal setiap hari aku berlatih panahan hingga petang dan alat bela diri lainnya,” gerutu Eveline.
“Jadi, kau yang memanah dan menolong Luna waktu itu?” tebak Xavior.
“Jadi dia benar Lunamu? Aku tidak tahu. Aku hanya melihatnya dikepung rogue jadi aku berinisiatif untuk membantunya.”
Xavior berusaha menyembunyikan senyum lebarnya agar tidak terlihat terlalu ekspresif. Wanita itu lebih dari apa yang bisa diharapkannya terlepas dari statusnya yang termasuk anggota inti pack musuh. Setidaknya Xavior memiliki alasan yang kuat jika Damian mengamuk nanti bahwa mate-nya telah menyelamatkan sang Luna.
Cantik dan pandai bela diri. Apalagi yang bisa membuat Xavior menolaknya? Moon Goddes sangat baik memasangkannya untuk seorang Beta, bukannya Alpha dengan kualitas wanita yang sangat lebih.
“Kau telah menyelamatkannya kalau begitu. Terima kasih.”
Eveline tersenyum malu. “Tidak usah berterima kasih. Aku dan dia sama-sama tidak bisa bertukar wujud jadi kami harus saling membantu. Setidaknya aku bisa membunuh satu rogue sebelum kau datang.”
“Kau jauh lebih tangguh dari kelihatannya.”
“Benarkah? Setiap hari aku selalu menyempatkan untuk berburu atau berkuda. Apa saja untuk melatih kemampuanku. Terkadang Eiden memberikan banyak senjata baru dari dunia manusia dan mengajariku cara memakainya.”
Xavior berdeham. “Mendengarnya darimu membuatku merasa Eiden adalah orang yang baik, tetapi faktanya dia adalah musuh pack kami. Dia bahkan menyusup ke sini dan mengancam Luna karena tidak melakukan apa yang suruh.”
Bahkan faktanya, Eiden sudah membunuh salah satu sahabat Xavior. Dasha. Benci saja tak cukup menggambarkan Supermoon Pack sangat menentang pria itu walau sebenarnya sangat mengharapkan perdamaian antara kedua pack.
Entah kapan dan bagaimana hal itu bisa terjadi.
“Astaga, aku merasa tidak enak,” lirih Eveline.
“Tidak masalah. Bukan salahmu sama sekali.”
Melalui pendengarannya yang tajam, Xavior mendengar dan merasakan ada yang mendekat pada mereka. Gawat, satu-satunya yang bisa bebas ada di sini hanya warrior penjaga atau rogue. Ya, Xavior lebih berharap pada kemungkinan kedua.
Pria itu melepaskan jubahnya dan memasangkan pada Eveline tanpa mengatakan sesuatu membuat Eveline bingung. Tanpa sempat bertanya, Xavior merangkul Eveline semakin dekat padanya dan bertanya, “Ada apa?”
Ah, rupanya ada penjaga. Eveline makin merapatkan tubuhnya pada Xavior, berusaha menutupi warna gaunnya yang berbeda dengan Supermoon Pack. Dan semoga saja jubah Xavior cukup untuk menutupi bau tubuhnya.
Kedua penjaga itu memperhatikan Eveline lekat-lekat, bergantian dengan kuda yang ada di sana. “Kami mengendus aroma Megamoon Pack, Beta. Kami khawatir ada yang menyusup.”
“Tidak ada yang menyusup. Ini perbatasan, wajar jika kalian mencium aroma mereka.” Xavior melirik Eve yang berusaha menyembunyikan wajahnya kemudian mendengkus, “Kalian keberatan? Aku tidak suka kalian menatap mate-ku begitu.”
Sangat tidak biasa bagi Xavior bersikap begitu. Xavior dikenal sebagai Beta yang ramah walau tidak banyak bicara. Ya, setidaknya lebih dekat pria itu dengan para manusia serigala dibanding Damian.
“Maaf, Beta. Kami tidak tahu jika Beta sudah menemukan mate.”
“Sekarang kalian sudah tahu. Pergilah, patroli di tempat lain.”
“Baik, Alpha.” Keduanya membungkuk dan pergi.
Xavior masih mempertahankan posisi mereka, khawatir keduanya berbalik atau ada warrior lain yang berpatroli. Setelah beberapa saat, barulah Xavior melepaskan rangkulannya dan beringsut menjauh.
“Ternyata kau seseorang yang tegas juga ya?” kekeh Eveline takjub.
“Hanya menghindari sesuatu yang tidak menyenangkan.” Xavior berdiri, memperhatikan sekitar dengan mata dan telinganya. Memang tidak aman, terlebih ada penyihir juga yang menjaga perbatasan. Semoga kabar ini tidak sampai di telinga Damian.
“Sebaiknya kau pergi saat mereka sedang beristirahat ....”
“Eveline.”
“Ah ya, Eveline.”
“Ya, memang sebaiknya aku pergi.” Dengan jubah Xavior yang masih tersampir di tubuhnya, Eveline bangkit dan mengibas-ngibas gaunnya yang terkena serpihan kulit pohon. Setidaknya warnanya yang gelap menyamarkan kotor yang menempel.
“Tunggu. Naiklah ke kuda dan ikut aku. Maaf kau harus memakai penutup mata. Aku tidak bisa mengambil risiko.”
“Tidak apa-apa.”
Xavior mengikat kain di mata Eveline kemudian membantunya menaiki kudanya. Entah bagaimana tadi Eveline menyeberang, tetapi para warrior akan tahu jika Eveline menyeberang lagi sekarang. Xavior belum siap harus menghadapi Damian sekarang, terutama karena Damian sedang ada masalah dengan Flora.
Ada sebuah jalan yang tidak diketahui banyak orang, mungkin hanya Damian dan Xavior yang tahu untuk mengakses perbatasan tanpa adanya peledak sama sekali. Ah, ada satu orang lagi yang tahu dari pack seberang. Ada beberapa alasan mengapa jalan berbahaya tersebut tidak juga ditutup.
Xavior menarik tali kekang kuda Eveline memutari perbatasan dengan tatapan yang tak lepas memperhatikan sekitar. Xavior tak bisa mencium seberapa kuat bau pack Eveline karena aroma tubuh mate-nya menutupi sepenuhnya hingga tak tercium sama sekali.
“Kau bisa membuka matamu.”
Eveline menurutinya dan membuka kain yang menutupi matanya. Di depannya seperti hutan-hutan lain, hanya saja daun-daun berguguran lebih dominan warna oranye dibanding hijau atau daun kering coklat. Tidak terlihat seperti sedang berada di perbatasan.
Dia turun dari kudanya. “Ini di mana, Xavior?”
“Aku ingin menemuimu lagi besok. Kau bisa?” tanya Xavior yang tidak menjawab sama sekali pertanyaan Eveline.
“Akan kuusahakan.”
“Bagian ini tidak ada yang menjaga baik warior dari Supermoon Pack atau Megamoon Pack, bahkan mungkin tidak ada yang ingat tentang jalan ini. Kita bisa bertemu kapan saja di sini tanpa harus menyeberang ke mana pun.”
Untuk beberapa saat, mereka hanya saling bertatapan seolah sangat berat untuk melepas satu sama lain. Pertemuan mereka tidak sebaik ekspektasi, tetapi tetap saja pertemuan pertama yang baik. Setidaknya, Eveline tidak langsung ditolak karena berbeda pack atau half-blood.
Xavior sangat beruntung memiliki mate seperti Eveline. Tanpa bercerita banyak, dia bisa merasakan jika Eveline seorang half yang tangguh dan tidak menjadi lemah hanya karena perbedaannya. Malah saat pertama kali melihatnya, Xavior merasa tertarik karena Eveline terlihat sangat berbeda dari semua manusia serigala yang pernah ditemuinya.
“Eve, bisakah kau merahasiakan dulu tentang kita dari Eiden? Aku juga akan merahasiakannya dari Damian.”
“Kenapa? Kupikir kau akan memberi tahu Alphamu tentang kita.”
“Situasinya sedang tidak memungkinkan untuk kita memberi tahu satu sama lain. Yang kita dapat hanya pertentangan.” Xavior menggenggam tangan Eveline dan mengelusnya pelan. “Hanya untuk sementara. Bisakah?”
Eveline mengangguk kecil. “Tentu. Untuk kepentingan kita berdua. Kakakku dan Alphamu memang tak seharusnya tahu sebelum hubungan mereka sendiri membaik. Aku juga tidak ingin kakakku memanfaatkanmu atau apa pun itu.”
Wanita itu kembali naik ke kudanya dibantu Xavior. Pria itu tidak melepaskan tangannya, malah mengecupnya dan berkata, “Aku akan menunggumu besok.”
Jangan katakan jika pipi Eveline memerah walau dia merasakan wajahnya panas. Ya ampun, di pertemuan pertama saja pria itu sudah sangat manis, padahal jika dilihat dari wajahnya yang tegas tidak terlihat sama sekali kemampuannya meluluhkan hati wanita.
Eveline sudah memegang tali kekang kudanya sebelum teringat sesuatu. “Jubahmu,” gumamnya menanggalkan jubah berwarna coklat tersebut dan memberikannya pada Xavior.
“Berhati-hatilah. Kau hanya harus lurus dan kau tahu nanti akan berujung di mana.”
“Sampai jumpa.”
“Sampai jumpa besok.”
Kuda tersebut berjalan sesuai arahan Eveline, tidak cepat dan tidak lambat. Eveline memaksa dirinya untuk tidak menoleh atau memastikan Xavior masih ada di tempatnya atau tidak. Mungkin yang terlihat hanyalah wajahnya yang sangat merah atau senyumnya yang luar biasa lebar.
Eveline tidak sabar untuk besok.
***
Guna menghilangkan wajah merah dan sudut bibirnya yang terus saja tertarik sendiri, Eveline menghabiskan waktunya mengelilingi pack sekaligus berburu. Ya, dia tahu sama saja bohong berburu di dekat perbatasan karena tak akan ada satu pun hewan liar, tetapi yang ditekankannya adalah menghabiskan waktu.
Eiden tak akan melepaskannya begitu saja jika Eveline terlihat sangat beda.
Seharusnya beberapa jam berkeliling dan berlatih memanah di hutan sudah cukup. Setidaknya jika tetap merah, Eveline bisa beralasan jika itu karena panas matahari, bukannya karena seseorang. Ya, siapa yang tahu jika ternyata tadi dia diikuti oleh seseorang diam-diam.
Walau sudah mempersiapkannya, sebisa mungkin Eveline menghindari kakaknya. Berbohong bukan keahliannya sejak dulu dan semoga saja Eiden tak bisa mengendusnya.
Di mansion yang super besar ini, Eveline jalan menjinjit-jinjit dan melirik ke semua tempat. Kebanyakan dari mereka tentu saja warrior dan omega. Untungnya Eveline belum bertemu dengan—
“Eveline.”
Sial. Eveline menegakkan tubuhnya dan rileks setenang mungkin sebelum berbalik, mendapati kakaknya sendirian tanpa Jaiden yang biasanya selalu mengekor.
“Bagaimana dengan mate-mu?”
Raut wajah Eveline berubah kesal sebagaimana yang sudah direncanakannya sepanjang jalan. “Jangan membahasnya. Mungkin dia hanya mengenakan bebauan dari dunia manusia makanya aku terkecoh.”
Eiden mengusap-ngusap dagunya bak sedang berpikir keras. “Jika dia dari dunia manusia, paling tidak dia bukan werewolf biasa. Katakan, siapa dia? Aku sendiri yang akan mendatangi dan menginterogasinya.”
“Ada apa denganmu? Bukankah kau sudah berjanji tak akan ikut campur dengan urusanku?”
“Kapan aku berjanji?”
“Aku akan membunuhmu dengan pedangku jika berani berkhianat. Bisa-bisanya kau melupakan janjimu sendiri.”
“Baiklah-baiklah. Kau half, tetapi lebih menakutkan dari semua werewolf yang pernah kutemui,” dengkus Eiden sebal.
Benar, ‘kan? Eiden yang selama ini dikenalnya tidak terdengar seperti seseorang yang tega membunuh orang lain atau mengintimidasi pack lain demi kepentingannya sendiri. Eveline tak akan bisa memandangnya begitu karena kakak yang selama ini dikenalnya adalah Eiden yang usil, bukan Eiden sang Alpha.
Akan tetapi, ada saat-saat di mana Eveline tidak mengenalinya. Contohnya saat Eirth yang mengambil alih dan serigala itu sudah terlalu emosi.
“Eve, kau menemui siapa di perbatasan?” tanya Eiden di tengah lamunannya membuat Eve terhenyak.
“Apa maksudmu? Jaiden mengintaiku lagi?”
“Baumu. Ada bau milik Supermoon Pack yang kuendus darimu.”
“Kau berkhayal. Tidak mungkin aku memiliki bau seperti itu.”
“Endus saja sendiri.”
“Bahkan aku tidak tahu bau Supermoon Pack bagaimana! Sudahlah, aku terlambat untuk berlatih pedang,” decak Eveline mengentakkan kakinya meninggalkan Eiden, menghilang di balik tikungan lorong.
Mata Eiden menyipit curiga walau adiknya sudah tidak terlihat. “Supermoon Pack? Jangan bilang jika Damian macam-macam dengan adikku,” gumamnya lalu memejamkan mata, mengirimkan mindlink. “Jaiden, kemarilah.”
Karena Jaiden juga ada di mansion, tidak butuh waktu lama untuknya sampai. “Ada apa, Alpha?”
“Kau siap untuk mengatur rencana baru?”
“Tentu saja siap, Alpha. Aku sangat menantikan menyerang pack terkutuk itu.” Jaiden melihat kuda yang ditarik oleh warrior, satu-satunya kuda yang diizinkan tetap hidup. “Eve sudah kembali?”
“Hm. Katanya orang itu bukan mate-nya. Enduslah, apa kau mencium bau Supermoon Pack?”
“Tidak, Alpha. Aku tidak mencium bau apa pun. Jika ada yang menyusup, orang itu tak akan selamat dan warior kita tak akan terkecoh. Lain dengan Supermoon Pack yang bisa ditipu dengan mantra.”
Eiden berdeham. “Mungkin memang hanya aku yang salah mengira. Ayo, aku ingin merencanakan sesuatu yang lain untuk menyerang Damian.”
Keduanya berbalik seraya mendiskusikan sesuatu yang berkaitan dengan pack dan p*********n. Topik yang tak pernah jauh dari Alpha dan Beta tersebut.
Setelah dirasa aman, Eveline mengintip dari balik lorong dan mendesah lega. “Astaga, tadi itu nyaris saja.”
Eveline mengendus bau tubuhnya sendiri, memang tercium bau asing yang menempel di pakaiannya. Tidak begitu menyengat, tetapi tetap saja menimbulkan bekas. “Benar, sepertinya aroma dari jubah Xavior menempel di tubuhku. Aku harus menghilangkan aroma ini secepatnya atau akan ada yang curiga lagi.”
***
Sama halnya dengan Eveline, Xavior juga menghindari keberadaan Damian selama tidak sang Alpha sendiri yang memanggilnya. Dia hanya berharap Damian tidak menerima laporan apa pun dari perbatasan. Seharusnya memang tidak karena tak ada warrior yang cukup berani melapor langsung, mereka akan melaporkan pada Xavior lebih dulu sebagai perantara.
Dilihat dari tak adanya mindlink Damian agar Xavior datang, sepertinya pria itu tak tahu apa-apa.
Mengingat Xavior adalah orang yang dipercayai Damian untuk segala hal, tak mungkin dia bisa lama menghindar, apalagi secara terang-terangan. Saat melihat Damian menuju ke arahnya yang sedang termenung di balkon, Xavior hanya bisa membungkuk menyambut kedatangan sang Alpha.
“Xavior, bagaimana?”
“Apanya, Alpha?”
“Tentang mate-mu. Bagaimana dia?”
“Ah, dia tidak datang.”
“Benarkah? Sayang sekali. Rex pasti sedang bising ‘kan di dalam sana?”
Ah ya, Rex. Mate dan serigala sangat berkaitan, Xavior tidak terpikir sebelumnya. “Y-ya, Rex sangat kecewa dengan mate kami.”
Damian mendesah berat yang Xavior tebak tentang hubungannya dengan sang Luna. Hubungan mereka sangat buruk, mungkin hampir seburuk Alpha Apolo dulu. Entah siapa yang benar-benar salah di sini, mereka sama-sama tak ada yang mau mengalah atau memaafkan duluan.
Semoga saja walau Eveline juga lebih ke manusia, dia tidak sama.
“Jadi, selanjutnya bagaimana?” tanya Damian.
“Bagaimana apanya, Alpha?”
“Tentu saja tentang mate-mu. Bagaimana kau akan bertemu dengannya lagi?”
“Ah, mungkin aku akan lebih sering berpatroli di perbatasan mengingat kami bertemu di sana. Mungkin aku akan menemukannya lagi lain kali.”
“Baiklah. Aku percaya Moon Goddes pasti melakukannya karena suatu alasan.” Damian mengangguk-angguk, setuju antara takdir untuk Xavior dan takdir untuknya. “Xav, apa kau punya suatu saran untukku dan Flora?”
“Untukmu dan Luna?”
“Ya, kau tahu sendiri aku melakukan sesuatu yang fatal. Dia tidak mau bicara sama sekali padaku. Dia bahkan berkali-kali memecahkan ramuan yang menghilangkan sakit di lehernya hanya karena masih marah padaku. Lama-lama dia akan tersiksa dengan rasa sakitnya itu.”
Xavior menggeleng pelan. “Sepertinya, kau tidak bisa melakukan apa pun selain menunggu amarah Luna mereda.”
“Itu akan sangat lama, Xav. Apa aku akan diam saja sampai Flora tidak marah lagi? Dane juga terus saja mengacaukan isi kepalaku. Aku tidak bisa berpikir secara jernih dengan adanya serigala yang tidak bisa diam ini!”
“Kau tahu aku tidak berpengalaman sama sekali dengan wanita atau manusia, aku tidak memiliki saran atau masukan apa pun untuk membuat Luna tidak marah lagi.”
Ya, Damian mendesah lagi. Salahnya bertanya pada Xavior, tetapi tidak ada yang bisa ditanyainya juga. Tak mungkin Damian bertanya pada orang tuanya karena akan menimbulkan kemurkaan mereka berdua. Tak mungkin juga bertanya pada Apolo karena jaraknya sangat jauh hanya untuk bertanya.
“Xav, kapan gerbang ke dunia manusia akan terbuka lagi?”
“Apa yang akan kau lakukan?”
Damian mengedikkan bahu. “Hanya bertanya dan memastikan saja. Jelas aku tidak akan mengembalikan Flora ke dunianya jika kau berpikir begitu.”