Dua

1077 Kata
Mataku tertuju pada piagam yang terpajang di dekat pintu. Tertulis di sana Alwi Muhammad sebagai juara Umum dan Mahasiswa terbaik. Tunggu dulu, dari sekian banyak prestasi dan kebaikan akhlak yang dia miliki, kenapa harus jorok menjadi kekurangannya? “Lihatin apa kamu?” Tersentak kaget, pandanganku beralih ke pintu. Dia berdiri di ambang pintu kamar, menatapku. “Itu, penghargaan punya Bapak?” Dia mengangguk, melangkah masuk menuju lemari. “Bukan apa-apa itu.” Aku memicingkan mata, mencebik. “Bapak merendah untuk meroket, ya?” Dia menggeleng. “Memang nggak ada artinya menurut saya, dan Mama saya.” Aku melengos, mencibirnya. “Nggak ada artinya tapi dipajang.” Dia tersenyum, senyuman yang berbeda dari biasanya. Seperti apa ya? Sulit dijabarkan, tapi yang jelas senyuman itu terlihat lebih natural. “Bukan niat pamer, tapi daripada rusak nggak jelas di gudang, ya sudah saya pajang aja. Toh bukan di ruang tamu.” Dia mengeluarkan pakaian kerja, menyimpannya di ranjang. “Kamu berkali-kali masuk kamar saya, baru lihat piagam-piagam itu?” Aku mengangguk, kemudian menggeleng. “Saya sering lihat, tapi baru sadar kalau itu piagam prestasi punya Bapak.” Dia mengibaskan tangan mengusirku. “Saya mau ganti baju, kamu mau tunggu di sini apa di luar?” Yang benar saja! Dengan cepat aku menunjuk ke arah luar, bergegas keluar kamar. Sesampainya di luar, kutempelkan telapak tangan di d**a, mengernyit heran, mengapa jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya? Ya Tuhan... jangan sampai debaran jantung ini menjadi awal yang buruk! Selesai bersiap seperti biasa bosku yang baik hati ini mengajakku sarapan di rumah ibunya yang hanya berjarak 4 rumah. Beliau tak banyak bicara seperti biasanya, hanya berjalan menunduk, sementara kedua tangannya dimasukkan ke saku celana. Hem... ada yang aneh. “Pak,” tegurku membuatnya menoleh menatap ke arahku. “Tumben Bapak diam aja?” tanyaku disertai cengiran. Dia tersenyum tipis, mengangkat bahu ringan. “Saya kepikiran omongan mama saya semalam, Mil,” jawabnya dengan nada rendah. Kupasang telinga baik-baik, menyamai langkahnya. “Ibu bicara apa emang, Pak?” Langkahnya terhenti otomatis langkahku juga ikut terhenti. “Kamu kok kepo?” Kugaruk telinga, menyengir malu. “Ya biasanya kan Bapak nggak pernah kepikiran omongan Ibu. Mau Ibu marah-marah juga Bapak biasa aja. Sekarang mendadak mendung, kok tumben gitu,” jelasku pelan. Dia menghela napas seperti ada beban berat di pikirannya. “Kamu tahu usia sekarang berapa?” Aku menggeleng. Pentingnya apa aku tahu usianya berapa? Toh tidak akan membuat gajiku naik, kan? Dia mendesah. “Usia saya udah 33 tahun. Semalam Mama desak saya buat segera menikah, rasanya kok sedih didesak begitu.” Aku mengangguk paham. “Kenapa sedih? Bapak tinggal cari pacar aja buat dinikahi.” Dia berdecak, menendang batu kerikil hingga mengapung ke udara. “Masalahnya nggak gampang cari pacar, Mil.” Kugaruk kepala bingung. “Bapak cakep, mapan, pinter. Apa yang bikin perempuan nggak gampang nempel ke Bapak?” Dia menggaruk kepalanya, beberapa saat kemudian menyembul butiran putih di rambut hitamnya membuatku mengernyit jijik. Apalagi jika bukan ketombe. “Saya juga heran, nggak ada perempuan yang mau sama saya. Semua ninggalin saya gitu aja. Padahal saya hampir sempurna, loh.” Saat itu juga perutku terasa bergejolak mendengar kenarsisannya, refleks tanganku menahan perutku supaya tidak muntah. Apa dia tidak sadar kekurangannya apa? Aku menggeleng tak habis pikir. “Mama sama adik saya sering banget ngomel bilang katanya kejorokan diborong semua sama saya,” lanjutnya masih tak merasa kekurangannya. Aku hanya mengangguk, enggan berkomentar. Lebih tepatnya khawatir dia tersinggung lalu berdampak pada keselamatan gaji dan bonus kerjaku. “Kamu melihat kekurangan saya nggak, sih?” Tiba-tiba wajahku menabrak punggungnya keras membuatku mengaduh mengusap kening. “Bapak kok tiba-tiba berhenti, sih?” Padahal sengaja kupelankan langkah supaya sedikit lebih jauh darinya. Dia berbalik. “Saya nggak berhenti tiba-tiba. Kamu aja melamun nggak sadar kita udah sampai rumah Mama.” Aku mencebik, menatapnya kesal. “Kasih tahu, kek!” Dia mengangkat kedua tangan tak acuh, kemudian berbalik lagi melangkah lebih dulu masuk ke rumah. Dengan hati yang sangat dongkol kukepalkan tangan, memukul udara menggerutu tak bersuara. Kenapa aku harus bekerja dengan manusia yang tak sadar diri, Ya Tuhan? keluh batinku. Di dalam rumah sangat ramai dengan dua anak laki-laki yang berbeda usia anak dari adik bosku. “Si Neng nggak masak banyak, cuma bikin nasi goreng kecap doang.” Suguh ibu bosku padaku sembari menyodorkan sepiring nasi goreng dan telur ceplok mata sapi. Aku tersenyum, mengangguk mengucapkan terima kasih menerima piring, mulai menyantapnya. “Mama nggak minta apa-apa, Kang. Cuma tolong dipikirkan lagi, Mama juga mau lihat cucu dari kamu. Sampai kapan kamu bujangan terus?” Oh ibu bosku mulai membahas yang bosku keluhkan. Aku hanya menunduk tak ingin terlibat urusan pribadi mereka. “Kakang tunggu dulu...” “Tunggu apa? Tari udah nikah, Nirina juga udah besar. Nggak terlalu mengandalkan kamu sama Neng lagi,” serobot ibu bos. Kudengar dia mendesah frustrasi. “Ma, siapa yang nggak mau nikah coba, sayang aja nggak ada yang mau diseriusin,” keluhnya. Aku mengangguk samar membenarkan apa yang dia katakan. Berkali-kali menjalin kasih terlihat sekali bosku sangat serius dan selalu mau berkorban untuk para kekasihnya. Bahkan tidak sekali aku ikut dilibatkan perjuangannya itu. Tapi anehnya, para kekasih bosku itu selalu memutuskan hubungan dengan berbagai alasan yang kadang masuk akal kadang tidak. “Siapa yang mau sama Uwa? Menikah sama Uwa sama kayak nyiksa sendiri. Coba deh Uwa rubah sifat jorok Uwa dulu,” imbuh adik pertama bosku yang baru datang dari dapur. Benar! Aku sangat setuju dengan apa yang disarankan oleh adik Beliau. Kalau dia mau membuang sifat joroknya aku akan sangat bersyukur pada Tuhan. Beneran, deh! “Untung aja Mila betah kerja sama dia, kalau enggak, susah lagi cari yang mau kerja sama dia, Ma,” omel adiknya lagi. Bukan betah, Mbak, tapi butuh! Imbuhku dalam hati setengah berteriak. Helaan napas terdengar lelah dari bosku yang duduk di sampingku. “Mama carikan deh ya yang mau nikah sama kamu?” “Ma...” rengek bosku seperti tidak mau mengulang pembicaraan yang terjadi malam tadi. “Mil.” Aku menoleh pada adik bosku- Mbak Lia tersenyum sopan, sedikit menunduk menunggu Mbak Lia melanjutkan ucapannya. “Kamu mau nggak menikah sama kakak saya?” Untuk memastikan, kutatap lekat Mbak Lia kemudian bertanya, “Gimana, Mbak?” Tatapan Mbak Lia memancar keseriusan. “Kamu mau nggak nikah sama kakak saya?” Seketika bibirku terasa kaku. Apa katanya? Menikah dengan kakaknya? Apa aku salah dengar? Apa baru saja aku mendengar suara petir? Ohohoho... Aku yakin, Mbak Lia hanya bercanda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN